
Keadaan Wila sudah semakin baik, hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kalau kontaminasi racun di tubuhnya sudah benar-benar bersih.
"Ibu , hasil pemeriksaannya bagus, tinggal menunggu visit Dokter besok pagi, Ibu sudah bisa pulang", jelas Perawat.
"Terima kasih Sus", senyum Wila, ia merasa lega. Perawat itu keluar meninggalkan Wila sendiri, karena Andi sedang shalat isya berjama'ah di Masjid.
Wila merasa ada yang bergerak-gerak di dalam perutnya. Ia tersenyum dan membelai lembut perut buncitnya.
'Andai saja ayahmu ada di sini Nak, dia akan bisa merasakan tendanganmu ', batin Wila berkata. Ia menerawang, membayangkan kehadiran Hamzah di sisinya.
Apalagi tinggal beberapa minggu lagi, anaknya akan lahir. Mungkin ia harus mempersiapkan mental baja, jika harus melahirkan tanpa kehadiran Hamzah.
Jika sampai itu terjadi, maka harapannya untuk bisa terus bersama Hamzah pupus. Ia harus berfikir logis, jika Hamzah sampai tidak datang saat ia melahirkan , maka pintu hatinya tertutup untuk Hamzah.
Tak terasa butiran bening kembali mendesak keluar dari sudut matanya. Ia menyekanya dengan punggung tangan, dan berusaha mengukir senyuman kembali.
Wila tidak ingin anak yang sedang dikandungnya ikut merasa sedih.
Tanpa ia sadari, Andi memperhatikannya dari luar, ia melihat semua tingkah Wila dengan perasaan iba. Kalau bisa, ia ingin menggantikan posisi Hamzah.
Andi membuka pintu perlahan, ia menghampiri Wila yang masih mengelus perut buncitnya.
"Bagaimana perkembangannya?", tanyai Andi.
"Alhamdulillah, baik , tinggal menunggu visit Dokter katanya , besok juga bisa pulang" senyum Wila.
"Alhamdulillah, nanti kalau sudah pulang, aku akan bicara kembali dengan pihak Kampus agar kamu bisa kuliah daring saja, aku masih khawatir jika pelakunya masih belum diketahui, takut dia terus mengincar kamu",
__ADS_1
" Nanti kalau sudah melahirkan, dan pelakunya sudah tertangkap, baru kamu bisa ke Kampus lagi, atau mudah-mudahan sebelum melahirkan , sudah bisa wisuda", senyum Andi.
"Aamiin , Wila menengadahkan tangan",
"Aku masih bingung, kenapa harus Lela, kenapa dia memberimu jus yang sudah ada racunnya?, kamu kan sahabatnya, masa dia mau mencelakai sahabatnya sendiri",
Wila terdiam, dia masih ragu untuk mengutarakan dugaannya.
"Ah..., aku yakin bukan Lela pelakunya, aku sudah mengenalnya lama, dia tidak mungkin berbuat gila, bukan tipe Lela", Wila membela Lela.
"Kalau aku sih sepertinya ada orang yang sudah merencanakan ini, dan menjadikan Lela kambing hitamnya",
"Tapi siapa orangnya?", Andi merenung, ia menerka-nerka, siapa orang yang tidak suka dengan Wila.
"Atau jangan-jangan...Susi?, dia kan yang selalu bersama Sarah, dia itu sahabat dekatnya Sarah", terka Andi.
"Tapi dia itu hanya ikut-ikutab Sarah saja, aslinya dia itu baik", Wila membela Susi.
"Atau, jangan-jangan , ada orang yang menyuruh seseorang di sini untuk mencelakai aku", tebak Wila.
"Emm...masuk akal, tapi siapa yang menyuruh siapa?", Andi menerawang, ia mencoba menghubungkan fakta dan bukti-bukti yang sudah ia dapat.
"Ya...ya...ya..., aku mulai mengerti, ada orang bayaran di sini" , yakin Andi.
"Tapi siapa?, perasaan , aku tidak pernah bertikai dengan siapa pun", terawang Wila. Ia berusaha mengingat interaksinya bersama teman- temannya di Kampus, tidak pernah sekalipun ia berselisih, selain dengan Sarah dan .....Susi?
"Ya, Susi. Bisa jadi dia, secara dia kan sahabatnya Sarah, bisa saja dia yang disuruh Sarah untuk mencelakai aku", tebak Wila.
__ADS_1
Andi termenung mencerna dugaaan Wila, masuk akal. Susi adalah sahabat dekatnya Sarah, 'owh, kenapa baru kepikiran, bisa jadi Sarah yang menjadi dalang utamanya, dia memperalat Susi untuk mencelakai Wila, tapi jenapa?, kan Hamzah sekarang sudah bersamanya', pikir Andi.
'Tapi, orang yang mau menabrak Wila waktu itu, pakai motor, sepertinya laki-laki' , Andi menggelengkan Kepala.
"Kenapa?, kamu pusing?", tanya Wila.
"Aku bingung, dari tadi menghubungkan kejadian-kejadian yang menimpamu, sepertinya saling berkaitan, tapi diperankan oleh orang yang berbeda", ungkap Andi.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, kebenaran akan datang dengan sendirinya", senyum Wila.
Dari tadi kita mencurigai Susi, tapi waktu itu, yang mau menabrak kamu sepertinya seorang laki-laki", ucap Andi.
"Apa mungkin, mereka itu orang yang sama?, tapi siapa mereka?, yang jelas , mereka itu ada di sekitar kamu", Andi memandang cemas ke arah Wila.
"Aku tidak pernah terlibat keributan dengan siapa pun, hanya Sarah",
"Sarah...., Lela...., Susi....?", apa mereka semua bersekongkol untuk mencelakai kamu?", Andi kembali menerawang.
"Terus laki-laki yang hampir menabrak kamu itu
siapa?",
"Apa sebaiknya kita lapor kepada pihak yang berwajib saja?, biar kita tenang", usul Andi.
Wila termenung, "Apa sudah se urgent itu?, hingga harus lapor polisi",
"ini demi keselamatan kamu dan anakmu Wil, ini sudah bukan main-main lagi, kamu sudah dua kali, dan kali ini hampir mencelakai kalian", jelas Andi.
__ADS_1
"Ya tapi, tidak terlalu berlebihan?",
"Kita laporkan saja dulu, ini sudah kriminal", Andi meyakinkan Wila.