
Wila ragu saat mau ikut, Ia teringat Yeni. Tapi Hamzah menjelaskan bahwa tadi Ia sudah menyuruh seorang Perawat untuk menjaganya.
Dengan melemparkan senyuman terbaiknya, Hamzah kembali menyuruh Wila segera menaiki motornya.
Akhirnya Wila naik juga. Lebih mudah ini daripada naik sepeda motor sportnya Hamzah. Tidak lupa Hamzah memberikan helm kepada Wila. Setelah itu motor maticnya melaju di jalanan.
Entah mau di bawa kemana? Wila ikut saja, karena Ia yakin Hamzah tidak akan berbuat macam -macam kepadanya.
Di atas motor, Wila tidak berani berpeganga kepada Hamzah, mencium aroma parfumnya saja hatinya sudah tidak karuan.
Untung saja Hamzah membawa backpack, jadi ada pembatas diantara mereka. Wila sangat menikmati perjalanannya, karena baru kali pertama Ia ke Kota.
Agak lama motor berada dijalanan. Sampai akhirnya menepi ke sebuah taman yang ada di tengah Kota.
Taman itu didominasi oleh berbagai tanaman bunga dan buah-buahan. Bunganya sedang bermekaran, harum semerbak wanginya.
Warna - warni bagai pelangi seperti hati Wila yang kian berwarna dengan hadirnya Hamzah. Buah - buahan pun sedang ranum-ranumnya.
Hamzah memarkirkan motornya dan mengajak Wila ke salah satu pojok taman yang ditumbuhi rumput. Mereka memilih untuk duduk di atasnya.
"Sudah pernah ke sini sebelumnya?" tanya Hamzah setelah mereka duduk. "Di kota hanya Kampus yang Aku tahu",jawab Wila.
"Heem..., jadi gak salah dong Aku ajak ke sini?!"
Sekilas Hamzah melirik Wila yang sedang asik menikmatj suasana, Ia terus melemparkan pandangan ke semua sisi taman.
Banyak muda-mudi lainnya yang juga duduk bercengkrama seperti mereka. Ada juga yang membawa serta anak-anaknya.
Taman itu di desain untuk tempat rehat, juga tempat bermain anak. Hampir di setiap view ada wahana bermain anak. Seperti ayunan, jungkat jungkit dan perosotan.
Hadirnya anak-anak menambah ramai suasana, dengan celotek lucu , tawa riangnya, walau terkadang ada juga jerit tangisnya.
"Gimana, suka nggak?" pertanyaan Hamzah mengagetkan Wila. "Suka , bikin betah!" katanya dengan masih melihat sekitar.
"Heeh, jadinya Aku yang dicuekkin!" Hamzah garuk-garuk gak gatal kepalanya. Wila tersadar dan segera melemparkan senyuman termanisnya.
'Subhanallah, ternyata ada lesung pipitnya' , batin Hamzah berbicara. Ia baru bisa melihatnya saat berada dalam jarak dekat seperti ini.
"Maaf", kata Wila lirih. Ia menyapu kerudungnya dengan tangan, karena seperti ada yang jatuh di atas kepalanya.
"Aaww....tetiba Ia menjerit dan refleks memeluk Hamzah yang duduk di sampingnya.
"Kenapa? Ada apa?" Hamzah pun kaget. Kaget dengan teriakan Wila, dan yang lebih kaget lagi saat Wila memeluknya.
__ADS_1
Makin menjadi-jadi saja debaran di hatinya. Ingin sekali Ia balas memeluknya. Namun pikiran sadar masih menguasainya.
"Ada apa?", Hamzah hampir kewalahan menahan tubuh Wila yang semakin mendorongnya. Akhirnya mereka pun terjatuh.
Tubuh Wila menindih Hamzah yang kewalahan. Sadar dengan posisinya, Wila segera bangun dan merapikan posisi kerudungnya. Wajahnya terkesiap memerah.
"Asraghfirullah, ma...maaf, kayaknya tadi ada serangga jatuh di atas kerudungku", katanya sambil menunduk.
Ia sangat malu, karena setiap kali dirinya kaget, ia selalu refleks memeluk Hamzah.
Hamzah pun bangun dan duduk kembali seperti semula. "Coba aku lihat!", Hamzah agak berdiri meneliti bagian atas kerudung Wila.
"Ooh, ini ?" ia mengambil sesuatu yang menempel. Ternyata ada seekor kumbang yang jatuh dari atas pohon.
"Mana, coba aku lihat?!" , Hamzah menangkupkan kedua telapak tangannya, dan membukanya di hadapan Wila.
"Ni...., katanya sambil membuka kepalan tangannya, dan huup kumbang itu langsung terbang kembali ke pohon.
Wila tertawa lepas, menertawakan tingkahnya, yang sampai memeluk Hamzah segala. Sementara Hamzah menyaksikan sisi lain dari diri Wila.
Baru kali ini i melihatnya tertawa lepas seperti itu. Merdu, manis sekali.
Sadar dirinya sedang diperhatikan, Wila langsung menunduk dan diam. Pipinya kembali memerah.
Wila semakin menunduk dan tidak berani menatap Hamzah. Perasaannya semakin tidak karuan.
"Kok nggak nolak waktu di ajak tadi? Nggak takut diculik?" kata Hamzah.
"Nggak", Wila menjawab. "Terus...kenapa aku di bawa ke sini?"
Hamzah menarik nafas panjang, seolah ingin mengumpulkan nyali sebelum meneruskan ucapannya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" , Hamzah bicara hati-hati.
"Di sini? Kenapa harus di sini?, kalau mau bicara di Kampus juga bisa!" kata Wila.
"Oohh, kamu menyesal di bawa ke sini?", Hamzah tampak lesu.
"Nggak....nggak....nggak begitu, bukan itu maksudku!" Wila cepat-cepat meralat ucapannya.
Sejenak mereka kembali diam. Wila merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Ia melirik Hamzah yang sedang duduk dipinggirnya.
Wajahnya sedikit muram, 'apa itu akibat ucapanku tadi?' batin Wila berkata.
__ADS_1
"Maafkan aku!, aku siap mendengarkan!, Wila membetulkan posisi duduknya.
Hamzah melihat ke arah Wila, dan akhirnya empat mata mereka pun bertemu. Untuk sekejapan mereka seperti saling menghipnotis.
'Astaghfirullah' Wila langsung menunduk. Lagi-lagi hatinya deg-degan.
"Bismillah..., Wila aku menyayangimu karena Allah" , Hamzah bicara sambil memandang wajah teduh Wila.
Wila terkesiap, aliran darahnnya serasa terhenti. Sejenak Wila diam. Padahal ingin sekali ia bicara, tetapi lidahnya tetiba menjadi kelu.
Ada sebongkah rasa bahagia di hatinya, karena sebenarnya ia juga mempunyai perasaan yang sama.
Sudah sejak lama ia memendam rasa, namun benih-benih itu kian tumbuh liar seiring dengan seringnya mereka bertemu.
"Bagaimana? Apa aku terlalu lancang?" kata Hamzah. Wila mengumpulkan keberanian untuk bisa mengutarakan semua isi hatinya.
"Sebenarnya...aku juga memiliki perasaan yang sama". Suara Wila hampir-hampir tidak terdengar.
"Apa....aku nggak dengar?" Hamzah antusias .
"Cukup sekali saja", Wila tersenyum. "Jadi, aku tidak bertepuk sebelah tangan kan?" Hamzah menatap Wila.
Wila menggeleng. Setengah berteriak , Hamzah mengucap syukur dan refleks kedua tangannya merangkul Wila, namun urung karena Wila juga refleks berkata ", Aaww, jangan Kak!" Wila langsung menolak.
Ia menunduk saat tangan Hamzah hampir menyentuhnya.
"Ma-maaf, aku terlalu senang, Alhamdulillah!"
Hamzah tampak senang.
"Walau kita tahu saling sayang, bukan berarti kita bisa saling membatasi ruang gerak kita ya?, kita cukup saling tahu saja, agar bisa saling menjaga hati",
"Aku tidak mau seperti mereka", Wila menunjuk kepada salah satu pasangan muda-mudi yang lagi asik berpacaran, serasa dunia milik berdua, mereka bermesraan di tempat umum.
"Astaghfirullah, ya nggak lah, aku akan menjagamu sampai halal! ", kata Hamzah meyakinkan Wila.
"Kita pacarannya nanti, kalau sudah halal!, dan selama proses menuju ke sana, kita harus saling menjaga hati dan perasaan kita, jangan sampai saling menyakiti!", Wila bicara panjang lebar.
"Iya, aku ngerti, aku faham!, aku akan menjagamu sampai halal!", Hamzah meyakinkan Wila.
"Bagaimana dengan Sarah?" , tetiba Wila bertanya.
"Nggak ada apa-apa antara aku dan Sarah, dianya saja yang ngejar-ngejar aku!"
__ADS_1
'Pastinya dia akan semakin benci saja kalau tahu hal ini', Wila menerawang.