
Hamzah mengantar Sarah pulang, ia merasa jengah karena Sarah makin berani kepadanya. Sarah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hamzah, bahkan menempelkan tubuhnya ke punggung Hamzah.
Hamzah menggoyangkan tubuhnya, ia sedikit bergidik,"Tolong jangan kencang-kencang, aku susah bernafas", jelaskan Hamzah.
Sarah mengerucutkan bibirnya sambil melonggarkan pelukannya. "Kamu jangan seenaknya ya, kita belum sah, belum halal", lanjut Hamzah.
Hamzah mempercepat laju sepeda motornya, ia ingin segera sampai di rumah Sarah. "Jangan kencang-kencang dong, aku takut niihh!", Sarah kembali merekatkan pelukannya.
Entah kenapa Sarah ingin merasakan sensasi nikmat yang sempat ia rasakan sesaat sebelum tak sadarkan diri waktu di Karaoke .
Saat itu ia merasakan tubuhnya dicumbui oleh seseorang yang ia tak kenal, karena ia berada dalam keadaan mabuk berat, namun sensasi nikmat itu sempat ia rasakan.
Sarah masih ingat bagaimana seseorang itu menciumi bahkan menghisap hampir semua bagian tubuhnya.
Mulai dari bibir, dada, perut, paha, bahkan bagian inti tubuhnya. waktu iu ingin tidak bisa menolak karena sudah terlanjur terlena , dibuat melayang oleh nikmatnya setiap sentuhannya.
Namun tidak tahu, siapa orang asing itu, dan kini Sarah ingin merasai sensasi itu lagi tapi dengan Hamzah, laki-laki yang ia cintai.
Apalagi saat ini, ia sedang berbadan dua, selalu ada dorongan dan keinginan yang kuat untuk bercinta.
Hamzah mendekati gerbang sebuah rumah mewah, seorang Penjaga yanf mengenali mereka segera membukakan pintu gerbangnya.
Hamzah pun segera memasuki halaman rumah itu dan melajukan sepeda motornya sampai ke depan pintu, biar Sarah tidak terlalu jauh berjalan.
Bi Marni segera membuka pintu saat Hamzah membunyikan klaksonnya beberapa kali.
"Eehh..., sudah pulang, ayo Den masuk dulu!", persilahkan Bi Marni kepada Hamzah. Sebenarnya Hamzah ingin segera pergi dari sana, tapi merasa tidak enak dengan Bi Marni.
Ia mendorong kursi roda Sarah ke dalam, tapi Sarah ingin diantarkan langsung ke dalam Kamarnya.
Terpaksa Hamzah mengantarnya sampai ke Kamar. Tidak sampai di situ, Sarah ingin Hamzah menaikkannya ke atas ranjang. Setelah ia mendorong pintu supaya tertutup.
"Tolong dong, aku cape dan masih ngantuk, semalam tidurnya digangguin kamu terus", Sarah melirik manja kepada Hamzah.
Hamzah memapah tubuh Sarah sampai ke pinggir ranjang dan membantu menaikkan Sarah ke atas ranjang.
Namun tanpa diduga, Sarah menarik tubuh Hamzah dengan sekuat tenaganya. Hingga Hamzah hilang keseimbangan dan jatuh terguling di atas kasur.
__ADS_1
Hingga membuat dirinya tertindih oleh tubuh Sarah, belum juga Hamzah sepenuhnya sadar dengan posisinya, Sarah langsung saja memeluk tubuh Hamzah yang kini sudah ada dibawahnya.
Dengan penuh nafsu ,Sarah langsung menyeruput bibir Hamzah. Sungguh Sarah sudah begitu bernafsu, bahkan tangannya langsung saja menyelusup ke dalam kaos Hamzah.
Hingga ia bisa langsung menyentuh kulitnya. Selang beberapa detik, Hamzah baru menyadari posisiya, ia berusaha mendorong tubuh Sarah yang menindihnya
"Apa-apaan siihh...., awas!" Hamzah berhasil lepas dari kungkungan Sarah. "Kamu sudah gila ya", Hamzah berusaha bangkit, namun Sarah kembali mengejarnya.
Sarah kembali memeluknya dari belakang, nafasnya ngos-ngos an, ia benar-benar sudah dikuasai birahi.
Sarah kembali menciumi leher Hamzah, dan kini ia bahkan berani meraba perut Hamzah bahkan sampai ke bawah, hingga ia meraba bagian sensitif Hamzah.
"Lakukanlah Sayang!", suara Sarah berbisik di telinga Hamzah sambil terus menciumi lehernya.
Hamzah hampir tergoda, di serang bertubi-tubi seperti itu, membuat naluri alaminya bangkit, sesuatu di dalam boxernya pun mulai menegang.
Seketika tubuhnya memanas , namun di saat yang bersamaan , terdengar pintu kamar ada yang mengetuk.
Sarah kesal dan menghentikan aksinya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Hamzah, ia segera menarik dirinya dari pelukan Sarah dan segera turun dari atas ranjang.
"Dasar ******!", geram Hamzah. Ia menatap jijik Sarah, begitu murahannya ia. Sementara Sarah ia merasa begitu dongkol karena hasratnya tidak terpuaskan.
"Maaf Non, itu ada tamu di bawah, sudah menunnggu", kabari Bi Marni.
Sarah mengerutkan dahinya, "Tamu? Siapa?",
"Bibi tidak tahu Non, lihat sendiri saja", Bi Marni kembali keluar.
"Hai, tolong bawa aku bawah!", Sarah kembali menyuruh Hamzah.
"Awas jangan macam-macam lagi ya!", ancam Hamzah sambil kembali mendekati Sarah dan mendudukkannya di atas kursi roda.
"Tenang saja, cepat atau lambat, kamu akan menjadi milikku juga", Sarah mengusap mesra dada Hamzah sambil mengedipkan matanya.
Sungguh membuat Hamzah makin jijik melihatnya. Segera ia membawa Sarah ke bawah. Di sana memang ada seseorang yang sedang duduk di kursi tamu, posisinya membelakangi Sarah.
Tampaknya ia seorang perempuan, terlihat dari pashmina yang menutupi rambutnya.
__ADS_1
Hamzah terkesiap 'Wila' , fikirnya. Seketika ia teringat kepada Wila. Bagaimana keadaannya sekarang, mungkin ia masih terguncang dengan kejadian semalam.
Sarah pun tampak heran melihat tamu yang tidak dikenalnya. "Maaf, mau ketemu siapa?", tanyanya saat sudah berada di samping sofa tempat tamunya duduk.
Tamunya berbalik badan dan terdengar teriakan Sarah, "Mami, ya ampun kok tiba-tiba pulang?", Sarah langsung mendekat dan memeluk wanita yang tadi dipanggilnya Mami itu.
"Surprise Honey, selamat ulang tahun, maaf Mami baru bisa pulang siang ini, ini kado untukmu!", wanita itu memberikan sebuah bungkusan dan beberapa paper bag kepada Sarah.
"Oohh, So Sweet Mami, Thank You!", Sarah kembali memeluk Maminya.
"Itu siapa, kok ada di sini?", tanya Bu Rahmi saat mendapati Hamzah berdiri di belakang Sarah.
"Oohh iya, itu calon mantu Mami, Hamzah namanya", perkenalkan Sarah, ia sudah tidak malu lagi mengenalkan Hamzah sebagai calon suaminya.
"Really?, Oh senangnya Mami, tapi kalian mau selesaikan dulu kuliahnya kan?", Rahmi bergantian melihat Sarah dan Hamzah.
"Nggak Mih, aku mau langsung menikah saja, tanpa menunggu lulus dulu", jelas Sarah.
"Lah kok buru -buru", Rahmi sedikkit kaget dengan jawaban anaknya.
"Kan masih tetep bisa kuliah Mih, walaupun sudah nikah juga", ucap Sarah.
"Eemm, sini duduk !", Rahmi mengajak Sarah dan Hamzah duduk bersama.
"Benar Nak Hamzah ini mau menikahi anak ibu?", tanya Rahmi, ia menatap lekat Hamzah.
Hamzah hanya diam saja, ia masih bingung. Namun Sarah menyentuhkan kakinya ke kaki Hamzah, memberi isyarat untuk menjawab.
Hamzah melirik Sarah, ia tidak punya pilihan lain, "Iya Bu, tapi nanti akan saya bicarakan dulu dengan orang tua saya", jawab Hamzah.
"Baik, kalau begitu saya tunggu, saya hanya punya waktu dua minggu di sini, usahakan secepatnya , saya tunggu kedatangan orang tuamu disini", jelas Rahmi.
"Baik Bu, kalau begitu saya pamit dulu, masih ada urusan!", Hamzah segera pergi dari rumah Sarah yang sejak tadi ingin ia lakukan.
"Iya, hati -hati sayang", Sarah menatap hamzah dengan senyum penuh kemenangan.
Sementara Hamzah melesat dijalanan, ia sudah tidak sabar ingin menjelaskan semuanya kepada Wila.
__ADS_1
"