Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Kesaksian Wila


__ADS_3

Wila masih belum sadar saat Andi kembali ke ruangannya.


Masih belum sadar Sus?", Andi mendekati Wila.


"Belum Pak, tapi masa kritisnya sudah lewat, Bapak tidak perlu khawatir", ucap Perawat seolah bisa merasakan apa yang Andi rasakan


"Oh, terima kasih kalau begitu", senyum Andi.


Perawat meninggalkan mereka berdua, "Kalau ada apa-apa, pijit tombol merah saja", ucap Perawat sebelum membuka pintu keluar.


"Baik Sus, terima kasih",


Hari sudah mulai gelap, Andi lupa belum mengabari Bi Yeni soal keadaan Wila. Ia sendiri bingung untuk memberitahunya.


'Hamzah, apa perlu ia diberi tahu?, kalau tidak, aku akan disalahkan kalau sampai terjadi sesuatu kepada Wila dan calon anaknya', pikir Andi.


Bagaimana pun Hamzah adalah suami sah Wila, ia mempunyai hak penuh terhadap keduanya.


Andi berdiri berniat untuk menelepon Hamzah, namun tidak jadi karena Wila keburu sadar.


Wila mencoba untuk duduk, namun kepalanya terasa pusing, ia meringis menahan sakit diperutnya."Aww, Astaghfirullah", gumamnya.


Andi melangkah lagi ke dalam dan memburunya.


"Alhamdulillah , kamu sudah sadar", Andi segera memijit tombol merah dan membantu Wila duduk.


Wila tampak bingung,"Kenapa aku ada di sini?", tanyanya sambil tetap meringis, kenapa perut ini nggak enak banget, panas, mau muntah lagi" kata Wila",


Tak lama Perawat masuk , "Ibu sudah sadar?, coba saya periksa dulu", ucapnya. Ia segera memeriksa Wila.


Andi pura-pura masuk kamar mandi, ia tidak bisa menyaksikan Wila saat sedang diperiksa. Saat itu Perawat harus menyingkap sebagian pakaian Wila untuk mempermudah pemeriksaan.


"Wila sempat muntah beberapa kali, "Tidak apa-apa Bu, muntahkan saja biar racunnya ikut keluar", kata Perawat.


"racun?" , Wila menyeka mulutnya dengan tisu.


"Kok bisa?", Wila bengong.


Andi ke luar dari kamar mandi, ia mendengar percakapan antara Wila dan perawatnya.


"Iya, kamu keracunan, untung saja tidak sampai mengganggu kandunganmu", jelas Andi.


Wila meraba perutnya, "Anakku", lirihnya.


"Tenang Bu, dia tidak apa-apa, untung saja suami Ibu cepat membawa Ibu ke sini, jadi racunnya belum menyebar", jelas Perawat.


Wila menatap Andi dengan nanar, "Terima kasih", ucapnya.

__ADS_1


Perawat melihat mereka berdua dengan pandangan aneh karena melihat kecanggungan mereka.


"Kalau begitu saya keluar dulu, Ibu harus banyak minum, biar bisa cepat menertalkan racun yang masih tersisa", saran Perawat.


"Baik, Sus, terima kasih", senyum Wila.


Sepeninggal Perawat, mereka berdua diam, sampai akhirnya Andi duduk di kursi dekat bed pasien.


"Terima kasih", ucap Wila


"Aku berhutang nyawa padamu", katanya lagi.


"Jangan berlebihan begitu, memang sudah tugas aku untuk menolongmu", senyum Andi.


Untuk beberapa saat pandangan mereka terkunci.


"Emmhh, darimana kamu membeli jus mangga kemarin?",Andi buru-buru bertanya dan mengalihkan pandangannya.


"Jus mangga?",


"Iya, dari hasil lab, jus mangga itu sudah ada racunnya", jelas Andi.


"Ah, yang benar , masa jus mangga ada racunnya?", Wila heran.


"Bukan jusnya yang beracun, tapi ada orang yang sengaja memasukkan racun ke dalam jus mangga yang kamu minum, ada orang yang sengaja ingin mencelakaimu", jelas Andi.


Ia mulai mengingat, jus itu pemberian Lela, masa iya dia yang mencampur racun dengan jus mangga yang diberikannya kemarin, aneh. Memang sudah beberapa hari sikapnya berbeda, ia sering menghindar darinya, dan sekalinya bertemu, ia tampak ramah kembali, dan memberinya jus mangga.


"Kenapa?, kok melamun?", suara Andi mengajutkan Wila.


"Oh...., nggak...., Wila ragu untuk mengatakan kalau jus itu pemberian dari Lela, ia takut Lela akan mendapat masalah.


"Kenapa?, ada apa?, oh iya kemarin kamu membeli jus darimana?", Abdi kembali memandang Wila yang sedang menunduk.


Wila diam. Ia bimbang antara jujur atau tidak.


"Katakan saja!, biar semua jelas. Aku yakin ada orang yang ingin mencelakai kamu, dan aku yakin orang itu ada disekitar kita",


"Itu sangat berbahaya, karena mereka tahu gerak-gerik kita, sementara kita buta, tidak tahu siapa mereka", jelaskan Andi.


"Terus kalau sudah aku katakan orangnya, mau diapakan?", Wila balik memandang Andi.


"Ya, kita tanyakan secara baik-baik, dari mana ia membeli jus itu?, bisa saja jus itu sudah mengandung racun dari sananya",


"Maksud aku, ini ada beberapa kemungkinan tersangkanya, bisa orang yang memberikan jus ini, bisa pedagang jusnya, atau juga bisa ada orang yang dengan sengaja memasukkan racun ke dalam jus ini, tanpa sepengetahuan mereka, paham?", jelas Andi.


"Emh....., begitu", Wila tampak diam, kepalanya manggut-manggut, ia sedang mencerna semua ucapan Andi.

__ADS_1


"Jadi, sekarang katakan, dari siapa jus kemarin?", bujuk Andi.


"Tapi janji ya, orangnya jangan diapa-apain", minta Wila.


"Iya", senyum Andi.


"Tapi nggak usahlah, jangan dibahas lagi, akunya juga sudah selamat kok",


"Bukan begitu, Wila dengar ya, ada orang yang ingin mencelakai kamu, orang itu akan terus mengganggu kamu, sebelum berhasil, buktinya sudah dua kali kamy hampir celaka, selama dia melihat kamu selamat, dia akan terus berusaha untuk mencelakai kamu lagi", tegas Andi.


"Pertama, kamu hampir di tabrak, kedua, kamu kena racun, dan nanti tidak tahu apa lagi", lanjut Andi.


"Tapi apa benar dia orangnya, ah...rasanya tidak mungkin", gumam Wila.


"Jadi, siapa orangnya?",


"Lela", ucap Wila keceplosan,


Andi tersenyum, usahanya berhasil membuat Wila berkata jujur.


"Em...., jadi Lela yang kemarin memberimu jus mangga itu?",


"Eh ...iya...tapi janji ya jangan diapa-apain", rengek Wila.


Andi kembali tersenyum, dengan mudah ia bisa membuat Wila mengatakan yang sebenarnya, memang sudah sifat Wila saja yang tidak biasa berkata bohong.


"Ok, jadi penyelidikan kita bisa dimulai dari Lela", tegas Andi.


"Tapi ingat ya, jangan bikin Lela susah",


Wila memandang lekat Andi.


"Kalau di pikir, kenapa Wila mau mencelakai kamu, bukankah dia sahabatmu?", Andi tampak keheranan.


"Iya, dia berubah sejak....", Wila menggantung ucapannya, ia baru menyadari kalau Lela mulai berubah sikap, mulai menjauh darinya sejak kejadian di Perpustakaan , dimana saat itu Andi mengaku sebagai ayah dari anak yang sedang dikandungnya.


'Apa jangan-jangan...., Lela menyukai Andi, jadi saat mengetahui pengakuan Andi, dia merasa patah hati, makanya dia mulai menjauhiku', batin Wila bicara.


"Ya ...kebiasaan, diajak ngobrol malah melamun",


"maaf", cicit Wila.


'Kenapa aku baru menyadari hal ini, mungkin Lela merasa sakit hati, merasa dikhianati oleh aku, jadi dia berubah sikap, kalau hal ini aku bicarakan dengan Andi, dia malah makin curiga, kalau Lela memang ingin mencelakai aku gara-gara itu', kembali batin Wila bicara.


"Astaghfirullah, nyebut Wila, kok malah keterusan melamunnya", tegur Andi.


"Oh...iya maaf, anu ...euh ...anu, aku pingin ke kamar mandi", alasan Wila. Ia tidak ingin membicarakan dugaannya terhadap Lela kepada Andi

__ADS_1


Bagaimana pun, Wila tidak ingin Lela menjadi tersangka utamanya.


__ADS_2