
Hamzah masih bimbang, bagaimana ia harus menolak ajakan pindah dari mertuanya.
Ia juga sudah berjanji akan menjaga Sarah, setidaknya sampai ia melahirkan.
Tapi sepeninggal Hamzah, Sarah merajuk untuk cepat-cepat pindah ke Bogor ke rumah ibunya.
Ia ingin menjauhkan Hamzah dari Wila.
Seharian Hamzah di Rumah Sakit menemani Sarah, karena Bi Marni dan Bu Rahmi pulang dulu ke Rumah.
Hamzah tidak mengetahui, kalau Bu Rahmi akan langsung membawa Sarah ke Bogor, ia menyempatkan pulang untuk mengambil pakaian Sarah dan miliknya.
Rupanya Bu Rahmi sudah terbujuk oleh rajukan Sarah , rencananya sore nanti Sarah sudah diperbolehkan pulang.
***
Rutinitas pagi Wila diawali dengan membantu Bi Yeni, ia menyiapkan barang dagangan dan menatanya di atas meja . Hari ini ia merasa bersemangat karena akan kembali memulai kuliahnya dan bertemu kembali dengan Hamzah, yang kini sudah menjadi suaminya.
Ia ikut membantu bibinya melayani pesanan pembeli. Ia juga membawa beberapa bungku nasi kuning dan gorengan pesanan teman Kampusnya.
"Bi, Wila siap-siap dulu mau ke Kampus",
"Iya, Neng. Awas pesanannya tertinggal lagi, jangan makan sembarangan, kasihan yang ada di dalam perut!", nasihat Bi Yeni.
"Iya Bi", Wila tersenyum ,lalu mencium tangan bibinya.
Seperti biasa, Wila berangkat dengan berjalan kaki, kali ini yang ia nanti adalah Hamzah, biasanya kalau sedang jalan kaki, Hamzah suka tiba-tiba datang, atau sudah ada menunggunya di depan gang.
Tapi hari ini, Wila berulang kali menengok ke belakang, dan ia sudah memperlambat ayunan kakinya, tetapi yang dinanti belum juga muncul.
Sampai akhirnya Wila sampai di depan gerbang Kampus, yang di tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Dengan langkah lunglai, Wila memasuki gerbang Kampus, ada sedikit rasa kecewa dihatinya, karena yang dinanti belum juga datang.
"Hai, Wil, kok lemas gitu, lagi dapet ya?", suara Joko mengagetkan Wila.
Wila tersenyum dengan malas, " Nggak kok, lagi sedikit cape aja",
"Cape...apa cape....., makanya nyantai saja, nggak usah buru-buru", Joko menyeringai.
"Iihhh, apaan siih,ngaco", Wila segera berjalan cepat, tidak ingin meladeni Joko.
"Jangan judes-judes manis", teriak Joko.
Wila makin mempercepat langkahnya, sampai tiba-tiba, perutnya kram. Ia menghentikan langkahnya dan hampir terhuyung, ia duduk di kursi yang ada di lorong menuju kelasnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah", Wila memegang perutnya dan menggigit bibirnya menahan sakit. Ia lupa kalau dirinya tak lagi sendiri, ia harus lebih hati-hati .
Untung saja Mita dan Lela sampai di sana, mereka kaget mendapati Wila kepayahan seperti itu.
"Lo.., Wil...., kamu kenapa?" , Lela memburu Wila, dia tampak khawatir dan segera memeluk Wila.
"Sudah sarapan belum?, biasanya kamu akan begini jika kelaparan", Mita ikut memegangi tangan Wila.
"Kenapa memaksa pergi , kalau sakit, istirahatkan saja dulu , kalau begini kan merepotkan", tiba-tiba Susi ikut nimbrung.
Lela membulatkan kelopak matanya, ia merasa tidak suka dengan omongan Susi.
"Yey, memang siapa yang tahu kalau mau sakit" ,
"Kalau tahu mau sakit, ya rebahan saja di Rumah",
Lela menimpali. Ia segera memberi minum Wila.
"Kamu sudah baikkan?" Lela menepuk -nepuk tangan Wila.
Wila memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Ia lakukan berulang kali.
Wila mulai bisa menguasai kesadarannya, ia melihat sekeliling dan tersenyum, "Maaf, merepotkan, aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja",
"Kebiasaan ya, kamu itu, cari perhatian saja, pagi-pagi sudah nyari sensasi", gerutu Susi sambil pergi meninggalkan Wila.
"Sudah-sudah, kok malah ribut, maaf, aku selalu bikin kalian repot ", Wila memandangi kedua sahabatnya.
"Sebaiknya kita ke kelas saja, nggak enak dilihatin yang lain", Wila mengajak kedua temannya menuju kelas.
Hari ini, kembali kelasnya Bu Rida , semua Mahasiswa sudah memasuki kelas, mereka duduk dengan tertib.
"Silahkan tugas yang kemarin kumpulkan, "tolong, Joko kumpulkan tugas-tugasnya dan simpan di meja Ibu", Bu Rida menyuruh Joko.
"Baik, Bu..., siap", Joko mengumpulkan tugas teman-temannya, lalu menyimpannya di meja Bu Rida.
Kelas pun berakhir, Wila masih duduk di kursinya, ia tampak termenung, seseorang yang ia rindukan ternyata tidak ada.
Berkali -kali ia cek hand phone nya pun tidak aktif, tak ada satu pesan pun yang ia kirim, tidak seperti biasanya.
Padahal baru saja kemarin, kali ini sudah hilang kontak lagi. Apa kemarin itu hanya akal-akalannya saja, membuat dirinya percaya akan janji-janjinya.
Tapi sekarang ,ia seakan menghilang, tidak ada kabar.
" Mana pesanan aku?",
__ADS_1
"Wi...la..., mana pesanan aku?" , Lela mengulangi pertanyaannya.
"Ooh...i...yaa..., sebentar", Wila mengeluarkan kantong keresek hitam dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada Lela.
Lela menerimanya dan membuka bungkusan yang dibawa Wila. "Ayo makan sekalian, Wil!", ajak Lela.
Lela tak habis pikir, ada apa dengan Wila, dari tadi ia tidak fokus .
Mita yang baru kembali dari Kantin tampak terburu buru menghampiri mereka.
"Hai ..hai...hai...., ada kabar burung yang baru saja aku dengar",
"Duduk saja dulu, nih pesanan kamu", Lela memberikan bungkusan milik Mita.
"Ada apa?", paling-paling gosip murahan lagi ya?"
Lela mendelik sambil menikmati makanannya.
Sementara Wila pun tampak mulai menyuapkan makanannya, dengan terus memainkan hand phone nya
"Ini penting, loo...., tadi aku dengar anak-anak lagi ngomongin Si Nenek lampir itu, katanya ia mau pindah",
"Pindah?", Lela dan Wila bicara bersamaan.
"Iya, katanya pindah ke luar Kota", jelas Mita.
"Yang benar Mit, kenapa sampai pindah segala? Terus bagaimana dengan kuliahnya?", Wila tampak gugup."Lagian dia kan disini ketua Senat, masa pergi begitu saja, dimana tanggung jawabnya?",
Mita dan Lela saling pandang, mereka tidak menyangka dengan reaksi Wila yang dirasa berlebihan.
"Tenang Wil, mungkin Hamzah hanya ambil cuti saja, katanya Sarah lagi menjalani pengobatan di sana", Mita menjelaskan.
"Ya, tapi kok tiba-tiba, padahal baru pulang kemarin , kok mendadak sekali", Wila merenggut.
"Kemarin?, memangnya kemarin pulang dari mana?", Mita dan Lela saling berpandangan, merasa heran dan penasaran.
Wila terkesiap, ia hampir saja keceplosan. "Iya , kan Hamzah baru saja pulang dari luar kota katanya",
"Masa kalian tidak tahu?", Wila kembali, hampir saja keceplosan.
"Ya, biarlah, nggak usah ikut campur urusan orang lain, lagian dia pergi bersama istrinya, untuk mengobati istrinya di sana".
Wila terdiam, ada segores luka dihatinya, memang ia tidak mempunyai hak pada Hamzah, ada Sarah yang lebih diterima sebagai pendamping Hamzah.
Bagaimana pun posisinya lemah saat ini. Ia tidak bisa menuntut apa-apa kepada Hamzah. Mulai sekarang Wila harus mandiri, harus bisa menghadapi segala sesuatu tanpa ada Hamzah disisinya.
__ADS_1
'Bismillah Wila, kamu bisa', pikiran Wila berkecambuk.
Baru sekejap saja ia menikmati bahagia, kini harus kembali bersahabat dengan duka, mengingat harapan untuk saling jumpa pun kini mulai sirna, dirinya dan Hamzah benar-benar akan terpisah.