
Masih POV Andi
Saat memasuki SMA, Andi pun masih satu sekolah dengan Hamzah. Dan mereka biasa berangkat bareng menggunakan sepeda motor.
Mereka kadang bergantian dalam membawanya, kadang Hamzah yang dibonceng, kadang Andi yang dibonceng.
Mereka kelihatan kompak, walau ada sifat-sifat yang kadang berlawanan. Jelas saja, lah mereka berasal dari Ayah dan Ibu yang berbeda.
Namun Mereka tidak mengetahui kalau sebenarnya mereka berasal dari rahim yang berbeda.
Hal ini karena perlakuan dari Bu Kalila, ibunya Hamzah, yang tidak membeda-bedakan kasih sayangnya kepada mereka berdua.
Sifat keduanya pun berbeda, Hamzah orangnya ekspresif, dan mudah bergaul. Dia berkata sesuai dengan perasaannya dan kemauannya.
Kalau suka , ia katakan suka, kalau tidak suka pun ia katakan tidak suka.
Berbeda dengan Andi, ia orangnya pemalu, bisa bisa berkata tidak, padahal hatinya ia , ia penurut, dan paling tidak bisa mengekspresikan suasana hatinya.
Dan saat SMA, mereka bersekolah di sekolah yang berbeda. Namun masih berada dalam satu wilayah.
saat pulang pergi sekolah, Andi sering memperhatikan seorang anak perempuan yang berseragam putih biru.
Letak sekolahnya berseberangan dengan sekolah Andi.
Ia terlihat berbeda dengan teman-temannya, penampilannya berbeda , cara berpakaiannya pun berbeda.
Dia sekolah di Sekolah Negeri , tetapi seperti anak Madrasah.
Andi sering mengikuti secara diam-diam, ia ingin tahu kemana anak itu pulang.
Ada seorang Bapak paruh baya yang sering terlihat memboncengnya, dan itu ternyata ayahnya.
Hanya Bapak itu yang terlihat mengantarnya dan menjemputnya pulang. Tak jarang ia pun terlihat berjalan kaki.
Saat itu pulang sekolah, Andi pulang agak telat karena harus mengerjakan tugas di Perpustakaan.
Baru melajukan sepeda motornya beberapa saat, turunlah hujan secara tiba-tiba. Andi mencari tempat untuk berteduh, dan di pinggir jalan terdapat sebuah pos kambling, Abdi pun berhenti di sana untuk berteduh.
Ternyata di sana sudah ada seseorang yang sedang duduk, ia adalah anak putih biru yang selalu Andi perhatikan.
"Deg...., jantung Andi seolah berhenti berdetak, mau terus jalan, hujan makin deras, mau ikut berteduh , sungkan, mau balik lagi ke Sekolah, sudah tanggung .
"Kak, ko... Malah diam, hujan makin deras nih", teriak anak itu.
Andi terhentak, ia baru menyadari kalau air hujan sudah hampir membuat basah kuyup pakaiannya.
Ia pun setengah berlari menuju Pos Kambling itu.
"Assalamu'alaikum, ikut berteduh ", senyum Andi.
"Wa'alaikum salam, silahkan!", ucapnya dengan tersenyum. Sekilas Andi membaca pin yang bertuliskan nama Wila tersemat di kerudungnya.
"Terima kasih, Wila", senyum Andi.
"Wila ....?, kok tahu",
Andi tersenyum, "Maaf itu tidak sengaja, sekali lihat saja sudah tahu, namanya ringan, mudah di baca ", ucap Andi.
"Oh, iya ini ya", sambil tertawa ia memegang pin nama dikerudungnya.
Dengan jelas Andi melihat lesung pipitnya gadis itu. 'Masya Allah, aku suka gadis berlesung pipit', batin Andi bicara.
"Saya Andi, terima kasih ",
"Nggak perlu berterima kasih, ini tempat umum , siapa pun boleh duduk di sini", senyumnya lagi.
"Kok sendirian, mana temannya",
"Sudah pada pulang, saya lagi nunggu Bapak menjemput, mungkin sama Bapak juga lagi berteduh dulu",
__ADS_1
Andi manggut-manggut, "Nggak di sangka mau hujan ya?, padahal tadi beberapa menit yang lalu masih terang.
Wila tersenyum, mendongakkan kepala ke arah kanan, ia mencari keberadaan Bapaknya. Namun belum juga terlihat.
Hujan sudah mulai reda, namun Bapaknya Wila belum datang juga. Padahal hari sudah menjelang sore.
Wila pun sudah tampak gelisah.
"Bagaimana kalau saya antar saja, sudah sore, tidak baik kalau terus di sini", ajak Andi.
"Ehm, nggak usah , biar saya tunggu sebentar lagi", tolak Wila. Ia tersenyum, tersipu.
"Ya sudah, aku temani dulu sampai bapakmu datang, nanti baru aku pulang", Senyum Andi.
"Aduh, nggak usah, pulang duluan saja", Tolak Wila lagi. Ia merasa tidak enak, baru pertama kenal, kok malah merepotkan.
"Aku nggsk tega, masa ninggalin kamu di sini?, nanti kalau ada apa-apa , aku yang akan disalahkan",
"Astaghfirullah, kok gitu, malah mendo'akan hal buruk", Wila cemberut.
"Eeehh, bukan begitu, aku kan orang terakhir yang bersama kamu di sini, kalau kamu kenapa-kenapa di sini, ya aku orang pertama yang akan dijadikan tersangka", bela Andi.
"Masya Allah , kok sampai sejauh itu pikirannya, kalau berpikir itu yang pasti-pasti saja, biar tidak jadi beban, nanti jatuhnya jadi menghalu", cicit Wila.
"Iya...., ok, aku ngerti", Andi menganggat kedua telapak tangannya.
"Eh, aku itu sering melihat kamu pulang pergi sekolah berjalan kaki?",
"Hah", Wila melirik Andi.
"Ketahuan juga", lirih Wila, namun masih bisa di dengar jelas oleh Andi.
"Kenapa?", Andi memiringkan kepalanya ke samping ke arah Wila.
"Nggak", Wila melengos.
"Jadi selama ini, kamu memperhatikan aku kan?"
"Nggak, bukan begitu", Andi sedikit kikuk.
"Terus tahu dari mana kalau aku sering jalan kaki ke sekolah?",
"Iihh... , kamu itu, ya jelas tahu lah kan sekolah kita berdekatan , jangan hanya kamu, guru-guru di sekolah kamu juga aku tahu siapa siapa saja", kata Andi dengan nada angkuhnya.
"Ohh , aku pikir kamu sengaja memata-matai aku" senyum Wila.
"Hmmn , kepedeaan, buang-buang waktu saja, mending aku main bola basket saja dari pada harus jadi mata-mata", kilah Andi.
Padahal hatinya mengakui, kalau selama ini ia selalu memata-matai Wila.
"Hmmn, kamu itu unik ya" , Andi melirik Wila.
"Hah, aku?, unik?, seperti barang antik saja", tawa renyah pun meluncur dari mulut Wila.
Abdi sampai terpana, 'tawanya lebih unik lagi' pikirnya.
Wila melirik Andi yang tiba-tiba diam. "Kenapa?, ada yang aneh ,dari aku si barang antik?", goda Wila.
"Ternyata tawamu juga lebih unik lagi, coba ulang!", senyum Andi.
"Iihhh, tertawa itu nggak bisa direncanakan, aku tertawa kalau ada hal yang menurutku lucu, kalau harus tertawa tanpa sebab, itu mah aneh atuh, seperti orang ODGJ aja"
"Kalau begitu, aku akan terus membuatmu tertawa", senyum Andi.
"Nggak mau, akan ku tahan, kan tawaku unik, jadi nggak akan dikomersilkan", senyum Wila.
"Benar juga, selama ini aku melihat, kamu itu seperti judes, jarang bicara, dan cuek , tapi setelah kenal, emang unik ya, enak di ajak ngobrol, dan tawanya itu bikin nagih", Andi tertawa.
"Iiih, tambah ngelantur saja bicaramu, Alhamdulillah, itu Bapak", sumringah Wila. Ia berdiri menyambut kedatangan bapaknya.
__ADS_1
"Maaf Neng, motor Bapa mogok tadi, jadi telat", ucap Caca.
"Nggak apa-apa Pak, tadi Wila bisa pulang berjalan kaki, tapi hujan, jadi nunggu dulu di sini", ucap Wila.
Caca melirik Andi , yang sedang tersenyum dan menganggukkan kepala kepadanya.
"Ayo cepat naik, nanti hujan turun lagi", ajak Caca.
Wila pamit kepada Andi dan segera menempatkan dirinya di belakang bapaknya.
Andi menatap kepergian Wila, ia sudah lama tertarik kepadanya, penampilannya yang sederhana ternyata menyembunyikan sesuatu yang menurutnya sempurna.
Namun semua itu harus ia kubur dalam-dalam. Tanpa di duga ternyata Hamzah pun mempunyai perasaan yang sama terhadap Wila.
Sepulang sekolah tanpa di duga Hamzah mengajak bermain basket di halaman belakang.
Di sela-sela permainan,Hamzah mulai mencari tahu soal seseorang. "Di, kamu pernah melihat anak putih biru yang bersekolah di SMP Harapan Satu", tanyai Hamzah sambil mendrible bola.
"Hah, yang mana?, kan banyak", Andi mencoba membayangi Hamzah yang mau shoot.
"Itu yang berjilbab, sering aku lihat saat dia berjalan kaki",
"Oh, anak yang mana?", Andi balik bertanya, padahal ia sudsh menebak kalau itu Wila.
""Tiba-tiba Hamzah menghentikan permainannya dan berjalan menuju bangku panjang di pinggir lapangan basket mini miliknya.
"Yang ini nih", Hamzah menunjukan gambar dari layar hand phone nya.
Andi terkesiap, ia mengenali seseorang yang ada dalam layar Hand phone Hamzah , 'Wila??' , ucapnya dalam hati.
Mungkin Hamzah sengaja mengambil foto Wila secara diam-diam . "Memangnya kenapa dia?", Andi balik bertanya
"Ada apa dengan dia?", tanya Andi. Ia ingin mendengar sendiri dari Hamzah, walau sebenarnya ia sudah bisa menebak apa maksud Hamzah.
" Hmm, sepertinya ia itu berbeda, entah kenapa, begitu melihatnya, ada dorongan dalam hati untuk bisa dekat dengannya", aku Hamzah.
"Maksudnya, suka gitu?", Andi menebak perasaan Hamzah.
"Hmm, boleh dibilang begitu", Senyum Hamzah .
Andi terdiam mendengar pengakuan Hamzah , hal itu jelas mematahkan semua perasaan dan harapannya kepada Wila.
Ia tidak mungkin menyukai orang yang disukai oleh Hamzah, orang yang sudah dianggapnya sebagai Kakak sendiri.
Sedari kecil, seingat Andi, Hamzah begitu menyayanginya, ia selalu membelanya saat di ganggu teman bermainnya, ia pun sering dibelikan makanan kesukaannya.
Hamzah selalu mengutamakan kebutuhan Andi. 'Apa iya sekarang mereka harus menjadi lawan untuk mendapatkan perhatian Wila.
Setelah tahu kalau Hamzah pun mengincar Wila, Andi mulai menjaga jarak dengan Wila.
Memang aneh rasanya, di sekolah Andi dan Hamzah, tidak sedikit siswi yang berparas cantik, berpenampilan menarik, tetapi tak satu pun yang bisa meluluhkan hati mereka.
Malah mereka berdua sama-sama tertarik terhadap siswi yang berpenampilan sederhana dan berparas biasa.
"Kok malah diam?", Hamzah mengagetkan Andi.
"Hmm, Andi mendadak gugup, nggak apa-apa cuma lagi mengingat, kenapa nggak diajak langsung kenalan saja", goda Andi.
"Nggak tahu ya, rasanya aneh, kok aku nggak berani, walau hanya untuk bertanya", aku Hamzah,
"Wah gawat kalau sudah begitu, sepertinya ada yang sudah benar-benar jatuh hati ini mah", ejek Andi.
Hamzah mengulum senyum", Jangan ngeledek, Dik, nanti juga kamu akan merasakannya", Hamzah mengacak rambut Andi.
'Aku juga sedang merasakannya Kak, tapi sayang , rasa ini tertuju sama orang yang sama', batin Andi bicara.
"Siapa namanya?, tanyai Hamzah
Sejak saat itu, Hamzah selalu mengutus Andi untuk menolong Wila , jika ia dalam kesulitan. Hamzah belum berani bertemu langsung dengannya.
__ADS_1