
Hamzah melihat jam ditangannya, ternyata malam kian merayap gelap. Ia rasa sudah cukup meyakinkan Wila untuk percaya kepadanya.
"Sekarang istirahatlah, aku gak mau kenapa-kenapa, tolong pamirkan juga sama Bi Yeni, maaf sudah mengganggu malam-malam".
Wila hanya mengangguk saja.
"Aku pulang ya, Assalamu'alaikum", pamit Hamzah. Ia segera meninggalkan rumah Bi Yeni. Kepergiannya di ikuti tatapan mata Wila.
'Wa'alaikumsalam, hati-hati!', ucap Wila dalam hati. Ia baru beranjak setelah motor Hamzah menghilang di ujung gang.
Besok kuliahnya libur jadi Wila berencana untuk membantu Bi Yeni jualan. Saat masuk ke rumah ternyata Yeni sudah tidur, mungkin karena kecapean.
Wila pun segera memasuki kamarnya, setelah terlebih dahulu mengunci semua pintu.
Sebelum terlelap, Wila terus teringat kejadian di teras tadi, ia benar-benar merasa malu, takut Hamzah menilai yang bukan-bukan, padahal itu baru pertama kali ia lakukan.
*
*
*
Hamzah segera membuka laptop setibanya di kamar. Ia terlihat mencari -cari sesuatu di dalam salah satu arsip kemahasiswaan.
Setelahnya ia tampak memfoto data yang sudah ia temukan. Dan bergegas menuju tempat tidurnya.
Ia membaringkan tubuhnya, membayangkan kejadian di Rumah Bi Yeni, sungguh ia tidak bermaksud berbuat tidak sopan kepada Wila.
Tapi ia tidak bisa menahan dorongan dalam dirinya untuk memeluk Wila, tapi sepertinya Wila pun sama, ia juga tidak bisa menolaknnya.
'Maafkan aku Wila, aku akan segera mengalalkanmu biar kita tidak terus-terusan berbuat dosa', pikirnya.
Tak terasa ia pun terlelap. Dan kembali terbangun oleh suara alarm yang tadi ia setel. Jam baru menunjukkan pukul 03.30.
Hamzah segera bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia berpakaian dan memasukkan beberapa piece baju ke dalam tasnya.
Hamzah tampak bersiap untuk pergi. Ia memutuskan untuk shalat di jalan saja, biar tidak terlalu telat sampai di tempat tujuannya.
Setelahnya ia siapkan sepeda motor sportnya, dan segera meninggalkan rumahnya menuju ke suatu tempat.
Sesekali ia berhenti untuk memantau JPS sebagai petunjuk . Hamzah beberapa kali berhenti untuk sekedar bertanya alamat yang ia tuju.
'Wow, ternyata masih jauh', pikirnya. Segera ia melanjutkan kembali perjalanannya. Sepanjang jalan ia disuguhi pemandangan yang masih asri.
Di kanan dan kiri jalan yang ia lalui tampak kebun dan pesawahan yang lagi menguning. Sejenak Hamzah menghentikan laju sepeda motornya di sebuah gerbang Perkebunan karet Batu Lawang.
Sudah lama ia membaca dan mendengar tentang Perkebunan karet ini. Dan baru sekarang kesampaian mendatanginya. Memang tidak sengaja, tapi suatu kebetulan.
Perkebunan ini berada di daerah Ciamis Jawa Barat, berada di daerah Cisaga.
__ADS_1
Hamzah berswa foto di sana dan menjadikannya status WA nya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya.
"Kampung Ciawi Tali, masih jauh Pak?" , tanya Hamzah saat berpapasan dengan seorang petani di jalan. Sepertinya Petani itu baru pulang dari ladang, terlihat dari bawaannya, sekarung singkong.
"Tinggal sabelokan deui Den, bade ka saha kitu?" , katanya balik bertanya .
"Itu mau ke rumah Pak Caca , suaminya Bu Yati", jelas Hamzah. "Oohh, itu rumah yang ada di kanan jalan, sateuacan tanjakan", jelas Petani itu.
"Iya terima kasih Pak", ucap Hamzah sambil memberi Petani itu sejumlah uang.
"Sawios Den, teu kedah", tolaknya.
"Gak apa-apa, itu buat Bapak", paksa Hamzah. Ia memasukkan uang ke dalam saku baju Pak Petani tersebut.
Segera Hamzah melanjutkan perjalanannnya, rasanya sudah tidak sabar ingin segera sampai. Setelah hampir setengah jam, barulah Hamzah sampai di tempat yang ditunjukkan tadi.
"Sebelah kanan jalan, apa ke sini kali ya?", Hamzah bicara sendiri. Padahal ada pemilik warung yang sedari tadi memperhatikannya.
Hamzah melihat sekeliling, dan pandangannnya tertuju pada warung di kiri jalab, lalu ia menghampirinya, "Assalamu'alaikum, Bu maaf mau tanya, kalau rumahnya Pak Caca dimana ya", tanyanya kepada pemilik warung.
"Itu masuk gang di sana, ada rumah panggung, itu rumahnya", jawab pemilik warung.
"Ooh, iya, terima kasih Bu", Hamzah segera menuju tempat yang ditunjuk . Ia masuk gang dan sampailah di depan rumah yang di maksud.
Sebuah rumah panggung yang sederhana. Itu mungkin satu-satunya rumah panggung di sana, di sekitarnya sudah banyak berdiri rumah permanen yang cukup mewah.
"Alhamdulillah, sampai juga", Hamzah turun dari motornya. Ia mendekati rumah itu dan mengucap salam.
Ternyata banyak teman kuliahnya yang mengomentari SW yang dibuatnya tadi. Hamzah senyum-senyum sendiri sampai tidak menyadari kehadiran yang punya rumah di ambang pintu.
Yati yang membuka pintu merasa senang melihat kedatangan Hamzah, ia melihat sekeliling mencari Wila, tetapi tidak ada.
"Wa'alaikumsalam, eehh Nak Hamzah, mana Wila nya?", Bu Yati langsung menanyakan keberadaan Wila.
"Saya ke sini sendiri, Bu, Wila juga tidak tahu kalau saya mau ke sini", Hamzah tersenyum.
"Lah ... Kok...?, ayo silahkan masuk!", persilahkan Yati.
"Iya, terima kasih Bu, Bapaknya ada?", Hamzah langsung menanyakan keberadaan Caca.
"Bapak ada lagi di belakang, itu lagi membetulkan kandang ayam",
"Kalau begitu, saya langsung ke belakang saja, biar di sana aja ngobrolnya", jelas Hamzah.
"Ooohh, boleh...., mangga attu!", Yati membawa Hamzah ke belakang rumah untuk menemui Caca.
Sesampai di sana, Hamzah dibuat bengong lagi, sungguh pemandangan yang indah menurutnya. Di belakang rumahnya, Caca sedang membetulkan sebuah kandang ayam.
Kandang itu berada di pinggir sebuah kolam ikan , di sampingnya terdapat sebuah pancuran , airnya jernih sekali. Ikan nila dan ikan mas berwarna-warni tampak berdesakan di dalam kolam yang tidak terlalu besar itu.
__ADS_1
Di samping kolam tumbuh juga berbagai tanaman sayuran, ada sawi, kangkung, terong, cabe ,tomat, timun, aneka tanaman rimpang, seperti jahe, kunyit, kencur. Pokoknya kumplit.
Dan semua itu menjadi pemandangan yang dapat dilihat langsung dari dalam dapur, jadi saat makan bisa langsung berhadapan dengan kolam ikan. 'Asri sekali, sungguh damai tinggal di sini', hati Hamzah berbicara.
"Assalamu'alaikum Pak", ucap Hamzah saat sudah berada du dekat Caca.
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ke sini", sapanya dengan tersenyum.
"Bagaimana, gak nyasar di jalan?, mana Wila?", Caca pun menanyakan anaknya.
Hamzah tersenyum, "Saya ke sini sendiri Pak, Wila tidak ikut",
"Wila juga tidak tahu saya ke sini", senyum Hamzah.
"Oohh, sendiri?",
"Saya ke sini karena ada hal yang mau dibicarakan sama Bapak", Hamzah langsung saja pada tujuannya.
"Oohh, kalau begitu, ayo di dalam saja ngobrolnya", ajak Caca.
"Di sini aja Pak, saya suka suasananya, bikin betah, asri", Hamzah malah mendekati Caca dan duduk di batu didekatnya.
"Oohh, boleh, Bu buatkan miinum!", Caca memanggil Yati. Dan tak lama kemudian Yati datang membawa nampan berisi teh manis hangat dan sepiring singkong rebus.
"Ayo sambil diminum, sebenarnya ada apa?", tanyai Caca .
Hamzah meminum dulu tehnya untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja jadi dag dig dug .
"Begini Pak , sebenarnya saya datang jauh-jauh ke sini untuk minta ijin sama Bapak", Hamzah berhenti sebentar.
"Saya mencintai anak Bapak", ucapnya .
Caca tersenyum bahagia mendengarnya, "Alhamdulillah, kalau Bapak terserang Wila saja",
"Sudah Pak, Wila juga sudah tahu, saya hanya ingin langsung memberitahu Bapak saja , maunya siih..ingin langsung halalin Wila saja", ungkap Hamzah.
"Maksudnya nikah gitu?", Caca memandangi Hamzah.
"Iya, Pak , biar saya bisa leluasa menjaga Wila di sana",
"Tapi kan masih kuliah, boleh gitu?", Caca kembali memandangi Hamzah. "Nah Hamzah bisa melihat sendiri, ya.. Beginilah Wila, anak Bapa, keadaannya seperti ini ",
"Saya mencintai anak Bapak karena Allah, saya tidak memandang yang lainnya",
"Iya, tapi Bapak titip, jangan sakiti anak Bapak, jangan sia-siakan Wila, ia anak Bapak satu-satunya", Caca kembali memandangi Hamzah.
"Iya, Inshaa Allah, saya akan menjaga Wila dengan baik", ucap Hamzah meyakinkan Caca.
'Kalau begitu, kenapa gak suruh Wila pulang saja sekarang, biar surprise ', pikir Hamzah.
__ADS_1
Segera ia kirim pesan bergambar pada Wila, sengaja Hamzah kirim fotonya bersama Caca kepada Wila tak lupa ia tambahkan caption, "Aku tunggu di sini, pulanglah", tak lupa ia tambahkan juga emot hati.