Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
lagi lagi kamu


__ADS_3

Dari kejauhan Andi memperhatikan Wila, ada rasa yang tidak karuan saat Wila makin dekat kepadanya. Wila tampak lesu, kepalanya agak pening, langkah kakinya sedikit gontai, Andi menyadari itu , dengan segera ia keluar dari mobil dan menghampiri Wila.


"Sudah, gak apa apa?!, Wila menolak saat Andi akan memapahnya. Bukan menolak maksud baik Andi, tapi ia menjaga agar tidak bersentuhan dengan Andi. "Kamu gak apa apa?", Andi tampak khawatir.


"Kalau mau pingsan, sini, aku sudah siap", Andi merentangkan tangannya, ia tersenyum menggoda Wila.


"Kalau itu mah nyari kesempatan dalam kesempitan", Wila cemberut. "Ya udah, aku antar pulang ya, sekalian ada kabar dari Bapak dan Ibu kamu di kampung!" ajak Andi.


"Bapak dan Ibu gimana kabarnya?" Wila serentak bertanya. Ia sudah begitu rindu kepada kedua orang tuanya itu.


Tapi seketika raut kesedihan pun menyelimuti wajahnya mengingat kondisinya saat ini sebagai tersangka dalam kasus yang terjadi di Kampusnya.


Bagaimana perasaan orang tuanya jika sampai tahu. "Kok malah melamun, Bapak dan Ibu mu sehat sehat , mereka sudah rindu katanya", kabarkan andi mengagetkan Wila. "Ayo, mau pulang kan?!", Andi membukakan pintu mobil untuk Wila.


*


*


Di dalam Kampus sedari tadi ada yang memperhatikan mereka , ya , Sarah dan Susi . "Benci banget sama orang itu, punya apa sih dia, gak Hamzah , gak Andi, kok care banget sama dia".


Susi tampak kesal. " Pasti dia pake pelet, dasar orang kampung", gerutu Sarah. "lihat saja, kita bikin dia gerah, kita bikin dia gak betah ada di Kampus ini", Susi ngompori.


" Aku dapat kabar , katanya ada orang yang ngasih dia Hand Phone segala, siapa lagi kalau bukan dua cowo itu. "Apa sih istimewanya dia, penampilannya saja udik gitu, gak banget!" Sarah mencibir Wila.


"Sudah, buang buang waktu saja! , bukannya kita mau ke ruang senat? Sekalian bisa ketemu Hamzah kan loe, harus lebih gencar deketinnya, keburu di sambet orang kampung, nyesel." Susi menggandeng tangan Sarah .


*


*


*

__ADS_1


Andi menepikan mobil ke gang anggrek. "Di sini ya?" , Andi melirik Wila yang sedang sibuk membalas chat dari Lela. " Iya, sebentar ", Wila tetap fokus pada layar Hand Phone nya.


Untuk beberapa saat mereka saling diam, menunggu urusan Wila selesai. " Ayo!" Katanya sambil memasukkan HP ke dalam tas.


Saat sudah berada di depan rumah Bi Yeni, Wila baru sadar kalau di rumahnya tidak ada siapa siapa, Bi Yeni masih belum pulang.


'Aduh, gak enak, masa harus membawa Andi masuk, masa harus berduaan di rumah? ' batinnya bicara. " Gini, kita ngobrolnya di mana ya? Soalnya Bibi lagi gak ada di rumah", Wila bicara hati hati. Ia tidak ingin kejadian waktu di kampung terulang lagi.


Andi mengerti arah pembicaraan Wila. " Kita ngobrol di teras saja",


"Ya udah." Mereka duduk dikursi teras.


"Tunggu ya,ambil minum dulu!" Wila masuk untuk mengambilkan minum. Beberapa saat menunggu , akhirnya Andi pun ikut masuk ke dalam rumah.Wila yang lagi di dapur kaget saat menyadari Andi malah ikut masuk.


"Maaf, kebelet, dimana kamar mandinya?". Tanya Andi saat sudah ada di dapur. "Sebelah sana!" Wila menunjuk ke arah pintu berwarna hijau muda, dan segera menuju teras sambil membawa minuman.


Untuk beberapa saat ia menunggu. Wila sedang fokus sama HP nya saat Andi menghampirinya kembali. "Bibimu kemana? " tanyakan Andi sambil duduk di depan Wila.


"Kamu sendirian di rumah? Tanya Andi lagi.


"Iya, tapi mudah mudahan saja malam ini Bibi pulang."


"Aku denger kamu terlibat masalah di Kampus ya, ?" hati hati Andi bicara . "Iya, kok tahu?" Wila balas bertanya.


"Aku gitu lo, apa yang tidak aku tahu , apalagi menyangkut dirimu." Katanya." Kalau ke kampung, ceritakan yang baik baik saja ya, sama Bapak dan Ibu!" Kata Wila dengan nada sendu.


"Iya, aku bilang kamu baik baik aja ko, mereka percayakan kamu ke aku." Kata Andi. "Hah!" Wila melihat ke arah Andi.


"Ngga , bercanda", jelaskan Andi


"Terima kasih ya, selalu ada di saat aku kesusahan, seperti malaikat penolong saja, selalu hadir di saat yang tepat."

__ADS_1


"Alhamdulillah, qodarullah", Andi tersenyum. "Terus bagaimana ceritanya kamu bisa menjadi tersangka di kampus?".


Andi kembali melirik Wila. " Haaahh, aku juga gak habis pikir, memang aku ke parkiran tapi tidak melakukan apa yang dituduhkan, kamu percaya kan sama aku? ".Wila berkata dengan nada sendu.


"Aku tuh ke sana cuma memastikan apa benar sepeda motor si penolong itu ada di sana? Soalnya aku melihatnya memasuki gerbang kampus."


"Lagi - lagi motor itu, memang mau apa kalau sudah ketemu?" . "Cuma mau mengucapkan terima kasih", Wila menunduk menyesali perbuatannya.


"Selama proses penyidikan, aku di kasih cuti satu minggu, kalau sampai terbukti bersalah, beasiswaku terancam dicabut", dengan sendu Wila bicara.


"Kamu tenang saja, yakin ga bersalah kan?, berdo'a saja semoga cepat ditemukan bukti yang bisa meringankan tuduhanmu", Andi menguatkan Wila.


" Aku tuh ga ngerti dengan urusan otomotif, bagaimana bisa mengempeskan ban - ban motor yang ada di parkiran".


" Ada yang sengaja melakukannya dan menjadikan kamu sebagai tersangkanya" curiga Andi. " Kenapa harus aku?"


"Huus ga boleh gitu, apa pun yang terjadi itu sudah ada yang mengatur, mau hal baik, mau hal buruk sekalipun, cari hikmahnya saja, percaya deh, setelah kesulitan pasti ada kemudahan", kembali Andi mengingatkan Wila.


"Jangan berputus asa dengan semua yang menimpamu, jadikan semua kesulitan sebagai cambuk untuk membuat kamu lebih kuat dan bangkit!"


Wila menunduk , ia merasa kagum, ternyata Andi bisa membuatnya lebih tenang. Kata - kata nya mampu menyejukkan pikirannya.


"Terima kasih, untuk semuanya, kamu selalu membuat aku tenang, disaat jauh dari keluarga, diterpa masalah silih berganti, kamu selalu ada membantuku, pokoknya jangan ceritakan masalah aku di sini sama Bapak dan Ibu ya, katakan saja yang baik baik, biar mereka tenang dan tidak khawatir!"


Tiba - tiba Hand Phone Wila berdering, Wila mengangkat panggilan yang masuk, seperti biasa tak ada jawaban apa pun di sebrang sana.


" Iiihh, kebiasaan nih orang, siapa sih, nelpon tapi ga mau ngomong", Wila tampak kesal. Andi memperhatikan Wila dengan seutas senyuman.


"Kalau ada kabar terbaru di kampus, kasih tahu aku ya?, Aku kan cuti, mudah mudahan semua cepat berakhir, ada bukti baru yang akan membebaskan aku", harap Wila.


"Iya, ternyata hijab itu cocok sekali, kamu terlihat lebih cantik", Tiba tiba Andi mengomentari penampilan Wila.

__ADS_1


Wila menunduk, wajahnya memanas. "Apaan sih, kan sayang kalau tidak di pakai", Wila tersipu malu. Mereka terdiam sejenak. Hari mulai merayap gelap.


__ADS_2