Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Perjanjian dengan Sarah


__ADS_3

Sarah masih menahan langkah Hamzah, ia memegang kedua kakinya erat.


"Tolong maafkan aku!, jangan bicarakan ini sama Mami, aku takut penyakit Mami kambuh, aku hanya tinggal punya Mami".


Hamzah mendelik, ingin rasanya ia gerakkan kakinya, dan menendang Sarah. Tapi lagi-lagi ia disadarkan oleh pikiran warasnya.


"Maafkan aku, Mami punya riwayat penyakit jantung, yang bisa tiba- tiba kambuh jika ia mendapati hal yang mengagetkannya".


"Siapa pelakunya?, siapa ayah biologis dari janin yang kamu kandung?", tanyai Hamzah.


Sarah menggelengkan kepala, "Aku sendiri tidak tahu", isak Sarah kembali terdengar.


"Maafkan aku, aku dalam keadaan mabuk, aku tidak tahu siapa laki-laki bejad yang sudah memanfaatkan aku saat tidak sadar",


"Aku takut, aku bingung, takut Mami kecewa ", Sarah tersungkur di kaki Hamzah, tangisnya pecah kembali.


Hamzah merasa iba, ia menunduk memegangi pundak Sarah, membimbingnya untuk berdiri dan memapahnya duduk di sofa.


"Kamu tahu apa akibat dari kelakuanmu ini?, kamu sudah membuatku menjadi seorang pembohong, seorang pengkhianat", Hamzah menerawang membayangkan Wila.


"Aku sudah melukai hati seseorang gara-gara ini semua",


Sarah melihat ke arah Hamzah,"Wila?, maksudnya?", tebak Sarah. Ia langsung to the point.


"Hah", Hamzah menghembuskan nafas kasar.


Ia tidak menjawab.


"Diam berarti iya", Sarah melengos.


"Ini tidak benar Sarah, aku tidak melaksanakan kewajibanku sebagai suami, sebelum anak yang ada di perutmu lahir, lagi pula aku menikahi kamu karena jebakanmu kan?",


" Ada laki-laki lain di luar sana yang lebih berhak atas anak itu", lanjut Hamzah.


"Aku akan membantu kamu mencari laki-laki itu",


"Jangan!, aku tidak mau, aku tidak mau laki-laki itu , aku tidak mencintainya", Sarah terisak.


"Sama, itu persis yang aku rasakan, aku tidak mencintai kamu, pernikahan ini suatu kesalahan, kesalahan terbesar yang telah kamu rencanakan",


"Apa kamu tidak memikirkan hal ini , sebelum kamu menjebak aku?", Hamzah menatap lekat Sarah .


"Tidak diperbolehkan pernikahan dilangsungkan saat si wanita sedang mengandung, harus menunggu anaknya lahir dulu, apalagi ini anak dari laki-laki lain, bukan aku",

__ADS_1


Sarah menyeka air matanya, " Tapi tidak boleh juga kan melakukan perceraian saat si wanita sedang mengandung," balas Sarah.


"Jadi , kamu tidak bisa melepaskan aku selama aku mengandung",


"Kamu Sarah, yang telah membuat situasi ini menjadi rumit", geram Hamzah. Ia benar-benar kesal.


Hamzah berada dalam situasi yang rumit, ia ingin meninggalkan Sarah, tapi terhalang oleh kehamilannya, sedangkan ia juga ingin segera menunaikan janjinya sama Wila.


Hamzah menunduk, menjambak kasar rambutnya dengan kedua telapak tangannya.


Jika ia menikahi Wila tanpa menceraikan Sarah, apa kata masyarakat ?, istrinya sedang hamil, malah menikah lagi, tapi kan ia bukan ayah biologis dari anak yang dikandung Sarah.


"Oke..., kita jalani pernikahan ini sampai kamu melahirkan, aku tidak akan menyentuh kamu selama itu, dan aku akan melepaskan kamu setelah itu",


"Kamu jangan menuntut aku melakukkan kewajiban sebagai seorang suami, dan selama itu juga, aku akan mencari ayah biologis dari anakmu", jelaskan Hamzah.


Sarah mengangguk, ia rasa tidak ada jalan lain, ia pun bingung, tidak tahu harus bagaimana. Tapi yang terpenting adalah Hamzah tidak memberitahu Maminya tentang semua kebohongannya.


"Sebenarnya Mami sudah mengetahui kehamilanku dari Dokter Adis tadi siang, dan yang Mami tahu, kamulah ayah dari anak yang aku kandung ini",


"Tolong, bersikaplah seolah kamu ayah dari anak ini, jangan bikin Mami curiga, aku mohon!", Sarah memelas memohon kepada Hamzah.


"Hah, kamu ini merepotkan sekali, kamu betul-betul membuat aku stag, tidak bisa mundur, apalagi maju",


"Maafkan aku, ini tidak sampai satu tahun, cukup sampai aku melahirkan",


"Sudah sana, minum obatnya, dan tidurlah!", Hanzah membaringkan tubuhnya di sofa, ia tidak lagi memperdulikanSarah yang berjalan perlahan menaiki kasurnya.


Malam pertama mereka lalui dengan hampa, Hamzah dan Sarah tidur terpisah.


Hamzah memejamkan matanya, bayangan Wila terus saja berkelebatan di benaknya. Ia terjebak harus menutup aib Sarah, sementara aibnya sendiri ia tinggalkan , bagaimana Wila bisa menutup aibnya sendirian.


Hamzah berpikir, bagaimana jika Wila mengalami hal yang Sarah alami, bagaimana jika saat ini Wila pun sedang mengandung benih yang ia tanam .


Hamzah semakin bingung, tapi rasa lelah setelah acara tadi siang membimbingnya untuk segera terlelap. Deru napasnya pun jelas terdengar. Hamzah akhirnya tertidur pulas.


Sejenak ia bisa melupakan beban pikirannya .


Sarah memperhatikan Hamzah dari atas tempat tidurnya. Tetnyata pernikahan yang sudah tercipta tidak membuatnya bahagia.


Ia pegangi perutnya, ingin rasanya memukul dan meremas apa yang sudah ada didalamnya, tapi ia urungkan, lagi-lagi ia mengingat Maminya.


Ia menncintai Hamzah, tapi dengan kehamilannya ia tidak bisa mendapatkan keinginannya, ia hanya mendapat status istri saja

__ADS_1


Dan semua itu semata-mata untuk menutup aibnya, untuk menyelamatkan nama baik keluarganya saja.


Ia semakin sedih saat mengingat mendiang ayahnya. Pasti di sana ayahnya pun ikut kecewa padanya.


"Maafkan Sarah Pih", gumamnya. Ia pun terlelap memeluk guling kesayangannya.


Sarah terbangunkan oleh suara orang mengaji, ia membuka kedua matanya, dilihatnya Hamzah sedang mengaji .


Sarah memejamkan matanya, tidak tahu kapan terakhir ia mengaji. Setelah papinya tiada, dan Maminya sibuk mencari nafkah, ia pun sudah tidak diperhatikan lagi. Ia hanya ditemani Bi Marni, ART sekaligus pengasuhnya.


Tiba-tiba Hamzah bangkit, ia menutup mulutnya dengsn kedua telapak tangannya. Ia bergegas melepas sarung dan kopeah berlari menuju wastapel.


Sarah kaget, ia bangkit dan duduk di atas kasur," Kak, Mas, kamu kenapa?", teriak Sarah. Ia sempat bingung harus memanggil Hamzah apa.


Terdengar Hamzah batuk-batuk mengeluarkan sesuatu dari perutnya.


Selang beberapa menit , Hamzah keluar memegangi perutnya.


"Kenapa, sakit?", Sarah kembali bertanya.


Hamzah hanya melirik ," Nggak apa-apa, cuma masuk angin saja, kemarin kelamaan di luar", jawab Hamzah cuek.


"Kamu Nggak shalat?, cepetan ke air, keburu siang!".


Sarah terkesiap mendengarnya, lama sekali ia tidak shalat, bahkan ia tidak yakin apa masih hafal dengan bacaan shalatnya.


Tapi Sarah pun beranjak menuju kamar mandi, ia membersihkan diri dan berwudhu, walau dengan meraba-raba, ia lupa .


Bahkan Sarah bingung mencarii-cari mukena . Benda itu sudah lama tidak ia gunakan. Ia baru ingat kalau mukena miliknya sudah diberikan kepada Bi Marni.


"Kamu mencari ini?", Hamzah memberikan mukena mas kawinnya kemarin kepada Sarah.


"Mulai saat ini , aku mau kamu kembali shalat, walau aku hanya suami sementara kamu, tapi kamu tetap menjadi tanggung jawab aku dihadapan Allah",


" Pernikahan kita memang pura-pura, tapi ijab qabulnya tetap sah", ungkap Hamzah.


Sarah meringis sambil mengambil mukena dari tangan Hamzah," A...aku, lupa bacaan dan gerakannya, nanti saja, kalau shalat, ajak aku lagi, biar aku bisa meniru gerakanmu", Sarah menunduk.


Hamzah menggelengkan kepala, "Ya sudah, cepat ke bawah, tadi Bi Marni menyuruh kita sarapan!", Hamzah kembali duduk memainkan hand phone.


"Kamu nggak sekalian sarapan juga," Sarah mematung menunggu jawaban.


"Aku lagi gak selera, nanti saja agak siangan",

__ADS_1


" Nggak enak sama Mami, kalau aku sarapan sendiri, setidaknya temani aku selama Mami masih ada di sini", rengek Sarah.


"Hah, kamu merepotkan sekali", Hamzah berdiri dan mengikuti Sarah menuju meja makan.


__ADS_2