
Sepanjang perjalanan menuju Kampus, Wila diam saja. Hamzah pun demikian. Wila tak habis fikir, kenapa sampai bisa kebablasan naik angkot.
Wila turun dari motor , setelah mengucapkan terima kasih, ia segera berlalu tanpa menghiraukan Hamzah yang sepertinya masih ingin mengobrol dulu.
Hamzah ditinggalkannya dengan mulut masih menganga, yang tadinya mau bicara, keburu ditinggal pergi oleh Wila.
Hamzah mengernyitkan dahinya, lalu mengangkat pundaknya sambil menarik nafas dalam-dalam, sungguh ia di buat speechlees oleh Wila.
Di ujung lorong Wila bertemu dengan kedua sahabatnya, Lela dan Mita. Kali ini Mita lagi bersama pacar barunya, Juna. Mereka baru beberapa hari jadian.
"Assalamu'alaikum", sapanya saat sudah berada di depan mereka.
"Wa'alaikumsalam", mereka kompak menjawab. "Tumben sendiri, mana pengawalmu?", canda Lela saat melihat Wila sendiri, biasanya di antar oleh Hamzah.
Wila hanya membalasnya dengan senyuman. Ada segurat rasa sakit dihatinya saat mendengar nama itu di sebut.
Juna yang hendak pergi terdiam sejenak, ia tampak sedang memperhatikan seseorang. Mita yang sedang berdiri disampingnya mengikuti arah pandangan Juna, ternyata ia sedang memperhatikan Sarah yang baru keluar dari mobilnya, diikuti Susi.
Sontak saja Mita menjadi cemberut, merasa tidak suka dengan sikap Juna. "Iihh, jelalatan", gertak Mita sambil memukul pundak Juna.
"Itu siapa?", tanyai Juna, semakin membuat Mita kesal.
"Ngapain sii...nanya-nanya, sudah cepetan pergi, ntar keburu di sambet si Nenek sihir Sarah", gerutu Mita.
"Oohh, Sarah...., namanya", senyum Juna. Setigera ia berlalu dari hadapan Mita dan dua sahabatnya.
"Jangan lupa nanti jemput lagi!" teriak Mita. Juna hanya mengacungkan jempol tangan kanannya, pertanda setuju.
Wila masih bersama kedua sahabatnya saat Sarah dan Susi lewat, lagi-lagi Sarah bersikap arogan di depan Wila.
"Sepertinya ada yang habis nangis darah niih....semalam, makanya jadi orang tuh harus tahu diri, tahu posisi!", ucap Sarah saat melintas di depan Wila.
Wila tahu kalau omongan Sarah itu ditujukan kepadanya, tapi Wila cuek aja, ia pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Wila buru -buru berlalu dari hadapan Sarah, tapi ya ampun, Sarah menarik kasar kerudung Wila bagian belakang, sehingga Wila tertarik olehnya dan buuukkk, Wila menubruk Sarah dan keduanya terjatuh dengan posisi Wila menindih Sarah.
Sontak saja mereka menjerit, kerudung Wila hampir lepas. Segera Lela dan Mita membantu mereka berdua untuk kembali bangun.
Sayanngnya Sarah yang terjatuh dan tertindih tubuh Wila mengalami luka yang cukup serius, kakinya yang bekas jatuh kemarin tambah parah.
Yang tadinya cuma lecet saja, sekarang jadi terkilir. saat ini ia benar-benar tidak bisa bangkit.
"Aawww, dasar kamu gadis Kampung, lihatlah ini semua ulahmu, kalau jalan tuh liihat-lihat, bikin celaka orang saja!" gerutu Sarah.
Sarah malah menyalahkan Wila, apalagi saat Mahasiswa lain mulai mendekati mereka. Sarah menuduh Wila yang telah mendorongnya hingga jatuh.
Sehingga para Mahasiswa mulai simpati kepada Sarah. Mereka menolong Sarah bangun dan mulai menyebar desas desus tentabg Wila.
Dan kegaduhan di lorong itu pun terdengar sampai ke ruang Senat. Segera di antara mereka menghampiri sumber keributan .
Pak Putut, Andi dan Hamzah menghampiri mereka. Wila tidak bisa berbuat apa-apa, hanya Lela dan Mita yang melihat kejadian yang sebenarnya pun hanya bisa diam.
Sungguh Sarah telah menguasai atmosfir di sana. "Ada apa lagi ini, pagi-pagi sudah membuat keributan, kaya anak SD aja?!", Pak Putut datang dengan wajah marahnya.
Wila hanya menunduk dan terisak, dia masih diam, apalagi ada Hamzah di sana.
Lela mencoba untuk membela Wila, ia mengatakan kalau pada awalnya Sarah lah yang menjambak kerudung Wila sampai Wila menubruknya, dan terjatuh berdua.
Namun semua di ingkari oleh Sarah, Sarah tetap menuduh kalau Wila yang tiba-tiba mendorongnya, karena Wila terlihat marah kepada Sarah.
Dan Pak Putut mulai termakan isu tersebut, ia lebih membela Sarah dari pada Wila, apalagi Pak Putut masih ingat kalau dulu Wila pernah terlibat keributan di Parkiran.
Sarah berhasil mendorong opini publik. Dan lagi-lagi Wila yang menjadi korbannya.
Anehnya Hamzah pun tidak banyak membela Wila, ia juga sepertinya mulai percaya dengan aduan Sarah.
Hal itu makin membuat hati Wila sakit, dan Wila mulai yakin kalau foto yang kemarin itu mungkin benar.
__ADS_1
Hanya Andi yang masih percaya dengan penjelasan Lela.
"Sudah-sudah, semua bubar!", perintah Pak Putut.
Selanjutnya Pak Putut menyuruh Hamzah menangani Sarah dan memerintahkan Wila untuk menunggu di ruang Senat.
Para Mahasiswa yang bergerombol mulai membubarkan diri, Hamzah terlihat memapak Sarah di bantu Susi, terlihat Hamzah melihat Wila dengan pandangan aneh.
Sakit rasanya, Wila melihat dirinya sebagai penyebab keributan dan telah mencelakakan Sarah.
Sementara Sarah tersenyum sinis, walau kali ini kakinya benar-benar terluka, tapi hatinya puas bisa memenangkan suasana, dan membuat Wila kterpojok.
Hanya Andi yang masih percaya kepada penjelasan Lela tadi. Apalagi setelah di lihat , bagian kerudung Wila robek dan leher Wila pun terluka, tertusuk jarum yang tersemat di kerudungnya.
Hamzah segera membawa Sarah ke Klinik. Kali ini Sarah benar-benar terluka.
Sementara Wila ditemani oleh kedua sahabatnya menuju ruang Senat, diikuti oleh Andi. Setelah terlebih dahulu membawa Wila ke ruang P3K.
Wila tampak terisak, ia menangis dalam diam, bukan menangis karena kejadian tadi, tapi ia menangis karena melihat perlakuan Hamzah.
Kini, Hamzah lebih peduli kepada Sarah dari pada kepadanya. Mungkin Hamzah sudah terhasut oleh Sarah, atau mungkin Hamzah sudah mulai care kepada Sarah.
Memikirkan hal itu membuat hatinya makin sakit, ini adalah cobaan terbesar bagi dirinya, harus melihat cinta pertamanya bersama wanita lain yang sama mendambanya.
Bahkan yang paling menyakitkan saat Hamzah mulai meragukan dirinya, bahkan ia mulai mempercayai tuduhan orang lain.
Berkali -kali Lela memeluk Wila yang dari dari hanya diam dan menunduk, Lela tahu sahabatnya itu sedang terpuruk dalam kesedihan, karena hanya Lela yang mengetahui hubungan Wila dan Hamzah.
"Istighfar Wil, kamu harus kuat, kamu nggak salah, jangan kalah!", ucap Lela sambil kembali memeluk Wila.
"Iya..., kamu tidak salah, hanya si penyihir Sarah saja yang sudah menghipnotis semua, sehingga semua percaya saja terhadap ucapan palsunya .
"Kalian berdua mau kan jadi saksi dari ksjadian tadi,", tanyai Andi.
__ADS_1
"Iya..., ", serempak Lela dan Mita.
"Kamu tenang saja, kalau perlu kita lihat laporan dari rekaman CCTV, biar jelas", ungkap Andi. Ia juga begitu iba melihat Wila yang untuk kedua kalinya terlibat masalah di Kampus.