
Hamzah bergegas menuju ruang admin P3k, disana petugas yang tadi memeriksa Wila terlihat sedang duduk di depan laptop , sesekali tangannya menggerakkan mouse .
Ia menghentikan aktifitasnya saat mengetahui kehadiran Hamzah. Ia tersenyum dan berjalan menghampiri Hamzah.
"Apa ada sesuatu yang bisa dibantu?"
"Soal temsn saya yang tadi, apa benar dia sedang hamil?" tanyai Hanzah dengan suara pelan.
Petugas mengangguk, "Seharusnya cepat konfirmasi, sebelum ketahuan pihak Kampus, bisa-bisa panjang urusannya.
"Hamil itu tidak dilarang, asal ada keterangan sah bahwa dia sudah menikah, kalau tidak, bisa kena drof out", jelaskan Petugas.
Hamzah termenung, saat ini ia belum bisa mengambil keputusan, karena harus ada bukti kalau Wila benar-benar hamil.
"Biar valid, mending lakukan tes kehamilan segera", usul Petugas.
"Baik, akan saya sampaikan, tapi saya mohon, jangan sebarkan berita ini dulu sebelum valid" pinta Hamzah.
"Iya, saya mengerti, itu bagian dari rahasia Pasien", ucap Petugas.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, terima kasih", Hamzah segera meninggalkan ruangann itu dan bergegas menuju ruang P3K untuk menemui Wila kembali.
Ruangan masih tertutup, Hamzah mengetuk pintu , tapi tak ada sahutan dari dalam. Sudah beberapa kali ia ulangi , tetap tidak ada respon dari dalam.
Hamzah memberanikan diri membuka pintu, dan setelah terbbuka , ia tidak menemukan siapa pun.
Hamzah kaget, ia langsung memasuki ruangan yang sudah kosong, ia mencari ke kamar mandi pun kosong.
"Wila kenapa kamu pergi? Ini membuatku yakin kalau kamu juga sudah mengetahui apa yang terjadi pada dirimu", tebak Hamzah.
Berkali -kali ia dial nomer Wila, tetapi tidak dijawab, WA pun tidak dibalas, 'Apa dia pulang?' pikir Hamzah.
Hamzah segera menghambur ke luar, mencari keberadaan Wila, namun tidak ada.
'Apa aku susul saja kerumahnya' ,Hamzah segera mengambil sepeda motornnya dan melaju dijalanan menuju rumah Bi Yeni.
Ia tidak menghiraukan bunyi dari Hand phone nya yang sedari tadi terus berdering
Hamzah terus melajukan sepeda motornya menuju rumah Bi Yeni.
Sesampainya di sana ia langsung menanyakan keberadaan Wila, Bi Yeni pura-pura kaget, "Bukannya tadi ke Kampus, sampai sekarang belum pulang", Bi Yeni mencari alasan, ia sudah diwanti-wanti oleh Wila agar tidak memberitahu keadaannya kepada Hamzah.
"Belum pulang Bi, di Kampus juga saya tidak menemuinya . Saya khawatir, karena tadi Wila sempat sakit,tapi saat saya tinggal sebentar, ia sudah tidak ada di ruang perawatan", jelas Hamzah.
"Terus kemana ya, tidak biasanya seperti ini", ucap Bi Yeni, ia pura-pura khawatir.
__ADS_1
"Apa Wila tidak memberitahu Bibi mau pergi kemana?"
"Tapi pagi tidak bilang apa-apa cuma mau ke Kampus saja katanya",
Hamzah termenung. Ia makin khawatir dan makin yakin kalau Wila sudah mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya.
Hamzah berfikir, kemana biasanya Wila pergi apa mungkin ia pergi ke rumah temannya, tapi siapa?,
Lagi pula ia tidak tahu alamat rumah teman-temannya Wila.
Lagi bingung begitu, tiba-tiba Sarah menelepon, "Ya, ada apa?" jawab Hamzah ketus.
"Kok marah, aku cuma mau nanya saja, kamu sedang dimana, kok belum pulang?".
Hamzah berjalan agak menjauh dari Bi Yeni.
"Aku lagi ada urusan, mungkin pulangnya agak telat", kabari Hamzah.
"Oh iya, satu lagi, kamu jangan tunggu aku, kalau mau makan, makanlah!, mungkin kalau terlalu malam, aku langsung pulang ke rumah Ibu saja",
Tanpa menunggu jawaban dari Sarah, Hamzah menutup teleponnya.
Dan ia kembali memikirkan keberadaan Wila. Hamzah teringat,terakhir kali Wila ke luar saat kehilangan Hand phone waktu ke rumah Lela.
Hamzah kembali menemui Bi Yeni yang masih duduk di kursi teras depan rumahnya.
"Sudah ada kabar, Wila di mana?", tanyai BI Yeni.
Hamzah menggeleng lemah, "Tapi sepertinya Wila ada di rumah Lela Bi, karena cuma Lela teman dekatnya ",
Sekilas Bi Yeni tersenyum, 'Tepat', hatinya bicara.
'Bibi yakin kalau kalian berjodoh, akan ada cemistry diantara kalian.
"Jadi bagaimana? , mau menyusul Wila ke sana?", Bi Yeni menunggu jawaban Hamzah.
"Iya Bi, saya akan mencarinya ke sana", sahut Hamzah cepat.
"Masih pengantin baru, apa nggak kasihan sama istrimu?",
Hamzah tersenyum melihat Bi Yeni, "sudah basi Bi", ucap Hamzah.
"Mungkin Bibi tahu, dimana rumahnya Lela?"
"Aduh..., nggak tahu Den , Bibi nggak pernah nanya",
__ADS_1
Hamzah tampak mengotak atik hand phone nya."Sii...p, sudah ada Bi, saya pergi menyusul Wila", pamit Hamzah kepada Bi Yeni.
"Iya, hati-hati", Bi Yeni memandang punggung Hamzah yang kian menjauh.
'Kalian , kalau memang sudah jodoh, tidak akan kemana, yang sabar, tabah dan ikhlas saja, semoga jodoh kalian sudah tertulis diLauhul Malfhus', batin Yeni bicara.
'Seberat dan sesulit apa pun jarak kalian untuk bersatu akan menjadi mudah dan ringan jika Allah sudah ikut campur tangan, Bibi do'akan semoga kalian berjodoh',
Setelah Hamzah menghilang di telan gelapnya malam, Bi Yeni segera masuk ke dalam rumah.
Sementara Hamzah terus melaju dijalanan , dengan panduan Goegle Maps, ia menuju rumah Lela.
Sambil mengendara, sesekali Hamzah melihat kiri kanan jalan, berharap melihat Wila di sana.
"Tetap di jalur utama, setelah 100 m belok kanan", panduan maps kembali memandu Hamzah. Ia mengikuti petunjuk dari hand phone pintarnya.
Setelah mengendara beberapa menit, ia berhenti di depan sebuah pasar tradisional. Ia masuk gang, dan kembali melaju mengikuti panduan dari maps.
Tak jarang ia pun bertanya kepada para pemilik toko yang dilewatinya. Dan akhirnya ia sampai di sebuah kantor kelurahan.
Menurut maps, rumah Lela ada dibelakang kantor Kelurahan tersebut. Segera Hamzah memarkir motornya di sana.
Hamzah berjalan menyusuri gang kecil, dan ia sampai di depan rumah yang di tuju.
"Alhamdulillah", gumamnya. Hamzah berdiri di depan pintu, ia tidak berani mengetuknya.
Apalagi hari sudah merangkak malam, bukan waktunya untuk bertamu. Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu, Hamzah menunggu, berharap itu langkah kaki pemilik rumah.
Benar saja, tak lama kemudian, seseorang membuka pintu, tampak kepala seorang anak nongol.
"Assalam'alaikum", ucap Hamzah saat pintu benar-benar terbuka.
Anak itu kaget, ia menjawab salam sambil mundur lagi.
"Maaf De, apa ini benar rumahnya Teh Lela?", Hamzah langsung to the point.
Anak itu mengangguk . "Apa ada temannya yang lagi nginap di sini?".
"Oh, teh Wila?, iya ada teh Wila lagi ngobrol sama Teteh di atas", jawab anak itu dengan polosnya.
"Alhamdulillah, bisa tolong katakan sama Teh Lela ada tamu yang mencarinya", ucap Hamzah sambil tersenyum.
"Baik,Kak, tunggu sebentar ya!",
Hamzah merasa lega karena Wila ada di sini, bukan di jalanan.
__ADS_1