
Wila bergegas berjalan menuju Kantin untuk memberikan kue pesanan Ibu Kantin. Namun ia melambatkan langkah kakinya, karena bagian perut bawahnya kini terasa sakit saat berjalan.
Andi memperhatikan itu, ia bergegas keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Wila.
"Tunggu", teriaknya setengah berlari menghampiri Wila . Wila menghentikan langkah kakinya, ia berdiri mengatupkan bibirnya, menahan rasa sakit.
"Kamu harus di periksa, "tunggu di sini!", Andi menyambar plastik yang di bawa Wila, setelah memastikan Wila duduk, ia bergegas menuju Kantin, dan tak lama kembali .
"Ayo kita harus ke ruang P3K!", ajak Andi. Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Wila dan membawanya ke sana.
"Tunggu", Wila kembali mmenghentikan langkah kakinya, saat melihat ada noda darah di kemeja Andi di bagian sikutnya.
"Kamu terluka?", Wila meraba bagian yang ada noda darahnya.
"Aww...., Andi meringis. Memang ada rasa perih di sana, tapi dari tadi ia abaikan.
"Cepat!, kamu juga butuh perawatan", Wila mempercepat langkahnya menuju ruang P3K, sambil menahan sakit di perutnya.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan Bu Rida, "Ada apa dengan kalian?", tanyanya sambil memandangi Wila dan Andi bergantian.
"Ada orang yang ingin menabrak Wila tadi", ucap Andi.
"Ya Bu, kami hampir saja tertabrak, ini Andi sepertinya mengalami luka di tangannya", kabari Wila dengan nada khawatir.
"Kalau begitu, cepat!, kalian perlu pengobatan", Bu Rida ikut bersama mereka ke ruang P3K.
Disana sudah ada petugas laki-laki yang sedang berjaga.
"Mas, tolong periksa dia, ada luka di tangannnya", kabari Wila kepada petugas tadi. Sedangkan dirinya di bawa Bu Rida menuju bed yang satunya lagi.
"Bagian mana yang sakit?", tanya Bu Rida setelah menutup gorden.
"Yang ini Bu", Wila meraba bagian perut bawahnya.
Bu Rida segera memeriksanya, tepat dugaannya, sebagai seorang Bidan, ia bisa memastikan kalau Wila sedang berbadan dua.
"Sebentar", Ia mengambil alat yang ia gunakan untuk memeriksa Wila.
"Ini tidak apa-apa, hanya efek dari insiden tadi , jadi , mengalami goncangan yang terlalu keras , dengan banyak istirahat, nanti juga akan normal kembali" , jelas Bu Rida.
Hal itu membuat Wila lega.
Sementara Andi, ia mengalami luka di bagian sikut, itu terjadi saat ia terdorong badan Wila, tangannya terbentur tembok.
"Hanya luka lecet saja , tidak ada yang serius" , jelaskan petugas.
Ia meneteskan sebuah obat antiseptic, lalu menutupnya dengan kasa dan direkatkan dengan perekat gulung.
"Untung saja lukanya tidak terlalu besar", ucap petugas.
Andi merasa aneh, sepertinya pengendara itu sengaja ingin mencelakai Wila.
'Tapi siapa?, kenapa ia sampai ingin membuat Wila celaka', batin Andi bicara , ia lagi menerka-nerka , mencari jawaban dari insiden tadi pagi.
"Oh iya, tadi kan aku sempat memvidio Wila, sesaat sebelum insiden itu terjadi", gumam Andi.
"Kenapa?, ada yang terasa sakit lagi?", Petugas yang mendengar gumaman Andi bertanya.
"Oh bukan apa-apa", senyum Andi.
"Terima kasih Pak",
"Sama-sama Den, semoga lekas sembuh",
"Aamiin", kembali Andi tersenyum.
Andi bangun dan turun dari kasur pasien. Ia menunggu sampai Wila selesai di periksa oleh Bu Rida.
Tak lama mereka pun keluar dari bilik satunya.
__ADS_1
"Bagaimana Bu?, Wila tidak apa-apa?" , Andi langsung menghampirinya.
"Tidak apa-apa, hanya mengalami goncangan saja", jelas Bu Rida.
"Wila, bisa kembali ikut ke ruangan saya?", Bu Rida melirik Wila.
"Baik Bu", Wila mengangguk.
"Nanti pulangnya tunggu aku!, di Masjid Kampus saja ", ucap Andi. Kini ia merasa khawatir , takut ada lagi yang ingin mencelakai Wila.
Wila mengangguk dan mengekor di belakang Bu Rida.
Kali ini ia sudah pasrah, ia sudah siapkan segalanya untuk hal buruk sekalipun.
Bu Rida memasuki ruangannya dan mempersilahkan Wila duduk.
Ia pun duduk, kini mereka sudah duduk berhadapan.
"Wila, maaf ya, kemarin Ibu sudah berbicara dengan Pak Suparman, beliau tidak mentorerir kesalahan sekecil apa pun yang bisa merusak reputasi Kampus",
Bu Rida berhenti sejenak, ia memandangi Wila, melihat perubahan raut mukanya.
Wila hanya menunduk dan diam , tangannya memainkan ujung kerudungnya.
"Jadi , kami sudah memutuskan akan mendrop out dan menghentikan beasiswamu",
"Degh....,",Wila seakan tersentak, pertahanan yang sudah disiapkan dari tadi, roboh juga, seakan mendengar petir di tengah terik matahari.
Pengorbanannya, perjuangannya, dan kerja kerasnya untuk bisa Kuliah dan mendapat beasiswa, kini diambang kehancuran.
Harapan dan cita-cita yang hanya sebentar lagi dapat diraih, seakan terbang menjauh. Padahal hanya hitungan beberapa bulan lagi ia bisa lulus.
Setelah ia mengikuti program kuliah cepat, Wila dijadwalkan akan lulus lebih cepat empat bulan dibanding teman-temannya.
Tapi setelah mendengar ucapan Bu Rida, semuanya seakan sirna. Kerja kerasnya selama ini seakan sia-sia.
"Maaf, itu sudah keputusan Final, seperti juga kasus yang menimpa dua teman kamu, Hamzah dan Sarah",
"Apa?, jadi mereka juga di drop out?", Wila heran karena setahunya, mereka hanya mengambil cuti saja .
"Ya, mereka, awalnya siih , cuma diberi sanksi, tapi sudah terlanjur bocor beritanya, jadi kami terpaksa men-DO mereka", jelaskan Bu Rida.
"Tapi, saya mohon Bu, saya tinggal selangkah lagi, jangan sampai di DO", lirih Wila.
"Tapi ini sudah deal, tidak ada toleransi bagi Mahasiswi yang sudah berbuat kesalahan dan bisa membawa citra buruk bagi yang lainnya", kekeh Bu Rida.
"Ini kasusnya berbeda Bu", lirih Wila, suaranya semakin dalam, ia menahan sesak di dadanya.
"Atau, ini alasan kamu ikut program kuliah cepat, supaya kamu bisa lulus sebelum brojol gitu?", tebak Bu Rida.
Wila terisak, "Bukan begitu Bu?", Wila sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia terus terisak.
Ingatannya kembali pada saat-saat pertama ia masuk ke Kampus ini, siang malam ia belajar untuk mengejar nilai sebagai syarat untuk mendapatkan beasiswa.
Dan setelah semuanya hampir berbuah bahagia, harus terhempas begitu saja.
"Bu...saya mohon", suara Wila makin serak.
"Saya tidak punya wewenang untuk itu, kalau merasa masih tidak terima dengan keputusan ini, kamu boleh langsung menghadap Pak Suparman", usul Bu Rida.
"Saya tidak melakukan kesalahan Bu", isak Wila.
"Saya bisa menjelaskan semuanya",
******
Andi mencari Wila ke Masjid Kampus, namun tidak ada. 'Apa mungkin masih di ruangan Bu Rida' , pikirnya.
Selepas kejadian tadi pagi, ada kehkawatiran di hati Andi. Ia takut kejadian tadi pagi terulang lagi. Karena Andi yakin , ada orang yang sengaja ingin mencelakai Wila. Entah siapa dan kenapa?
__ADS_1
Andi berjalan dengan langkah cepat menuju ruangan Bu Rida. Di sana ia merasa lega, karena Wila masih ada di sana.
Andi menunggunya sambil mengotak-atik gawainya. Ia mengecek vidio yang sempat ia buat tadi pagi.
Awalnya ia ingin memvidio Wila untuk dikirimkan kepada Hamzah, namun berantakan gara-gara insiden tadi.
Mata Andi membulat saat melihat vidio yang sempat ia buat, dengan jelas ia melihat rekaman kejadian tadi pagi.
"Sepeda motor itu ternyata memang sengaja menunggu Wila, setelah Wila lewat dan berada di gang, baru ia keluar dengan kecepatan tinggi, ingin menbrak Wila", gumam Andi.
Matanya terus tertuju pada layar hand phone nya. Ia memutar vidio itu berulang-ulang, ia ingin mengenali pengendara motornya.
"Ceklek", suara pintu terbuka. Terlihat Wila keluar dari sana. Andi yang masih fokus memantengi vidio di hand phone nya, tidak menyadari itu.
Sampai saat Wila duduk disampingnya, dan dengan tiba-tiba menangis di sana, Andi baru sadar. Ia kaget, "Ada apa lagi?, ada yang sakit lagi?", Andi memasukkan hand phone ke saku jaketnya.
Wila menggeleng, dengan refleks ia menenggelamkan wajahnya ke dada Andi dan menangis di sana. Andi kembali kaget, ia merasa kikuk, tangannya bergerak ragu untuk memeluk Wila.
Namun, ia tidak tega, dan akhirnya tangannya merengkuh tubuh Wila yang sudah bergetar di dadanya.
Ia biarkan hal itu beberapa saat sampai tangis Wila mereda.
Namun tanpa mereka sadari, ada kamera jahat yang sedang mengabadikan momen itu. Dengan senyuman sinis si pemilik kamera itu berhasil merekam mereka.
Wila mengangkat wajahnya , ia seka air matanya dengan ujung kerudungnya. "Maaf", katanya.
Andi menatap Wila,"Ada apa lagi?", penuh penasaran Andi menunggu jawaban dari Wila.
"A...aku di DO" , lirih Wila.
"Apa...?, kenapa?", Andi kaget mendengarnya.
"Pihak Kampus sudah tahu, kalau aku lagi mengandung", isak Wila.
"Jadi...kamu hamil?", reflek Andi . Ia juga baru tahu hal itu sekarang.
"Apa....Hamil????, seseorang yang masih berada di balik tembok pun tak kalah kagetnya mendengar kabar itu.
Ia menyeringai, "Double good news", gumamnya. Ia segera menjauh dari tempatnya bersembunyi dengan senyuman penuh kemenangan.
"Gue pegang AS mu , gadis kampung", ucapnya sambil terus berjalan menjauhi tempat Andi dan Wila duduk.
Wila mengangguk pelan sambil menunduk. "Apa Hamzah mengetahui hal ini, dia tahu kalau saat ini kamu sedang hamil?",
Wila mengangguk lagi.
"Sit...., kenapa tetap pergi, kalau sudah tahu kamu sedang hamil", gerutu Andi.
Andi berbalik merasa kesal kepada Hamzah yang tetap meninggalkan Wila, disaat sedang hamil anaknya.
"Jadi, kamu di DO, karena kamu hamil, begitu?", Andi kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya.
"Iya", lirih Wila.
"Kenapa tidak terus terang saja, kamu katakan yang sebenarnya, kalau kamu sudah menikah", usul Andi.
"Aku.... Takut", isak Wila.
"Kenapa harus takut, ada bukti yang sah, kalau kamu sudah menikah, kamu jangan terus-terusan belain Hamzah, dia saja tega ninggalin kamu di sini yang lagi hamil", dengan nada kesal Andi bicara.
Wila terdiam, berusaha mencerna semua ucapan Andi.
"Sekarang, kamu pikirkan baik-baik, jujur saja!, katakan yang sebenarnya", desak Andi.
" Ini demi kebaikan kamu dan calon anakmu, kalau sampai kamu di DO, bagaimana ?, pikirkan masa depan kamu dan anakmu!", kembali Andi memberi saran.
"Setidaknya kalau kamu bisa kuliah sampai lulus, kamu nanti bisa mandiri, tidak terus-terusan tergantung sama orang lain",
Wila terdiam, ia membenarkan semua ucapan Andi. Kalau dirinya lulus, kesempatan kerja akan terbuka lebar untuk dirinya, sehingga ia bisa mandiri menjalani hidupnya, walau harus tanpa suami di sisinya.
__ADS_1