
"Brakk....dug...dug.....dug.....brakk...",
Koper yang dibawa Bu Rahmi terlepas dari genggaman tangannya dan meluncur ke bawah menuruni tangga dan mendarat di bawah hingga kuncinya terbuka, seketika isinya menyembur ke luar. Berbagai perlengkapan bayi berserakan di sana, sementara Bu Rahmi terduduk lemas menyandar di tembok samping pintu kamar Sarah.
"Astaghfirullah, apa itu?", Hamzah dan Sarah menghambur ke luar kamarnya.
"Mamy, sejak kapan di sini?", kaget Sarah. Ia menghampiri Mamy nya, dan mendekapnya sambil menangis.
"Mamy...., maafkan , Mamy pasti sudah mendengar semuanya?, Mamy kenapa pulang nggak ngasih kabar dulu", Sarah memeluk Mamy nya yang masih lemas.
Bu Rahmi hanya bisa menatap putrinya dengan tatapan nanar.
Hamzah kembali menghampiri Bu Rahmi sambil menggendong Hazel.
"Bu, tidak apa-apa?, apa perlu kita ke Rumah Sakit, Sarah?",
"Nggak usah, Ibu nggak apa-apa Nak, sini!", Bu Rahmi menyentuh tangan mungil Hazel .
"Ini cucu Ibu Sarah?, cantik sekali", senyum Bu Rahmi.
"Iya...Mih, hiks...hiks...hiks...", Sarah menangis, ia mengambil Hazel dari gendongan Hamzah dan mendekatkannya kepada Mamy nya.
Kini, Bu Rahmi yang menggendong Hazel, walau matanya sembab karena habis menangis, namun bibirnya tersenyum bahagia saat melihat cucunya.
"Mari Mam, kita duduk di sofa!" ajak Sarah kepada Mamy nya.
Bu Rahmi menurut, ia mengikuti langkah anaknya, dan diduk di sofa .
Sejenak mereka saling diam, Bu Rahmi terlena membelai dan memandangi cucunya.
"Cantik", gumamnya.
__ADS_1
"Ia pasti mirip ayahnya, lihat mata sipitnya, itu bukan milikmu Sarah", Bu Rahmi melirik Sarah.
"Maafkan Sarah, Mamy", Sarah terisak.
"Sudahlah, ini sudah berlalu, berterima kasihlah kepada Hamzah, ia sudah banyak berkorban untuk keluarga kita, bahkan dia rela meninggalkan cinta sejatinya ",
"Maafkan, Ibu Nak Hamzah, Ibu tidak peka, Ibu sudah mengetahui Sarah hamil di hari pernikahan kalian, tapi Ibu fikir, itu anak kalian, jadi Ibu tidak mempermasalahkannya.
"Kalau saja kalian jujur sejak awal, mungkin Ibu masih bisa mencegah pernikahan kalian.
"tapi ini memang sudah suratan takdir",
"Maafkan Ibu Nak Hamzah", Bu Rahmi beralih memandangi Hamzah.
"Sudah Bu, saya tidak apa-apa, semua sudah terjadi, dan Ibu sudah tahu kebenarannya",
"Tapi bagaimana pun juga, ia tetap cucu Ibu", Bu Rahmi membelai pipi Hazel yang tampak nyenyak dalam pangkuannya.
"Siapa ayahnya Sarah?", Bu Rahmi memandang ke arah Sarah.
"Sarah tidak tahu, hiks...hiks...hiks..., maafkan Sarah Mam",
"Sudahlah Bu, lihatlah Hazel baik-baik, ia yang akan memberitahu siapa ayahnya, lihatlah !,tidak ada sedikit pun kemiripan Sarah dengan Hazel, tapi Hazel mewarisi fisik ayahnya", ucap Hamzah.
Bu Rahmi dan Sarah saling pandang, lalu mereka melihat ke arah Hazel secara bersamaan, mereka saling pandang, benar apa yang dikatakan Hamzah, Hazel mewarisi bentuk fisik ayahnya.
Kalau begitu, semua sudah jelas, saya sudah bisa pergi, saya mohon maaf, Bu, saya harus pergi", ucap Hamzah.
Tekadnya sudah bulat, ia ingin segera menemui Wila yang akan segera melahirkan anaknya. Ia ingin menebus semua kesalahannya kepada Wila, yang telah ia tinggalkan cukup lama.
Dengan berat hati, Sarah merelakan kepergian Hamzah, sudah tidak ada alasan lagi untuk menahannya agar tetap bersama dirinya.
__ADS_1
Begitu pun dengan Bu Rahmi, ia membiarkan Hamzah pergi untuk mengejar cinta sejatinya.
Sebelum pergi, Hamzah sempatkan mengirimi Andi pesan, ia mengabarkan kepadanya akan rencana kepulangannya.
****
Sepulang dari Rumah Sakit gegara keracunan kemarin, Wila langsung pulang ke rumah Bi Yeni. Urusan kuliahnya pun dilakukan secara daring dari rumah.
Andi yang sudah mengurus semua itu, ia merasa takut jika orang-orang yang ingin mencelakai Wila kembali melancarkan aksinya.
Sementara itu Andi gencar mencari bukti, ia mencari informasi dan yang utama, ia telah mengintrogasi Lela dan Ibu Kantin di Kampus.
Ternyata memang ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam jus mangga yang di beli Lela di Kantin. Namun belum jelas, siapa pelakunya.
Rekaman CCTV masih blur, tapi walau demikian, sudah jelas. Lela tidak bersalah dalam hal ini.
Tapi kembali ada hal yang mengejutkan terjadi di Kampus. Terjadi pertengkaran antara Susi dan Joko. Hal ini dipicu oleh Susi yang meminta pertanggungjawaban Joko.
Dulu, Susi yang membully Wila habis-habisan saat mengetahui kehamilannya, tapi kini ia sendiri yang mengalaminya.
Namun kini Lela dan Mita mulai mendekati Susi, mereka memberi semangat kepada Susi agar jangan sampai berpikiran pendek.
Susi sudah terlanjur masuk dalam pergaulan bebas, hingga ia mengandung, tapi jangan sampai ia menghilangkan bayi dalam kandungannya.
"Jangan takut, kalau perlu sesuatu, bisa menghubungi kita", ucap Lela.
"Terima kasih, kalian masih mau berteman dengan aku, padahal, aku selalu berbuat jahat pada kalian", Susi berkaca-kaca.
"Tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang juga pernah berbuat salah dan dosa, tinggal bagaimana kita menyikapinya, Tuhan saja Maha Pengampun, apalagi kita", senyum Lela.
"Sebaiknya, libatkan orang tua dalam hal ini, Sus", saran Mita.
__ADS_1
"Aku takut, pasti mereka kecewa sekali", Susi terisak.
"Pasti mereka kecewa, tapi orang tua tetap akan sayang kepada anaknya, mereka tidak akan membiarkanmu menderita sendirian", jelas Lela.