
Sepanjang perjalanan menuju rumah, orang -orang yang berlalu lalang menyapa Wila, mereka memberi selamat atas pernikahannya.
Tidak sedikit dari mereka yang memuji Hamzah. "Den, kenalkan attu temannya buat calon mantu Ibu", kata salah satu tetangga Wila.
Hamzah tersenyum mendengar ucapan si ibu tadi.
Dalam sekejap , berita pernikahan Wila menyebar ke seluruh penduduk Kampung, apalagi dengan acara akad kemarin, yang terbilang sangat mewah.
Dengan barang hantaran yang tidak kalah mewahnya, membuat pernikahan Wila menjadi pernikahan termewah di kampungnya.
Tetapi namanya juga tetangga, tak sedikit diantara mereka yang suka, dan tidak sedikit juga yang tidak suka.
Bu Wira yang dari dulu selalu merendahkan keluarga Wila yang merasa paling gerah dengan pernikahan Wila.
Apalagi hantaran yang di bawa Hamzah terbilang mewah.
Dulu, ia selalu membanggakan anaknya yang mendapatkan jodoh orang kaya, namun sekarang terkalahkan oleh Wila.
Sepanjang perjalanan , Hamzah tidak melepas pegangan tangannya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya.
Malah terbalik, Wila yang merasa risih. "Tunggu, bukannya mau ketemu dengan Pak RT", Wila mengingatkan Hamzah saat melewati rumah Pak RT.
"Iya, yang mana rumahnya?", Hamzah menghentikan langkahnya.
"Itu yang sebelah sana, rumah dengan cat abu", jelas Wila. Ia menunjuk ke arah rumah yang dimaksud.
"Kita mampir sebentar ya!", ajak Hamzah.
Wila dan Hamzah menuju rumah Pak Rt.
Kedatangan mereka disambut ramah.
Hamzah langsung mengutarakan maksudnya, ia ingin Pak RT mengkoordinir warga untuk membantu pembangunan rumah Caca, mertuanya.
"Saya kurang begitu paham mengenai pekerjaan tukang, jadi saya ingin bantuannya dari Bapak untuk mengkoordinir para pekerjanya".
Kebetulan saya harus kembali ke Kota besok, tapi sebelum kembali, saya ingin memastikan kalau rumah Bapak sudah direnovsi". Jela Hamzah.
"Nanti saya juga akan bicarakan hal ini dengan Bapak, tapi saat ini saya pingin tahu, kira- kira butuh dana berapa jika sampai selesai?".
"Kalau masalah dana, itu tergantung dari bahan yang digunakan dan lamanya pengerjaan" ,
"Saya percayakan sama Bapak saja", senyum Hamzah, ia juga memberikan nomer hand phone kepada Pak RT biar gampang jika ada sesuatu.
"Ini Pak, nomer yang bisa dihubungi saat Bapak memerlukan sesuatu", Hamzah memberikan kartu namanya kepada Pak Rt.
"Saya ingin cepat selesai, jadi Bapak perhitungkan saja berapa dana yang dibutuhkan?",
"Baik Den, secepatnya Bapak kasih tahu", Pak RT tampak senang karena mendapat proyekan dari Hamzah.
"Masalah uangnya , ada di rumah, sisanya nanti saya transfer ",
__ADS_1
"Baik Den, terima kasih",
"Kalau begitu, saya pamit dulu, nanti malam, atau besok pagi, Bapak bisa mengambilnya di rumah, saya pamit Pak, Assalamu'alaikum", Hamzah dan Wila meninggalkan "Tidak Neng, tenang saja, Abang ingin Neng dan keluarga, hidup nyaman, walau tetap sederhana", senyum Hamzah.
Wila bergetar mendengar ucapan Hamzah, ia makin takut kehilangan sosok bertanggung jawab seperti Hamzah.
Wila kembali dituntun Hamzah sampai di depan rumahnya. Tenda masih belum dibongkar karena masih banyak perabotan yang disimpan dibawahnya.
"Tuh, sayang kan, barang-barang disimpan di sana",
Wila tersenyum, ia langsung masuk ke dalam menemui ibunya. Yati tampak senang, ia sedang membereskan piring.
Hamzah mengutarakan maksudnya untuk merenovasi rumah saat mereka kembali berkumpul di ruang tengah. Caca dan Yati saling pandang, mereka tidak menyangka. Ada perasaan senang dan haru melingkupi hati mereka.
Kembali Caca besyukur, matanya sampai berkaca-kaca.
Sekian lama ia berkeinginan untuk membangun rumah, kini terlaksana dengan bantuan dari menantunya.
"Terima kasih Nak, Bapak jadi banyak merepotkan, tidak sedikit biayanya untuk merenovasi rumah ini",
"Jangan sungkan Pak, ini sudah menjadi tanggung jawab saya juga", senyum Hamzah.
"Bapak dan Ibu jangan khawatir, kalau memerlukan sesuatu, bisa langsung hubungi saya saja, saya ini kan sudah menjadi anak Bapak juga",
Ucapan Hamzah membuat Wila baper, ia semakin takut kehilangan sosok pendamping seperti Hamzah.
Ia memperhatikan kebutuhan istri dan keluarganya. Tidak heran , karena Hamzah juga seorang anak tunggal, ia tidak mempunyai tanggungan lagi selain keluarga kecilnya bersama Wila.
Klinik tersebut dibangun Ayahnya untuk tempat praktek Hamzah, namun karena masyarakat banyak menaruh kepercayaan, klinik tersebut menjadi tempat berobat masyarakat sekitar.
Klinik itu juga yang dulu menjadi tempat dirawat Caca dan Bi Yeni saat sakit.
Dari sanalah Hamzah memperoleh penghasilan.
"Assalamu'alaikum ", terdengar suara orang mengucap salam.
"Wa'alaikum salam, Caca bangkit berniat membuka pintu.
Ternyata Pak Rt sudah berdiri di sana, "Silahkan masuk Pak!", persilahkan Caca.
Pak RT duduk bersama mereka, " Jadi begini Den, Bapak sudah mendapat sepuluh orang pekerja, tinggal menunggu ada barang, dan kapan akan dimulainya?,
Caca dan Yati kembali saling pandang, mereka tidak mengerti dengan ucapan Pak RT.
"Maksud Pak RT apa?", Caca masih kebingungan.
Hamzah tersenyum, "Maaf Pak, saya lancang, tadi saya mampir ke rumah Pak RT, minta dibantu untuk membangun rumah ", aku Hamzah.
"Besok saya harus kembali ke Kota, tapi sebelum itu, saya ingin memastikan kalau rumah ini di bangun",
" Tunggu sebentar Pak!", Hamzah beranjak menuju kamarnya, ia kembali dengan membawa tas.
__ADS_1
Ia mengambil sebuah bungkusan amplop besar berwarna coklat.
"Ini ada uang segini dulu, nanti kalau ada kekurangan, Bapak tinggal hubungi saya saja", Hamzah menyerahkan bungkusan tersebut kepada Pak RT.
"Baik Den, Bapak terima",
"Dan sekarang kita buat denahnya dulu", Hamzah tampak menggambar denah rumah yang akan dibangun, sambil sesekali meminta persetujuan Caca.
Setelah selesai, ia serahkan gambar tersebut kepada Pak RT. "Nanti buatkan juga sebuah tanan kecil di depan rumahnya ya Pak!",
"Baik Den",
"Ini silahkan diminum dulu!", Bu Yati membawakan senampan air minum dengan sale pisang yang tadi dibeli Hamzah.
Mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati makanan yang disuguhkan Bu Yati.
Sedangkan Wila memilih menemani Bi Yeni yang sedang mengemas barang di dapur. Ia tampak murung.
"Ada apa Bi",
"Ta ....tadi sepertinya Bibi melihat Mas Dirja",
"Dimana Bi?", Wila penasaran. Soalnya tadi waktu di pasar kaget, ia juga melihat sekilas melintas di atas sebuah sepeda motor.
"Tapi kok sepertinya dia masuk ke rumah besarvyang ada di sebrang gang depan sana ", ungkap Yeni.
"Rumah Bu Wira?, ngapain ke sana ya?", Wila tampak menerawang.
"Sudahlah Neng, jangan dibahas lagi, Bibi sudah melupakannya, hanya penasaran saja, kenapa ada di sana?", ungkap Yeni.
"Iya Bi, lupakan saja.
"Mengingatnya hanya membuat luka lama kembali berdarah", senyum Wila.
Bii Yeni memeluk Wila, keponakannya itu memang paling pandai membuat hatinya kembali tenang.
Di depan , Pak RT pun tampak pamit.
Caca dan Yati pun sudah beristirahat .
"Sana temani suamimu!", senyum Yeni. Ia menyuruh Wila menemui Hamzah. Sedang dirinya kembali menyelesaikan pekerjaannya .
Wila menurut, ia beranjak menuju ruang tengah menghampiri Hamzah.
"Sudah selesai", senyum Wila . Ia duduk di samping Hamzah.
"Alhamdulillah, Kita lanjutkan di sana", Hamzah melirik ke arah kamar dengan senyuman penuh arti.
Wila tersipu, ia mengerti apa yang dimaksud suaminya. Hamzah berdiri meraih tangan Wila dan menuntunnya menuju kamar.
Di sana mereka kembali menikmati kebersamaan mereka sebagai sepasang suami istri
__ADS_1