
Hujan masih turun walau mulai rintik rintik. "Saya antar kemana?" Suara Andi memecah suasana yang sedari tadi membeku.
" Di depan belok kanan." Jawabnya. Andi melajukan mobilnya pelan saat melintasi Kampus. "Ke sini ya? " Tanyanya lagi. " Iya, itu di depan gang anggrek, stop". Kata Wila.
Mobil berhenti tepat di depan gang yang ditunjuk Wila. "Terima kasih ya, saya duluan." Ucap Wila sambil membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.
Andi membuka kaca mobil. " Masih jauh ngga rumahnya?". Tanyanya. " Itu sudah kelihatan, rumah yang catnya warna abu". Jawab Wila.
"Ya udah, hati hati !" Wila berjalan menuju rumah di bawah payung yang ia selalu bawa.
Saat membuka pintu pagar, ia menoleh ke arah jalan dan ternyata mobil Andi masih ada, rupanya dari tadi ia menunggu sampai Wila benar benar masuk rumah.
Dari kejauhan dilihatnya Andi melambaikan tangan dan setelah membunyikan klakson beberapa kali, mobil pun meluncur pergi.
"Assalamu'alaikum", Wila membuka pintu rumah. "Wa'alaikumsalam. " Jawab Yeni yang lagi asik nonton TV. " Baru pulang?" Tanyanya.
"Iya Biar Belum juga masuk kamar, terdengar pintu ada yang mengetuk. "Sudah sana ganti baju aja dulu! , basah gitu, biar Bibi yang buka pintu". Katanya sambil bangkit untuk membuka pintu.
"Assalamu'alaikum, Wila nya ada?" . Kata seorang laki laki muda saat Yeni membuka pintu. " Wila ada?" Baru saja pulang, lagi ganti baju dulu, silahkan masuk!"
Yeni mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Sekilas ia masuk ke dalam. " Ada tamu di depan ." Katanya saat Wila keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Tamu? Siapa?". Pikirnya. "Kok, ada sini?" . Setengah kaget saat melihat Andi ada di ruang tamu. Andi tersenyum .
"Ini ketinggalan, untung belum jauh." Katanya sambil mengangkat plastik berwarna kuning yang tadi ia belikan untuk Wila.
" Uups, maaf merepotkan lagi." Kata Wila. "Ntar saya ambilkan minum dulu ya." Katanya sambil menuju ke dapur , dan kembali dengan membawa nampan berisi air minum dan sepiring bolu pisang.
"Ini silahkan minum dulu, biar hangat badannya." Katanya sambil menaruh nampan di atas meja.
"Wila, makan dulu! Ajak sekalian tamunya!" Teriak yeni. "Makan dulu, yuk! Sambil nunggu hujan agak reda." Ajak Wila.
" Jadi ngerepotin." Jawab Andi. " Ngga apa apa, yuuk makan dulu aja! Gantian) , dari kemarin kamu aja yang traktir aku." Kata Wila. Akhirnya Andi mau juga di ajak makan.
Mereka makan bertiga dengan menu sederhana. "Teman kuliah Wila ya?". Tanya Yeni di sela sela makannya.
"Oohh begitu, Bibi jadi tambah tenang kalau begitu, jadi ada yang mengawasi Wila di Kampus". Kata Bi Yeni.
Adzan maghrib berkumandang, hujan masih saja turun. "Sepertinya hujan ini ga mau reda, ditungguin dari tadi ga berhenti juga". Kata Andi.
"Boleh ikut shalat dulu? Katanya lagi. "Boleh, sekalian shalat berjamaah saja". Kata Bi Yeni. Mereka bertiga shalat berjamaah.
Wila tidak menyangka, ternyata bacaan Qur'an Andi begitu fasih. Ada perasaan aneh di hati Wila saat mendengar bacaan qur'an Andi. Begitu syahdu, mendayu, menyejukkan kalbu.
__ADS_1
Setelah selesai shalat, Andi pamit karena hujan tak kunjung reda. " Bungkusan apa itu?'. Tanya Yeni ."Iya ini , tadi Andi ke sini buat nganterin ini, ketinggalan di mobil.
"Kamu habis belanja?" "Bukan Bi, tadi Wila nganter Andi membeli barang barang titipan buat cucunya Bu Asih di Kampung, terus Wila dibeliin ini sama Andi". Kata Wila.
"Coba buka, Bibi pengen tahu isinya." Kata Yeni sambil tersenyum penuh arti. Wila membukanya karena ia juga penasaran. Ternyata isinya sebuah hijab dan dompet cantik.
"Alhamdulillah." Wila bergumam. "Wah bagus bagus barangnya, pasti mahal." Kata Bi Yeni. "Neng, ini teh sinyal." "Sinyal apa Bi? "Sinyal cinta." Kata Yeni sambil tersenyum.
"Ah Bibi, belum sebulan kenalnya juga." Kata Wila. "Ini buktinya." Yeni mengangkat barang pemberian Andi.
"Neng , yang namanya cinta itu bisa datang tiba tiba, ia datang tak di undang, cinta itu hadir dengan seringnya berjumpa, terpesona dengan tutur kata, terpesona oleh sikap yang baik, bahkan cinta juga bisa hadir di antara orang orang yang saling membenci sekalipun, kita tidak bisa mengelak ,tidak mungkin menolak, karena cinta itu takdir kita dari Yang Maha Kuasa."
Yeni panjang lebar berbicara. "Iya Bi, tapi Wila ingin fokus kuliah dulu, Wila ingin mencapai cita cita dulu." "Kalau cinta datang tiba tiba, jangan di tolak, ikuti saja alurnya, walaupun Neng tidak suka, jangan sampai bikin orang kecewa, tolaklah dengan baik baik, kalau cinta di tolak dengan sikap yang tidak baik, maka cinta akan berubah menjadi benci, bahaya itu, yang tadinya sayang, bisa menjadi garang, yang tadinya suka bisa berubah menjadi duka, yang tadinya melindungi bisa jadi menyakiti." Kata Bi Yeni.
"Wila kan sudah dewasa, harus pandai pandai menjaga perasaan orang, apalagi orang yang sudah banyak berbuat baik kepada kita, Bibi lihat Andi itu anak yang sopan, apalagi agamanya juga baik, bibi saja langsung jatuh hati melihat sikapnya, masa kamu tidak?". Kata Bi Yeni.
"Kalau menurut Bibi, Andi itu nyaris sempurna, sudah baik, sopan, agamanya bagus, ilmu agamanya juga bagus, calon imam yang baik". Tambah Yeni sambil tersenyum melihat Wila.
"Iya Bi , Wila tahu." Tapi untuk saat ini kita jalani saja dulu sebagai teman. Saat ini belum ada rasa yang istimewa buat siapa pun, yang ada hanya semangat buat meraih cita cita, apalagi Wila bisa kuliah disini karena mendapat bea siswa, jadi Wila harus bisa menjaga nilai akademik tetap bagus."
"Iya, Bibi ngerti, tapi jangan terlalu fokus pada satu tujuan, kalau bisa berjalan beriringan, kenapa tidak?" Kata Bi Yeni.
__ADS_1
"Iya, Bi, memang Andi itu baik, dan dia satu satunya orang yang Wila kenal di Kampus, tapi tidak menutup kemungkinan kalau Andi itu sudah ada calon, jadi jangan terlalu berharap, siapa tahu baiknya Andi sama Wila itu , benar benar karena Ia kasihan saja sama Wila, secara kan Wila di sini sendiri, atau mungkin karena Bapak dan Ibu di Kampung tetangganya Bu Asih, jadi Andi merasa terpanggil untuk berbuat baik sama Wila."
" Andi itu calon imam yang baik, jadi pasti banyak yang menyukainya di luar sana yang lebih segalanya dari Wila, lagi pula Wila lagi mencari orang yang pernah menolong Wila saat bapak sakit, ya walau sekedar untuk berterima kasih, waktu itu ga sempat bilang apa apa, dan sepertinya orang itu ada di Kampus, tapi entah siapa?