
"Astaghfirullah, Wila kamu kenapa?", Andi kaget dan panik melihat Wila yang kesakitan memegangi perut dan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat, keringat mulai membasahi wajah pucatnya.
"Hoek....hoek.....", ? Wila kembali mau muntah, tubuhnya makin lemah.
"Kita ke Rumah Sakit saja", Andi kembali melajukan mobilnya, kini ia menuju Rumah Sakit terdekat.
Sesampainya di sana ia langsung keluar setengah berlari menuju unit UGD.
"Sus, tolong itu ada pasien di dalam mobil" , dengan panik Andi mencari keberadaan perawat yang lagi jaga di sana.
Petugas segera membawa bed pasien ke mobil mengikuti Andi. Disana Wila sudah pingsan.
Andi membuka pintu dengan hati-hati, dan membantu mengeluarkan Wila dari sana dan segera membawa ke ruang pemeriksaan.
"Hati-hati, pasien ini sedang mengandung", Andi bicara kepada Perawat yang sedang menangani Wila.
"Baik Pak, silahkan tunggu di luar!",
Beberapa Perawat dan seorang Dokter memasuki ruangan untuk menangani Wila.
Di luar , Andi tampak mondar-mandir di depan pintu, ia sungguh takut terjadi hal buruk kepada Wila.
Saking paniknya, tidak terpikir oleh Andi untuk menelepon Hamzah atau Bi Yeni untuk mengabari kondisi Wila.
Selang beberapa jam, Dokter membuka pintu, dan cepat-cepat diburu Andi.
"Bagaimana Dok, keadaannya?",
"Mari Bapak ikut ke ruangan saya!", Dokter berjalan diikuti Andi menuju ruangannya.
Setelah duduk dikursinya, Dokter itu mempersilahkan Andi duduk juga.
"Silahkan Pak!",
"Terima kasih",
"Bapak suaminya pasien...., siapa namanya?", tanya Dokter.
"Wila ,Dok",
"Bapak suaminya?", ulangi Dokter.
"Iya, memangnya kenapa eueu...istri saya Dok?",
tanya Andi.
"Begini Pak, istri Bapak mengalami keracunan, untung saja secepatnya di bawa kesini, sekarang kondisinya sudah stabil", kabari Dokter.
"Keracunan Dok?", Andi bertanya karena merasa tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, untung saja segera ke sini, jadi semua racunnya sudah dikeluarkan.
"Terus bagaimana dengan kandungannya Dok?", Abdi penasaran
"Alhamdulillah, kandungannya sehat, tidak sampai terkontaminasi oleh racun yang masuk",
"Alhamdulillah, tapi saya tidak mengerti kenapa sampai keracunan Dok?",
"Harusnya saya yang bertanya Pak, kenapa istri Bapak sampai keracunan, makanan apa yang terakir Ibu Wila konsumsi?"
"Aduh...., kurang tahu ya Dok, tadi kami tidak makan bersama , tapi terakhir saya lihat, istri saya srpertinya minum jus mangga tadi",
"Bisa diambil sisanya, mungkin masih ada?", tanya Dokter lagi.
"Emh..., sepertinya masih ada Dok, sebentar saya cari dulu di mobil", Andi bergegas menuju mobilnya , setahu dia, dari tadi Wila memegangi gelas plastik, pasti itu jusnya.
Benar saja, jus itu masih ada ditempatnya dan tinggal setengahnya. Ia Ambil dan segera membawanya ke ruangan Dokter tadi
"Ini Dok, setahu saya, tadi istri saya terakhir mengkonsum jus ini.
Dokter mengambilnya , lalu memijit alat yang ada disampingnya, setelah itu datang seorang Perawat.
" Tolong Sus, ini diperiksa, itu sample makanan terakhir yang dikonsumsi ibu Wila.", perintah Dokter.
"Baik Dok", Perawat mengambil sisa jus dan membawanya ke Laboratorium.
"Alhamdulillah kandungannya baik-baik saja, hanya perlu beristirahat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya saja", senyum Dokter.
"Alhamdulillah....terima kasih Dok", Andi menyalami Dokter dan segera keluar untuk kembali ke ruangan Wila.
Disana ia melihat Wila masih terpejam dengan infusan menempel di pergelangan tangan kanannya.
Hati Andi terenyuh ia tidak tega melihat Wila seperti itu. Ia geram ingin segera mengetahui hasil lab, dan ingin mengejar si pelaku.
'Dari mana Wila memperoleh jus itu', perasaan ia dan Wila belum pergi ke mana - mana. Pikiran Andi menerka-nerka. Andi hanya bisa duduk menunggu Wila sadar, ia ingin memegang tangannya, ingin mengusap wajahnya, tapi itu ia urungkan, mengingat ia hanya menjadi suami pengganti bagi Wila.
******
"Ting....", sebuah notifikasi diterima Sarah. Sederet pesan tertera di layar hand Phone nya [aku tunggu bayaranmu],
Sarah mencebik lalu membalasnya [Harus bayar untuk apa?, ngurus satu gadis kampung saja tidak becus].
Kembali ada pesan balasan[aku sudah buat dia masuk Rumah Sakit, kemungkinan tidak akan selamatgg dua-duanya, aku kasih dosis spesial],
[Buktinya mana?]
Sarah terbeliak saat menerima foto-foto Wila yang sedang terbujur lemah di atas bed pasien dengan selang infus dan selang oksigen yng menempel di tubuhnya.
Sarah tersenyum, [Nah gitu dong, gercep], balasnya.
__ADS_1
Tak lama ia melakukan transaksi di mobile banking nya. Sejumlah rupiah kini telah berpindah.
[Ok, sudah aku kirim, kalau ada sesuatu di akhir, jangan libatkan aku, karena aku membayarmu ].
[Ok, thanks, jangan khawatir]. "Aku tidak akan mencelakaimu, karena anakku ada padamu, sayang", gumamnya.
Ya, itu Joko, ia mengakui , Ssrah sedang mengandung anaknya, karena Sarah masih gadis saat ia mengambilnya ketika Sarah mabuk berat di Karaoke waktu itu.
Sarah senyum-senyum sendiri, pikirannya terus melayang membayangkan kebersamaannya dengan Hamzah.
'Kalau Wila tiada, ia akan menjadi wanita satu-satunya untuk Hamzah', pikir Sarah.
Sarah sudah dibutakan oleh ambisi cintanya kepada Hamzah, sehingga mengambil jalan yang salah.
Ia tidak memikirkan akibat yang akan ditanggungnya. Dia juga tidak takut akan mendapat karma dari perbuatannya.
Apalagi dia sudah mengetahui kalau anak yang sedang di kandung Wila adalah anaknya Hamzah. Sampai kapanpun Hamzah akan selalu mencari Wila untuk anaknya.
Berbeda dengan dirinya, yang mengandung anak dari laki-laki lain, maka Hamzah akan meninggalkan dirinya kapan pun dia mau.
Jadi kalau rencananya untuk menyingkirkan Wila kali ini berhasil, maka tidak ada lagi penghalang antara dia dan Hamzah.
******
Tak lama masuklah Dokter yang tadi memeriksa Wila,
"Maaf Pak, bisa ikut ke ruangan saya lagi, hasil labnya sudah keluar", kabari Dokter.
"Tapi, bagaimana?", Andi melirik Wila, ia khawatir meninggalkannya sendirian.
"Tenang Pak Bu Wila akan ditemani Perawat", senyum Dokter.
"Oh, terima kasih", tak lama seorang Perawat masuk. Andi pun segera keluar mengikuti Dokter.
"Silahkan dudul!", Dokter mempersilahkan Andi duduk di kursi yang ada di depannya.
"Ini hasil labnya sudah keluar, disini kami menemukan ada kandungan racun serangga yang tercampur dengan jus mangga yang diminumnya ", jelas Dokter.
Andi terkejut, "Racun?, kenapa bisa tercampur di sana?",
"Nanti, setelah Bu Wila sadar, tolong tanyakan dari mana beliau mendapatkan jus mangga itu, dari sana baru kita bisa memulai melakukan penyelidikan", saran Dokter.
"Kami serahkan semuanya kepada Bapak, apa kasus ini mau dibawa ke ranah hukum atau tidak",
Andi terdiam, 'ternyata masih ada orang yang berniat untuk mencelakai Wila, sudah dua kali ', pikirnya.
"Bagaimana Pak?", Dokter kembali bertanya karena melihat Andi yang melamun.
"Oh, iya Dok, nanti saya rundingkan dulu dengan keluarga, bagaimana baiknya", tegas Andi.
__ADS_1
"Baik kalau begitu, tugas kami hanya merawat dan membuat Bu Wila sehat kembali, selebihnya terserah Bapak, apa mau di urus secara kekeluargaan, atau mau menempuh jalur hukum", tegas Dokter.
"Iya Dok, saya faham, saya pamit dulu, terima kasih atas informasinya", Andi ke luar dari ruangan dan bergegas menuju ruangan Wila dengan kedua tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya, ia merasa geram terhadap pelaku yang dengan sengaja mau mencelakai Wila lagi.