Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Tipu Daya


__ADS_3

Pak Putut datang menghampiri Wila, " Saudara Wila, anda di tunggu di ruangan Dekan", kabari Pak Putut .


Deg, seketika hati Wila berdebar, untuk pertama kalinya ia harus berhadapan langsung dengan orang nomer satu di kampusnya.


Lela berusaha menenangkan Wila, sambil memegang tangannya ia berkata, " Bismillah, kamu harus tenang , kamu tidak salah", bisik Lela. Ia sangat mengerti kalau Wila pasti sedang resah.


"Ayo, aku antar ke sana!", tawari Andi. Wila bangkit dan berjalan menuju ruang Dekan mengikuti Andi.


"Wila, maaf ya, kami gak bisa ngantar, ada kelas sudah mau mulai, semoga tidak ada apa-apa, semuanya lancar", Lela kembali memeluk Wila.


"Iya, terima kasih, gak apa-apa, aku minta do'anya saja", Wila balas memeluk kedua sahabatnya itu.


Setelah itu Wila kembali mengikuti Andi ke ruang Dekan. Di depan ruang Dekan, Andi berdiri dan mulai mengetuk pintu. Terdengar suara di dalam sana," Silahkan masuk!", katanya.


Andi melirik Wila ," Jangan tegang begitu, relax saja, gak akan apa-apa!", Andi pun berusaha memotivasi Wila untuk bersikap wajar.


Andi membuka pintu dan mengucap salam, diikuti Wila. Di dalam , Pak Suparman sedang duduk di kursi kebesarannya.


Ia mempersilahkan Wila dan Andi duduk. Tanpa berbasa-basi, Pak Suparman langsung bertanya kronologis kejadian tadi pagi.


Wila pun menceritakan kejadian tadi pagi dengan apa adanya, ia bercerita dengan menahan tangis yang semakin sesak di dada.


Pak Suparman tampak serius mendengarkan cerita Wila, sammbil sesekali menggerakkan mous laptop yang ada di depannya.


Wila mengakhiri ceritanya, dan sudah tidak bisa di tahan lagi akhirnya Wila terisak juga. Andi yang berada disampingnya ingin sekali mengusap dan memeluk Wila, ia ingin mdnjadi pelipur lara buat Wila.


Pak Suparman terlihat manggut-manggut, sambil pandangannya tetap fokus pada layar laptop.


"Begini", Pak Suparman membetulkan posisi duduknya, " Saya sudah beberapa kali mendengar dan mendapat laporan, kalau anda sudah beberapa kali terlibat keributan di Kampus.


"Dan ini adalah untuk yang kedua kalinya , jadi pihak Kampus akan memberikan sanksi. Saya lihat, anda masuk ke sini lewat jalur beasiswa".


"Seharusnya anda tahu dengan konsekeunsinya, bukan nilai akademik saja yang harus bagus, tapi sikap juga harus dijaga".


"Pertama, annda terlibat kasus pengempesan ban di Parkiran, dan saat ini, anda juga melakukan kekerasan fisik terhadap saudari Sarah".⁶


"Kalau anda begini terus, ini bisa mengancam pemberiaan beasiswa. Bisa saja beasiswa anda kami cabut", jelaskan Pak Suparman panjang lebar.


Mendengar hal itu, perasaan Wila tambah kacau saja. Bagaimana nasib studinya jika sampai beasiswanya di cabut.

__ADS_1


"Tapi ini masih belum fiks kan Pak?, lagi pula qita belum mengantongi bukti dan saksi yang pasti", jelas Andi.


Andi berusaha membela Wila, karena ia yakin ini semua pasti hanya rekayasa saja",


"Iya, tapi masalahnya ini menyangkut Sarah. Ia itu anak dari donatur terbesar di Kampus kita. Gak enak lah kalau sampai terjadi sesuatu terhadap anaknya di sini", sambung Pak Putut.


"Iya, tapi bukan berarti qita harus mmengabaikan kebenara kan?" , tegas Andi.


"Kita tunggu hasil pemeriksaan Sarah saja. Tapi posisi anda di sini akan aman jika anda sudah mendapatkan maaf dari Sarah!",


Wila dan Andi saling pandang


'Haruskah ini kulakukan, aku harus memohon maaf dan merendahkan diri di depan Sarah?', Wila membatin.


Sungguh hal gampang yang pasti akan sulit dilakukan .


"Itu saja mungkin , sudah cukup jelas menurut saya, kalau anda ingin tetap terus kuliah di sini, anda harus mendapatkan kata maaf dari Sarah", Pak Suparman mengulangi ucapannya tadi.


"Sudah jelas khan????"


Kalau begitu, sekarang boleh kembali ke kelas, dan ingat, jangan bikin ulah lagi????


*


*


*


Hamzah segera membawa kembali Sarah ke Klinik. Kali ini Sarah benar-benar terluka. Kakinya yang kemarin hanya lecet karena benturan, sekarang terkilir dan sebuah luka terbuka .


Dan kali ini Sarah benar-benar memanfaatkan situasi yang sudah memihaknya. Ia sudah terluka dan ia harus mendapat imbalan yang setimpal atas sakitnya kali ini yaitu Hamzah.


'Ini sudah bukan main-main lagi, aku sudah terluka dan ini harus dibayar dengan luka hati Wila, Hamzah harus aku kuasai', batin Sarah bicara, saat ia sedang menahan sakit dan perih di kakinya.


Sarah makin mengencangkan pelukannya di pinggang Hamzah, saat kakinya yang terluka sedang ditangani secara medis.


Sakitnya bukan main-main lagi, tapi ini setimpal dengan sakit yang akan Wila dapatkan.


Sarah harus mendapatkan beberapa jahitan dikakinya, dan saat ini ia harus memakai kursi roda, karena kakinya belum bisa dipijakkan.

__ADS_1


Dokter memberinya beberapa resep obat. Dan Sarah diperbolehkan untuk pulang dan beristirahat total untuk memulihkan lukanya.


Pihak Klinikpun memberinya surat ijin sakit untuk waktu yang tidak terbatas. Ia diperbolehkan ijin kuliah sampai sembuh.


'Sungguh sebuah harga yang mahal, tapi Sarah merasa puas karena ia sudah setengah jalan untuk mendapatkan Hamzah. Dan sudah setengah jalan pula untuk menyingkirkan Wila.


Dengan kondisinya yang sekarang ini, Sarah makin manja dan makin memanfaatkan situasi.


Sepanjang hari ia minta ditemani oleh Hamzah. Seperti anak kecil saja, apa-apa ingin dengan Hamzah.


Sampai pulang ke rumah pun , ia minta diantarkan oleh Hamzah.


Bi Marni kaget sekali saat mendapati Sarah di kursi roda, "Aduh Non, kenapa? Apa yang terjadi?", tanyanya saat Sarah tiba di rumah diantar Hamzah dab Susi.


"Ini tadi terjatuh di Kampus, tapi sudah diobati", jawabkan Susi.


Susi merasa kesal juga karena Sarah begitu manjs kepada Hamzah. Membuat panas hatinya saja.


Bahkan Sarah ingin Hamzah yang mengantarnya sampai kamar. Bukan itu saja, ia juga minta digendong Hamzah saat akan menaiki tempat tidurnya.


Hamzah tidak bisa menolak karena memang Sarah tidak bisa berjalan sendiri. Tapi ia tidak menaruh curiga apa-apa.


Karena Hamzah melakukannya atas dasar tanggung jawab dan kemanusiaan saja.


Tapi tidak dengan Sarah, ia bertekad untuk benar-benar menjerat Hamzah dengan sakitnya kali ini.


*


*


*


Hari ini Wila pulang dengan hati yang tidak menentu, rasanya cobaan tak henti-hentinya datang silih berganti.


Mungkin ini teguran karena tadi pagi ia sengaja mengabaikan Hamzah. Ia terlalu terbawa perasaan, belum tentu Hamzah bersalah, tetapi ia sudah mengabaikannya.


Dan kini ia lagi-lagi tersandung masalah, dan sepertinya Hamzah sudah mulai tidak peduli lagi kepadanya. Apa ia tersinggung oleh sikapnya tadi pagi?


Sepanjang jalan pulang Wila terus saja memikirkan kejadian di Kampus tadi. Ia tidak habis fikir kenapa Sarah begitu tega memutarbalikkan fakta. Dan anehnya mereka pun lebih percaya kepada kebohongan Sarah.

__ADS_1


Dan kini, Hamzah pun mulai termakan oleh tipu daya Sarah.


__ADS_2