Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Aku Wila


__ADS_3

Wila mendadak bangkit dan melangkah menuju pintu, ia berniat meninggalkan Hamzah, namun langkahnya terhenti saat kepalanya terasa pusing.


Wila berpegangan pada meja yang ada didekatnya, tubuhnya ambruk . Namun Hamzah segera menangkapnya.


Ia menopang tubuh Wila dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan.


Sebagian dari teman-temannya memburu mereka, hendak membantu memindahkan tubuh Wila.


Namun Hamzah melarangnya. Ia memangku sendiri tubuh Wila dan membawanya menuju ruang P3K.


Ia memanggilkan petugas untuk memeriksa keadaan Wila. Hamzah sengaja menutup pintu . Ia tidak ingin Wila menjadi tontonan orang-orang.


Petugas tampak heran saat memegangi perut Wila, ia melirik Hamzah,"Apa dia ini sudah menikah?", tanyai petugas kepada Hamzah.


"Memangnya ada apa ?", Hamzah terlihat penasaran.


Petugas P3K mendekati Hamzah, ia berbicara hampir berbisik,"Sepertinya dia lagi mengandung", bisik petugas.


Hamzah terpaku, seolah tersambar petir. Dugaannya tidak melenceng, ternyata yang ia alami akhir-akhir ini ada hubungannya dengan Wila.


Wila sedang mengandung anaknya, dan dia yang merasakan mualnya.


"Apa dia sudah menikah?", petugas kembali bertanya, karena Hamzah hanya terdiam.


Hamzah tersadar dari keterkejutannya, ia segera menghampiri Wila yang terlihat membuka mata dan hendak bangun.


"Kamu sudah bangun?", Hamzah menghampiri Wila berniat membantunya bangun. Namu Wila menolak, ia menghempaskan tangan Hamzah yang akan menolongnya bangun.


"Jangan , aku bisa sendiri!", Wila bangun dan duduk membetulkan posisi kerudungnya.


Ia melihat dirinya, tidak ada yang salah dengan pakaiannya.


"Di minum dulu, biar agak baikkan", Hamzah memberikan sebotol air mineral.


Wila menerimanya, Wila tampak kesusahan membuka tutup botolnya. Hamzah mengambil kembali botol tersebut dan membukakan tutupnya.


Wila meminum air pemberian Hamzah. Hamzah memandangnya dengan lekat, ia sangat merasa bersalah, akibat kecerobohannya, ia telah membuat Wila menderita.

__ADS_1


Apalagi dengan keadaannya saat ini, Wila akan menanggung aibnya sendiri.


Hamzah berniat menemui petugas P3K yang tadi memeriksa Wila, ia pamit sebentar sambil memberikan sekotak makanan kepadanya.


"Tunggu dulu, aku ada urusan sebentar", Hamzah meninggalkan Wila.


Setelah Hamzah keluar, Wila turun dari tempat tidur, ia mengendap mendekati pintu, lalu mengintip ke luar memantau keadaan.


Setelah di rasa aman, ia menyelinap ke luar melalui pintu samping, Wila bergegas ke luar gerbang dan menyetop mobil .


Wila menaiki mobil jurusan lain, ya, Wila tidak pulang ke rumah Bi Yeni, ia naik mobil jurusan lain, entah kemana.


Wila ingin menenangkan diri, ia tidak ingin pulang ke rumah, pasti Hamzah akan menyusulnya kalau ia pulang ke rumah Bi Yeni.


Wila berhenti di sebuah gang yang ada papan bernama "Madjid Al-Fitrah", ia turun di sana. Ia berjalan menyusuri gang tersebut.


Di ujung gang, ia melihat Masjid yang ia tuju, Masjid Al--Fitrah, sebuah Masjid dua lantai yang berdiri kokoh di tengah rindangnya pepohonan.


Lantai Masjid itu bermotif kayu, suasana yang sejuk membuat damai pikiran yang lagi kalut.


Wila bergegas menuju tempat wudhu, setelah itu ia memasuki lantai dua mesjid tersebut. Di sana ia shalat , memohon ampun dan memohon petunjuk tentang apa yang harus diperbuatnya.


Berkali-kali ia dengar hand phone nya bergetar, namun ia abaikan. Karena pasti itu Hamzah.


Wila bingung, harus kemana dan harus bagaimana?,


Ia segera merogoh hand phone untuk memberi kabar kepada Bi Yeni, yang mungkin khawatir bila dirinya pulang terlambat.


Benar saja, ada banyak panggilan dan pesan yang belum dibaca. Namun ia abaikan itu semua. Yang ia lakukan hanya mengabari Bi Yeni, kalau ia main dulu ke rumah Lela. Wila mencari alasan biar bibinya tidak khawatir.


Setelahnya ia kembali bingung, harus kemana? . Ia kembali membuka hand phone dan mengirim pesan kepada Lela, kalau hari ini ia akan menginap dirumahnya.


Wila kembali bertilawah, berharap hatinya akan tenang setelahnya.


Hari makin merangkak sore, lembayung pun sudah menampakkan sinarnya. Sinar keemasan yang menerobos masuk melalui celah kaca.


Wila masih di sana. Rasanya enggan bangkit dan beranjak dari duduknya. Ia merasakan ketenangan mulai menyeruak dihatinya.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, harus ia hadapi, karena ini konsekuensi dari kesalahan yang telah ia lakukan.


Wila harus tetap tegar, ia harus berdamai dengan keadaan yang sudah ia ciptakan sendiri.


Ia tidak bisa lari atau sembunyi, apalagi sesuatu yang sedang tumbuh di rahimnya akan semakin membesar dengan berjalannya waktu.


Dia tidak bersalah, jangan sampai ikut merasakan akibat dari kesalahan orang tuanya.


Wila melirik jam di layar hand phone nya, jam 17.00, segera ia bangkit, Wila tidak mau kemalaman sampai di rumah Lela.


Bagaimana pun ia masih asing dengan keadaan kota, ia masih merasa takut berkeliaran seorang diri, apalagi menjelang malam hari.


Bayangan saat Hand phone nya hilang dulu masih lekat dalam ingatannya.


Wila melangkah keluar dari Masjid yang selama ini menjadi saksi semua keluh kesahnya. Tiap kali ia merasa gundah, Masjid inilah tempat satu-satunya yang bisa mendamaikannya.


Tidak ada petugas yang khusus menjaga Masjid itu, selama beberapa kali Wila ke sana, ia tidak pernah menemui satu pun penjaga Masjidnya. Tapi kalau hari Minggu, selalu ramai, karena banyak jamaah yang menghadiri pengajian rutin hari Minggu.


Wila kembali berjalan menyusuri gang menuju jalan utama, di sana ia naik angkot lagi menuju rumah Lela.


Wila sudah mulai hafal dimana ia harus berhenti, rumah Lela tepat berada di belakang pasar tradisional. Ia juga biasa belanja di sana saat main ke rumah Lela.


Seperti saat itu, setelah turun dari angkot, ia sempatkan membeli makanan sebagai buah tangan, karena ia tahu di rumah Lela banyak anak kecil. Lela adalah anak sulung dengan enam orang adik yang masih kecil-kecil.


"Becak Neng?", tawari seorang tukang becak yang sudah berumur, Wila terenyuh melihatnya, ia akhirnya naik juga, karena merasa kasihan. Ia pun memberikan ongkos yang lebih saat turun.


"Ini kebanyakan Neng",


"Nggak apa-apa, itu buat Bapak",


Bapak tua itu tersenyum sambil mengucap terima kasih.


Wila memang memiliki pribadi yang tidak tegaan saat melihat orang yang kesusahan, apalagi melihat seorang tua yang masih gigih berusaha.


Ia tiba di depan pintu rumah Lela, sebelum mengetuk pintu pun, adik Lela sudah mengenalinya, ia langsung berteriak-teriak memanggil kakanya sambil berlarian.


Wila tersenyum melihatnya. Ia sangat gemas melihat tingkah lucu adik temannya itu. Rumah Lela selalu ramai oleh tangisan dan celoteh anak kecil. Usia adiknya hanya terpaut satu tahun saja.

__ADS_1


Sedangkan dirinya, seorang anak tunggal, yang dari kecil hanya dekat dengan kedua orang tuanya saja.


Wila meraba perutnya, mungkin saat ini ada sesosok calon baby yang sedang tumbuh di sana.


__ADS_2