Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Hambar


__ADS_3

Untuk beberapa saat Hamzah berdiri di depan pintu, ia tersenyu m sendiri melihat banyak anak kecil di rumah Lela.


Mereka bermain, saling bercanda, saling tertawa, ada yang lari-lari, bahkan ada yang hampir menabrak Hamzah saat berlari ke depan pintu.


"Teteh-teteh, ini ada tamu , cepetan turun", teriak salah satu adik Lela.


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, dan keluarlah Lela dengan memakai mukena, "Siapa siih....",lela tidak melanjutkan ucapannya, setelah melihat Hamzah yang berdiri di depan pintunya.


"Oh, a....da tamu, sudaj lama?, maaf ", Lela serba salah, mau disuruh masuk, tapi gimana. Lela sudah bisa menebak, kedatangan Hamzah ke rumahnya, pasti untuk menemui Wila.


Hamzah seolah mengerti apa yang dipikirkan Lela."Maaf mengganggu, apa bisa ketemu Wila sebentar?" , Hamzah langsung mengutarakan maksudnya.


"Emh, saya tidak yakin kalau Wila mau menemuimu, lagi pula ia lagi istirahat, sehabis maghrib tadi ketiduran di sajadah, lagian mau apa lagi, nanti istri kamu nyari-nyari, terus bakalan panjang urusannya kalau sampai Sarah mengetahui kamu ke sini, lebih baik pulang saja, jangan bikin hidup Wila tambah susah" , jelas Lela.


"Tapi ini penting, ini menyangkut kuliahnya juga", kekeh Hamzah.


"Tapi masih ada besok kan?, sekarang sudah malam, nggak enak sama Ibu dan Bapak", Lela menengok ke dalam rumah.


Hamzah tidak bisa memaksa, memang benar apa yang dikatakan Lela. Ia berada di tempat dan waktu yang salah.


Tapi setidaknya Hamzah merasa lega karena Wila berada di tempat yang aman.


"Kalau begitu, saya permisi, maaf sudah mengganggu, Assalamu'alaikum", Hamzah pamit dan segera meninggalkan rumah Lela.


"Wa'alaikumsalam", Lela menatap punggung Hamzah sampai hilang di belokan, lalu segera menutup pintu dan kembali ke lantai atas.


Di sana Wila sedang berdiri di balkon menatap nanar kepergian Hamzah. "Dasar bodoh, kenapa masih terus mencari aku" , gumam Wila.


"Dia sudah pergi", kabari Lela setelah berada di dekat Wila.


"Iya, terima kadih ya, itu dia masih di sana", Wila menunjuk ke gang yang ada di bawah, terlihat jelas Hamzah berjalan menuju tempat penitipan sepeda motornya.


Bersamaan dengan itu, Hamzah menengok ke arah mereka. Deg.... seketika Wila terkesiap, melihat Hamzah yang kini sedang melihat kearahnya.


Hamzah berdiri mematung memandang ke arah Wila. Wila tidak sempat sembunyi, padahal ingin rasanya berlari ke dalam, tapi kakinya seolah terkunci.

__ADS_1


Hamzah terus memandang ke arah Wila, sampai akhirnya tersadarkan oleh bunyi klakson dari sepeda motor di depannya, tanpa sadar Hamzah sudah menghalangi jalan.


Hamzah bergeser, dan bersamaan dengan itu, Wila pun berlari menuju ke dalam. Hingga saat Hamzah memandangnya lagi, Wila sudah tidak ada lagi.


Hamzah pun segera berbalik melanjutkan perjalanannya, ia melajukan sepeda motornya membelah gelapnya malam.


"Maafkan aku", lirih Wila di balik gorden. Ia mengintip kepergian Hamzah di sana.


"Kenapa, dia masih saja mencarimu, padahal sudah jelas dia itu suaminya Sarah", ucap Lela keheranan.


Wila hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin bercerita kepada Lela soal keadaannya. Ia tidak mungkin berterus terang mengenai aibnya.


Tapi cepat atau lambat, mereka juga akan mengetahuinya, sesuatu yang sedang tumbuh di rahimnya, tidak akan terus bisa disembunyikan.


"Ya sudah, sekarang istirahatlah!", Lela memandang Wila, ia sudah mulai curiga.


Apalagi hari ini Wila kelihatan pucat dan tidak selera makan. Bahkan tadi Wila membawakan banyak buah-buahan, ia baru makan sebuah apel saja.


"Nanti saja, belum ngantuk, tadi kan ketiduran , jadi rasa kantuknya mulai menghilang. Walau tidur sebentar, tapi rasanya nyaman sekali, pas terbangun, langsung segar", ucap Wila


"Ya, semoga saja", Lela tersenyum .


"Aduh, perut mulai begah nih, sepertinya sudah waktunya", Lela memegangi perutnya yang mulai terasa tidak enak.


Wila melirik Lela, seharusnya ia pun sudah mendapatkannya bulan ini, tapi sudah telat hampir tiga minggu.


Wila menerawang, memegangi perutnya.


'Apa masih ada laki-laki yang mau menerimanya dalam keadaan seperti ini?, bagaimana nasib anaknya nanti jika harus lahir tanpa ada seorang ayah disisinya?, apa Wila mampu membesarkannya seorang diri, tanpa sosok suami?, bagaimana dengan kedua orangtuanya?', ah pertanyaan-pertanyaan itu kembali berseliweran di pikirannya.


Tak terasa ia pun mulai terlelap, melupakan semua beban dipikirannya untuk sementara, dan ia mulai merangkai mimpi indah yang semoga saja bisa menjadi suatu kenyataan.


Sementara Hamzah sampai di rumah Sarah menjelang tengah malam. Ia langsung menuju kamarnya di lantai atas.


Tanpa ia sadari, ibu mertuanya Rahmi memperhatikan kepulangannya di ruang tamu dan Hamzah tidak menyadarinya.

__ADS_1


Sesampai di kamar, ternyata Sarah pun belum tidur, ia cemberut mendapati suaminya yang baru pulang.


"Dari mana saja, kok baru pulang, ada kuliah malam gitu?", tanyai Sarah.


Hamzah hanya meliriknya sekilas, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hamzah menyalakan shower dan mengguyur badannya dibawahnya. Ia ingin mendinginkan pikirannya, dari tadi kepalanya terasa pecah memikirnya semuanya.


Lama ia biarkan dirinya di bawah shower. Setelah selesai, ia lupa tidak membawa baju ganti. Alhasil ia keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk saja.


Sarah yang sedang cemberut di sofa, sontak melongo, memperhatikan Hamzah, mencium wangi maskulin dari tubuhnya.


Hamzah melewati Sarah begitu saja, ia langsung menuju water closet mencari keberadaan pakaiannya. Kemarin ia tidak sempat membereskannya, mungkin Sarah yang menyimpannya.


Tanpa di duga Sarah mengikutinya ke dalam. Ia langsung memeluk Hamzah dari belakang. "Aku khawatir memikirkan kamu, kenapa tidak telepon kalau mau pulang malam", ucapnya.


Hamzah berdiri mematung,"Lepaskan ", Hamzah melerai tangan Sarah yang melingkar dipinggangnya.


"Aku ini istrimu, kita sudah halal, kenapa menolak?", Sarah makin mengencangkan pelukannya.


"Lepaskan Sarah, ingat perjanjian kita", ingatkan Hamzah.


Sarah melerai pelukannya, " Itu di sebelah sana! , baju-bajumu ada di sana", Sarah menunjuk ke arah lemari baju .


Hamzah mendekati lemari itu dan mengambil pakaiannya, setelah selesai, ia ke luar kamar dan mendapati Sarah sudah berbaring di kasurnya.


Hamzah mendekati sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Tak lama ia pun terlelap.


Sarah yang belum tidur kembali bangun dan mengambilkan selimut untuk Hamzah. Ia turun dari ranjang dan bermaksud memakaikan selimut kepada Hamzah.


Saat ia menyelimuti Hamzah, tiba-tiba Hamzah memegang tangannya,"Wila, maafkan aku, aku sangat mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu", Hamzah mengigau.


Sarah terkesiap, wajahnya memerah, ia marah dan kesal. 'Ternyata si wanita kampung itu yang telah membuat Hamzah bersikap dingin kepadanya .


"Awas ya, aku akan membuat hidupmu lebih sengsara lagi", Sarah mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2