Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Tersangka Pertama


__ADS_3

Wila merogoh hand phone nya di tas yang tergeletak di sampingnya. Ia kaget ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab masuk di hand phone nya dari Bi Yeni.


'Ya Allah, pasti Bibi khawatir sekali', pikirnya.


Wila menoleh kepada Andi, "Kamu belum mengabari Bi Yeni soal aku?", tanyanya .


"Astaghfirullah, belum", Andi menepak dahinya.


"Pantas saja , Bibi menelepon sampai puluhan kali", senyum Wila.


"Iya, maaf, tadi aku panik", aku Andi.


Wila tampak sedang menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam", terdengar suara jawaban


[Alhamdulillah, Neng kamu kemana saja, kamu baik-baik saja kan?, dari tadi Bibi telepon nggak di angkat, sekarang kamu dimana]


"Alhamdulillah Bi, Wila baik, tapi sekarang masih perlu istirahat, tadi waktu mau pulang, Wila pingsan, Andi membawa Wila ke Rumah Sakit, nggak apa-apa, Bibi jangan khawatir!",


[Ya, Allah, kamu kenapa lagi, syukur kalau sudah baikan, jangan lupa kabari Bibi kalau ada apa-apa],


"Iya Bi, mungkin besok pagi, Wila baru bisa pulang",


[Iya, jaga diri baik-baik],


"Terima kasih Bi, maaf sudah membuat Bibi khawatir",


[Ya, sudah, kamu istirahat saja,],


"Iya Bi, Assalamu'alaikum", Wila menutup teleponnya.


Andi pun tampak sibuk chat dengan seseorang, namun dia mendengus, "Kemana ini orang, kok tidsk dibaca-baca", gumamnya.


Andi sedang mengabari Hamzah soal Wila namun dia kesal karena tidak ads respon dari Hamzah.


Hamzah yang baru pulang shalat isya berjamaah mendapati Sarah di meja makan, ia sedang mengupas buah apel.


Raut wajahnya kembali terlihat ceria, tidak seperti kemarin. "Mau sekalian aku kupasin?", tawari Sarah kepada Hamzah.


"Nggak, terima kasih, saya ke atas dulu", pamit Hamzah. Ia bergegas menuju kamar, disana Hand phone nya tertinggal.


Hamzah menuju balkon dan membuka hand phone nya.

__ADS_1


Ia begitu kaget saat membaca pesan dari Andi.


'Siapa yang ingin mencelakai Wila, kenapa harus Wila?', pikir Hamzah.


Hamzah menerawang, 'setahunya Wila tidak mempunyai musuh, Wila tidak pernah berselisih dengan siapa pun selama di Kampus, selain dengan Sarah'.


'Itupun Sarah duluan yang selalu mengganggunya. Sekarang kan Sarah sudah tidak ada lagi di Kampus, berarti ada orang lain yang kini ingin mencelakai Wila, tapi siapa?',


Pikiran Hamzah terus menebak-nebak, ia pikir orang itu tidak main-main ingin mencelakai Wila, ini sudah membahayakan nyawa Wila.


Hamzah terus mengingat, siapa lagi teman kampusnya yang tidak menyukai Wila, "Susi", gumam Hamzah.


Hamzah baru ingat, kalau Sarah dan Susi yang selalu mengusik Wila di Kampus, tapi untuk apa Susi berbuat itu?,


'Kalau Sarah, masuk akal karena dia tidak ingin dirinya bersama Wila, nah kalau Susi untuk apa?'.


"Ah.....", Hamzah mengusap kasar wajahnya.


Ia benar-benar di buat pusing dan kesal, di saat Wila terancam, dirinya tidak ada disampingnya.


Hamzah beranjak menuju ke kamarnya, ia mengambil segelas air putih dan meminumnya.


Ingin rasanya ia segera pergi untuk menemui Wila, namun tidak bisa, apalagi Sarah tinggal menghitung hari menuju hari perkiraan lahirnya.


Di sini Sarah hanya bersama dirinya, ibu Rahmi belum bisa pulang ke tanah air sampai akhir tahun.


Saat Hamzah menuruni anak tangga , ia mendapati Sarah sedang menerima telepon dari seseorang. Sarah terlihat senang, dia bicara sambil tertawa.


Hamzah berdiri memperhatikan Sarah. 'Apa yang membuat dia sesenang itu', batin Hamzah bicara.


"Ha....ha....ha....good job" , Sarah langsung diam saat dilihatnya di kaca lemari Hamzah berdiri di tangga.


"Sudah dulu ya, nanti ngobrol lagi", hampir berbisik Sarah bicara di hand phone nya.


Sarah berdiri menyongsong kedatangan Hamzah, " Makan dulu, dari tadi aku tidak melihatmu makan", Sarah meraih tangan Hamzah mengajaknya ke meja makan.


Kali ini Hamzah menurut, ia harus bersikap lunak dengan Sarah biar tujuannya tercapai.


Hamzah menikmati makan malamnya yang terasa hambar, pikirannya terus melayang memikirkan Wila, sudah hampir lima bulan ia meninggalkannya, walau ia masih rutin mentransfer uang bulanan kepadanya, tapi bukan hanya itu, yang Wila butuhkan adalah kehadirannya di sisinya.


Sarah tampak tersenyum memperhatikan Hamzah makan, ia menikmati ketampanan suaminya, hanya lewat pandangan, sampai saat ini Hamzah belum menyentuhnya.


Dia selalu menolaknya dengan alasan klise menurut Sarah. Semoga setelah ia melahirkan, Hamzah akan menjadi suami seutuhnya baginya.


"Kelihatannya, senang sekali, ada apa?", tanyai Hamzah, ia penasaran dengan perubahan sikap Sarah.

__ADS_1


"Mau tau aja, yang jelas aku senang", senyum Sarah, ia memandang Hamzah senyuman yang menggoda.


"Kapan hari perkiraan lahirnya?",


"Seminggu lagi, memangnya kenapa?",


"Ngga apa-apa, supaya siap-siap saja, biar tidak kaget pas harinya", jawab Hamzah.


"Aku juga yang mau lahirannya santai-santai saja", senyum Sarah.


"Ya, harus mulai disiapkan lah, terutama mentalnya, melahirkan itu pertaruhan antara hidup dan mati lo",


"Alah..., tinggal tiduran saja, biar Dokter yang bekerja", cibir Sarah.


"Kamu sudah yakin mau lahiran secara cesar?",


"Ya iya lah, ngga mau aku harus sakit-sakitan melahirkan normal, kalau ada cara yang lebih baik dan lebih aman, kenapa tidak, iya...ngga?", senyum Sarah.


"Melahirkan itu fitrah seorang wanita, Allah SWT, sudah mendesain sedemikian rupa tubuh wanita untuk bisa menjalankan kodratnya", jelas Hamzah.


"Aduh...mulai deh, ceramah lagi, bikin bete aja, padahal aku ini lagi senang lo", Sarah cemberut.


"Aku suamimu Sarah, sudah seharusnya memberitahu hal -hal yang terbaik untuk kamu",


"Suami?, suami di atas kertas aja kan?", cibir Sarah.


"Hah, itu karena salah kamu juga, kamu yang sudah mengandung saat kita nikah dulu, kamu mengharapkan aku menjadi suamimu seutuhnya, tapi kamu sendiri yang sudah menyerahkan dirimu kepada laki-laki lain",


"Degh, jantung Sarah bergetar, jangan ungkit itu lagi!, aku benci mendengarnya, sudah aku bilang kan, aku juga tidak tahu siapa laki-laki itu", sewot Sarah.


Hamzah membereskan piring bekas makannya, dan membawanya ke dapur, ia langsung mencucinya sendiri di wastafel. Itu memang sudah menjadi kebiasaan Hamzah, Bi Marni pun selalu membiarkannya, karena Hamzah akan menolak jika di larang.


Sarah tampak masih cemberut di meja makan.


"Sudah malam, ayo istirahat!", ajak Hamzah.


Sarah tidak bergeming, ia masih diam, Sarah masih kesal karena Hamzah mengungkit lagi masa lalunya.


"Ya sudah, aku minta maaf, aku tidak akan mengungkit hal itu lagi",


Sarah perlahan berdiri, perutnya yang makin besar, makin membuatnya sulit untuk berdiri,


"Tolongin kenapa sih", Sarah kesal karena Hamzah hanya diam saja melihat dirinya kesulitan.


"Hamzah membantu Sarah berdiri, ia bahkan membiarkan Sarah bergelayut di tangannya.'Ini halal, dia sudah sah menjadi istriku', pikir Hamzah.

__ADS_1


Ia membawa Sarah ke kamar untuk beristirahat.


__ADS_2