
Tidak terasa, ini adalah malam terakhir acara pengajian meninggalnya Sarah. Bu Rahmi sudah terlihat tidak murung lagi, ia sudah mengikhlaskan kepergian Sarah. Sikapnya sudah biasa lagi, walau terkadang kembali bersedih saat melihat barang-barang milik Sarah.
Kehadiran Hazel ampuh membuatnya kembali tegar, Hazel adalah pengganti Sarah baginya.
Para tetangga terlihat membantu Bi Marni menyiapkan makanan untuk menjamu tamu yang datang nanti malam.
Andi datang dengan tergesa untuk menemui Hamzah, "Maaf Bu, saya ada perlu sebentar sama Hamzah", rengkuh Andi saat mendapati Bu Rahmi ada bersama Hamzah.
"Oh, silahkan !, Ibu mau beres-beres pakaian dulu, kita jadi kan berangkat besok?", Bu Rahmi melihat kepada Hamzah.
"Iya, Bu. Inshaa Allah", senyum Hamzah.
Bu Rahmi beranjak menuju kamar meninggalkan Hamzah dan Andi berdua di ruang keluarga.
"Ada apa?", Hamzah langsung menanyai Andi yang kini duduk disampingnya.
"Ini , aku baru saja dapat kiriman rekaman CCTV di Kampus, Pak Putut yang mengirimnya", Andi memperlihatkan ponselnya kepada Hamzah.
Hamzah mendekat, "Coba di zoom, itu seperti ada laki-laki yang terlihat memasukkan sesuatu ke dalam blender", teliti Hamzah.
"Iya benar, tuh kan benar, dia pelakunya!", teriak Hamzah.
"Berani sekalu dia!, kamu kenal nggak siapa dia?", geram Hamzah. Ia terlihat marah karena orang itu yang telah membuat Wila dan anaknya hampir celaka.
"Coba kita replay, dan Zoom", Andi terlihat mengotak-atik ponselnya.
"Nah...nah...nah..., stop!", teriak Hamzah.
"Coba sudah terlihat lebih jelas", Hamzah menajamkan penglihatannya ke arah orang yang ada di rekaman tersebut.
"Sebentar..., aku sudah punya satu nama, itu sepertinya Joko , lihat saja dari sipit-sipit matanya", tebak Andi.
"Iya, benar, itu Joko, tapi buat apa dia melakukan itu, perasaan antara Wila dan dia tidak pernah terjadi cekcok", Heran Hamzah.
"Lalu bagaimana sekarang, apa Joko sudah diperika?",
__ADS_1
"Nanti , biar jelas, kita telepon saja", usul Hamzah.
Nampak dia sedang menghubungi seseorang .
"Assalamu'alaikum, Pak Putut, bagaimana , apa telah diketahui Pelakunya?", Hamzah sengaja me-load speaker ponselnya agar Andi pun bisa mendengarnya.
"Iya Zah, kita sudah menemukan , ini sepertinya sudah Fiks , kita tinggal meminta bantuan dari pihak Kepolisian untuk menangkap pelakunya", jelas Pak Putut.
"Sebentar Pak, saya lihat, pelakunya seperti Joko ya?", tebak Hamzah.
"Iya, memang benar dia pelakunya, kita sudah interogasi , sayang sekali , padahal seminggu lagi dia wisuda", ucap Pak Putut.
"Dan yang paling mengagetkan, ternyata dia hanya di suruh, ada orang yang membayarnya, dan dia bilang Sarah yang membayar dia untuk mencelakai Wila",
"Apa...?, Sa...sa...sarah..., Pak?, apa tidak salah?", kaget Andi.
"Iya, Sarah , kemungkinan pihak yang berwajib akan mendatanginya, untuk menangkapnya",
"Tapi Pak, Sarah sudah ...., Sarah sudah meninggal dunia, sekarang hari ke tujuh", lirih Andi.
"Kalau begitu, sudah jelas ya, seminggu lagi kita bertemu di Kampus dalam acara wisuda",
"Iya Pak, baik, terima kasih informasinya",
"Wa'alaikumsalam", terdengar suara ponsel di tutup.
Sejenak Hamzah dan Andi terdiam, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ternyata orang yang selama ini dicari, adalah Sarah. Hamzah sudah curiga, tetapi ia tidak mempunyai banyak bukti, tapi sekarang setelah rekaman CCTV ditemukan, dan Joko sudah mengakui kalau dalangnya Sarah, sudah tidak bisa dibantah lagi.
Mereka saling memandang, "Kenapa harus Sarah?", lirih Hamzah.
"Cintanya padamu yang membuat dia gelap mata, dia menganggap Wila sebagai penghalang, tapi di satu sisi dia juga merasa depresi dengan kehamilannya, kasihan sebenarnya", Andi menerawang.
"Semoga saja Sarah tenang di alam sana, jangan sampai Bu Rahmi mengetahui soal ini, kasihan, beliau masih berduka, biarkan saja, cukup Joko yang bertanggung jawab dalam masalah ini", Hamzah menunduk.
"Iya, kita do'akan Sarah agar semua dosa-dosanya sewaktu hidup diampuni Allah SWT",
__ADS_1
Menjelang Isya, Villa Bu Rahmi sudah didatangi para tetangga yang akan ikut pengajian, semua mengisi ruang tamu dan ruang keluarga. Bahkan tak sedikit juga yang menempati teras depan.
"Alhamdulillah, yang datang hari ini banyak, semoga yang mendo'akan Sarah hari ini dikabulkan oleh Allah SWT", harap Bu Rahmi, ia duduk di samping tempat tidur Hazel.
Pengajian berlangsung secara hidmat, dan di akhir acara, Bu Rahmi membagikan sebuah bingkisan yang berupa sajadah dan sebuah majmu.
Selepas semua pulang, tinggallah Bu Rahmi, Andi,Hamzah dan Bi Marni. Mereka berkumpul di ruang keluarga . Hazel tampak lelap tidur, ia tidak terganggu dengan kegiatan pengajian, malah Hazel akan langsung diam saat menangis, jika diperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an.
"Besok sudah ada teman Mami yang akan menyewa Villa ini, mereka sekeluarga baru datang dari luar kota, rencananya mereka akan tinggal cukup lama di sini.
"Jadi , kita harus siap-siap untuk pindah ke rumah lama,Bi",
"Baik, Nyonya, akan Bibi bereskan semua keperluan untuk besok",
****
Setelah selesai makan, Wila kembali menuju kamarnya, Pak Zakarya tadi pamit untuk menemui Pak RT, untuk membicarakan rencana pembangunan Klinik.
Wila tertegun saat mendapati Bu Kalila yang tertidur lelap di samping Haura, sementara Haura yang kini bangun, ia sedang berusaha menggapai wajah Bu Kalila yang ada di depannnya.
Wila tidak berani membangunkannya, ia duduk perlahan di samping Haura memperhatikan tingkah lucunya.
Wila teringat kembali awal pertemuannya bersama Hamzah, hingga ia bisa bersamanya sampai saat ini, hatinya merasa bahagia, karena secara perlahan dan pasti, semua impiannya satu per satu terwujud.
Namun masih ada ganjalan di dalam hatinya, sampai saat ini, Wila masih dihantui rasa bersalahnya setelah terjerumus dalam perbuatan dosa bersama Hamzah , hingga hadirlah Haura.
Wila membetulkan posisi tidur Haura , namun gerakannya membangunkan Bu Kalila.
"Maaf..., Mamah ketiduran", senyum Bu Kalila.
"Nggak apa-apa Mah, terima kasih sudah menjaga Haura", Wila melirik Haura yang masih anteng bermain sendiri, tangan dan kakinya tak henti-hentinya bergerak, dengan celoteh lucu yang spontan .
"Drrrtt.... " , ponselnya berbunyi,Wila melihat ada sebuah pesan dari Lela, ia mengabarkan kalau seminggu lagi dirinya dan Mita akan wisuda. Dan ia ingin Wila ada saat wisudanya nanti.
"Ya, Inshaa Allah, akan diusahakan hadir", balas Wila, tidak lupa ia kirimkan emot smile.
__ADS_1
Ah..., Lela, sahabat terdekat yang hampir jadi tersangka utama saat dirinya keracunan , karena racun itu terdapat dalam jus mangga yang ia berikan padanya. Perubahan sikapnya yag drastis kepada Wila pemicunya, padahal semua itu Lela lakukan, karena ia dibutakan oleh rasa cintanya kepada Andi yang waktu itu sempat mengakui kalau anak yang dikandung Wila adalah anaknya.