Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Getir


__ADS_3

Setelah kegiatan rutin mengajar mengaji di Madrasah selesai, seperti biasa Hamzah membelikan ia berbagai makanan untuk berbuka puasa.


Dan kali ini, Hamzah pun ikut berpuasa. Tidak menunggu mahgrib, mereka memutuskan untuk berbuka puasa di rumah Bi Yeni.


Motor Hamzah memasuki halaman rumah Bi Yeni dan mereka pun segera masuk.


"Assalamu'alaikum",Wila membuka pintu rumah yang tidak di kunci, diikuti Hanzah. Ia simpan tas di kursi tamu , dan segera menuju dapur mencari keberadaan bibinya.


Ternyata Bi Yeni sedang memasak, nasi liwet. Ia begitu senang saat Wila pulang, apalagi bersama Hamzah.


Setelah shalat maghrib berjamaah, mereka berbuka puasa bersama, Alhamdulillah Hamzah membawakan makanan , kalau tidak, mungkin hanya nasi liwet saja menu berbuka puasa mereka.


Terus terang saja, setelah Dirja memutuskan untuk menikah kembali, dia sudah tidak memberi uang belanja lagi kepada Yeni.


Kalau beras siih , tidak pernah kekurangan, karena orang tua Wila selalu mengiriminya tiap bulan.


Wila pun bisa merasakan, saat ini biasa untuk keperluan kuliahnya terus bertambah, untuk biaya praktikum, dan pembuatan makalah-makalah.


Wila harus mulai irit lagi mengatur keuangannya, untungnya sekarang ia sudah bisa memakai laptop yang ada di Madrasah, jadi tidak perlu menyisihkan uang buat ke rental komputer lagi.


Terus, bagaimana dengan hand phone nya yang hilang?, aaahhh ...rasanya tak henti-hentinya kesulitan datang, silih berganti.


Setelah selesai , mereka berbincang di ruang tengah, Wila memberitahu Yeni kalau Hand phone nya hilang di angkot kemarin.


Namun Hamzah sudah berjanji untuk membantu mencarinya, ia sudah menghubungi beberapa teman yang ada di jalanan.


Tanpa diketahui Wila, Hamzah adalah salah satu pembina anak jalanan . Dan Kawasan tempat hand phone nya Wila kemarin termasuk binaannya juga.


Apalagi setelah Wila bercerita bahwa tadi ia melihat orang yang mencurigakan saat di angkot. Bisa saja dia salah satu pelakunya.


Menjelang Isya, Hamzah pamit, setelah ia mendapat pesan singkat dari seseorang.


"Saya pulang dulu, masih ada urusan", pamitnya. Ia segera berlalu mengendarai sepeda motornya, menerobos kegelapan malam.


Tinggallah Wila dan Bi Yeni . "Neng, sepertinya Bibi harus mencari pekerjaan", ucap Yeni lirih. Wila kaget mendengar ucapan bibiny itu.


"Kerja? gak usahlah Bi, Bibi kan baru sembuh", tegas Wila. Ia pun ngerti dengan kondisi Yeni saat ini, ia pasti membutuhkan biaya untuk melanjutkan hidupnya.


"Nanti, aku pikirin , tapi gak usah kerja ke luar juga" . Sejenak Wila terdiam , memikirnya bagaimana caranya untuk mendapat tambahan penghasilan.


"Eehh, Bi, bagaimana kalau kita jualan saja", usul Wila.

__ADS_1


"Jualan??, jualan apa Neng?!, kita kan tidak punya untuk modalnya",


Sejenak Wila kembali diam, 'Iya yah, jualan apa???, tidak ada buat modal ', pikirnya.


Lalu Wila teringat Bu Dati, 'Apa ikut menjualkan dagangannya Bu Dati aja ya, mungkin beliau bisa membantu', kembali Wila bicara dalam hatinya.


"Nanti aja Wila pikirin caranya, sekarang Bibi istirahat dulu aja, biar benar-benar sehat lagi", ucap Wila, ia masih sangat mengkhawirkan kondisi kesehatan bibinya.


"Besok kita bicarakan lagi", Wila membimbing Yeni untuk memasuki kamarnya. Setelah itu ia kunci pintu dan segera memasuki kamarnya juga.


Sejenak ia duduk di pinggir ranjang, ia pikir, saldo tabungannya juga makin menipis, lalu ia beranjak ke dekat lemari pakaiannya.


Ia seperti mencari-cari sesuatu, dan dapat. Ia mengambil sebuah celengan kecil miliknya, entah ada berapa rupiah didalamnya.


Ia goyang-goyangkan, dan ia pikir ini akan sedikit membantu.Hati-hati ia pecahkan , takut menimbulkan kegaduhan. Dan akhirnya celengan apel pun pecah.


Berbagai uang pecahan keluar dari celengan itu, Wila memungutinya, dan menghitungnya. Dua ratus dua puluh dua ribu jumlahnya.


"Alhamdulillah",Wila pegangi uang itu dan berfikir, 'cukup buat apa ya?, besok saja berunding dulu sama Bibi', lalu ia menyimpan uang itu ke dalam dompetnya.


Wila merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia telah melalui hari yang berat, yang menguras kesabarannya.


Tak terasa ia pun terlelap, melupakan semua penat, dan mulai merangkai mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata esok hari nanti.


Kumandang adzan shubuh membangunkannya, ia bangkit mennuju kamar mandi . Setelah selesai shalat, ia beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Di Dapur , Bi Yeni sudah nampak duduk di meja makan, ia tampak bingung.


"Kenapa Bi", Wila menghampiri dan duduk di depannya. "Bibi bingung, hari ini beras habis, tidak ada yang bisa di masak", ucapnya dengan menahan tangis.


Wila terdiam, dan teringat dengan uang hasil dari celengan semalam. "Sebentar Bi", Wila beranjak ke Kamar, dan kembali dengan dompet ditangannya.


"Mungkin ini bisa sedikit membantu", Wila memberikan dompet itu ke Yeni. "Itu uang tabungan Wila, bisa Bibi gunakan untuk kebutuhan sehari-hari".


Yeni tak bisa lagi menahan derai air matanya, ia terisak, sakit rasanya. Kini ia harus berjuang sendiri untuk menyambung hidupnya.


"Jangan sedih Bi, Bibi pasti bisa melaluinya, yakinlah setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan", Wila menyemangati Yeni.


Belum juga mereka beranjak dari meja makan, di luar terdengar suara pintu di ketuk. "Sepertinya ada tamu", Yeni bangkit berdiri berniat membukakan pintu.


"Biar Wila saja Bi", Wila mendahului Yeni menuju ke pintu depan.

__ADS_1


Wila intip lewat gorden, ada seorang laki-laki berdiri di depan pintunya memmbawa sebuah buku.


Wila diam sejenak, 'Siapa ya, pagi-pagi sudah bertamu?' pikirnya.


Laki-laki itu kembali mengetuk pintu, kali ini sambil mengucap salam, "Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam, Wila menjawab dan membukakan pintu.


"Pak Dirja nya ada?" , tanyanya saat pintu sudah terbuka.


"Oohh, Pak Dirja sudah tidak tinggal di sini Pak", jawab Wila. "Memangnya ada apa?",


"Ini, ada tagihan listrik, sudah dua bulan belum bayar, rumah ini masih memakai meteran listrik atas nama Pak Dirja", jelas laki-laki itu.


Wila terdiam sejenak, "Berapa tagihannya Pak?"


"Seratus lima puluh ribu untuk dua bulan", katanya.


"Tunggu sebentar ya Pak", Wila masuk kembali kd dalam. Ia juga bingung, dari mana uangnya?.


Yeni yang sedari tadi di dapur, rupanya mendengar pembicaraan Wila dengan tamunya. Ia segera memberikan dompet yang tadi Wila berikan padanya.


"Ini, pakai dulu saja!, kalau masih ada sisa baru buat beli sarapan", katanya.


Wila tak punya pilihan lain, memang hanya itu uang yang saat ini mereka punya. Ia ambil dompet tersebut dan kembali ke luar.


"Seratus lima puluh ribu ya Pak", Wila memberikan sejumlah uang yang di minta Petugas itu.


"Terima kasih", Petugas itu segera melakukan pencatatan di buku dan memberikan salinan kwitansinya ke Wila.


"Kalau begitu , saya pamit, Assalamu'alaikum", Petugas itu segera berlalu.


"Wa'alaikumsalam", jawab Wila. Ia segera masuk kembali.


Di dapur, Yeni tampak berdiri di depan kompor. "Ada apa lagi Bi", tanya Wila.


"Ya, Allah Neng, mau masak air tapi gasnya juga habis", ucap Yeni.


"Ya sudah, aku beli dulu gasnya, ini masih ada uang sisa , tujuh puluh dua ribu lagi, buat gas dan beras saja", ucap Wila.


"Ya sudah, kita bikin nasi liwet lagi aja", Yeni berusaha tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2