Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Petaka Melanda


__ADS_3

"Cisaga...Cisaga....", Kondektur berteriak teriak di pintu depan Bis, ada beberapa penumpang yang berdiri, termasuk Wila.


Ia sedikit kaget karena tadi sedang terlelap. Untung saja tidak sampai kebablasan, bisa-bisa ia terbawa sampai Pangandaran.


Wila melangkahkan kakinya turun dari bis, ia menepi mencari tempat yang teduh, karena hari sudah merangkak siang.


Di sana ia melihat sekeliling terlihat sedang mencari seseorang, tapi tidak kelihatan. Ia putuskan untuk naik ojeg saja, tapi saat baru beberapa langkah, ada sebuah sepeda motor menepi disampingnya.


Wila mengenali itu sepeda motor bapaknya. Tapi ternyata Hamzah yang ada membawanya. Dengan melemparkan senyumnya, Hamzah menyapa Wila dan menyuruhnya untuk naik.


Wila hanya tersipu dan langsung naik ke atas sepeda motor . Hamzah langsung melaju di jalanan menuju rumah Wila.


Tak ada obrolan apa pun , hati Wila merasa tak karuan, ia tidak tahu apa maksud Hamzah tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Jalannya ekstrim ya, banyak tikungan dan tanjakan", Hamzah membuka pembicaraan.


"Iya, seperti jalan kehidupan", Wila sedikit tertawa.


"Tenang saja, aku akan membuat jalan hidupmu selalu lurus dan datar, tanpa ada tanjakan", Hamzah balas tertawa.


Sepanjang jalan , orang-orang yang mengenali Wila , saling bertanya, dengan siapa Wila datang , kok ganteng banget.


Hamzah sepertinya sudah hafal rute jalan ke rumah Wila, sehingga tidak memerlukan panduan dari Wila lagi.


Tak berapa lama, mereka sampai juga di rumah, Caca dan Yati begitu senang, karena ini kali pertama Wila pulang ke rumah setelah kuliah di Kota.


Hal pertama yang mereka lakukan adalah memasak, memasak dari hasil kebun di sekitar rumahnya, tak ketinggalan Hamzah memancing di kolam yang ada di belakang rumah.


Menjelang Ashar, semua sudah siap, dan mereka makan bersama . Nikmat sekali, terutama bagi Hamzah, baru kali ini ia bisa makan bersama layaknya sebuah keluarga utuh.


Selama ini Hamzah hanya hidup bersama pembantu sekaligus pengasuhnya waktu kecil.


Terkadang ia hanya berkutat dengan para Dokter dan Perawat di Klinik.


Setelah shalat Isya berjama'ah , mereka baru duduk berkumpul di ruang tamu yang hanya ada sepasang kursi dari rotan.


Di sana mereka berkumpul karena ada yang ingin dibicarakan oleh Hamzah.

__ADS_1


Hamzah langsung saja pada tujuan utamanya, bahwa ia sengaja datang menemui Caca tiada lain untuk memberitahu bahwa ia mencintai Wila.


Ia meminta ijin langsung kepada Caca untuk menghalalkan Wila. Namun kalau untuk menikah, Wila menolaknya, karena ia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu.


Hamzah setuju saja, yang penting Caca sebagai ayahnya Wila, sudah mengetahui hubungan mereka.


"Alhamdulillah, semoga sesuai rencana, setelah lulus kuliah nanti, kita resmikan hubungan kalian", harapkan Caca.


Tiba-tiba saja hand phone Hamzah berbunyi, ternyata ibunya menelepon, langsung saja vidio call, dan ia utarakan maksudnya , dan ia juga kenalkan Wila kepada ibunya.


Bu Kalila, ibunya Hamzah terlihat begitu senang.


Ia tidak mempersalahkan dari mana Wila berasal, yang penting anaknya senang.


*


*


*


Sarah yang lagi resah, berusaha menghubungi Susi, namun setelah berkali kali, tidak di angkat juga, ia chat juga tidak dibalas , begitu juga dengan Hamzah, ia seperti hilang ditelan bumi saja, dari kemarin tidak ada kabar.


Sarah mencoba mencari tahu dengan bertanya kepada Bi Marni, " Bi, anak Bibi berapa?


"Ada empat Non, semuanya sudah menikah, malah Bibi sudah mempunyai enam cucu", Bi Marni tampak tersenyum bahagia.


"Empat anak, pasti hamilnya repot ya Bi?",


"Ah, engga Non, malah tiap anak itu beda -beda , yang lucu itu waktu hamil anak pertama, hampir dua minggu yang merasakan ngidam itu bukan Bibi, tapi almarhum suami Bibi", Bi Marni terlihat menerawang, kembali ke masa mudanya dulu.


"Masa Bi, kok bisa begitu yah?", Sarah tampak termenung. Ia berharap itu pun terjadi pada dirinya. Semoga rasa mual da lemas akibat ngidamnya ini, dirasakan juga oleh si ayah janin yang sedang ada dirahimnya.


Dengan begitu ia bisa mengetahui, siapa orang yang sudah merampas mahkotanya, dan berusaha untuk sembunyi dan menghindar dari tangguh jawab.


Namun walau demikian, ia tidak begitu ingin untuk mencarinya, karena ia akan membuat Hamzah yang akan menjadi ayah dari janin dirahimnya.


Ia tidak ingin hidup bersama orang yang tidak dicintainya. Dan ia juga tidak akan menuntut tanggung jawab, andai mengetahui siapa orangnya.

__ADS_1


Bi Marni membetulkan selimut Sarah, setelah melihat ia terlelap. Bi Marni sedikit curiga dengan perubahan Sarah, tapi ia enggan untuk bertanya.


Bi Marni sudah empat kali mengandung, jadi ia sudah hafal betul, bagaimana tanda-tanda orang yang berbadan dua.


Makanya dari kemarin ia tidak berani memberikan obat sembarangan kepada Sarah.


*


*


*


Pagi-pagi sekali Hamzah dan Wila pamit, mereka berencana kembali ke Kota karena besok ada kegiatan di Kampus.


Caca dan Yati melepas mereka dengan hati senang, mereka sudah tidak khawatir lagi terhadap Wila, karena sudah ada Hamzah yang akan menjaganya.


Setelah pamit, mereka melaju di jalanan. Tidak di sangka, di tengah jalan tiba-tiba hujan turun dengan lebat, angin pun bertiup dengan deras, dan petir pun saling bersahutan.


Hamzah segera menepikan motornya di sebuah gubuk yang ada di kebun kopi. Gubuk itu terlihat bersih dan tertutup, cukup aman untuk mereka berdua berteduh.


Sayangnya baju mereka terlanjur basah, karena tadi hujan tiba-tiba turun di tengah jalan.


Hujan semakin lebat saja, tidak mungkin bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan. Terpaksa mereka berteduh di sana, menunggu hujan reda.


Hamzah merasa serba salah melihat Wila yang tampak kedinginan karena bajunya basah. Dan ia baru ingat kalau di tasnya ada beberapa piece baju miliknya, mungkin itu akan berguna .


Segera ia ambil tas dan mengeluarkan kemeja dan sarung miliknya.


"Ini mungkin bisa kamu pakai, biar tidak terlalu dingin", tawari Hamzah.


Wila tampak menggigil, karena kedinginan. Dan tanpa di duga, ia pingsan. Hamzah menjadi panik, ia bingung apa yang harus dilakukannya.


Ia harus menolong Wila, karena tidak ada siapapun selain dirinya.


Ia dekati tubuh Wila dan satu per satu pakaiannya ia tanggalnya dan dibalutnya tubuh molek itu dengan kemeja da kain sarung.


Naluri alamiahnya terpanggil, ia menjadi sangat-sangat tergoda dan bisa mengendalikan birahinya.

__ADS_1


Baru saja ia disuguhi pemandangan yang membangkitkan birahinya. Saat itu setan sibuk menggoda dari berbagai arah, ia sungguh jadi lepas kendali.


Ia dekap tubuh Wila yang masih pingsan, ia berusaha untuk menyadarkannya, ia tidak ingin jadi pecundang, walaupun harus melakukannya, tapi ia ingin Wila dalam keadaan sadar.


__ADS_2