
Andi menghentikan sepeda motornya tepat di depan rumah Bi Yeni.
"Mampir dulu, Di?" , Wila turun dari sepeda motor.
"Nggak, terima kasih, lain kali saja, sudah mau malam, nggak enak sama tetangga", senyum Andi.
"Sampaikan salam saja buat Bi Yeni, aku pulang ya, Assalamu'alaikum", Andi kembali melajukan sepeda motornya membelah kegelapan malam yang kian merayap.
Wila segera memasuki rumah, "Assalamu'alaikum", Wila masuk walau tidak ada jawaban dari dalam.
"Bibi pasti lagi di dapur", gumam Wila. Ia taruh tasnya di kursi , lalu berjalan menuju dapur mencari keberadaan Bi Yeni.
Benar saja, Yeni sedang berkutat dengan pekerjaan memasaknya. Ia sedang membuat kue-kue basah untuk besok.
"Assalamu'alaikum", Wila kembali mengucap salam.
"Wa'alaikum salam, Neng baru pulang?", sambil tangannya terus bekerja.
"Iya, Bi , tadi ada acara mendadak ", jawabnya .
"Ya, sudah , makan dulu saja!", perintah Bi Yeni.
"Hhmm, sudah kenyang Bi , tadi mampir ke warungnya Bu Dati, Wila disuguhi Bakso", senyum Wila.
"Oohh, ya sudah, istirahat saja dulu, tapi jangan mandi dulu!", sudah malam, pamali", Yeni masih tetap berkutat dengan pekerjaannya.
"Iya Bi, Wila mau di sini saja, bantuin Bibi" Wila mendekati Bi Yeni.
"Memangnya nggak cape?, kan sudah seharian di luar rumah",
"Nggak Bi , Wila bantuin Bibi saja, tadi Ibu Kantin minta ditambah 10 buah per kue katanya, Alhamdulilllah banyak yang suka Bi",
"Alhamdulillah", senyum Bi Yeni.
Mereka menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah semua beres, mereka berpindah ke ruang keluarga. "Neng itu ada kiriman lagi, Bibi lupa, dari tadi masih di sana", Yeni menunjuk sebuah paket yang ia taruh de meja dekat televisi.
"Itu dari Hamzah", ucap Yeni, ia melirik Wila.
Wila tidak bergeming, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan meluruskan kakinya, matanya tampak terpejam.
Memang kini Wila yang terus menghindar dari Hamzah . Ia ganti nomer hand phone nya supaya Hamzah tidak bisa menghubunginya.
__ADS_1
Sejak kepergiannya bersama keluarga Sarah yang tiba-tiba, Wila sudah mengganggap Hamzah tidak ada.
Yeni pun membiarkannya, ia tatap wajah Wila yang mulai terlelap. Ada rasa iba dihatinya, bagaimana Wila bisa menghadapi semuanya?, tinggal beberapa bulan lagi perutnya akan membesar.
Yeni tidak berani membangunkan Wila , ia ikut berbaring di kursi yang satunya lagi, alhasil malam itu mereka berdua tidur di kursi yang ada di ruang tengah.
********
Andi menghentikan laju sepeda motornya di pinggir jalan, karena dari tadi gawainya terus bergetar, sepertinya ada yang telepon. Takut ada urusan penting, ia pinggirkan dulu sepeda motornya dan segera morogoh saku jaketnya.
"Hamzah?", ucapnya, segera ia angkat telepon dari sahabatnya itu.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Andi?", suara Hamzah langsung terdengar.
"Wa'alaikum salam, ada apa bro, malam-malam, tumben", Andi langsung to the point menanyakan tujuan Hamzah menelepon.
"Gimana sudah beres?, terus keadaan Wila gimana?", cecar Hamzah.
"Sudah, semua ok, barangnya sudah geu kasih ke Bu Dati langsung, dan kebetulan di sana gue juga ketemu Wila", aku Andi.
"Wila ?, Apa dia baik-baik saja?",
"Iya , dia baik-baik saja, terus kapan kamu dia menemui dia lagi?", tanyai Andi
"Hhmm, gak tahu juga ya, nunggu semua urusan di sini beres dulu, kemungkinan sampai Sarah melahirkan, aku minta tolong, setiap bulan sudah aku transfer buat kebutuhan Wila", kabari Hamzah.
"Masa...., mungkin itu kue,-kuenya Bi Yeni",
"Zah, kenapa kamu tidak pulang dulu, jelaskan semuanya kepada Wila", usul Andi.
"Iya, itu juga yang gue mau, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang, gue harus bolak -balik Rumah Sakit menungguin Sarah",
"Terus di sini gimana?, Wila juga butuh kamu",
Sejenak Hamzah terdiam, "Maafkan Gue Ndi , saat ini tidak ada pilihan lain, Gue harus tetap di sini menjaga Sarah sampai melahirkan", Kekeh Hamzah.
"Terus progres pembangunan rumah di Ciamis gimana?", Hamzah mengalihkan topik pembicaraan.
"Lancar, semua sudah ditangani dengan baik oleh Pak RT, kalau aku boleh usul, temui dulu Wila, jangan sampai loe nyesel nanti", ingatkan Andi.
"Memangnya kenapa?, ada sesuatu dengan Wila?".
"Nggak ada apa-apa, barusan Gue juga habis dari rumah Bi Yeni, Wila baik-baik saja kelihatannya",
__ADS_1
"Besok kalau bisa, Gue pingin bicara sama Wila, kamu bisa atur waktunya?"
"Ok, akan diusahakan, pas jam istirahat saja kayaknya", janji Andi.
"Siip, makasih ya",
Tiba-tiba "Tuuuuuut", sambungan teleponnya terputus. Andi lihat berulang ulang gawainya, tak ada yang salah, 'kok terputus, apa sengaja?', pikirnya.
Andi mengangkat kedua bahunya, lalu ia taruh kembali gawainya ke dalam saku jaket dan segera melajukan kembali sepeda motornya.
******
Hamzah terkejut saat tiba-tiba Hand phone-nya direbut Sarah. " Bicara sama siapa, malam-malam gini?, apa kamu masih menghubungi gadis kampung itu?", cerocos Sarah sambil mengotak-atik Hand phone milik Hamzah.
"Kamu lihat saja sendiri, aku habis bicara sama siapa?", Hamzah beranjak meninggalkan Sarah dan ia duduk di pinggir tempat tidur.
Sarah menghampiri dan duduk disampingnya," Andi yang kamu hubungi,", tanyai Sarah.
"Tapi pasti kamu menanyakan kabar dari gadis kampung itu juga kan?", tebak Sarah.
"Kamu itu kenapa siih, lihat sudah ada Aku", Sarah menghadapkan Hamzah pada dirinya.
"Apa setelah kebersamaan kita beberapa bulan ini tak sedikit pun kamu menyimpan rasa sayang kepada Aku?, sekeras itukah hatimu?, sebesar apa siih rasa cintamu pada gadis kampung itu?, sehingga terus membuat kamu mendiamkan Aku, Aku ini istrimu Hamzah" , Sarah tampak melemparkan hand phone Hamzah ke atas kasur.
Tanpa di duga, Sarah mendorong tubuh Hamzah hingga ia terguling di atas kasur. Sarah berbaring di samping tubuh Hamzah, ia memeluknya, ia dekatkan wajahnya dengan wajah Hamzah, hingga hidung mereka saling beradu.
"Apa kamu sudah mati rasa gara-gara dia?, sehingga tidak pernah mau menyentuhku, istrimu sendiri?",
Sarah sudah tidak bisa mengendalikan nafsunya, ia menciumi Hamzah, dan ia pereteli kancing kemeja Hamzah, namun ia menjerit kesakitan, perutnya kembali kram.
Sarah memegangi perutnya sambil meringis menahan sakit.
Hamzah bangun dan membetulkan kembali posisi kemejanya, lalu ia hampiri Sarah.
"Coba kamu duduk, selonjorkan kakinya!", Hamzah membantu Sarah duduk di atas tempat tidurnya.
"Kamu ini masih sakit Sarah, jangan banyak gerak dulu!", Hamzah beranjak mengambil air minum untuk Sarah.
"Minumlah, tenangkan hatimu!", Hamzah mengelus bagian perut Sarah yang mulai membesar.
Hamzah membayangkan Wila yang ada dihadapannya, ia membayangkan bisa mengelus calon bayinya yang sedang tumbuh di dalam rahim Wila.
Namun kini ia terjebak bersama Sarah, sehingga tidak bisa menemani Wila.
__ADS_1
Sarah memejamkan matanya, merasakan hangat yang menjalar dari tangan Hamzah, ia merasa nyaman. Dan tak lama ia pun terlelap.
Hamzah kembali berjalan menuju balkon, ia pandangi hitamnya langit, ia ingin sekali menemukan bintang di sana, agar bisa menitipkan semua rasa sayang dan rasa rindunya kepada Wila.