Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Sah


__ADS_3

Semenjak Andi datang ke Kampung, tersebarlah berita pernikahan Wila. Andi yang membawa kabar dari Kota disambut gembira oleh kedua orang tua Wila.


Campur aduk perasaan Caca dan Yati. Mereka tidak menyangka, anaknya yang pamit untuk kuliah, kini pulang akan menjadi pengantin.


Semua persiapan sudah rampung, selain itu Hamzah juga menitipkan sejumlah uang untuk keperluan konsumsi dan dekorasi .


Caca dan Yati hanya tinggal melaksanakan saja. Terlihat Bu Asih pun ikut membantu . Ia ikut bahagia mendengar Wila akan menikah dengan pemuda dari Kota.


Lain halnya dengan Bu Wira dan Bu Neti, mereka selalu tidak senang mendengar kabar baik bagi keluarga Wila.


perubahan penampilan rumah Caca langsung mempercayai hal itu.


Walau tidak direnovasi, tapi dengan mengganti warna cat dan mengganti gorden rumahnya, sudah membuat rumah Wila berbeda, jadi terlihat lebih bagus.


Di depan rumah juga sudah dipasang tenda dengan ukuran besar, hingga hampir seluruh halaman rummahnya tertutupi oleh tenda.


Lampu warna -warni pun sudah dipasang disekeliling tenda, hingga saat malam tiba, terlihat indah berkerlap kerlip.


Walau hanya akad saja, tapi Hamzah ingin mengundang semua tetangga Wila untuk menghadirinya.


Dan jadilah seperti sebuah pesta pernikahan yang mewah.


Para tetangga yang tergabung dalam kader RT pun sudah disiapkan untuk ikut membantu memasak.


Sehari sebelum acara di mulai, rumah Wila sudah ramai.


Dan tepat menjelang Ashar, Hamzah, Wila dan Bi Yeni pun tiba di rumah. Kedatangan mereka disambut dengan suka cita.


Bahkan Yati tak kuasa menahan tangis haru, ia langsung memeluk Wila, "Alhamdulillah Neng, ibu nggak nyangka akan secepat ini",


"Alhamdulillah Bu, sudah ada jodohnya, ini sudah Qadarullah", Wila membalas pelukan ibunya.


Satu persatu ia menyapa dan menyalami orang-orang yang ada dirumahnya. Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang telah membantu ayah dan ibunya.


Hamzah pun ikut menyapa mereka. Tak sedikit dari mereka yang saling berbisik, "Beruntung sekali ya, Wila bisa mendapatkan jodoh calon Dokter, sudah kaya, tampan lagi",


"Iya", obrolan mereka terhenti karena jarak Hamzah makin dekat.


Malam itu, Hamzah menginap di rumah Bu Asih. Ada sebongkah rasa bahagia yang Hamzah rasakan, tidak seperti pernikahannya dengan Sarah.


Di rumah Bu Asih, sudah siap berbagai hantaran yang akan dibawa besok pagi. Sengaja Hamzah menyuruh Andi memilihkan barang-barang yang bagus.

__ADS_1


Tidak hanya kebutuhan Wila saja, melainkan terlihat ada fufniture , sembako, dan perabotan rumah tangga juga.


Tidak lupa satu set perhiasan akan Hamzah berikan sebagai mas kawin. Tidak sabar rasanya ingin cepat pagi saja.


Untuk kelancaran acara besok, Hamzah berencana untuk tidak mematikan nada dering hand phone nya.


Hari yang dinanti pun tiba. Pagi yang cerah , matahari memancarkan sinar terbaiknya, seolah ikut berbahagia menyaksikan penyatuan dua insan.


Hamzah sudah berpakaian rapi, setelan jas putih-putih menambah elegan penampilannya.


Para tetangga yang mau mengantar merasa kaget dengan barang-barang yang akan dibawanya.


Belum pernah ada sebuah pernikahan yang membawa barang sebanyak dan sebagus itu.


Tentu saja hal itu membuat tetangga yang selalu iri kepada keluarga Wila menjadi tambah tidak suka saja.


Tidak main-main memang, Hamzah membelikan satu set kursi sofa , spring bed , lemari pakaian, lemari tv beserta televisinya .


Tidak lupa lemari pakaian dua pintu , kulkas, mesin cuci, kompor gas, beserta perabot rumah tangga lainnya komplit.


Hal itu membuat berdecak para tetangga yang hadir. Selain itu , hantaran yang berisi keperluan Wila pun tidak kalah membuat para tetangga berdecak.


Rombongan sudah siap berkumpul di depan rumah Bu Asih. Rombongaan mulai berjalan menuju kediaman Wila.


Caca dan Yati sampai berkaca-kaca melihat rombongan yang datang dengan membawa banyak hantaran.


Semua berkumpul di depan pelaminan, menunggu Pak Penghulu. Kursi -kursi sudah terisi oleh para pengantar.


Hamzah tampak terus melihat ke dalam rumah, ia berharap bisa melihat pengantinnya. Semalaman ia terus memikirkan Wila.


Namun tampaknya sengaja, Wila disembunyikan dulu darinya. Bahkan saat acara ijab qabul pun, Wila masih disembunyikan.


"Sah",


Serempak terdengar sesaat setelah pengucapan ijab qabul berhasil Hamzah ucapkan dengan lancar.


Jumlah mas kawin yang terbilang fantastis pun membuat melongo tetangga-tetangga yang hadir.


Satu set perhiasan seberat 40 gram, dan uang tunai 50 juta , ia serahkan sebagai mas kawin. Jumlah yang sangat besar untuk hitungan penduduk kampung.


Caca dan Yati tak henti-hentinya mengucap syukur. mereka begitu bahagia .

__ADS_1


Dan saatnya, pengantin wanita dihadirkan . Semua mata tertuju pada Wila yang sudah lengkap dengan pakaian gaun pengantinnya.


Hamzah sampai pangling, Wila yang sehari-hari tampil sederhana tanpa polesan make up, kini berubah drastis, ia tampil dengan riasan pengantin .


Tampak begitu cantik , tampil dengan setelan pengantin muslimah. Ia berjalan menuju Hamzah , menunduk karena sadar, semua mata kini tertuju padanya.


Wila berdiri di depan Hamzah. Ia beranikan diri untuk memandang laki-laki dihadapannya yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Wila tersenyum , membalas pandangan Hamzah yang sedari tadi memandangnya. Pandangan mereka pun terkunci, dengan debaran dan getaran yang bergejolak di hati mereka.


"Pasangkan cincinnya dulu", suara Pak Penghulu menyadarkan mereka. Menyadarkan Hamzah dari hipnotis Wila.


Mereka saling memasangkan cincin dengan tetap mengukir senyum dan saling pandang.


"Sekarang boleh , suami mencium kening istrinya", perintah Pak Penghulu.


Tangan Wila meraih tangan Hamzah, dan menciummnya, sebagai penghormatan kepada suami.


Dan Hamzah mencium kening Wila , ciuman dan sentuhan yang sudah halal bagi mereka.


Acara ditutup dengan makan bersama. Berbagai hidangan sudah tersedia dengan lauk yang komplit.


Hamzah dan Wila pun kini sudah berpindah ke pelaminan, mereka duduk berdampingan. Hamzah tidak melepaskan tautan tangannya dari tangan Wila.


Hatinya diselimuti rasa bahagia, suasana yan berbeda saat dirinya menikahi Sarah waktu itu.


"Terima kasih untuk semuanya", ucap Wila lirih sembari menatap suaminya.


Hamzah tersenyum, ia tambah mengeratkan pegangan tangannya.


Kalau tidak malu oleh para tamu , ingin rasanya ia memeluk dan menggendong Wila ke kamar pengantin mereka.


Hamzah sudah tidak sabar ingin meminta haknya, yang kini sudah halal.


Seolah mengerti dengan apa yang dirasakan Hamzah, Wila membalas, ia juga mengeratkan pegangan tangannya seraya berkata ," Sabar", senyum Wila


Alhamdulillah acara berjalan lancar. Semua furnitur bawaan Hamzah tidak bisa masuk ke rumah Wila yang sempit, alhasil , semua masih berada di luar.


Dan hari pun mulai beranjak malam, Sang mentari sudah kembali keperaduannya. Wila dan Hamzah sudah berganti pakaian. Malam ini akan menjadi malam pertama bagi mereka sebagai suami istri.


Walau mereka sudah pernah melakukannya, tapi kali ini berbeda, ini malam pengantin mereka, mereka sudah halal.

__ADS_1


__ADS_2