Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Perjalanan Pulang ke kota


__ADS_3

Sebuah tas koper besar sudah siap di ruang tengah, sebuah dus berisi oleh-oleh pun sudah rapi, barang-barang yang akan dibawa ke Kota sudah siap di pack.


Wila tampak duduk disamping Ayah ibunya. Ia tampak tidak begitu antusias dengan persiapan pulangnya ke Kota. Kalau boleh sih ia ingin berlama-lama di sini.


Namun bagaimana pun ia harus segera kembali ke Kota, karena ada harapan dia yang masih setengah jalan.


Di jalan sudah ada dua mobil yang terparkir, satu untuk Wila dan Hamzah, dan yang satunya lagi, Andi, yang akan membawa pulang Bi Yeni.


Semua barang bawaan sudah aman di mobil masing-masing


Hamzah, Wila , dan Bi Yeni tampak sedang pamitan kepada Caca dan Yati.


Seolah enggan melepas putrinya, Yati terus saja memegang erat tangan Wila, "Hati- hati di sana, cepat selesaikan kuliahnya, biar Ibu dan Bapak ada teman, Kami sudah tua, ingin segera berkumpul dengan anak cucu", Yati berkaca-kaca.


"Iya, Wila pamit Pak, Bu, sehat-sehat ya", Wila kembali menyalami kedua orang tuanya. Disusul Hamzah dan Bi Yeni.


Mereka mengantar sampai ke jalan, tak lupa para tetangga pun melepas kepulangan Wila . Tak lama kedua mobil mulai melaju meninggalkan Kampung Halaman Wila.


Hamzah sudah meminta Andi untuk menunggunya saat sudah sampai di Batas Kota, di sana ia akan meminta Wila menaiki mobil Andi, dan Hamzah bisa langsung melesat menuju rumah.


Sepertinya, Hamzah masih belum siap kalau sampai Sarah dan orang- orang terdekatnya di Kota mengetahui pernikahan keduanya dengan Wila.


Biarlah waktu yang menjawabnya .sepanjang perjalanan, Wila lebih banyak diam, hingga akhirnya ia pun tertidur.


Sudah kebiasaan memang, Wila tidak tahan lama-lama saat lagi berkendara, pasti ia selalu tertidur.


Hamzah memandangi Wila yang tertidur saatq lampu merah, ia membenarkan posisi kepala istrinya itu yang miring.


Terbersit keinginan untuk menikmati kehangatan istrinya, Hamzah pun membelokkan mobilnya di sebuah hotel melati, dan langsung cek in.


Hamzah menggendong Wila hati-hati, ia tidak ingin membangunkannya. Hamzah tidak peduli dengan sorot mata aneh dari orang-orang yang dilaluinya.


Dengan susah payah ia membuka kunci kamar, dan membaringkan Wila dengan hati-hati.


Tak lupa ia memesan dua porsi makanan , lengkap dengan jus mangga kesukaan istrinya.


Selepas itu, ia beristirahat sejenak , ia tidur di samping Wila, ia menatap lekat istrinya. Makin terlihat cantik saat sedang tidur begitu, membuat keinginan Hamzah makin kuat.


Ia belai lembut wajah istrinya yang masih terlelap.


perlahan Wila membuka mata, dan kaget mendapati durinya sedang satu ranjang bersama Hamzah.


"Apa kita sudah sampai di rumah?", Wila mengedarkan pandangannya. Ia kira sudah sampai di rumah, tapi ia tampak asing dengan kamar yang ditempatinya.


Hamzah tersenyum mendapati kebingungan istrinya.

__ADS_1


"Belum, kita baru setengah jalan", jawab Hamzah.


"Kok, kita ada di sini?",


"Iya, Abang mau ",


Wila mentautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan pernyataan Hamzah.


"Mau...?, Abang mau apa?",


"Makan?",


Hamzah kembali mengulum senyum, "Iya, Abang mau makan , makan kamu",


Wila tersipu, ia baru menyadari dan mengerti pernyataan Hamzah tadi.


"Ini masih siang, belum juga Asar",


"Abang tahu, tapi ini mendadak, lihat dia sudah bangun", Hamzah meraih tangan Wila dan menyentuhkannya kepada miliknya.


"Iiiih Abang", wajah Wila langsung memerah.


"Boleh ya?!",


Wila tersenyum dan mengangguk pelan,


Kembali ia menyentuh istrinya. Lagi -lagi mereka terlibat pergumulan panas .


Sampai mereka berdua tertidur


Drttt....


Berkali-kali hand phone Hamzah bergetar, namun yang mpunya masih terlelap mendekap istrinya.


Hamzah terbangun, dan menyadari Wila masih berada dalam kungkungannya, ia bergeser dan kembali menatap wajah istrinya. Ia akan terlihat lebih bercahaya setelah bercinta.


Hamzah tidak mengerti, kenapa setiap memandang istrinya, selalu saja mau, seakan Wila sudah menjadi candu baginya.


Ia kembali membelai wajah dan tubuh istrinya, Wila terbangun mendapatkan sentuhan-sentuhan liar dari Hamzah, geli memang tapi tetap memabukkan .


Hamzah menatap lekat manik mata Wila, ia seolah terhipnotis. "Jangan bangun dulu, Abang masih mau",


Wila merasakan ada yang kembali tegak di bawah sana yang menyentuh bagian kaki atasnya.


'Cepat sekali horn' , pikirnya.

__ADS_1


Dan Wila pun tidak bisa menolak saat Hamzah kembali menikmati setiap jengkal tubuhnya. Karena ia pun menikmatinya


"Maaf", ucap Hamzah saat mengecup kembali kening Wila untuk kedua kalinya ia melakukan pelepasan.


Mereka kembali terkulai menikmati penyatuan mereka. Kumandang adzan Asar, membangunkan mereka, Hamzah mengambil Hand Phone miliknya dan ia mendapati banyak panggilan dan pesan dari Andi.


Hamzah tampak menuliskan sesuatu dan mengirimkannya kepada Andi.


Ia kembali mendekati Wila, dan berbisik di telinganya ," Bangun ",


Wila menggeliatkan badannya yang terasa ngilu setelah melayani birahi suaminya.


"Kita mandi dulu, sudah sore", ajak Hamzah. Wila bangkit dan mendapati Hamzah dengan badan polosnya duduk disampingnya .


"Iiih Abang, malu, kok begitu", walau sudah menikmatinya berkali-kali, tapi Wila masih tetap malu saat melihat suaminya dengan badan polosnya seperti itu.


Dengan tersenyum, Hamzah menyambar handuk Hotel dan melingkarkannya di pinggang.


"Abang mandi duluan!", atau mau mandi bareng?", tawar Hamzah.


Wila tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia tidak ingin Hamzah kembali horn saat mandi bareng.


Terdengar bunyi air gemericik, Wila menerawang, mungkin nanti akan sulit bagi mereka walau hanya untuk bersua, apalagi untuk bisa menikmati kebersamaan seperti ini.


Wila takut, Hamzah tergoda oleh Sarah. Sarah itu wanita yang cantik, tidak sulit baginya untuk menaklukkan hati laki-laki.


Wila tidak akan rela jika hal itu sampai terjadi, ia tidak rela berbagi suami.


"Kok, malah melamun?", suara Hamzah mengejutkan Wila, ia tersadar dari lamunannya.


"Apa masih mau nambah?", goda Hamzah


"Apaan iihh", Wila cepat-cepat beranjak menuju kamar mandi, ia tidak ingin lama-lama berhadapan dengan Hamzah, yang lagi bertelanjang dada.


Wila membersihkan dirinya, dan saat akan keluar, ia celingukan mencari handuk, ia lupa membawa handuk.


Dalam kebingungan, Wila membuka pintu kamar mandi dan meminta tolong kepada Hamzah untuk mengambilkan handuk.


Hamzah yang sedang membalas chat dari Andi tersenyum melirik Wila yang hanya menampakkan kepala ke luar, sementara badannya sembunyi di balik pintu.


Tak lama ia menghampiri Wila sambil membawa handuk dan pakaian ganti untuk Wila.


Wila segera mengambilnya dan memakainya di dalam . Ia keluar setelah berpakaian rapi. Ia tampak tersenyum mengingat kelalaian dirinya.


Wila sedikit merenggut ketika mendapati Hamzah tidak menyadari kehadirannya, ia malah sibuk memainkann hand phone nya. 'Pasti Sarah yang menghubunginya', pikir Wila.

__ADS_1


Ia merasa cemburu walau baru memikirkannya.


__ADS_2