
Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat, perasaan Wila tak karuan.
"Assalamu'alaikum",
katanya saat melintas di hadapan Hamzah. "Wa'akaikumsalam wr, wb, boleh bicara sebentar?"
"Ooohh, iya, boleh!" jawaban Wila
Perasaannya dag dig dug tak karuan, Ia coba tarik nafas dalam dalam untuk bisa mengendalikan dirinya. "Gak enak bicara sambil berdiri, kita ngobrolnya di sana yuk!" katanya sambil menunjuk warung kecil dekat madrasah.
"Boleh", jawaban Wila sambil mengikuti Hamzah dari belakang. Jelas sekali ia bisa mencium aroma parfumnya, parfum yang sama yang di pakai oleh si penolong.
"Aah, mungkin seleranya sama , karena ada beberapa orang yang menyukai aroma parfum yang sama.
Ternyata warung itu milik Bu Dati, wanita paruh baya yang menjadi pengurus Madrasah di sana.
"Assalamu'alaikum Bu", Hamzah masuk ke warung, kebetulan Bu Dati ada di sana. "Wa'alaikumsalam, silahkan duduk, mau pada makan apa?" Dengan senyum merekah Ia menyambut mereka.
" Buatkan jus mangga aja 2 Bu, jangan terlalu banyak esnya!", jawab Hamzah. Mereka duduk berhadapan.
"Tunggu sebentar ya!".
Bu Dati menyiapkan pesanan dan membawanya ke meja mereka. "Silahkan, mau di tambah apa, biar ibu buatin, biasanya juga mie bakso kan?"
Katanya sambil tersenyum ke arah Hamzah. "Masih ada Bu? Boleh attu di buatin 2 ya, baksonya si Ibu ini juara lo, harus coba, biar ketagihan", katanya melirik Wila.
Yang dilirik hanya tersenyum saja. "Di minum!", Hamzah menyedot jus mangganya. Baru kali ini ia bisa sedekat ini dengan Wila, ia bisa dengan leluasa memandangnya tanpa penghalang kaca.
Dalam hatinya ia mengagumi kecantikan alami Wila, kulit wajahnya putih alami tanpa polesan skin care, tak ada warna warni polesan make up di wajahnya.
__ADS_1
Seolah tahu dirinya sedang diperhatikan, Wila pura pura batuk kecil, untuk memudarkan perhatian orang di depannya.
Benar saja, Hamzah langsung memalingkan wajahnya ke arah samping saat wila berdehem. Seperti terhipnotis, untuk sesaat mereka berdua hanya diam saja.
"Ini bakso nya, silahkan dinikmati!" Kedatangan Bu Dati mengagetkan mereka." Iya Bu, terima kasih." Hamzah menjawab. "Ayo dimakan dulu, mumpung masih panas!", katanya melirik Wila.
Masih saling diam, mereka menikmati makanannya. Bu Dati memperhatikan tingkah mereka dengan tersenyum. "Jadi kalian ini satu Kampus ya?" Tanya Bu Dati mencairkan kebekuan di antara mereka.
"Iya", serempak mereka menjawab. Wila dan Hamzah saling lihat sambil tersenyum. "Masya Allah, senyumnya itu", pikir Hamzah.
" Bagus kalau begitu, tadi Ibu mengajak Wila untuk ikut mengajar di Madrasah untuk menggantikan Bu Arni yang lagi cuti. Kebetulan rumahnya juga dekat dari sini, jadi tidak akan mengganggu kuliahnya", kata Bu Dati.
"Bagus kalau begitu", kata Hamzah. Dalam hatinya senang sekali, jadi ia bisa punya banyak kesempatan bersama Wila, tidak seperti di Kampus." Biar ada semangat baru Bu," Hamzah tersenyum senang.
Mereka sudah selasai makan. "Kak, gimana kelanjutan kasus aku kemarin, apa sudah ada titik terang?", Wila memberanikan diri bertanya. "
"Ooh, jadi masih lama kalau begitu, bisa ketinggalan banyak SKS dong aku", katanya sedih. " Tenang! , nanti aku minta ke dosen untuk mengcofy materi perkuliahan kamu, biar masih bisa mengikuti walau di rumah", katanya.
"Nanti kalau ke Madrasah aku kasih cofyannya", katanya lagi. "Iya, terima kasih", Wila melihat sekitar, hari sudah mulai gelap, lembayung memancarkan warna keemasan.
"Tanggung ya, jangan pulang dulu, kita shalat maghrib di sini dulu!" ajak Hamzah. "Nanti aku antar pulang kok", katanya lagi.
Wila hanya mengangguk saja. Hamzah memberikan sejumlah uang untuk membayar makanannya, dan menerima kembaliannya. "Terima kasih Bu, baksonya juara!", katanya sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Sama sama, jangan kapok ya Neng, sering sering mampir ke sini!", katanya. Kembali Wila hanya membalasnya dengan senyuman. Mereka kembali menuju Masjid karena beberapa menit lagi adzan maghrib berkumandang.
Setelah selesai shalat, Wila baru menyadari kalau Hamzah lah yang menjadi imamnya. Ia semakin kagum saja padanya.
Apalagi setelah mimpi semalam, selalu ada getaran getaran aneh saat berdekatan dengannya, seolah ada dorongan di dalam hatinya untuk menjadikan mimpi itu sebuah kenyataan.
__ADS_1
"Astaghfirullah", gumamnya. Seolah ingin membuang jauh jauh khayalannya bersama Hamzah. Saat wila ke luar masjid, Hamzah sudah menunggunya. Ia ingin mengantar Wila pulang, apalagi hari sudah merangkak malam.
" Ayo, aku antar pulang!" katanya saat Wila sudah ada di hadapannya. "Gak ngerepotin?" , tanya Wila. " Gak, sekalian pulang juga, searah ini kan?", katanya sambil berjalan mendahului Wila.
Ia tahu kalau Wila paling pantang berjalan mendahului laki laki. Wila berjalan mengikuti Hamzah. Hamzah sengaja memperlambat langkahnya, sehingga mereka berjalan bersampingan.
Tiba tiba HP Wila berdering, ada panggilan masuk, vidio call dari Mita. Tanpa ragu Wila menggangkatnya, dan mulai berbincang dengan Mita.
Tak sengaja menampilkan Hamzah di layar HP nya sedang berjalan disampingnya. "Lagi bareung siapa tuh, tiba tiba Mita bertanya, karena ia melihat seorang lelaki berjalan di samping Wila. Wila kaget bukan kepalang, segera ia alihkan layar phone cell nya dari Hamzah.
"Bukan siapa siapa! " katanya. "Jangan bohong, tadi jelas jelas aku lihat ada laki laki berjalan disamping kamu". Kekeh Mita. Seolah mengerti, Hamzah sengaja berhenti dan sembunyi di balik tiang gapura.
"Tuh ga ada siapa siapa", kata Wila sambil memutar layar phone cell nya ke semua arah. " Ga ada siapa siapa kan?, kamu nya yang salah lihat kali", kata Wila meyakinkan Mita yang terlihat celingukan mencari seseorang di sekitar Wila.
" Memangnya siapa yang kamu lihat tadi?" selidiki Wila. " Sepertinya kak Hamzah sih", kata Mita.
"Uups, kalau sampai Mita tahu itu beneran kak Hamzah bisa kacau, pasti ia bisa ngamuk ngamuk, karena Wila juga tahu kalau temannya itu sangat menyukai Hamzah", pikirnya.
Bukan ,mana mungkin jam segini ia ada di sini, salah lihat tuh", kata Wila kembali meyakinkan Mita. " Iya kali, malam ini katanya kamu sendirian di rumah?, mau di temenin gak?" kata Mita.
" Gak usah , semalam juga aku sendirian di rumah kok, ga apa apa!" jawab Wila sambil tersenyum. "Ya udah, kalau begitu sampai ketemu minggu depan ya, di Kampus!" katanya. "Iya, bye..."
Wila mengakhiri obrolannya dan memasukkan kembali phone cell nya ke dalam tas. Wila menghentikan langkahnya, melihat sekeliling, mencari keberadaan Hamzah, tidak ada.
"Kemana itu orang?" katanya dalam hati. Saat mau melangkah, ia kaget bukan main, ternyata Hamzah tepat ada di depannya, hampir saja ia menabraknya.
"Astaghfirullah, bikin kaget aja!" katanya. " Siapa tadi?" tanyanya. "Mita, teman sekelasku, penggemarmu itu", kata Wila sambil tersenyum.
"Kalau aku yang ngefansnya ke kamu gimana?" tanyanya tiba tiba. Degh, jantung Wila serasa berhenti berdetak, ia tidak menyangka Hamzah akan bicara seperti itu.
__ADS_1