
Andi yang sudah selesai mengambil berkas kemahasiswaan di ruang Senat, segera menuju Masjid Kampus.
Karena waktu Asar sebentar lagi. Di jalan , Andi mendengar keributan yang berasal dari Perpustakaan.
"Duh , seperti anak SD aja, masih ribut", gumam Andi . Ia tidak mengindahkan keributan di sana, langkahnya lurus menuju Masjid.
Sesampai di sana ia hanya bertemu dengan Lela yang baru nyampai di sana. "Dimana Wila , La?", tanya Andi.
"Lo....bukannya tadi sama Kak Andi?, saya dari tadi juga sendiri", Lela tampak heran.
"Kemana dulu ya, tadi sudah janjian di sini , tapi belum ada", Andi tampak melihat sekeliling mencari keberadaan Wila.
"Biasanya selain ke sini, kemana lagi ?", tanya Andi melihat Lela.
"Oh , biasanya Wila suka ke Perpustakaan, Kak",
"Perpustakaan?", Andi ingat tadi waktu melewati gedung Perpustakaan, ia mendengar keributan di sana.
"Jangan-jangan...", Andi segera berbalik dan setengah berlari ia menuju gedung Perpustakaan.
Lela terbengong-bengong melihat Andi , tapi karena penasaran, ia pun mengikuti Andi dengan tergesa.
Dip Perpustakaan, Susi terus memprovokasi temannya untuk melempari Wila dengan sampah kertas sambil terus meneriakinya ,"Dasar wanita kotor, belum nikah sudah buncit duluan"
"Penampilannya sok ukhti, padahal sengaja buat ngumpetin tuh bayi",
"Tunggu apa lagi , ayo bawa dia ke lapangan, biar semua tahu , kelakuan gadis kampung ini", teriak Susi makin berani.
"Ayo ngaku!, anak siapa itu?",
"Kamu jual diri buat biaya kuliah ya?",
Semua teman-temannya terus menyerang Wila.
"Hayo ngaku, anak siapa yang ada diperutmu itu?", Susi memegang kepala Wila yang menunduk sambil terisak.
"Anak Gue, lepaskan dia ", sebuah suara lantang memecah suasana gaduh di sana.
Seketika semua diam. Dan seorang laki-laki menyongsong tubuh Wila yang masih terduduk, tertunduk diantara kerumunan.
"Minggir, semua minggir....mundur semua!!!!", kembali suara lantang itu memecah suasana.
Semua mundur, dan menyadari sosok itu adalah Andi. Dia kelihatan marah, menatap semua yang ada di sana dengan mata elangnya.
Semua menunduk dan terdiam.
"Siapa yang sudah berani berbuat ini kepada dia" Andi menunjuk Wila yang kini sudah ada dalam dekapannya. Tubuhnya bergetar karena rasa takutnya, dan karena tangisnya yang kini mulai pecah.
"Jawab, ulah siapa ini?", Andi kembali bicara setengah berteriak dengan nada bergetar menahan marahnya.
Semua diam.
"Kalian tuli apa?, siapa yang membuat keributan ini?" , Andi mengedarkan pandangannya. Semua menunduk tidak berani melihat Andi.
"Kamu???, kamu...., atau kamu....?", Andi menunjuk beberapa orang yang ada di sana.
"Bu...bukan Kak", jawabnya terbata.
"Atau mungkin kalian semua pelakunya?" ,
"Tunggu dulu Di, tenang", tiba-tiba Joko mulai bicara.
"Dia itu hamil , dia akan mencemarkan nama baik Kampus kita, makanya anak-anak bereaksi" , jelas Joko.
"Iya , kok kamu malah membela dia, kamu itu kan pengurus Senat di sini, seharusnya kamu yang bertindak bukan kami", timpa Susi.
"Iya, kok kamu malah belain dia, sudah jelas dia itu salah, dia itu hamil di luar nikah, kalau tidak percaya, lihatlah sendiri, perutnya buncit", timpa seorang Mahasiswi.
__ADS_1
"Iya, pintar sekali dia pakai baju lebar, ternyata buat ngumpetin busuknya",
"Yang namanya bangkai, lama-lama tercium juga",
"Stop!!, Diam semua!!" , Andi kembali meradang.
"Ada apa Di, kok kamu jadi lembek begini, jangan-jangan .....itu anak kamu ya?", Joko menyeringai.
"Iya....iya benar itu anak aku", lantang Andi.
Semua terdiam. Saling melihat dengan tatapan tidak percaya.
"Hah... , jadi kamu sudah berbuat mesum sama gadis kampung ini?", Susi menunjuk Wila, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya, itu anak aku, tapi kami sudah menikah secara resmi", ucap Andi.
Wila terkejut dengan pembelaan Andi untuknya. Tapi ia tidak berdaya, karena kini kepalanya mulai pusing.
"Jangan bohong kamu Di, masa mau-maunya kamu menikah dengan gadis kampung seperti dia", cibir Susi.
"ini buktinya", Andi memperlihatkan buku nikah Wila .
Kembali semua melongo,
"Sudah, sekarang bubar!, dan jangan usik Wila lagi kalau tidak mau berurusan dengan aku", ancam Andi.
Joko hampir saja mengambil buku nikah yang Andi acungkan.
"Ngapain kamu, tidak percaya?" , Andi segera memasukkan kembali buku nikahnya ke dalam tas, dan memandang Joko dengan tajam.
Joko menunduk , ia tidak berani melawan Andi.
Tiba-tiba, Wila hilang kesadarannya, ia ambruk dalam pelukan Andi.
Seketika Andi terkejut dan segera merangkul tubuh Wila dan menggendongnya menuju Klinik Kampus.
Semua yang ada di sana terdiam. Mereka saling pandang. Begitu juga dengan Lela. Ia mematung menyaksikan semua kejadian itu. Masih jelas terdengar di telinganya.
'Wila sedang mengandung anak Andi?', batinnya berkata. Ia hampir saja ambruk kalau tidak berpegangan pada tembok.
Lela tidak sadar, tubuhnya melorot dan terduduk menyandar di tembok. Hatinya terasa hancur berkeping, tidak menyangka, orang yang ia kagumi selama ini, ternyata menyukai sahabatnya, Wila.
Selama ini Lela memendam rasa kepada Andi. Ia kira Wila sukanya sama Hamzah, tetapi kini, di luar dugaan. Wila sudah mengandung anak dari Andi.
"Ah, yang benar saja, masa iya sih Andi ayah dari anak yang dikandung Wila?", Susi menceos.
"Paling itu mah akal-akalan dia saja, buat lepas dari kita", timpa Joko.
Lela mendengar semua ocehan teman-temannya tentang Andi dengan mata berlinang.
Sementara Andi menidurkan Wila dengan hati-hati di bed pasien setibanya di Klinik.
"Tolong cepat periksa dia!", pinta Andi kepada Petugas yang ada di sana.
Kebetulan Petugas wanita yang sedang berjaga saat itu.
"Apa dia ini lagi hamil ya?", tanya Petugas kepada Andi.
"Iya, tolong periksa juga kandungannya, tadi ia pingsan , mungkin kekurangan oksigen karena berada dalam ruangan yang sesak ", jelaskan Andi.
"Baik, apa anda suaminya?, Petugas itu bertanya lagi.
"Iya, saya suaminya", tegas Andi.
"Baik, kalau begitu bisa tunggu di luar!, saya periksa dulu", senyum Petugas. Ia segera melakukan serangkaian pemeriksaan medis kepada Wila.
Andi terduduk lemas di kursi tunggu, ia begitu khawatir dengan kondisi Wila.
__ADS_1
'Hamzah, loe kenapa tega tinggalin Wila dalam keadaan begini', batin Andi bicara.
Ia secara sadar mengakui kalau dia suaminya Wila, ia refleks, karena itulah satu-satunya cara untuk melindungi Wila.
Andi mengetahui kehamilan Wila, ia makin khawatir saja. Ketakutannya bertambah, ia takut kejadian kemarin kembali terjadi, dan saat ini Wila tidak sendiri, ada seorang anak yang ikut bersamanya.
Sementara Hamzah sudah dipastikan tidak bisa melindungi Wila.
*******
Hamzah baru memegang kembali gawainya, sedari kemarin ia menyimpannya dalam tas karena masih merasa kesal kepada Andi.
Ia pikir Andi dan Wila mengkhianatinya. Foto mereka yang sedang berpelukan kemarin masih terus mengganggu pikirannya.
Hamzah terpaku membuka beberapa pesan dari Andi yang kemarin ia abaikan. Ia kaget saat melihat vidio Wila saat ada sepeda motor yang sengaja akan menabraknya dari belakang.
Dan ia baru mengerti, ternyata Andi memeluk Wila pada saat menyelamatkannya kemarin. kejadiannya sama, tapi anggel fotonya yang berbeda dengan foto yang ada di hand phone Sarah kemarin.
"Tunggu, siapa yang mengirimi Sarah foto kemarin?", gumam Hamzah.
"Maafkan aku, sudah salah menilai kalian", gumm Hamzah.
Ia kembali terpaku saat membaca pesan Andi kalau ada orang yang sengaja ingin mencelakai Wila.
Hamzah termenung, hatinya berontak, ia ingin mendampingi Wila, tapi bagaimana dengan Sarah.
'Apa aku relakan saja penjagaan Wila kepada Andi?', batin Hamzah kembali bicara.
'Apa mungkin ini jalan dari Allah', Hamzah mendesah.
Ia memandangi sarah yang masih terlelap, sehabis shalat shubuh ia tidur kembali. tidak apa lah , karena ia baru belajar shalat lagi.
Hamzah melakukan perannya sebagai seorang pemimpin, ia berperan sebagai imam bagi Sarah. Setidaknya itu akan mengurangi rasa bersalahnya kepada Wila.
Hamzah sudah kadung berjanji menjaga Sarah, setidaknya sampai ia melahirkan, walau sampai saat ini ia belum menyentuhnya, ia belum menjadi suami Sarah seutuhnya.
Karena Sarah sudah mengandung saat ia nikahi.
Terbersitlah sebuah ide, ia biarkan Andi menikahi Wila, dan Andi pun tidak akan menyentuhnya karena tahu Wila sedang mengandung anaknya.
Seperti juga dirinya, menikahi Sarah yang sudah mengandung anak dari laki-laki lain.
Posisi mereka sama, dan mereka bisa berpisah setelah melahirkan. Dan mungkin Hamzah bisa kembali bersama Wila.
Apa ini tidak berdosa?, pikiran Hamzah terus melayang.
"Ting....", kembali gawainya berbunyi.
Ia melihat Andi kembali mengiriminya pesan. Kali ini Hamzah sampai meneteskan air matanya saat membacanya.
Di sana Andi mengabarkan kalau hari ini Wila kembali hampir celaka karena di bully oleh teman-temannya.
[Kehamilan Wila sudah diketahui oleh teman-temannya, dan mereka mengira Wila hamil di luar nikah sehingga mereka berniat mengusirnya dari Kampus].
[Maaf, aku mengakui sebagai ayah dari anaknya Wila, semua itu terpaksa aku lakukan untuk melindunginya], pesan terakhir dari Andi membuat Hamzah termenung.
Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, i bingung harus bagaimana. Ia tahu hanya Andi yang bisa melindungi Wila saat ini, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak rela jika Wila bersama laki-laki lain, sekalipun itu Andi.
Tapi memang sudah tidak ada pilihan lain lagi, ia tidak boleh egois.
Akhirnya ia kirim pesan balasan kepada Andi, [ Aku mau bicara dulu , nanti setelah maghrib aku tunggu telepon dari kamu], begitulah isi pesannya.
Hamzah beranjak ke luar kamar, meninggalkan Sarah yang masih terlelap.
Hamzah keluar Villa dan menuju sebuah Masjid yang biasa ia datangi untuk shalat berjama'ah.
Di sana ia akan mendatangi seorang Ustad untuk memintanya pendapat tentang persoalan yang sedang dihadapinya.
__ADS_1