
Selesai makan,Wila dan Hamzah shalat maghrib berjamaah, setelah itu Wila kembali menemani Yeni sambil menunggu Visit dokter.
Sementara Hamzah menyelesaikan berkas-berkas di ruang administrasi Klinik.
Di tunggu sampai ba'da isya pun Dokter belum datang juga, salah seorang Perawat memberitahu bahwa Dokter yang bersangkutan batal datang dikarenakan ada urusan mendesak di Rumah Sakit .
Ya, udah ...malam itu Wila kembali tidur di klinik. Untung saja besok tidak ada jadwal kuliah.
Pagi -pagi sekali, Dokter yang batal datang kemarin, sudah datang, bahkan Yeni pun baru selesai melaksanakan shalat subuh.
"Pagi Dok", sapa Hamzah yang baru datang dari Mushola.
"Pagi..., maaf saya datang lebih awal, karena nanti siang ada jadwal operasi", kabari Dokter.
"Oohh, iya..., gak apa-apa Dok", Hamzah tersenyum ramah. Panggil saja ia dokter Arif, dokter senior di klinik itu. Ia adalah sahabat ayahnya Hamzah.
Dengan segera dokter Arif memeriksa semua pasien yang masih di rawat, termasuk Yeni. Ia teliti rekam medis Yeni, di cek tensi darah, cek detak jantung, di ukur suhu tubuh, semua normal.
"Oke, semua bagus, sepertinya hari ini juga bisa pulang, tapi usahakan jangan banyak pikiran, stay happy ya!", nasehat Dokter Arif kepada Yeni.
"Ya Dok, terima kasih",Yeni tampak senang karena sudah bisa kembali ke rumah.
Begitupun dengan Wila, ia tampak senang melihat Bi Yeni sudah pulih, tapi tidak tahu bagaimana dengan hatinya, apakah sudah bisa menerima kenyataan tentang Wira, suaminya.
Entahlah, tapi semoga dengan berjalannya waktu, Yeni bisa berdamai dengan keadaan.
Setelah Dokter pergi, Wila mendekat kepada Yeni, ia memeluknya, "Alhamdulillah, Bibi sudah boleh pulang, ingat kata Dokter tadi, Bibi jangan banyak pikiran ya, biar tetap sehat", Wila me-reapet ucapan Dokter tadi.
"Iya..., Bibi akan ingat", yakinkan Yeni.
Wila membawa Yeni ke taman belakang sambil menunggu persiapan pulang. Ternyata semua administrasi sudah diurus dan diselesaikan oleh Hamzah.
Bahkan ia pun sudah menyiapkan sebuah mobil untuk mengantar Wila dan Yeni pulang.
Yeni terlihat lebih segar, ia sudah siap melanjutkan kehidupannya kembali walau tanpa kehadiran suami yang telah mengkhianatinya.
Ia bertekad untuk tidak menyia-nyiakan sisa hidupnya, hanya untuk meratapi laki-laki yang tidak setia, seperti Wira.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya sudah sampai", Yeni sumringah sepertinya ia sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam rumah yang sudah hampir seminggu ia tinggalkan.
Yeni berjalan masuk ke dalam rumahnya diikuti Wila, sedangkan Hamzah di belakangnya membawa tas dan koper .
Yeni hampir tak bisa membendung tangisnya, ia sangat terharu, ternyata setelah berada di rumah, kenangan bersama suaminya kembali berseliweran dalam ingatannya.
Wila mendekat dan kembali memeluk Yeni, " Bibi harus kuat, harus ikhlas, ingat kata Dokter tadi!", ingatkan Yeni.
Yeni beristighfar beberapa kali, ia berusaha untuk kembali tenang. "Ya udah, Bibi istirahat saja dulu, Wila antar ke kamar ya?", Wila menuntun Yeni memasuki kamarnya supaya bisa beristirahat kembali.
Setelah Yeni terlihat lelap, ia kembali menemui Hamzah yang masih di dapur.
Wila duduk lemas, ia menyandarkan tubuhnya di kursi meja makan. Hamzah meliriknya, "support terus, jangan biarkan pikirannya kosong",
"Iya..., sepertinya harus mencarikan kegiatan positif buat Bi Yeni, agar bisa cepat move on", sahut Wila.
"Iya..., tapi harus dipastikan dulu , apa ia sudah benar-benar pulih?, takutnya malah menambah kesakitan fisik bagi bi Yeni.
Wila manggut- manggut pertanda setuju, dalam hatinya bertanya , 'kegiatan apa ya, yang cocok untuk Bi Yeni?'
"Nggak, aku cuma takut saja, takut kalau nantinya kamu tidak bisa menerima kekuranganku, lantas berpaling dan mencampakan aku ", seperti Bi Yeni saat ini
"Kok, belum apa-apa sudah su'udzon siih, jangan pukul rata dong, tidak semua laki-laki begitu", ingatkan Hamzah.
"Iya, maaf, itu cuma ketakutanku saja", Wila tersipu.
"Kunci hidup itu ikhlas. Ikhlas menerima semua skenario-Nya, kita tidak bisa menawar, mau ini, mau itu, mau begini, mau begitu, gak bisa, semua sudah diatur", tutur Hamzah.
Wila mendengarkan, hatinya tambah kagum saja kepada Hamzah.
Tapi ada kekhawatiran lain yang kini mengganggu pikirannya, bagaimana reaksi kedua orang tua Hamzah setelah mengetahui hubungan Hamzah dengannya, yang hanya anak seorang miskin dari kampung.
Perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi.
"Tuh, kebiasaan ya...., kalau sudah melamun", lagi-lagi Hamzah mengagetkan Wila.
Seharian itu mereka habiskan waktu bersama di rumah Yeni, ternyata Hamzah juga jago memasak, ia membantu Wila menyiapkan makanan.
__ADS_1
*
*
*
Cahaya Sang Surya sudah menyelusup masuk di sela-sela gorden kamar Sarah. Ia baru menggeliat, matanya terasa berat, mungkin efek kurang tidur semalam, ia baru pulang hampir pagi.
Ia pun tidak tahu, bagaimana bisa sampai ke rumah, secara semalam ia benar-benar hilang kendali, sampai tak sadarkan diri.
"Bi...Bi....Bi Marni", Sarah teriak-teriak di kamarnya memanggil ART . Dengan tergesa, Bi Marni menghampirinya.
"I.. iya...Neng, sebentar, ada apa?" Bi Marni membuka pintu kamar Sarah dan menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Bi, semalam, siapa yang mengantar aku pulang?", tanya Sarah.
"Bibi gak tahu Neng, tapi yang Bibi tahu semalam Neng itu mabuk ya, gak sadar, ada Non Susi, dan dua temannya yang mengantar, yang satunya laki-laki, Bibi gak kenal, rasanya baru melihat semalam", jelas Bi Marni
Sekejap Sarah terdiam, seolah mengingat kembali kejadian tadi malam, tapi pikirannya stuck, ia tidak bisa mengingat dengan pasti.
Tapi yang jelas, kepalanya masih terasa pusing, matanya pun masih terasa berat. "Ya sudah, biar nanti aku tanya langsung sama Susi saja Bi!" Sarah kembali membaringkan tubuhnya
"Nggak makan dulu Neng, sudah Bibi siapkan dari tadi",
"Nanti saja Bi, masih kenyang, kalau ada Susi ke sini, suruh langsung ke kamar aku aja!" pesan Wila.
"Baik Neng", Bi Marni langsung meninggalkan Sarah dan kembali berkutan dengan pekerjaannya di dapur.
"Duh kasihan sekali Neng Sarah, sudah mulai candu dengan kehidupan malam dan gemerlap lampu diskotik, apalagi semalam, sepertinya ia mabuk.
'Apa beritahu saja nyonya, sebelum terlambat, tapi gak berani juga', hatinya Bi Marni berkompromi.
Ia takut nanti disalahkan Bu Rahmi kalau terjadi apa-apa dengan anaknya. Padahal yang perlu disalahkan dari semua yang terjadi sama Sarah adalah Rahmi dan Sarma , selaku orang tua Sarah yang hanya sibuk menata kerajaan bisnisnya, daripada mendidik dan merawat anak sematawayangnya.
Sehingga Sarah makin tumbuh liar mengikuti arus di luaran sana, tanpa ada benteng apa pun. Seperti semalam, ia sudah mulai mencoba minum-minuman yan memabukka.
Entah apa reaksi kedua orang tuanya seandainya tahu perkembangan anaknya saat ini.
__ADS_1