Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
siapa dia?


__ADS_3

Hari semakin gelap karena malam makin merayap. Di depan Klinik Wila turun dari angkot. Setelah itu bergegas masuk dan menyerahkan obat kepada perawat.


"Ini obatnya !". Perawat menerimanya dan langsung bergegas ke ruangan tempat Caca dirawat. " Baru pulang Neng?", kok sampe malam begini?" tanya ibunya.


"Dari tadi juga sudah pulang Bu, tapi balik lagi karena ada obat yang harus dibeli", jawab Wila. Perawat mengganti cairan infus dengan yang baru saja dibeli Wila. " Bu, ini kalau sudah mau habis, beri tahu saya ya?!", kata perawat.


"Iya terima kasih", jawab Yati sambil menganggukkan kepalanya." Bagaimana kuliahnya? Temanmu baik baik kan?", tanya Yati memandang Wila yang sepertinya sangat lelah, ia seperti menahan kantuk.


" Alhamdulillah Bu, semuanya lancar". Jawabnya. "Ini makan dulu", kata Yati memberikan bungkusan makanan kepada Wila. " Ibu sudah makan?".


Ia balik bertanya. "Sudah, tadi ada teman Bapak ke sini, katanya Bapak dikasih cuti satu minggu, terus ada Bu Asih juga, pulang dari pasar mampir dulu ke sini."


"Ooohh". Kata Wila sambil mengambil bungkusan dari tangan ibunya, dan menyantapnya. Memang ia merasa lapar karena tadi di kampus hanya makan snack yang dibawanya dari rumah saja. "


Nanti hari rabu, baru ke Kampus lagi Bu, sekalian mau bawa barang barang ke rumah Bi Yeni." Kata Wila di sela sela makannya.


"Neng, kata Bu Asih ,Andi juga kuliah di kota, apa mudah mudahan satu Kampus dengan Neng ya , jadi Ibu bisa menitipkan kamu , Andi kan ponakannya Bu Asih, jadi kalau ada apa apa, Ibu mudah menghubungi Neng."


"Wah, masa Bu, tapi tadi Wila gak melihatnya di Kampus, atau jangan jangan yang tadi nolong Wila itu Andi ya?", kata Wila menghentikan makannya.


"Memang menolong apa?" tanya Yati penasaran. " Tadi waktu mau berangkat, Wila hampir telat, pagi pagi angkotnya penuh terus, untung ada yang menawarkan tumpangan, Wila ikut saja, eehh pas turun lupa, jangankan bertanya nama, berterima kasih juga nggak. Kata Wila.


"Soalnya terburu buru, sudah siang, takut pendaftarannya sudah di tutup." Katanya lagi sambil minum. " Terus pas mau pulang hujan cukup lama, pas naik angkot ada yang bayarin, pas beli obat ke apotek juga sudah ada yang bayarin, apa mungkin itu Andi?".


Wila menerawang. "Kalau Andi, kenapa harus ngumpet ngumpet nolongnya." Kata Yati. "Dia kan kenal sama Neng". "Terus siapa?".

__ADS_1


"Yang pasti ia orang baik, mau nolong tanpa pamrih, kata Yati, sudah malam, cepat tidur!, pasti Neng cape sibuk seharian." Wila menurut, ia merebahkan tubuhnya di atas tikar di samping bed Bapaknya.


" Kalau Ibu ngantuk, bangunin Wila ya?"katanya sebelum terlelap. Waktu begitu cepat berlalu saat adzan subuh berkumandang, Wila terbangun dari tidurnya, setengah terperanjat ia bangkit.


"Ya Allah Ibu", Dilihatnya Yati masih lelap di samping bapaknya, ia tidur sambil duduk di kursi didekatnya. Ia lihat botol infus Bapaknya, sudah aman, sudah diganti kayaknya.


Ia berfikir mungkin tadi Ibunya sempat memberitahu perawat sebelum terlelap.


Wila beranjak menuju mushola di ujung klinik. " Mba, ini ada titipan makanan", kata Satpam Klinik sambil memberikan sebuah kresek berwarna putih. "Dari siapa Pak?." Tanyanya.


"Kurang tahu Mba, saya lupa bertanya". Katanya. " Mungkin bukan untuk saya Pak." Kata Wila. " Ini titipan untuk keluarganya Pak Caca." Satpam kembali memberikan bungkusan tadi yang belum juga di terima Wila. "Ambil saja Mba!".


" Terima kasih", kata Wila sembari bertanya tanya dalam hati, siapa yang mengirimkan makanan tersebut.


"Astaghfirullah, Ibu kesiangan, Neng", katanya sambil melihat jam yang ada d dinding. " Ibu ke Mushola dulu", pamit Yati tergesa gesa menuju Mushola. "Hati hati Bu, licin!"


"Wila mengingatkan ibunya. Wila duduk disamping bapaknya. Ia taruh kantong kresek di atas meja, sambil terus bertanya tanya,siapa pengirimnya.


" Siapa yang kirim ini?", tanya Yati sambil memegang kresek yang ada di atas meja. " Gak tahu Bu, tadi dititipin di Satpam katanya buat Bapak."


"Buka saja, mungkin dari tetangga kita di kampung!, kata Bapak yang sudah terjaga. Yati membukanya dan mendapati tiga porsi menu makan komplit.


"Alhamdulillah, sarapan dulu Pak, ada rezeki ", kata Yati. Ketiganya menikmati pagi itu di Kinik.


Setelah Visit dokter, Caca diperbolehkan pulang karena kondisina sudah lebih baik. Saat mau pulang pihak klinik menawarkan untuk mengantar sampai rumah.

__ADS_1


Di rumah, para tetangga banyak yang langsung menemuinya. Mereka bertanya kabar .


"Bu terima kasih ya, kirimannya", kata Wila saat Bu Asih datang menengok. "Bingkisan apa Neng". Bu Asih bingung. "Jadi bukan Bu Asih yang mengirim makanan tadi pagi?"."Bukan Neng


"Terus tadi makanan dari siapa? Mana sudah habis dimakan lagi", kata Wila sambil tersenyum . Wila bingung,' siapa orangnya? , batinnya berbicara.


Jangan jangan orangnya sama. Tapi kenapa ia harus sembunyi sembunyi menolongnya. Apa yang mengantarnya ke kampus, yang membayarkan ongkos angkot, yang mengirim makanan, itu orang yang sama?.


'Aah pusing' , pikirnya. "Jangan - jangan ada penggemar rahasia Neng,


kata Bu Asih. " Ia Bu", wila balik tersenyum. Menjelang dzuhur, rumah Caca kembali sepi. Para tetangga sudah kembali pulang. "Bu, kira kira siapa yang menolong kita?", tanya Wila kepada ibunya. "Gak tahu Neng."


" Sudahlah, mungkin dia tidak ingin kita mengetahuinya". Kata Caca." Tapi siapa dia?", sepertinya ia mengenal keluarga kita tapi kita tidak tahu siapa dia?". Kata Wila."Karena dari tadi selalu ada orang yang menolong Wila Bu, tapi ga tahu siapa, semoga saja ia orang baik." Sambung Caca .


"Ini membuat Wila takut Pak, sepertinya ada orang yang mengawasi gerak gerik Wila, dia bisa tahu Wila ada dimana dan sedang apa?" kalau mau menolong, kenapa gak langsung berhadapan dengan Wila?".


"Dua hari lagi Wila akan pindah ke rumah Bi Yeni, semoga Bapak sudah sembuh, jadi Wila bisa tenang."


Wila sudah siapkan semuanya, nanti sepertinya Wila akan jarang pulang, kalau libur kuliah saja pulangnya, semoga bapak dan ibu selalu sehat ya, pasti nantinya Wila akan merindukan kebersamaan kita." Wila berkata sambil menatap bapak dan ibunya.


" Iya Neng, semoga kuliahnya lancar, Bapak dan Ibu hanya bisa mendo'akan,Neng baik baik di sana, kalau ada sesuatu , cepat - cepat beri kabar ke sini!", kaca Caca.


"Anggap saja Bi Yeni sebagai pengganti Ibu, ia orangnya baik, apalagi sampai saat ini Bi Yeni belum punya anak, sepertinya akan senang kalau Neng di sana, Bi Yeni akan ada teman", kata Yati menambahkan.


Ia bicara sambil memegang tangan Wila. Ia merasa sedih karena selama ini belum pernah jauh dengan anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2