
Wila sudah mengetahui rencana kedatangan Hamzah, entah apa yang ia rasakan, perasaannya datar, biasa saja, mungkin karena selama ini, ia sudah terbiasa tanpa kehadirannya.
Hari ini Wila akan kedatangan kedua oran tuanya, mereka ingin menghadiri acara Wisuda anaknya . Ya , hari ini Wila berhasil di wisuda. Wila sudah berhasil menyelesaikan studinya . Itu semua berkat kerja keras dsn kerja samanya bersama Bu Rida, sehingga Wila bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dengan nilai yang memuaskan.
Saat membutuhkan dana untuk keperluan menyusun skripsi, ia dikagetkan dengan jumlah tabungannya yang tahu-tahu sudah banyak. Wila sempat bingung, namun setelah di cek, ternyata ada kiriman rutin tiap bulan dari Hamzah.
'Maafkan aku, aku telah salah menilaimu, ternyata kau masih menunaikan kewajibanmu sebagai suami', batin Wila bicara saat melihat sejumlah rupiah telah mengisi rekeningnya selama ini.
'Semoga saja, esok benar-benar menjadi hari yang paling bahagia untukku, karena bisa wisuda dan kembali berkumpul dengan orang-orang terkasih' ,Wila tersenyum walau baru membayangkannya.
Sudah sejak pagi , Andi pergi untuk menjemput orang tua Wila di terminal. Mereka tidak banyak mengetahui kehidupan Wila dengan Hamzah, karena sejak awal pun Wila tidak memberitahu posisi Hamzah yang waktu itu sudah menikah dengan Sarah.
Wila dan Bi Yeni sudah sepakat untuk tidak memberitahu orang tuanya perihal hubungan pernikahannya antara Wila dan Hamzah, juga mengenai Sarah.
Biarlah mereka cukup mengetahui yang baik-baik saja.
Mobil Andi terlihat memasuki pekarangam dumah Ni Yeni, Yati dan Caca terlihat keluar dari mobil, sepertinya mereka sudah sabar untuk bertemu anaknya.
Begitu juga dengan Wila, rasanya sudah kangen dengan kedua orangtuanya itu.
"Assalamu'alaikum", Caca masuk ke rumah Yeni yang kebetulan pintunya terbuka.
"Wa'alaikumsalam, Kak, sudah nyampai", Yeni menyalami Kakaknya.
"Duduk saja dulu Kak, ntar Wila lagi mandi kayaknya", Yeni bergegas ke dapur untuk mengambil minum.
Tak lama Wila ke luar dari kamarnya.
"Bapa, Bu, Wila menghampiri kedua orang tuanya, ia menyalami mereka.
"Alhamdulillah Neng, kandunganmu sehat?, mana suamimu?", Caca memberondong Wila dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Alhamdulillah Pak, sehat, Mas Hamzah lagi ke luar Kota, sepertinya besok juga pulang, tadi sempat ngabarin", senyum Wila.
"Iya Bapa sudah kangen pada kalian, rumah kita sudah beres, nanti cucu Bapa lahir sudah bisa pulang ke rumah baru", Caca tersenyum bahagia.
"Rumah?, rumah Ciamis Pak?",
"Iya, sekarang sudah beres, suamimu kan rutin mengirimi uang untuk pembangunan rumah kita",
Wila termenung, ternyata selama ini, Hamzah selain mengiriminya uang, juga mengirim uang untuk pembangunan rumahnya di Desa.
"Alhamdulillah, semua berjalan lancar, sekarang Neng sudah mau di wisuda , sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu", Yati memeluk Wila.
"Iya Bu, terima kasih, ini semua berkat do'a Ibu dan Bapa, semuanya diberi kelancaran.
"Kapanperkiraan lahirnya?" , Yati menatap Wila.
"Dua minggu lagi Bu", senyum Wila.
"Kita sudah mau punya cucu Pak, kita sudah tua", senyum Yati.
Waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin ia digendong ibunya, dimanja oleh bapaknya. Ia masih ingat masa kecilnya yang penuh kasih sayang, kini ia sendiri sebentar lagi akan menjadi ibu, dan kedua orang tuanya sudah menampakkan gurat-gurat usia senja. Rambutnya mulai memutih, kulitnya mulai keriput, tubuhnya mulai ringkih.
Wila ingin kedua orangtuanya merasa bahagia di sisa usianya, berkumpul bersama anak dan cucunya. Sudah saatnya mereka menikmati hasil kerja kerasnya. Berbahagia di usia senja.
Hari mulai merangkak gelap, mereka beranjak untuk beristirahat. Hamzah masih berada di perjalanan, saat hand phonenya berbunyi, ia melihat ibunya menelepon.
"Wa'alaikum salam Bu, ini saya lagi dijalan menuju Bandung", ucap Hamzah.
"Apa?, Ayah sakit?, tapi bagaimana Bu?, saya lagi diperjalanan" ,
"Kamu bisa turun dan segera pulang ke rumah, ayahmu sakit, dia terus menanyakanmu ", jelas Bu Kalila.
__ADS_1
Bu Kalila mengabarkan bahwa Ayah Hamzah sakit, beliau masuk ruang ICU.
Hamzah benar-benar bingung, jika ia kembali, ia pasti mengecewakan Wila lagi, tapi jika ia meneruskan perjalanan, berarti ia mengabaikan Ayah dan ibunya. Apalagi ayahnya baru saja pulang dari Dubai.
Ia takut terjadi hal buruk terhadap ayahnya. Ia memutuskan untuk menemui ayahnya. Di persimpangan, ia kembali memutar arah, kini mobilnya melaju menuju rumah ibunya di Jakarta.
Karena panik dan terburu-buru, Hamzah lupa tidak mengabari hal ini kepada Wila. Apalagi tangannya lagi fokus mengemudi, ia tidak sempat mengabari siapa pun tentang sakit ayahnya.
'Maafkan aku Wila, aku pasti mengecewakanmu lagi, aku do'akan semoga semua urusanmu lancar, maafkan aku tidak bisa mendampingimu di hari pentingmu' batin Hamzah menerawang.
Kenapa selalu ada penghalang diantara kita, mungkin ini menguji kesabaran kita, semoga kita dipertemukan dalam keadaan yang lebih baik. Kita dipertemukan untuk kembali bersama selamanya", harap Hamzah.
Hamzah mengendarai mobil dengan perasaan yang tidak menentu. Ia khawatir terhadap Wila, juga khawatir terhadap kesehatan ayahnya.
Hati Hamzah begitu kacau, ingin rasanya ia menjadi dua, agar satu bagian dirinya bisa menemani Wila dan satu bagian lagi menemui ayahnya. Ini situasi sulit baginya. Keduanya sama pentingnya, keduanya sama-sama orang yang Hamzah cintai.
Saat lampu merah, ia sempatkan mengirimi Wila pesan ," Maaf, lagi-lagi aku mengecewakanmu, aku hampir nyampai di Bandung, tapi ada kabar yang mengejutkan, Bapak sakit , beliau masuk ICU di Jakarta",
"Maafkan aku, tidak bisa menghadiri wisudamu, maafkan aku jika tidak bisa mendampingimu saat kelahiran anak kita, beri nama "Haura, kalau lahir perempuan, dan beri nama "Hanif", kalau laki -laki", begitulah pesan yang sempat Hamzah kirim untuk Wila.
Qodarullah, jalanan ibu kota terlihat padat saat menjelang siang, Hamzah terlihat putus asa di dalam mobil. Ia hampir saja terlibat kecelakaan saat ada mobil berhenti mendadak di persimpangan di depannya.
"Tiiiiiit.....tiiiiiiit........tiiiiiiiiiiit?" ,suara klakson mulai menjerit-jerit, pengemudi mulai tidak sabar, apalagi matahari kian terik memancarkan cahayanya.
"Astaghfirullah, Ya Allah, hampir saja", Hamzah menepikan mobilnya di dekat sebuah kios makanan , ia memesan segelas kopi panas, untuk memberikan suntikan energi bagi tubuhnya yang kini mulai terasa lelah.
Tinggal beberapa persimpangan lagi, ia akan sampai di Rumah sakit tempat ayahnya di rawat.
Ia lihat hand phone nya, pesannya masih belum Wila baca. Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya dan segera mencari meja reseptionis, untuk mencari keberadaan ayahnya.
"Permisi Sus, pasien atas nama Pak Wardiman dimana?",
__ADS_1
"Oh..., ruangan Anyelir, kamar no 3", jawab reseptionis.
"Terima kasih", Hamzah bergegas menuju ruangan yang disebutkan oleh Perawat.