
"Kira-kira kapan Bi Yeni bisa pulang, Kelihatannya sudah membaik?" tanya Wila
Hamzah juga nampak memperhatikan Yeni, "Kita tunggu visit dokter dulu, kalau kondisinya sudah benar-benar stabil, malam ini juga bisa pulang", jelas Hamzah.
Sepertinya Yeni sengaja memberi kesempatan buat Wila dan Hamzah untuk bisa ngobrol dengan leluasa, ia pura-pura memejamkan mata setelah menikmati bakso.
Hati Hamzah bersorak, akhirnya ia bisa berlama-lama ngobrol dengan Wila, "Kita makan di taman belakang aja yuuk..?!"
Wila mengangguk saja karena ia juga sudah lapar, terakhir tadi siang ia makan bareng Lela dan Mita. Ia berjalan mengikuti Hamzah ke taman belakang.
Beruntung sekali cuacanya lagi cerah. Langit sore begitu indah dihiasi warna keemasan, pertanda Sang Surya akan segera pulang keperaduan.
Hamzah duduk lebih dulu dan menata mangkok dan gelas , "Anggap saja ini dinner yang kesorean", katanya sambil tersenyum.
Wila pun ikut tersenyum, ia duduk di samping Hamzah, ia tuangkan makanan yang dibawanya ke wadah yang sudah disiapkan oleh Hamzah.
Ya, bakso dan jus buatan Bu Dati, tapi walaupun menunya sederhana tak mengurangi kebahagiaan mereka berdua.
"Maafkan aku ya?", Wila membuka pembicaraan.
"Maaf untuk apa?", Hamzah kelihatan bingung.
"Tadi di Kampus aku banyak diemin kamu, kalau dihadapan mereka , kita bersikap biasa saja ya!, layaknya teman biasa", Wila melirik Hamzah yang masih menikmati bakso.
"Iya...,aku ngerti, biarkan mereka tahu dengan sendirinya", jelaskan Hamzah.
"Oohh...iya, tadi aku dengar, Sarah mengganggumu ya waktu di Perpus?"
Wila menunduk, ia ragu mau memberitahu Hamzah soal itu, ia takut di sebut pengadu.
"Aku tahu dari Andi, katanya Sarah merebut buku yang mau kamu pinjam?, kenapa gak bilang? , nanti kalau kamu butuh apapun, bicara saja!",
Wila hanya menunduk, "Sepertinya Sarah itu suka sama kamu, ia marah saat tahu aku dekat sama kamu, jadi setiap ketemu, selalu mengganggu, biar aku menjauhi kamu",
"Aaahhh, itu mah dianya saja yang kekanak-kanakan, rasa suka itu tak bisa di paksa, tak bisa ditebak jatuhnya pada siapa, walaupun ia cantik, tidak menjamin bisa menarik bagi semua orang", jelas Hamzah meyakinkan Wila.
__ADS_1
"Belum saja hubungan kita, ia sudah begitu, bagaimana kalau sampai ia tahu tentang hubungan kita, wah tidak terbayang bagaimana reaksinya ke aku", Wila tampak khawatir.
"Gak usah dipikirin, kita ikuti saja alurnya, dan yakin disetiap masalah , pasti ada solusinya, positif thinking aja!" , Hamzah berusaha menenangkan Wila.
"Lagi pula aku tidak terikat janji sama siapa pun, jadi aku bebas menentukan pilihan hati sendiri, apalagi untuk masalah ini, tak ada yang bisa memaksaku", tegas Hamzah semakin menenangkan hati Wila.
*
*
*
Sarah terlihat senang , ia tampak senyum-senyum memandangi layar hand phonenya, ternyata ia sedang mengintip saldo uang jajannya di mobile banking.
"Thanks you Mami, transferannya udah masuk, dengan uang ini aku bisa shopping dan jalan-jalan sepuasnya", Sarah tampak berbicara sendiri di balkon kamar tidurnya.
"Gimana kalau ajak Hamzah saja, sekalian touring week end ini, bareng anak-anak Senat, aah.., tapi males, kenapa harus diganti siih...motornya, aku lebih suka naik motor sport daripada motor maticnya yang sekarang"
"Ini pasti gara-gara gadis kampung itu, menyebalkan sekali", gerutu Sarah.
"Siiitt...,tambah banyak tingkah nih orang, dasar lintah", maki Sarah kepada si pengirim pesan.
Ia berfikir beberapa saat, bagaimana caranya bisa lepas dari si lintah ini, belum juga ide di dapat ,"Ping", hand phonenya berbunyi lagi.
Ia lihat masih orang yang sama, " Kalau tidak di transfer juga, aku buka mulut lho....", ancam si pengirim pesan.
"Sial, makin berani aja nih orang", Sarah makin kesal, tapi akhirnya ia turuti juga maunya. Ia transfer sejumlah uang tutup mulut buat si pengirim pesan.
"Benar-benar butuh healing ini, tambah mumet aja rasanya, gimana kalau ke Karaoke saja, sekalian ajak Susi dan teman-temannya.
Tak butuh waktu lama, ia segera menghubungi Susi untuk pergi ke Karaoke malam ini.
"Oke aku tunggu di rumah ya, jangan lama-lama!", ia akhiri obrolannya, dan segera berdandan untuk pergi ke Karaoke.
Ia pilih pakaian yang paling seksi, atasan ketat warna merah muda yang mempertegas bentuk dadanya, dengan lengan pendek, dan dipadukan dengan rok mini hitam yang ketat pula di atas lutut.
__ADS_1
Rambutnya sengaja di urai, tak lupa berhias dengan make up sedikit tebal, sebuah tas dan sepatu bermerk serba hitam melengkapi penampilannya.
Ia berdiri di depan cermin , berlenggak-lenggok menilai penampilannya, setelah dirasa oke, ia bergegas ke luar dari kamarnya tak lupa ia sambar kunci mobil di atas meja riasnya.
"Mau kemana Non, seorang asisten rumah tangganya bertanya saat ia sudah ada di ambang pintu, sebut saja ia Bi Marni.
"Ada acara ulang tahun teman Bi", katanya mengarang cerita.
"Oohh...jangan malam-malam pulangnya!, nanti Nyonya suka nanyain", pesan Bi Marni.
"Iya Bi, tenang aja", Sarah langsung menuju garasi mengambil Honda Jazz miliknya. Ia parkir sebentar di jalan di depan rumahnya.
Terlihat ada dua orang wanita turun dari Ojol dan naik ke mobilnya. Mungkin itu Susi dan temannya.
Mobilnya melaju di kegelapan malam yang makin pekat
Entah sejak kapan Sarah mulai menyukai kehidupan malam, tapi yang pasti itu semua ia lakukan untuk menghilangkan kejenuhan di rumahnya.
Di rumah ia hanya ditemani oleh beberapa orang asisten rumah tangga, yang lainnya pulang setiap hari, hanya Bi Mirna saja yang menginap dirumahnya.
Sudah sejak Sarah SMP, Bi Mirna bekerja dirumahnya. Sedangkan kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar kota.
Mereka pulang sesekali saja dalam sepekan, bahkan kali ini hampir mau dua bulan mereka tidak pulang-pulang.
Ya, kedua orang tua Sarah adalah Pengusaha kuliner yang sukses, mempunyai cabang di mana-mana , bahkan berencana membuka cabang di negara tetangga.
Saking sibuknya, mereka hampir melupakan anak semata wayangnya yang masih butuh banyak perhatian, bukan hanya limpahan materi.
Seperti saat ini, Sarah sudah mulai menyukai kehidupan malam, kehidupan gemerlap , hura-hura, penuh patamorgana. Kehidupan yang sepertinya penuh kesenangan, tetapi sementara.
Gemerlap lampu membutakan mata kebenaran, dan bisingnya musik membuat hilangnya kesadaran, mereka play...play....terus bergoyang mengikuti naluri hati.
Sungguh dunia tipu-tipu yang memabukkan, membuat candu , melupakan waktu.
Bsgitupun Sarah , ia sudah memboking room karaoke, di sana ia bebas bernyanyi-nyanyi, menari mengikuti irama bersama teman-temannya.
__ADS_1
Tingkahnya itu mencuri perhatian salah satu pengunjung laki-laki, yang merasa tertarik melihat penampilan Sarah.