
POV Andi
Aku sedari kecil di rawat oleh kedua orang tua Hamzah, saat itu kami tinggal bersebelahan saat di Dubai.
Kedua orang tua Hamzah adalah seorang Dokter yang bekerja di sebuah Rumah Sakit di sana. Kami bertetangga karena hanya kami yang berasal dari Indonesia yang tinggal di Apartemen tersebut.
Ibuku meninggal dunia beberapa jam setelah aku lahir. Ayah yang bekerja sebagai TKI di sana menerima tawaran Bu Kalila, Ibunya Hamzah untuk mengasuh anaknya yang baru lahir.
Karena di sana kami tidak memiliki saudara, Ayah akhirnya menerima tawaran tersebut.
Saat itu Hamzah sudah berusia dua tahun. Ibu Kalila merawat Andi seperti anaknya sendiri. Ibu Kalila mengalami kelainan saat mengandung Hamzah, sehingga ia di Vonis tidak akan bisa hamil lagi setelah Hamzah.
Makanya ia sangat senang saat diperbolehkan merawat Andi.
Keluarga Hamzah kembali ke tanah air saat Hamzah mau memasuki sekolah menengah.
Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, membuat Andi dan Hamzah tumbuh bersama layaknya kakak beradik.
Orang tua Hamzah pun tidak membeda-bedakan kasih sayang terhadap mereka.
Perawakan Abdi yang kecil dan tidak terlalu tinggi, seringkali menjadi sasaran kejahilan teman-temannya waktu sekolah dulu.
Pernah saat pelajaran olah raga, teman-temannya jahil memindahkan baju ganti Abdi ke loker yang lebih tinggi dua tingkat dari yang semula, jelas saja hal itu membuat Andi tidak bisa menemukan seragamnya.
Kejadian itu terjadi saat Andi baru kelas satu SMP dan Hamzah waktu itu kelas tiga, teman-temannya tidak ada yang tahu kalau Andi adalah saudara Hamzah.
Karena memang raut muka mereka yang berbeda. Siapa yang menyangka kalau Andi adalah adiknya Hamzah, sang ketua Osis.
Sontak saja kejahilan teman-temannya itu membuat Andi panik dan bingung. Ia terus mencari dan mondar-mandir di ruang ganti.
Sampai jam sekolah berakhir, Andi masih di ruang ganti. Sampai akhirnya Hamzah menemukannya di sana.
"Di, kenapa masih di sini, ayo pulang!", ajak Hamzah . Andi tetap duduk di tempatnya dengan menahan tangis.
Hamzah kaget, dan menghampirinya, "Kenapa?, ada apa?", Hamzah memegang pundak Andi.
"Hiks...., itu Kak seragamnya hilang", aku Andi.
"Hilang, kok bisa?, tadi di simpan di mana?" , Hamzah heran.
"Di sini Kak, di loker ini", tunjuk Andi pada loker bertuliskan angka 12 .
Hamzah mendekat lalu membuka loker tersebut, "Di sini?" , Hamzah tampak membuka loker nomer 12 dan memang kosong, tidak ada apa-apa.
"Ini loker kamu?", tanyanya lagi.
__ADS_1
Andi mengangguk.
"Lo... kok bisa ?", Hamzah coba membuka loker itu satu-satu. Dan ia menemukan satu bungkusan plastik putih berisi baju. "Bismillahirrohmanirrohim", ia ambil bungkusan itu dan membukanya di depan Andi.
Ternyata jelas itu seragam milik andi. Terlihat dari papan namanya di sebelah kiri
Di sana jelas terpampang nama Andi.
Andi berdiri dengan senang, "Iya itu punya Andi Kak ", ia berjalan mendekati Hamzah.
"Sini Kak, biar langsung di pakai saja",
"Eit....tunggu dulu", Hamzah terlihat mengibas-ngibaskan baju Andi. Dan "Pluk", ada satu..dua..kecoa terjatuh dari dalam seragam sekolah Andi.
"Tuh.....,kan , hampir saja", ucap Hamzah lega.
"Ayo pakai!", Hamzah memberikan seragam yang dipegangnya kepada Andi. Dan Andi pun segera memakainya.
"Hhmm, ini pasti ada yang sengaja memindahkan seragam kamu ke loker diatasnya, iseng banget tuh anak", gerutu Hamzah.
"Sudahlah Kak, jangan di bahas", senyum Andi.
"Kamu itu, di apa -apa in juga diam saja, tambah berani mereka", Hamzah menggamit tangan Andi membawanya keluar dari ruang ganti.
'Sayang, kelas sudah pada bubar', gumam Hamzah. Setadinya ia akan langsung mengintrogasi teman sekelas Andi, ingin tahu siapa yang telah mengerjai Andi.
Yang lebih sering terjadi adalah kehilangan sepatu, teman-teman Andi sering kali menyembunyikan sepatunya, atau kadang memasukkan serangga ke dalamnya.
Untung saja Hamzah selalu mengetahuinya.
Keesokan harinya Hamzah sudah berencana untuk membuat perhitungan dengan teman-teman Andi yang telah mengerjainya kemarin.
Hamzah tidak ingin Andi celaka karena ulah mereka, terlebih tahun ini adalah tahun terakhir bersama Andi.
Tahun depan Hamzah sudah mulai masuk SMA, jadi ia tidak bisa terus-menerus melindungi Andi.
Setidaknya Hamzah ingin memastikan kalau Andi aman selama jauh dari perlindungannya.
Tanpa basa-basi, Hamzah memasuki ruangan kelas Andi sesaat setelah Guru mata pelajaran keluar dari kelas.
"Perhatian semuanya", Suara Hamzah memenuhi seluruh ruangan kelas, ampuh membuat hening ruangan kelas yang tadinya ribut karena mereka bersiap untuk beristirahat.
Semua perhatian tertuju kepada Hamzah, sebagian dari mereka berbisik-bisik menebak tujuan Hamzah yang datang tiba-tiba ke kelas mereka.
"Maaf, mengganggu waktunya sebentar", ucap Hamzah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas, melihat satu-satu teman Andi.
__ADS_1
Dan Andi tampak duduk , ia menunduk, ia sudah tahu apa tujuan Hamzah ke kelasnya.
"Saya minta pengakuan yang jujur dari kalian , siapa kemarin yang memindahkan seragam sekolah Andi ke loker lain?, dan memasukkan beberapa ekor kecoa kedalamnya?", Apa ada di sini orangnya?",
Tak ada reaksi apa pun dari mereka. " Saya Ulangi, siapa di sini yang sering mengganggu Andi, menyembunyikan barang-barang Andi, dan memasukan serangga kedalamnya?", ulangi Hamzah.
Kembali Hamzah mengedarkan pandangannya.
"Atau kalian memilih diintrogasi langsung oleh Pak Santo, guru BK ?", ancam Hamzah.
Kelas masih diam, tidak ada reaksi, dan tidak kelihatan ada yang mau mengakuinya.
"Ok ...,jika ini yang kalia mau",
Di sini saya hanya ingin menegaskan kepada kalian, jangan membahayakan teman kalian sendiri, kalau terjadi hal buruk, kalian sendiri yang akan kena akibatnya".
"Kemarin entah untuk yang keberapa kali saya mendapati Andi kembali di bully. Dan yang membahayakan itu, serangga yang dimasukkan ke dalam seragam dan sepatu Andi.
"Saya menemukan kecoa, kalian tahu kalau kacoa itu berbahaya?",
"Tidak Kak", serempak kelas menjawab.
"Dengar ya, kecoa itu berbahaya bagi kesehatan, kenapa?, karena kecoa ini termasuk rumah bagi bakteri salmonella yang bisa menyebabkan tifus dan keracunanmakanan".
Sejenak Hamzah diam, ia kembali mengedarkan pandangannya, melihat reaksi mereka yang kini mulai bicara dan ada juga yang bergidik ketakutan.
"Nih dengar ya, kecoa bisa menyebabkan alergi . Sekresi air liur dan bagian tubuh kecoa mengandung ratusan alergen , yang bisa memicu kalian menderita ruam kulit, bersin, dan mata berair". Lanjut Hamzah.
"Bahkan ada beberapa spesies kecoa yang dapat menularkan penyakit pada manusia, seperti TBC, tifus, asma, kolera dan hepatitis", Hamzah kembali mengedarkan pandangannya.
"Itulah sebabnya , kalian jangan berbuat hal yang dianggap sepele, padahal justru itu berbahaya bagi kita",
" Kenapa sih, harus jail, iseng, pada teman sendiri?, Mulai hari ini dan seterusnya saya tidak ingin mendengar kalian saling menjahili teman, apalagi kepada Andi", jelas Hamzah.
"Kalian tahu siapa Andi?", tanya Hamzah.
Berbagai reaksi mereka tunjukkan, ada yang bilang tidak tahu, ada yang hanya menggelengkan kepala , ada juga yang hanya diam saja.
"Jangan ulangi lagi kalian iseng kepada Andi, karena dia itu adik saya", tegas Hamzah.
"Hah....., ", kelas mulai bereaksi. "Kok tidak mirip sih Kak?", ucap salah satu teman Andi.
"Memangnya Adik Kakak itu harus selalu mirip gitu?",
Hamzah menyudahi ucapannya, dan ia sekali lagi mengingatkan supaya jangan berbuat jahil lagi kepada Andi.
__ADS_1
Mulai saat itu, Andi tidak lagi mendapat perlakua buruk dari temannya.
Oleh karena itu, Andi selalu menurut dan mengikuti Hamzah. Andi merasa berhutang budi kepada Hamzah dan kedua orang tuanya, karena selalu memperlakukan Andi dengan baik.