Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Aku Baik -baik saja


__ADS_3

Setelah sarah pulang, Hamzah membantu ibunya memindahkan barang dari mobil ke dapur. Tak sedikit rupiah yang ibunya keluarkan untuk semua ini.


Hamzah menghampiri ibunya yang nampak kelelahan duduk di kursi makan, ia ambilkan air putih dan memberikannya," Maafkan Hamzah Bu", ia menanap nanar ibunya.


"Tidak cape minta maaf terus?, sudahlah jangan dipikirkan, apa pun yang terjadi padamu, masih menjadi tanggung Ibu, sayang", ucap Kalila, ia mengelus rambut anaknya lembut.


Hamzah makin terharu dibuatnya. Ia tidak pernah berpikir akibat dari setiap perbuatan buruknya.


"Sudahlah, cepat istirahat!, biar kamu kelihatan fres dan sehat saat ijab qabul besok", saran Kalila.


Hamzah beranjak menuju kamarnya, benar kata ibunya, ia merasa sangat lelah, lelah fisik dan fikirannya.


*


*


*


Wila yang baru selesai shalat Isya, segera membuka mushaf dan memulai bertilawah, ia membaca ayat demi ayat untuk menenangkan hatinya yang kian risau, apalagi sampai minggu ini ia belum juga mendapat siklus bulanannya.


Aktifitasnya terhenti saat didengar hand phone nya bergetar, ia mengambil dan membuka pesan yang masuk.


Deg,...


Seketika wajahnya memanas, hatinya kembali perih. Ia melihat Hamzah digandeng mesra oleh Sarah. Terlihat mereka sedang belanja di Supermarket.


Hatinya kembali pilu, mengingat kebersamaan nya dengan Hamzah yang akan segera berakhir. Ia harus mempersiapkan mental baja untuk menghadapi kehidupannya tanpa Hamzah.


Apalagi mengingat sesuatu yang mungkin terjadi pada dirinya.


'Sudahlah, semua sudah terjadi, semua salahku, dan aku harus bisa menanggung akibat dari kesalahanku', Wila berazam dalam hatinya.


Pagi -pagi sebelum berangkat kuliah, Wila mempersiapkan semua keperluan jualan bibinya.


Ia membantu semampunya sebelum ke Kampus.


Kini,Wila harus terbiasa tanpa Hamzah, ia harus kembali seperti semula saat pertama kali ke Kota.


Ia berjalan menyusuri gang menuju Kampus.


Ia harus tetap bertahan sampai Kuliahnya kelar.


Wila berjalan sambil melamun, ia tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari sebuah mobil. Pandangan iba? atau pandangan penuh cinta?

__ADS_1


Sepertinya si pengendara merasa ragu saat akan mendekati Wila, alhasil ia jadi melaju pelan mengikuti ayunan langkah kaki Wila.


Sampai Wila bertemu dengan kedua temannya di gerbang Kampus.


Wila masih tidak menyadari telah dibuntuti, sampai mobil itu melewatinya. "Alhamdulillah, akhirnya mulai masuk juga", Lela sumringah menyambut kedatangan Wila.


"Siapa tadi yang bawa mobil?, sepertinya dia mengawalmu Wil, ungkap Mita.


Wila menengok ke kanan ke kiri, "Itu sudah masuk, siapa ya?" trbak Mita. Ia tidak mengenali si Pengendara mobil tadi.


"Sudah, nggak usah dipikirkan, mungkin itu kebetulan saja", dia searah ",jawab Wila.


Di depan papan informasi tampak Mahasiswa bergerombol di sana. Sepertinya ada pengumuman penting di sana.


Saat mereka melihat Wila, satu persatu dari mereka mulai memberi celah buat Wila masuk dan mendekat ke papan pengumuman.


Deg,...


Wila dapat melihat dengan jelas Foto Hamzah dan Sarah terpampang di sana, itu merupakan sebuah undangan.


Takut teman-temannya curiga, Wila berusaha menyembunyikan perasaan sakit hatinya, dia bersikap datar begitu melihat foto mereka berdua.


Itu adalah sebuah undangan pernikahan Hamzah dan Sarah. Berpura-pura biasa, padahal hatinya terluka.


Ia buru-buru mengajak ketiga temannya untuk masuk ke kelas. Wila berusaha mengesampingkan perasaannya supaya bisa tetap fokus di kelas.


Sebelum keluar kelas, Pak Putut sengaja mengumumkan perihal undangan pernikahan Sarah dan Hamzah.


Ada rasa sakit yang kembali menghimpit dadanya. Memang sudah resiko baginya , pasti akan bertemu dengan mereka setiap saat.


"Bagaimana , besok mau hadir dipernikahan Hamzah? Tanyanya hati-hati.


Wila tersenyum lembut "Insha Allah",


"Jangan memaksakan diri ", ucap Lela.


Ia sangat tahu, bagaimana perasaan Wila saat ini.


Memanng tidak mudah, untuk menghapus kenangan beberapa bulan bersama Hamzah hanya dengan waktu satu minggu saja.


Apalagi akan ada hal yang akan lebih merekatkan mereka, sesuatu yang kini tumbuh dirahimnya.


Wila harus siap menghadapi kenyataan, dirinya mengandung, tanpa memiliki status istri.

__ADS_1


Bagaimana reaksi dari keluarga besarnya saat mengetahui dirinya sudah berbadan dua.


Keesokan harinya,Wila seolah sudah siap untuk diajak pergi ke acara pernikahan Hamzah.


Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya dihadapan mereka yang membencinya. Ia ingin terlihat tegar agar orang-orang yang membencinya menjadi gentar.


Wila berpenampilan rapi, dengan dress merah jambu dan kerudung motif bunga, sebuah tas dan sepatu hill pendek warna senada menambah elok penampilannya.


Ia sudah janjian dengan Lela, karena Mita pasti di antar oleh Juna.


Lela meragu saat akan menjemput Wila, tapi ternyata ia tampak baik-baik saja .


Penampilan Wila sangat mempesona para tamu yang lebih dulu datang. Wajahnya tampak bercahaya, mungkin ini efek dari kehamilannya.


Orang yang sedang hamil muda akan tampak bercahaya, itu kata orang tua. Wila tidak ingin terlihat sedih dihadapan Hamzah dan Sarah.


Dengan percaya diri Wila dan Lela memasuki pekarangan rumah Sarah. Ternyata walaupun akad saja, tapi suasana rumahnya terlihat mewah.


Konsep acaranya Gardening Party, yang dipusatkan di halaman samping sampai halaman belakang rumah Sarah yang terdapat kolam renangnya.


Wila dan Lela datang paling akhir di acara tersebut. Tak heran jika kedatangan mereka menjadi pusat perhatian tamu-tamu lain yang lebih dulu hadir.


Untung saja acara ijab qabulnya belum dimulai, jadi Wila masih bisa menyaksikan acara tersebut.


Bahkan Wila dan Lela belum sempat duduk saat acara dimulai.


Sontak, Hamzah dan Sarah pun menyadari kehadirannya , Wila tampak tersenyum ke arah mereka.


Senyuman yang membuat hati Hamzah luluh lantak, ia mengira Wila benar-benar merelakan dirinya bersama Sarah.


Senyuman yang membuat Sarah menciut, ternyata usahanya untuk membuat Wila terpuruk, bahkan menangis darah, tidak terbukti.


Ternyata Wila tampak tidak terpengaruh oleh pernikahannya dengan Hamzah. Wila bahkan tampak cantik mempesona walau dengan gaun dan riasan yang sederhana.


"Sah", suara tamu-tamu yang hadir menggema, itu tandanya prosesi ijab qabul sudah selesai dilaksanakan.


Pasangan pengantin yang baru saja dinobatkan sebagai suami istri pun segera menempati pelaminan , siap menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang.


Wila dan Lela yang masih berdiri menjadi tamu pertama yang memberi ucapan selamat kepada mereka.


Tampak Bu Kalila memeluk Wila , bahkan sampai mengecup keningnya. Ia merasa senang bertemu Wila kembali walau tidak sebagai menantunya.


Sarah melirik dengan hati kesal melihat kedekatan Wila dengan Ibu mertuanya itu. Bahkan hatinya menggerutu dan merutuki kehadiran Wila yang mengganggu perhatian Hamzah dan ibunya.

__ADS_1


Giliran Wila bersalaman dengan Hamzah, sejenak Wila mematung dihadapan laki-laki yang sudah menyentuhnya, dan mungkin kini benih yang ditaburnya sedang tumbuh dirahimnya.


Sarah mendehem , menyadarkan Wila, ia pun segera menyalami Hamzah dan Sarah, sengaja Sarah menarik Wila hingga ia tampak memeluk Wila, dan Sarah berbisik di telinga Wila" Jangan ganggu Hamzah lagi, sekarang dia milikku!".


__ADS_2