
Acara berlangsung sampai hampir tengah malam, acara puncak di tutup oleh penampilan dari semua jajaran Kepanitiaan.
Tanpa disangka Hamzah membawakan sebuah lagu. "lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang selalu ada dihatiku, dan semoga saja ia menjadi takdirku", ucap Hamzah sebelum memetik gitarnya.
Sudah bisa ditebak , orang yang dimaksud Hamzah adalah Wila. Wila dibuat baper jadinya. Sepanjang bernyanyi , pandangan Hamzah terus tertuju pada Wila.
Sungguh Wila dibuat berdebar. Namun Sarah justru dibuat geram . Ia mulai merangkai rencana untuk membuat Hamzah terjatuh dalam pelukannya.
Dengan sengaja Sarah naik panggung, dan secara tiba-tiba ia ikut bernyanyi dengan Hamzah. Bukan itu saja, dengan beraninya ia melingkarkan tangannya di pinggang Hamzah.
Hamzah tidak bisa berbuat apa-apa karena ia lagi fokus menyanyi, tangannya lagi memetik gitar. Ia tidak bisa menolak perlakuan Sarah.
Wila segera memalingkan pandangannya, ia tak kuat melihat adegan tersebut.
Wila segera beranjak menuju tenda diikuti Lela dan Mita. Walau Wila tahu itu bukan keinginan Hamzah, tapi tetap saja hatinya merasa cemburu.
Terlepas dari itu semua, Wila merasa senang karena hari ini jualannya laku. Semua kuenya terjual habis, dan berganti dengan tumpukan rupiah.
Di tenda mereka saling bercanda dan tertawa, sambil menghitung deretan rupiah di dalam tas jinjing.
"Eehh, apa tadi kalian tidak memperhatikan Sarah", celetuk Mita.
"Apa? Mau nyebarin gosip lagi?", tanya Lela.
"Iiisss, dengar dulu, tadi aku lihat kok Sarah agak gemukan ya, padahal biasanya dia tuh paling konsen memperhatikan berat badannya", kekeh Mita.
" Jangan-jangan dia tuh ..... lagi isi", tebak Mita.
"Astaghfirullah, huuss, gak boleh su'udzhan", Wila memperingatkan Mita .
"Bukan begitu, tapi aku tuh penasaran sama ceritanya Juna, kalau waktu di Karaoke ,Sarah itu bareng sama cowo, sama-sama mabuk", jelaskan Mita.
"Sebenarnya aku juga sudah curiga saat Sarah pingsan kemarin, Petugas P3K sempat menanyakan status Sarah", Lela ikut nimrung.
"Aduh sudah, kok jadi ngegibah siihh...", Wila memperingatkan kedua temannya.
Di atas panggung sudah tidak ada penampilan apa pun. Hanya suara musik MP3 yang masih mengalun.
Namun para Mahasiswa masih banyak yang berkerumun di sekitar panggung utama. Mereka sekedar saling ngobrol .
__ADS_1
Ada juga yang ngumpul di tenda-tenda yang sudah disediakan. Sementara Hamzah masih berkumpul bersama panitia yang lain.
Hamzah sempat chat Wila , ia minta maaf atas kejadian di atas panggung tadi.
Dan malam terus merayap, hingga sedikit demi sedikit suasana jadi hening. Semua sudah memasuki alam mimpi.
Namun saat pagi menjelang terjadi keributan dari salah satu tenda Mahasiswi, yang hanya terhalang dua tenda dari tenda Wila.
Terdengar suara orang menjerit dan menangis. Hampir semua yang ada di dalam tenda keluar untuk melihat apa yang terjad, termasuk Wila , Lela dan Mita.
Dan apa yang terjadi, di dalam tenda Sarah tampak menangis dengan masih berselimut dan disampingnya Hamzah seperti kebingungan.
Ia pun dalam keadaan setengah telanjang , satu selimut dengan Sarah. Siapa pun yang melihat pasti sudah menduga apa yang telah terjadi dengan mereka.
Yang tadi menjerit dan berteriak ternyata Susi, ia yang memergoki mereka. Saat Wila menghampiri, ia mengintip dari celah orang-orang berdiri, seakan tersambar petir, Wila langsung roboh.
Wila tidak kuasa menahan berat tubuhnya, seketika tubuhnya menjadi lemas, dengan leleran bening yang mulai tumpah dari kedua kelopak matanya.
Ia seperti ditindih batu, hatinya seperti ditusuk beribu-ribu sembilu. Ia merasa ingin menghilang saja saat itu juga.
Wila tidak menyangka Hamzah begitu mudah berpaling setelah mendapatkan semua dari dirinya.
Dan yang paling mengagetkan lagi yaitu melihat reaksi Wila. Lela mencoba membantu Wila berdiri dibantu Mita.
Tubuhnya ringkih sekali, seketika Wila memeluk Lela dan menangis di sana. Tangisan yang memilukan.
Lela dan Mita berusaha memapah Wila menjauh dari tempat itu, mereka membawa Wila ke Masjid Kampus.
"Kenapa jadi begini, ini cuma mimpi kan, ini hanya mimpi?!", Wila mengguncang tubuh Lela.
"Istighfar Wil, sabar, ini memang di luar dugaan", Lela mencoba menenangkan Wila.
"Ngak apa-apa, menangis saja", Lela kembali memeluk Wila yang kini tubuhnya mulai berguncang, ia menumpahkan tangisnya.
"Tuh kan, untung saja keburu ketemu Juna, kalau tidak, pasti aku orang yang paling kecewa dengan kejadian ini", Mita bergidik.
Seketika keadaan Kampus menjadi ribut, para Mahasiswa saling bicara, mereka sungguh tidak menyangka jika ketua Senatnya berani berbuat asusila dikampusnya sendiri.
Sementara Hamzah, ia seperti orang bingung, melihat keadaan dirinya dan Sarah. Seketika wajah Wila berseliweran dibenaknya, ia pasti yang akan paling menderita dengan kejadian ini.
__ADS_1
Andi yang paling geram melihat pemandangan tersebut, "Cepat kalian berpakaian, dan segera keluar, kita langsung ke ruang Senat.
Sementara Mahasiswa yang bergerombol di luar, segera dibubarkan oleh Andi, dan dihimbau jangan menyebarluas dulu kejadian tadi, sebelum penyidikan selesai.
Di dalam sana Hamzah tampak terus berusaha mengingat , kenapa sampai bisa , dirinya satu tenda bersama Sarah.
Namun secara tiba-tiba Sarah memeluknya dari belakang, ia menangis dan merengek minta pertanggungjawaban dari Hamzah.
Hamzah merasa jengah, ia berusaha melepaskan tangan Sarah dari pinggangnya, "Lepaskan, semua ini tidak benar", tolak Hamzah.
"Apanya yang salah, jelas-jelas kita tidur dalam satu tenda, telanjang pula", ketus Sarah. Ia makin mengencangkan pelukannya.
"Iya, tapi belum tentu kita berbuat itu, aku tidak merasa menyentuhmu", jelas Hamzah. Kini ia melepas paksa tangan Sarah.
Sarah sedikit berteriak, cengkeraman tangan Hamzah menyakitinya.
Kegaduhan mereka rupanya terdengar sampai ke luar.
"Hai, cepetan, kalian ini gimana, jangan lanjut dulu", teriak salah satu Mahasiswa dari luar." Kita sudah di tunggu di ruang Senat", teriaknya lagi.
Hamzah segera memakai pakaiannya, ia masih merasa bingung kenapa ini sampai terjadi. Ia langsung melangkah ke luar, namun langkahnya terhenti mendengar teriakan Sarah.
"Hai, tunggu!, tolong aku dong, gimana siih..", gerutu Sarah sambil langsung meraih tangannya Hamzah. Kembali, Hamzah tidak bisa menolak, karena memang Sarah masih terpincang jalannya.
Mereka keluar dari tenda, seluruh Mahasiswa yang ada menatap mereka, terutama Andi. Ia begitu kecewa kepada Hamzah.
"Zah...., apa -apaan ini, kami semua kecewa dengan ini", Andi menatap tajam Hamzah.
"Tunggu dulu Di, ini tidak seperti yang kalian bayangkan", bela Hamzah.
Namun tidak dengan Sarah, ia bersorak dalam hatinya, ia merasa inilah hari kemenangannya. Ia semakin bergelayut di tangan Hamzah dengan menunduk sedih. Penuh kepura-puraan.
Hamzah melemparkan pandangnnya ke seluruh Mahasiswa yang ada, ia mencari Wila, tetapi tidak ada.
'Maaf Wil, ini tidak seperti yang kamu dan mereka fikirkan', Hamzah berbicara dalam hatinya. Ia tahu pasti ini akan membuat Wila hancur.
Apalagi ia sudah berjanji untuk bertanggung jawab atas semua yang telah ia lakukan kepadanya.
"Ayo cepat, nanti saja jelaskan semua di depan Pak Suparman", tegas Andi. Ia berjalan lebih dulu di ikuti Hamzah dan Sarah.
__ADS_1