Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
nasihat bapak


__ADS_3

Semakin hari keadaan Caca semakin membaik. Bahkan ia berniat untuk masuk kerja lagi, namun masih ada cuti satu hari lagi.


Pagi itu cuaca cerah, sang mentari bersinar terang. Wila sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Bi Yeni. Ia membawa sebuah tas yang cukup besar berisi pakaian , dan sebuah tas jinjing kecil berisi buah tangan.


Tak lupa tas gendong kecil yang berisi buku buku selalu setia bertengger di punggungnya. Kedua orang tuanya menghampiri Wila, mereka duduk di sampingnya.


Caca memulai pembicaraan, "Hidup ini tak mudah ,anakku. Butuh perjuangan, butuh pengorbanan.


Tak selamanya apa yang kita mau bisa dengan mudah tercapai, tapi harus kita raih dengan cucuran keringat, bahkan tak jarang juga harus kita raih dengan tetesan air mata dan bahkan tetesan darah.


Dalam hidup tak selamanya kita bisa tertawa, tak jarang kita harus bersahabat dengan tangis dan duka. Mau senang, perlu berjuang . Setelah kita berjuang pun yang kita harapkan belum tentu tercapai.


Semua butuh waktu, perlu kesabaran, bahkan harus dipersiapkan segudang keihklasan untuk menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Jika kita sudah berusaha dengan perjuangan segudang, tapi hasilnya tidak tercapai, maka sabar dan ikhlaslah  obatnya.


Kembali, bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur, takdirlah yang paling kuat yang akan menentukan alur hidup kita. Tapi jangan putus asa, jangan berkecil hati, jika usaha sudah maksimal, do'a pun sudah optimal, namun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, berarti itulah takdir kita yang terbaik.


Karena baik dan buruk itu bukan urusan kita" itulah perkataan Caca kepada Wila. "Kita ini orang susah, jangan banyak tingkah, hidup sederhana sesuai dengan kemampuan itu tidak salah.


Yang salah itu kalau kita memaksakan untuk tampil mewah dengan memaksakan diri, itu akan menyiksa kita, yang melampaui batas itu melelahkan.


Kita bisanya di tingkat satu kalau memaksakan naik ke tingkat 2 saja akan melelahkan." Caca kembali menasehati Wila.

__ADS_1


"Nak, gak usah malu untuk bertanya, jangan mengatakan sesuatu di luar penalaran dan kemampuan kita, ga usah so tahu, karena itu menyesatkan.


Neng adalah harapan bapak satu satunya, aset Bapak, walau Bapak tidak bisa menjadikan Neng berlian, namun jika Neng mengoptimalkan potensi yang Neng miliki, Bapak yakin, Neng akan bersinar dengan sendirinya." Ucap Caca penuh harap.


"Jangan kaku!, jangan terpaku sama keadaan, Jangan sampai ini ga mau, itu ga mau karena merasa bukan tugas kita. Tapi kerjakanlah apa pun yang kita bisa, jangan berpikir pantas atau tidak pantas.


Jangan lupa untuk menghormati  dan menghargai orang lain. Ingat tidak ada manusia super di dunia ini, setiap orang menjadi baik dan lebih baik, karena ada peran orang lain, bisa guru, sahabat, keluarga atau bahkan teman. Dan yang terpenting , teruslah menuntut ilmu.


Karena jika kita memiliki ilmu sedikit lebih dari orang, maka kita akan sedikit dihargai, lihatlah Bapak. Pendidikan Bapak hanya sampai SD, lihatlah pekerjaan Bapak sekarang, hanya dihargai  menjadi buruh di Pabrik, itu pun jadi tukang sapu.


Tapi Bapak tidak malu, Bapak terus belajar. Dengan melihat dan membantu  para Pekerja lain, hingga Bapak bisa mekanik, bisa memperbaiki mesin mesin Pabrik. Hanya dengan memperhatikan dan membantu saja.


"Jangan cepat tergoda, tidak sedikit ajakan itu berbahaya ". Harus pandai pandai memilih, mana yang baik untuk diikuti, mana yang lebih baik untuk ditinggalkan." Caca panjang lebar berbicara, ia hanya bisa membekali anaknya dengan wejangan, karena itu lebih berharga dari apa pun. Wila hanya mendengarkan.


Hari ini adalah kali pertama ia harus melangkah sendiri, mencapai cita cita untuk bisa merubah keadaan hidupnya menjadi lebih baik. Ia selalu ingat, bagaimana tetangganya yang selalu merendahkan keluarganya. Kini saatnya ia buktikan .


Namun pastinya tidak mudah, ia harus belajar mandiri dengan tinggal jauh dari orang tuanya, yang baru kali ini ia alami. Ada sedikit rasa was was di dalam hatinya, bisakah ia bertahan , berjuang sendiri tanpa kedua orang tuanya yang mendampinginya.


"Bapak antar sekarang?", tanya Caca. Ia berniat untuk mengantar Wila ke rumah adiknya, sekalian menitipkannya. Dengan mengendarai motor ia mengantar Wila ke kota. Saat melintas klinik tempat Bapaknya kemarin dirawat, ia melihat sepeda motor yang kemarin memberi tumpangan saat ia registrasi.


"Ah, mungkin bukan itu saja, banyak orang lain yang mempunyai sepeda motor yang sama. Ternyata rumah Bi Yeni ada dibelakang Kampus , tepatnya di belakang kantin. Hanya saja jalannya sedikit memutar. Kebetulan Bi Yeni lagi ada di rumah.

__ADS_1


Sepertinya ia sudah menunggu kedatangan mereka. Saat motor Caca memasuki halaman rumahnya, ia langsung keluar menyambutnya.


"Alhamdulillah, kalian sudah datang, mari masuk!", katanya dengan ramah. "Mereka bertiga masuk ke ruang tamu. "Ni, Mas titip Wila di sini, maaf kalau nanti akan banyak merepotkanmu". Kata Caca setelah duduk dikursi.


"Ngga apa apa, saya malah senang jadi ada teman ngobrol". Kata Yeni. "Neng ini kamar kamu, sini bawa barang barangnya kesini, siapa tahu mau dibereskan dulu. Kata Yeni menuntun Wila memasuki kamar, Wila mengikutinya dari belakang.


Sementara Wila menata barang barangnya, Yeni di dapur menyiapkan makanan. Setelah itu mereka makan bertiga. Setelah selesai, Caca pamit pulang.


Setelah berbibcang dengan Wila, ia melaju di jalanan kembali ke kampung. Tinggallah Wila yang masih berdiri diambang pintu .


"Bismillah,


hari ini dimulai perjuanganku meraih cita cita untuk masa depan yang lebih baik." Batinnya berbicara. Sesaat ia kembali ke dalam rumah. " Bi, kalau perlu bantuan, jangan sungkan, panggil saja ya", kata Wila.


"Iya, sekarang kamu istirahat saja dulu, Bibi mau beres beres di belakang, anggap saja di rumah sendiri." .Kata Bi Yeni. Hari pertama di rumah Bi Yeni, walau masih canggung, namun Wila berusaha bersikap sebaik mungkin. Ia selalu berusaha membantu pekerjaan Bi Yeni .


Sepertinya Yeni pun senang dengan kehadiran Wila. " Wila, kalau mau ke Kampus, tinggal jalan kaki saja lewat gang , gang yang di depan itu akan berakhir di samping Kantin Kampus,tapi kalau mau lewat depan, ya harus naik angkot paling 10 menit juga nyampai ke Kampus." Kata Yeni memberi tahu Wila."Iya, Bi terima kasih. "Katanya.


" Ya sudah sekarang cepat istirahat,bukannya besok pagi harus ke Kampus?!", Ucapan Yeni tadi menyadarkan lamunan Wila, ia lagi teringat kedua orang tuanya. Ia harus terbiasa tanpa kehadiran mereka.


 

__ADS_1


__ADS_2