Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Ujian lagi


__ADS_3

Sebelum dzuhur, Hamzah sudah pamit, karena masih ada urusan lainnya, dan kegiatan mengajar mengajipun libur.


"Huuh..." , Wila menghempaskan nafas panjang, seolah ingin membuang kegelisahan di dalam hatinya.


Ya, sebenarnya saat ini Wila sedang resah, karena walaupun ia mendapat beasiswa, ia tetap harus menyiapkan uang untuk kegiatan perkuliahan lainnya.


Beasiswa di dapatnya hanya untuk membebaskan ia dari uang membayar semesteran saja, selebihnya dibiayai sendiri.


Itu yang menjadi beban pikirannya, apalagi mulai banyak tugas yang harus diselesaikan, ia membutuhkan laptop untuk mengerjakannya.


Oleh karena itu, kini Wila sering wara-wiri ke warnet. Ia enggan ùntuk meminta bantuan kepada Hamzah. Ia segan dan malu selalu merepotkan Hamzah.


Seperti hari ini, waktu liburnya mengajar di Madrasah, ia gunakan untuk mengerjakan tugas di Warnet.


Sebelum pergi tiba -tiba hujan turun dengan derasnya. Wila kembali diam di rumah , tak lupa ia chat juga Lela untuk memberitahukan kalau ia akan datang terlambat.


Wila sedikit bimbang, antara pergi atau tidak. Kalau pergi, berarti ia harus menerobos derasnya hujan, kalau tidak pergi, berarti ia akan absen mengerjakan tugas, sayang sekali.


Padahal ia diharuskan untuk menjaga nilai akademiknya supaya tetap bagus, yang menjamin beasiswanya tetap berlanjut.


Ia sesekali masuk ke kamar Yeni untuk memastikan keadaannya. Waktu hampir maghrib, tapi hujan belum juga reda.


Dalam kebimbangannya, ia memutuskan untuk pergi. Setelah memastikan Yeni dalam kondisi baik, ia mencoba untuk minta ijin pergi ke rumah Lela.


"Bi, aku ada tugas yang harus di kumpulkan besok, tapi untuk mengerjakannya harus pakai laptop, jadi aku mau ke rumah Lela untuk mengerjakanny di sana", ucap Wila hati-hati.


Yeni melirik , ada rasa khawatir kalau Wila harus pergi, apalagi hari mulai menuju gelap. Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain.


Dengan berat hati , Yeni mengijinkan Wila untuk pergi. "Hati-hati Neng perginya! Sudah mau gelap, emang sudah tahu rumahnya? ",


"Sudah Bi, waktu pulang MOS dulu, Wila sempat main ke sana", kabari Wila.


"Ya sudah, hati-hati ya Neng, kalau kemalaman, nginep saja di sana, Bibi khawatir kalau harus pulang malam", ucap Yeni.

__ADS_1


"Iya, kalau begitu, Wila berangkat sekarang saja, Bi", Wila pamit dan tak lupa mengucap salam.


Yeni memperhatikan kepergian Wila dengan rasa khawatir di hatinya.


Sebenarnya Wila juga takut pergi sendiri, menjelang malam begini. Tapi lagi-lagi ia tak punya pilihan lain.


'Bismillah', katanya saat masuk angkot yang akan membawanya ke rumah Lela.


Kebetulan angkot yang dinaikinya penuh, ia duduk di jok paling ujung dekat pintu. Di sana buka hand phone untuk membalas chat dari Lela.


Wila kabarkan kalau dirinya lagi di dalam angkot menuju ke rumahnya. Karena angkot penuh, gerakannya jadi agak terbatas, apalagi ia menjinjing taskecil berisi mukena dan pakaian ganti.


Ia tidak memperhatikan sekitar karena posisi duduknya pun tidak nyaman, satu tangannya harus berpegangan ke tiang pintu agar ridak terjatuh.


"Kiri...kiri...",


Beberapa detik kemudian ada penumpang yang mau turun, sopirpun menepikan angkotnya. Karena posisinya tepat di pintu keluar, Wila ikut turun untuk memberi jalan,tak lama ia pun naik kembali.


Ada beberapa penumpang yang tadi turun, jadi kini di dalam angkot tidak terlalu penuh.


Dan betapa kagetnya saat ia cek dompet, tidak ada ditempatnya, seketika jantungnya berdegup kencang, ia berusaha mencari di semua bagian tasnya. Tapi nihil, dompetnya tidak bisa ditemukan.


Ia berusaha bersikap tenang, ia mencoba mengingat ingat, dan "Kiri.....kiri...., ia memutuskan untuk turun, dan kembali ke tempat penumpang yang tadi turun.


Ia berpikir kalau hand phone nya mungkin terjatuh saat ikut turun tadi. Ia menyebrang untuk putar balik , dan kembali ke tempat tadi.


Cepat-cepat ia naik angkot kembali dan turun tepat di tempat sepasang penumpang tadi turun.


Wila menyebrang lagi dan berjalan mondar mandir berharap dompet dan hand phone nya terjatuh di sana. Tapi sampai ia lelah pun , dompet dan hand phonenya tidak ditemukan.


Barulah Wila benar -benar panik. Di dompet itu ada uang juga buat ongkos. Rasanya ingin menangis saja, mana hari sudah benar-benar gelap.


Sejenak Wila tertegun , tidak tahu harus bagaimana? "Ya Allah kenapa begini?", air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi. Ia menangis dalam diam.

__ADS_1


Hatinya sakit sekali, untungnya masih ada uang satu lembar lagi di dalam saku gamisnya. Cukup untuk ongkos kerumah Lela.


Wila berusaha untuk menguasai emosinya, ia seka air matanya dan menyetop angkot lagi. Perasaannya tidak bisa dibohongi, ia panik, takut dan cemas.


Baru pertama kali ia ke luar rumah malam-malam lagi, mana kena musibah, aahhh....lengkap zudah penderitaannya malam ini.


'Duh, sudah gak bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Dalam diam ia berpikir, 'Coba kalau tidak memaksakan untuk pergi, mungkin tidak akan begini',


Padahal sedari di rumah, sudah banyak hal yang menghalangi kepergiannya, hujan deras, Bi Yeni yang baru pulang, dan angkot yang selalu penuh saat ia stop.


Mungkin itu tadi peringatan supaya tidak jadi pergi, tapi waktu tak bisa di ulang, mau menyesal pun sudah tidak ada guna.


Lagi-lagi, harus Ikhlas, semua sudah Qodarullah. Yang akan terjadi ,ya terjadilah, tidak dapat dicegah.


Tapi tetap saja susah, apalagi bagi Wila. Ia mendapat hand phone dari pemberian orang, bagaimana ia bisa mendapatkannya lagi.


Kini karena tidak punya laptop, ia sampai harus bersusah susah ikut mengerjakan tugas di rumah temannya. Dan alhasil, hand phone nya malah ikut raib juga.


'Ya, Allah, kenapa kesulitan ini begitu bertubi-tubi, datang silih berganti', keluh Wila sambil menahan tangisnya.


"Kiri...kiri....


Wila menyetop angkot dan setelah membayar ia menepi sejenak di teras toko. Ia berusaha menguasai dirinya supaya tidak terus-terusan menangis.


Setelah itu ia susuri gang kecil menuju rumah Lela. Ia begitu bingung dan kalut. Ia rasanya berlari biar cepat sampai ke rumah sahabatnya itu.


Mungkin ia akan mengkhawatirkan dirinya yang sudah telat datang dari waktu yang sudah dijanjikan tadi.


"Tok...tok...tok..." ia ketuk pintu rumah Lela. Untuk beberapa saat tidak ada respon apa-apa dari dalam. Ia coba mengetuk kembali pintunya sambil mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam, terdengar jawaban dari dalam dan suara langkah kaki mendekati pintu. Pintu ada yang membuka dan Lela tampak berdiri .


"Wila....., kirain gak jadi? Sudah malam begini baru nyampai?" tanyai Lela.

__ADS_1


Wila sekuat tenaga menahan emosi di hatinya, ia tidak ingin kesedihannnya dilihat oleh keluarga Lela yang saat ini sedang bercengkrama.


__ADS_2