Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Bagai Langit dan Bumi


__ADS_3

Wila masih belum bicara apa-apa, ia terus mengikuti langkah Hamzah, sampai ia pun tidak menyadari kalau dari tadi tangannya di pegangi Hamzah.


Wila masih sock mendengar pernyataan Hamzah tadi, mungkin Hamzah ingin menunjukkan bahwa ia serius terhadapnya.


Kali ini Hamzah membawa Wila ke tempat yang berbeda. Ia membawa Wila ke rumahnya.


Sepanjang jalan mereka saling diam, tak tahu harus mulai dari mana. Tapi yang pasti, Wila merasa bahagia dengan ucapan Hamzah di Kantin.


Di depan sebuah rumah yang begitu mewah, motor Hamzah berhenti.


Namun dengan penuh hormat Satpam yang sedang bertugas segera membukakan pintu gerbang.


Motor Hamzah pun masuk, benar-benar rumah sultan, halamannya begitu luas, ada berbagai jenis tanaman bunga di sana.


Ada pohon mangga dan jambu air juga yang sedang berbuah. Halaman rumah itu di buat menjadi mini taman yang begitu cantik.


Hamzah langsung memasuki garasi untuk menyimpan motornya di sana. Dan wow , ada beberapa mobil dan sepeda motor juga yang di parkir rapi di sana, termasuk sepeda motor sport yang dulu suka dipakai oleh Hamzah.


'kiraindi jual atau ditukar dengan sepeda motor matic, ternyata memang dia punya banyak kendaraan di sini', pikir Wila .


Wila masih mematung di depan deretan kendaraan , ia tidak mengira kalau Hamzah ternyata bukan orang sembarangan.


"Sini masuk, kok malah bengong !", ajakan Hamzah mengagetkan Wila.


Ia pun tersenyum mengikuti langkah Hamzah . Ia dibawa memasuki rumah dari bagian pintu utama.


Sebelum di ketuk pun pintu sudah terbuka, seorang wanita paruh baya menyapanya dengan sopan," Baru pulang Den, wanita itu melirik Wila juga.


"Iya Bi", Hamzah menjawabnya dan langsung memasuki rumah diikuti Wila. Sungguh rumah Sultan. Di ruangan itu terdapat perabot serba merah yang ditata rapih.


Wila langsung insecure melihat itu semua, keadaannya sungguh bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan rumahnya yang ada di Kampung.


Bangunan rumah mewah berlantai dua itu benar-benar bagai sebuah istana baginya.


"Silahkan duduk, Bibi buatkan dulu minum!", persilahkan Bi Sumi kepada Wila.


"Iya terima kasih",


Wila duduk di kursi tamu yang begitu mewah, satu set kursi itu cukup menampung banyak orang, tidaj seperti di rumahnya, hanya ada kursi dari rotan yang sudah usang.

__ADS_1


"Tunggu dulu, aku masuk sebentar", dengan segera Hamzah berlalu dari hadapan Wila yang masih diam membisu.


Atmosfir rumah itu sungguh membius kesadaran Wila. Ia jadi begitu kecil dihadapan Hamzah. Bagaimana reaksinya jika mengetahui keadaannya di Kampung.


Tak lama kemudian Bi Sumi datang dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa toples makanan ringan.


"Silahkan diminum Neng!", tawari Bi Sumi.


"Iya, terima kasih",


Bi Sumi kembali ke belakang setelah menaruh makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja.


Tak lama Hamzah pun datang. "Ayo diminum, kok malah bengong saja", ia menghampiri Wila dan duduk disampingnya.


Hamzah lebih dulu mengambil minumannya, tak lupa ia ambilkan juga buat Wila. Segelas jus mangga di siang yang begitu cerah sungguh menyegarkan.


Wila sebenarnya ingin menanyakan keberadaan kedua orang tua Hamzah, tapi ia tidak berani. Ia hanya melihat ke sekeliling ruangan itu beberapa kali.


Namun Hamzah seolah tahu dengan apa yang dipikirkan Wila segera menngatakan kalau kedua orang tuanya saat ini lagi dinas di luar kota.


"Kamu lapar nggak?", tanyai Hamzah . "Kita masak saja yuk!", ajaknya.


Tanpa menunggu jawaban dari Wila, Hamzah bangkit dan mengajak Wila ke dapur.


Dapurnya tak kalah mewah dan luas. Lebih luas dari ukurann rumah Wila di Kampung. Berbagai furniture nya tertata dengan rapi, kitchen set dan barang-barang elektronik tersusun rapi.


"Kebetulan, baru pulang belanja nih, kita mau masak Bi!" Hamzah menghampiri Bi Sumi.


"Oohh, mau dimasakin apa?, biar Bibi siapkan",


"Nggak usah Bi, kita mau masak sendiri", tegas Hamzah.


Ia menyuruh Wila memilih bahan masakannya sendiri , lagi-lagi Wila dibuat bengong. Ia melihat begitu banyak bahan makanan, komplit.


Kalau ukuran Wila sih itu makanan bisa buat stok beberapa bulan. Wila pun mulai memilih bahan-bahan yang ia perlukan.


Ia memilih sayur kangkung, daging sapi, dan bumbu-bumbu yang ia perlukan. Sebenarnya ia mencari ikan asin, tetapi tidak ada.


Setelah itu ia mulai memasak, walau agak canggung karena ia belum terbiasa menggunakan alat masak sebagus ini. Bahkan ia pun sempat bingung saat akan menyalakan kompor.

__ADS_1


Wila memang sudah terbiasa memasak, jadi ia begitu terampil. Beberapa saat kemudian masakannya pun sudah siap.


Tumis kangkung, seblak kangkung tepatnya, dan tongseng daging sapi pun sudah siap di atas meja makan.


Hamzah yang dari tadi ikut membantu memasak, tampak sudah tidak sabar untuk menikmatinya.


"Sini Bi, ikut makan sekalian", ajaknya kepada Bi Sumi yang masih membereskan belanjaannya.


"Mangga Den, silahkan saja, Bibi masih kenyang",


Bi Sumi dari tadi memperhatikan kebersamaan Wila dengan Hamzah. Ia senyum-senyum sendiri . Baru kali ini Hamzah membawa teman wanitanya ke rumah.


'Memang tidak salah pilihan Den Hamzah, sudah ayu, sopan, pintar masak lagi', Bi Sumi berbicara dalam hati.


Hamzah pun tampak lahap menikmati makanannya, bahkan ia sampai beberapa kali nambah.


Entah kenapa nafsu makannya bertambah, sungguh terasa nikmat sekali, walau cuma masakan sederhana.


Mungkin karena cintanya kepada Wila yang saat ini ia rasakan, bisa menambah mood bagi Hamzah.


Kumandang adzan dzuhur pun berkumandang. Segera Hamzah mengajak Wila ke bagian belakang rumah.


Di sana tak kurang mewah ada sebuah kolam renang, dan sebuah bangunan Mushola di pojok kanan halaman belakang.


Sebuah mini taman pun tampak ada di sebalah Mushola , taman itu dilengkapi dengan sebuah gazebo.


Mereka shalat dzuhur berjama'ah. Selesai shalat, Hamzah tampak duduk beberapa saat, dan menggeser posisinya ke samping Wila.


"Aku ingin selamanya seperti ini, dan ingin segera terus seperti ini",


Wila mengernyitkan dahi mendengar pernyataan ambigu Hamzah. "Maksudnya?"


"Aku ingin kita bisa segera bersama seperti ini, ada yang masakin, ada yang nemenin ke mana-mana", jelaskan Hamzah.


Wila terdiam, berusaha mencerna ucapan Hamzah .


"Aku ingin berkunjung ke rumahmu bersilaturahmi dengan kedua orang tuamu" , jelaskan Hamzah.


Wila lagi-lagi di buat bengong, tapi ia pun ingin segera mengetahui reaksi Hamzah saat mengetahui keadaannya di Kampung.

__ADS_1


Apa Hamzah akan berubah setelah mengetahui keadaannya?, apa Hamzah akan berpaling saat mengetahui kondisi ekonomi kedua orangtuanya?


Pikiran-pikiran itu kembali mengganggu Wila. Ia takut Hamzah berubah, ia takut kecewa dan takut sakit hati , karena selama ia telah membiarkan rasa suka dan rasa cintanya kepada Hamzah tumbuh liar memenuhi relung hatinya.


__ADS_2