
Hamzah menuju taman kecil yang ada di belakang villa, ia duduk menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi taman.
Ingatannya melayang, mengenang kembali saat-saat bersama Wila, kolam ini mengingatkannya saat berada di rumah Wila. Sama , di rumah Wila juga ada kolam ikan di belakang rumahnya.
Hamzah teringat semuanya. Namun mengapa begitu sulit untuk bisa bersama dengan Wila. Rasanya ada saja penghalang yang menyebabkan sulitnya bagi mereka untuk bersama.
Hamzah merenung, 'Apa ini yang dinamakan Takdir?', batin Hamzah bicara.
'Ia harus menjalani pernikahan dengan Sarah secara tiba-tiba, hal itu terjadi setelah ia melakukan kesalahan dengan Wila, wanita yang ia cintainya.'
'Tapi keadaan sepertinya lebih memihak kepada Sarah. Hamzah tidak punya kekuatan untuk meninggalkannya, apalagi ia sudah berjanji akan mendampingi Sarah sampai melahirkan.'
'Sementara Wila, ia juga sedang mengandung anaknya, tetapi ia tidak bisa menjaganya, apa Andi sudah ditakdirkan untuk Wila?'
Pikiran Hamzah terus saja berkecambuk, foto tadi terus mengganggu pikirannya.
"Hah", ia menghempaskan nafasnya. Dalam hatinya ada merasa tidak rela membiarkan Wila dengan yang lain, sekalipun itu Andi.
"Maafkan aku yang egois ini, aku tidak ingin melihatmu dengan yang lain, sementara aku tidak bisa melepaskan Sarah", gumam Hamzah.
Ia meremas kasar rambutnya.
Tak terasa kumandang adzan Asar sudah terdengar. "Alhamdululillah", Hamzah bangkit dari duduknya. Ia menuju ke lantai atas.
Dilihatnya Sarah sedang merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di balkon kamarnya.
"Ayo, kamu mau shalat?, kita berjama'ah di sini, aku lihat ada Mushola di sana", ajak Hamzah.
Memang di lantai atas pojok kanan kamarnya ada sebuah ruangan kecil, dan ternyata itu Mushola.
"Nggak ah, aku tidak shalat, sudah lupa!" , jujur Sarah.
Hamzah menggelengkan kepala nya , "Cckkk....",
"Ya, dimulai lagi hari ini, mungpung belum terlambat, lagi pula , gerakan shalat itu baik lo... bagi ibu hamil, bisa memudahkan proses kelahiran" jelas Hamzah.
Sarah mendelik ke arah Hamzah,'Sejak kapan jadi parhatian begitu', pikir Sarah. Tapi hatinya senang dengan perhatian kecil itu, berarti Hamzah sudah mulai care pada dirinya.
"Emmhh, aku sudah lupa, semuanya, gerakannya, apalagi bacaannya bikin belibet", ucap Sarah. Ia tidak bergeming, masih saja rebahan di atas sofa.
"Makanya kita berjama'ah saja, jadi kamu cukup mengikuti gerakan aku saja, gampang kan?", desak Hamzah
"Iiihh,maksa, aku tuh ngantuk, malas ah, besok saja, masih banyak waktu ini", Sarah terlihat kesal. Ia paling tidak suka di suruh, apalagi di paksa.
"Apa kamu yakin, besok masih hidup?, atau nanti kamu bisa bangun lagi setelah tidur?", Hamzah berbicara tepat di telinga Sarah yang sedang terpejam.
Seketika mata Sarah terbuka, "Iihhh, kamu ini do'ain aku supaya cepat mati kitu?", teriak sarah. Ia benar-benar kesal. Baru kali ini ada orang yang berani memaksanya.
__ADS_1
"Siapa kamu berani-berani memaksa aku?", Sarah bangkit dengan muka kesal.
"Aku, suamimu", ucap Hamzah. Ia memandang lekat manik mata Sarah, bagaimana pun awal pernikahan kita, pernikahan kita sah di mata Allah, aku akan dimintai pertanggungjawaban atas dirimu" , ucap Hamzah sambil berlalu dari hadapan Sarah.
Sarah terpaku, ia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. 'Apa ini mimpi?, apa dia tidak sedang mengigau?', batin Sarah berbicara.
"Cepetan, mau shalat ga?", suara Hamzah mengagetkan Sarah yang masih duduk di sofa.
"I....iiiya sebentar", Sarah berjalan perlahan menuju kamar mandi, tak lama ia keluar lagi dengan menunduk. "Emh...a...aku juga sudah lupa bagaimana caranya itu, apa itu namanya? , emh yang mau shalat itu harus apa dulu?" ,cicit Sarah.
"Astaghfirullah, wudhu?", Hamzah menggelengkan kepala.
"Iya, itu, aku juga lupa lagi caranya wud... , ya itulah namanya",
Hamzah menghampiri Sarah dan membimbingnya untuk berwudhu.
Setelah itu mereka bersiap untuk shalat berjama'ah.
Namun kembali, Hamzah harus menunggu, Sarah lama di ruang wall in closet, ia mencari-cari mukena. Entah dimana ia menyimpannya, sudah lama sekali tidak digunakan.
"Sarah, apa lagi?", teriak Hamzah.
"Emmhh, anu...anu..., itu baju buat shalatnya tidak ada, lupa lagi nggak tahu di simpan dimana, ya sudah , kamu aja shalatnya, aku nanti aja" ,
"Sudah wudhu , masa tidak jadi shalat, cari dulu yang benar", perintah Hamzah.
Dengan tergopoh, Bi Marni menghampiri "Iya Non, ada apa?"
"Bibi simpan dimana pakaian shalat saya", tanyai Sarah.
"Hah , pakaian shalat?, pakaian yang mana Non?" , Bi Marni bingung, malah balik bertanya.
"Iya , pakaian shalat yang berwarna putih-putih itu Bi, Bibi simpan dimana?",
Bi Marni masih bingung, ia mentautkan kedua alisnya.
"Mukena Bi", teriak Hamzah dari dalam kamar.
"Ya...Ya...itu.., mukena Bi, mukena saya Bibi simpan dimana?",
"Ooohh...mukena?, itu Bibi simpan di sana", Bi Marni menunjuk ke arah dalam kamar.
"Ya...., Bibi ambilkan saja" , ucap Sarah.
"Permisi Non, Tuan" ,Bi Marni masuk ke dalam kamar Sarah dan mengambilkan mukenanya.
"Ini Non mukenanya", Bi Marni menyerahkan mukena kepada Sarah.
__ADS_1
"Bibi simpan di sini, biar Non mudah mengambilnya", Bi Marni menunjuk laci di bawah yang ada di meja rias Sarah.
"Pantesan dicari-cari tidak ketemu", Sarah mengambil mukena dan memakainya.
"Non Sarah mau shalat?", tanyai Bi Marni dengan sumringah.
"La...iya Bi, masa mau shopping", senyum Sarah.
"Alhamdulillah, Nyonya pasti senang kalau tahu Non Sarah mulai shalat lagi, pasti di bujuk sama Tuan ya?",
"Bukan di bujuk, tapi di paksa", gerutu Sarah.
"Sudah, kok malah ngobrol, kapan shalatnya", Hamzah melirik Sarah.
"Oh iya , maaf Tuan, Bibi permisi dulu", Bi Marni pamit meninggalkan kamar dengan senyum bahagia.
Hamzah segera mengambil posisi di depan Sarah untuk menjadi imam shalat. "Masih bisa kan baca niat shalatnya?",tanya Hamzah.
Sarah menggelengkan kepala. ",Ya sudah, coba ikuti aku ya"
"Usholli fardhol asri"
"Usholli fardhol asri"
"Arba aarokaaati"
"Arba aarokaati"
"Mak'muman lillahi ta'ala"
"Mak'muman lillahi ta'ala".
"Bisa?",
Sarah mengangguk.
"Ya sudah, kita mulai shalatnya",
Hamzah shalat berjama'ah dengan Sarah. Ini adalah kali pertama mereka shalat berjama'ah setelah sekian lama hidup bersama.
Hamzah mulai membuka hati untuk menjadi imam yang baik bagi Sarah. Ia sadar, bagaimana pun awalnya pernikahan mereka, pernikahannya tetap sah .
Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap orang yang dipimpinnya.
Setelah salam, Hamzah memanjatkan do'a agar diberi kekuatan dalam menjalani takdirnya dengan Sarah. Dan ia menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Kuasa, berkaitan dengan hatinya yang masih berpaut kepada Wila.
Jika dirinya sudah ditakdirkan menjadi jodoh Wila, apapun rintangannya akan terasa ringan.
__ADS_1