Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Memendam Rasa


__ADS_3

"Tolong pasien ini pingsan!" Hamzah membawa Yeni ke ruang tindakan. Perawat yang ada di sana terlihat begitu hormat dan segan kepada Hamzah.


Ada tiga orang perawat yang menangani Yeni dengan teliti. Semua di cek takut ada luka di badan Yeni.


Mereka berusaha membuat Yeni sadar . Salah satu Perawat memasangkan oksigen untuk membantu pernapasannya.


Yang satu lagi memasangkan infusan, mengecek detak jantung, dan serangkaian prosedur medis lainnya.


Setelah beberapa saat Yeni pun, Ia langsung menangis. "Apa ada keluarga pasien di sini?" Perawat keluar dari ruang tindakan.


Wila langsung berdiri dan berjalan menuju ruang tindakan. "Saya, Bagaimana keadaannya?! " Wila langsung masuk ke dalam.


Dipeluknya Yeni sambil sama - sama menangis. "Bibi kenapa? , cerita ke Wila!"


Yeni masih menangis , sepertinya ia ingin menumpahkan semua beban di hatinya.


Tiba - tiba Hamzah datang dengan membawa sebotol air mineral. "Ini kasih minum dulu!" memberikan botol minum tersebut kepada Wila.


Sekilas Yeni melirik Hamzah. Wila memberi minum Yeni. Seorang Perawat datang menyuntikan obat lewat selang infusan.


"Ibu harus di rawat dulu untuk beberapa hari, sampai kondisinya stabil" katanya , " Jangan banyak pikiran ya ,Bu!" katanya lagi.


Yeni mengangguk dengan mata yang sudah sayu, efek obat tadi sepertinya. Beberapa saat kemudian Yeni pun terlelap.


"Ayo!" Hamzah ke luar diikuti oleh Wila. Hamzah berjalan menuju taman kecil di samping kantin Klinik.


"Ada apa dengan Bibimu? , Bukannya ia baru pulang dari tempat suaminya ?!


Wila menerawang, "ga tahu, sepertinya ada masalah, sudah dua hari Bibi terlihat murung, aku tidak berani bertanya."


"Dan puncaknya hari ini ."


"Aku lupa bertanya sama Perawat, apa yang menyebabkan Bibi pingsan?!"


"Bibimu melakukan percobaan bunuh diri" Hamzah bicara hati - hati. Wila terperanjat kaget. "Astaghfirullah, Bibi..."


"Usahakan dampingi terus, mungkin lama - lama ia mau bercerita tentang masalahnya!" . Wila mengangguk.


"Hari ini aku traktir ya, kemarin kamu kan puasa?!" Hamzah beranjak menuju kantin dan terlihat sedang memesan makanan.


Tak lama ia kembali diikuti seorang Pelayan kantin dengan membawa pesanannya di atas baki.

__ADS_1


Wila tampak sedang melamun sambil memainkan ujung kerudungnya. Bahkan ia tidak menyadari kedatangan Hamzah kembali.


"Sarapan dulu, nih aku pesenin lontong kari!" suara Hamzah memudarkan lamunan Wila.


Mereka menikmati makanannya . Wila lebih banyak diam, ia seperti sedang menikmati makannya, padahal ia sedang memikirkan Yeni.


Ada seorang Perawat yang menghampiri mereka, "Pak, maaf ada berkas yang harus ditandatangani !" Perawat itu memberikan sebuah map berwarna biru.


Hamzah segera membuka dan menandatangani di bagian yang diperlukan. Hal itu mengalihkan lamunannya. 'Tanda tangan apa?' pikirnya.


Setelah itu Hamzah mengikuti Perawat tersebut untuk menerima telepon . Wila semakin bingung saja.


Beberapa saat Hamzah belum keluar juga, kebetulan pelayan kantin menghampirinya untuk membereskan meja.


"Perawat baru ya Bu?" tanyanya kepada Wila. Sambil tersenyum Wila menjawab, " Bukan , saya masih kuliah, ke sini mengantar Bibi yang saki."


"Oh, temannya Pak Hamzah ya?" pelayan itu balik bertanya. "Pak Hamzah?" Wila makin bingung.


"Iya, yang tadi bersama Ibu itu Pak Hamzah kan?! Anaknya pemilik Klinik ini." Perawat itu menjelaskan.


'Jadi Hamzah itu anak Pemilik Klinik ini, pantesan semua perawat dan petugas di sini begitu hormat padanya.' batin Wila bicara.


'Mungkin yang menolong aku waktu Bapak di rawat di sini juga Hamzah?!' pikirnya lagi.


"Rencananya aku mau mengajakmu ke suatu tempat, seperti janjiku kemarin."


"Memangnya mau ngebahas apa, di sini juga bisa?! Bibi lagi sakit, gak enak kalau harus pergi - pergi."


Hamzah memandang Wila, mana mungkin ia bisa bicara di sini, yang mau dibicarakan itu hanya tentang dirinya.


Wila memberanikan diri memandang ke arah Hamzah, dan tap ! Mereka jadi saling pandang. Ceoat - cepat Wila menunduk dengan perasaan yang tidak menentu.


"Aku mau minta maaf baru bisa mengucapkan terima kasih sekarang" , Wila kembali membuka pembicaraan.


"Maaf untuk apa?" Hamzah merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan Wila.


"Banyak hal yang telah kamu lakukan untuk membantu aku, pertama waktu Bapak sakit. Ada orang yang meminjamkan mobil untuk membawa Bapak ke sini, kedua, ada orang yang membayarkan resep obat Bapak, ada yang bayarin ongkos angkot ."


"Aku yakin kalau orang itu adalah kamu?!" Wila bicara sambil menunduk malu.


Hamzah merasa sedikit ragu, 'mungkin ini saatnya Wila tahu' batinnya bicara.

__ADS_1


"Aku sampai terjerat masalah kasus pengempesan ban , itu karena aku mencari cari sepeda motor kamu" Wila menerawang.


"Kenapa sepertinya kamu sengaja membuat aku penasaran, sehingga aku mencari tahu sendiri?!


Hamzah masih bflum menjawab. Ia ragu untuk mengutarakan semua isi hatinya di sini. Tapi ia juga tidak bisa mengelak karena kini Wila sudah tahu semuanya.


'Bismillah', Hamzah memantapkan hati untuk mengutarakan semuanya kepada Wila.


"Maafkan aku, sebenarnya aku..." Hamzah belum selesai bicara saat seorang Perawat memanggil Wila.


"Bu...maaf, dicariin Bu Yeni." Perawat itu bicara dengan menundukkan kepala, mungkin karena ada Hamzah di sana.


"Maaf aku tinggal dulu sebentar!" Wila bergegas menemui Yeni. Di ruangannya Yeni kembali menangis tersedu - sedu.


Wila segera menghampiri dan memeluknya. Sekuat tenaga Wila menenangkan Yeni.


"Sudah Bi, Wila ada di sini!" Wila mengusap -usap punggung Yeni yang kini sudah ada dalam pelukannya.


"Sebenarnya Bibi kenapa?" Wila bertanya kepada Perawat yang dari tadi menemaninya.


"Nanti ikut saya ke ruangan, sekarang tenangkan dulu Bibinya!" Perawat memasukan kembali obat lewat botol infusan Yeni.


"Istighfar Bi!" Wila menuntun Yeni melafadkan istighfar sambil terus mengelus - ngelus punggung Yeni .


Tak lama tangis Yeni pun reda, ia kembali terlelap . Wila menidurkan Yeni, lalu mengikuti Perawat ke ruangnya.


Di sana sudah ada Hamzah. Ia duduk di kursi berhadapan dengannya. Perawat yang mengantar Wila pun keluar ruangan.


Tinggallah mereka berdua. Sejenak suasana hening. "Jadi begini" Hamzah memulai pembicaraan.


Ia menjelaskan kalau Yeni mengalami depresi. Itu akibat dari masalah yang selama ini Ia pendam. Untun sementara perlu ada pendampingan khusus biar Yeni mau terbuka .


Wila hanya diam , Ia tidak berani walau sekedar menegakkan kepalanya. Tidak tahu apa yang Ia rasakan saat ini.


Disaat Ia menemukan Hamzah sebagai orang yang selama ini Ia cari, Yeni malah sakit. Rasanya ujian tidak henti - hentinya menimpa.


" Jangan khawatir, aku akan selalu ada untuk kamu, bila membutuhkan sesuatu bilang saja!",


"Terima kasih". Hamzah melihat mata Wila mulai berkabut dan mengeluarkan butiran bening. Rasanya ingin sekali menjadi sandaran gadis itu di saat seperti ini.


Ia tidak tega melihatnya seperti itu. Seorang gadis desa memperjuangkan masa depannya di kota, jauh dari keluarga, dan selalu di rundung duka.

__ADS_1


Niatnya untuk mengutarakan semua isi hatinya diurungkan kembali. Waktunya belum tepat.


__ADS_2