Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
MOS bag2


__ADS_3

'Alhamdulillah', Wila bersyukur dalam hatinya. Di tempat ini hanya Andi yang ia kenal. Ia tidak menyangka ternyata Andi kuliah di kampus yang sama dengannya.


"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Andi sesaat setelah mereka duduk berhadapan.


"Saya ikut di rumah Bibi, dekat dari sini, di belakang tembok Kampus ini", kata Wila sambil menunjuk ke arah tembok di belakang kantin.


"Ooh, dekat kalau begitu, kalau saya kost di bangunan sebrang kampus , katanya. "Bagaimana kabar Bapak dan Ibu di kampung?".


Tanyanya lagi. "Alhamdulillah, baik, ooh iya, terima kasih ya waktu itu banyak membantu", Andi terlihat bingung.


"Maksudnya?", Andi balas bertanya. Wila menceritakan kembali kejadian waktu bapaknya di rawat di klinik.


Ia selalu di bantu seseorang, tapi entah siapa , dan Wila mengira kalau Andi lah yang menolongnya." Bukan saya itu", kata Andi.


"Saya baru kembali kesini tadi pagi, hampir dua minggu saya di luar kota", katanya. "Terus yang bantuin saya waktu itu siapa?".


Wila tampak bingung. "Sudahlah gak usah dipikirkan, mau makan apa? Saya pesenin!" kata Andi sambil mengambil daftar menu. " Ngga, terima kasih", kata Wila.


Pelayan membawakan dua porsi lontong sayur dan dua gelas teh manis hangat, lalu menatanyai meja. "ayo makan dulu, sayang sudah dipesankan", katanya sambil tersenyum melihat Wila yang masih bengong.


"Sudah cepetan makan! " Paksa Andi. Akhirnya Wila menurut saja. Mereka menikmati makanannya tanpa bicara lagi.


Di pojokan sana ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan pandangan tidak suka.


Ia tidak suka melihat keakraban Wila dan Andi. Mereka adalah Sarah dan Susi. Entah kenapa dua mahasiswi itu merasa tidak suka kepada Wila.


Padahal mereka baru pertama bertemu di kampus . "oh iya, Kak, kalau gerbang itu biasa di buka jam berapa?" tanya Wila kepada Andi.

__ADS_1


"Gerbang yang mana?", "gerbang yang ada di dekat kantin, apa bisa masuk lewat situ?".


"Ooh, yang itu, biasanya di buka untuk keadaan darurat saja, memangnya kenapa?". "kalau misalnya di buka ,saya bisa lewat situ kan tiap hari, lebih dekat, jadi ga usah naik angkot."


Katanya sambil tertawa. Saat melihat ke arah Andi, deg ,Wila langsung memalingkan muka, menunduk. Karena saat itu Andi sedang memandangnya. Wila jadi salah tingkah.


Tiba - tiba tangan Andi mendekati tangan Wila, dan gep, tangan Wila di pegangnya. Wila kaget bukan main,reflek ia menarik tangannya.


Dengan gugup ia langsung bangkit dan pamit. "terima kasih traktirannnya, katanya sambil berlalu .


Ia kaget bukan main, tidak menyangka Andi berani seperti itu. Andi tampak kaget melihat reaksi Wila, "kenapa aku ini? Ssstt, bodoh!"


Ia memaki dirinya sendiri. Dilihatnya Wila sudah berlalu dan hilang d ujung lorong. "aku harus mengejarnya, harus minta maaf." Batin Andi berbicara.


Di ujung gang, ia mendengar kegaduhan. Dengan berjalan perlahan ia mendekati sumber suara.


"Hai cupu, kamu itu cuma orang kampung, jangan banyak tingkah, ga usah so pintar, bisa kuliah di sini saja karena dapat bea siswa kan?".


suara seorang Mahasiswi lagi." maaf kak, saya tidak bermaksud seperti itu, saya di sini cuma mau kuliah, maaf jika saya salah".


" Kamu ga usah deket deket Andi , bukan level, bisa kuliah di sini saja sudah untung, ga usah banyak berharap bisa dapetin cowo keren di sini , ngerti?".


"iya, Kak". Sudah sana masuk kelas. Kegaduhan pun berakhir. Andi yang sedari tadi mendengarkan percakapan , sedikit mendongakkan kepala melihat ke lorong mengikuti dua orang mahasiswi yang tadi.


"Ooh ternyata Sarah dan Susi". Ngapain mereka berbuat seperti itu kepada Wila, pikirnya. Andi terus mengikuti kedua Mahasiswi itu dari kejauhan.


Entah mengapa ia merasa peduli pada Wila, ia tidak ingin melihatnya kesusahan, apalagi sampai menderita. Ia berdiri di dekat kelas Wila.

__ADS_1


Sengaja ingin tahu kegiatan di kelasnya. "Semua sudah lengkap? Sudah masuk kelas semua?". Terdengar suara Sarah .


"Sudah". Mahasiswa menjawab. "Sekarang kita sharing tentang pengalaman yang paling berkesan selama di sini, yang terkena lemparan bola ini dia yang pertama maju ke depan sini dan ceritakan pengalamanmu". Kata Susi.


"Saya melempar bolanya secara acak, nanti yang terkena bola merah, dia yang dapat giliran pertama untuk bercerita". Kata Sarah.


Ia membalikkan badan menghadap white board dan melemparkan bola ke arah belakang. Bola beterbangan dan tak, salah satu bola mengenai badan Wila, dan ternyata itu bola berwarna merah.


Seketika mahasiswa bersuara. "Wila Wila Wila", Mbahasiswa kembali bersuara."Ayo mana Wila ? coba ke depan". Kata Hamzah. "mana Wila? Ada yang namanya Wila?, cepetan ke depan", kata Sarah dengan suara keras.


Wila berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke depan kelas."Ooģhh, ini too yang namanya Wila, baru tahu aku, padahal kita sudah sering bertemu". Kata Sarah.


"Coba ceritakan mungkin ada pengalaman menarik yang berkesan selama disini?" kata Susi. "Aŕyo cepat, pasti sudah banyak dong pengalaman menarik selama di sini", kata Sarah.


Wila maju ke depan kelas. "Assalamu'alaikum, terima kasih atas kesempatannya, pengalaman yang paling berkesan selama di Kampus ini yaitu saat hari pertama datang ke sini, saya hampir saja terlambat melakukan registrasi karena harus mengantar bapak ke klinik.


Namun ada orang baik yang memberikan tumpangan dan mengantar saya ke sini tepat waktu ,sehingga saya masih sempat melakukan registrasi, namun karena terburu buru, saya belum sempat berterima kasih, dan saya tidak tahu siapa dia? Jangankan nama, wajahnya saja saya tidak tahu karena waktu itu tertutup helm,saya sangat berharap untuk bisa bertemu kembali dengan orang itu untuk berterima kasih."


Wila mengakhiri ceritanya. " Wow, so sweet", kata joko nyeletuk. " kalau dia laki laki jadikan suami, kalau dia wanita jadikan saudara, hahahahaha", timpah joko lagi.


"Ya jelas laki laki, dia kan bawa motor ya, tadi katanya pake helm". Kata Mita. "Tapi sekarang banyak wanita yang bisa bawa motor juga" . Kata joko. "sudah sudah sudah, suara Sarah seketika meredam kegaduhan .


Ada sebuah senyuman yang tersungging dari salah satu Mahasiswa senior yang ada di kelas ." Kalau sudah, silahkan duduk kembali! Kata Susi kepada Wila.


Ia kembali duduk ditempatnya. Sekilas ia mencium bau parfum saat melewati mahasiswa di depan kelas, ia berhenti sejenak , mau menengok namun diurungkan .


Sepertinya itu parfum milik si penolong . Batinnya bicara. Setelah duduk, baru ia berani memperhatikan seniornya yang ada di depan kelas. Si penolong itu ada di antara mereka, tapi siapa?

__ADS_1


__ADS_2