Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Menuju Ijab Qabul yang kedua


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rumah, Bu Rahmi sudah benar-benar pulih dari berdukanya, kehilangan memang , tapi semua sudah ketetapan-Nya, terus diratapi juga tidak akan membuat orang yang telah tiada kembali, malah akan memberatkannya.


Hamzah berencana membawa Bu Rahmi untuk menenangkan diri ke rumah Wila, sekalian juga untuk mengenalkannya kepada keluarga Wila, walau nantinya Hamzah harus betkata jujur tentang pernikahannya dengan Sarah kepada orang tua Wila.


"Bu, nanti siang saya akan pulang ke rumah Wila, barangkali Ibu mau ikut?, sekalian menenangkan diri di sana, ya ...mungkin sekitar beberapa hari saja, karena di Kampus juga mau ada wisuda", ajak Hamzah saat Bu Rahmi sedang memberi susu Hazel.


"Wila?, Ibu ingin sekali bertemu, dia kan yang akan menjadi ibunya Hazel, semoga dia menyayangi Hazel seperti anaknya sendiri", harap Bu Rahmi.


"Iya,saya yakin Wila bisa Bu, orangnya baik, apalagi saat ini , Wila juga sedang merawat bayinya",


"Anak kalian?",


"Iya Bu, rencananya kami juga akan mengulang ijab qabul",


"Kalau begitu, Ibu ikut". Bu Rahmi menyuruh Bi Marni untuk menyiapkan semua keperluannya dan Hazel selama di sana.


Hamzah menghampiri Andi , ia memberitahukan rencana kepulangannya nanti siang. Tanpa di duga Andi mengutarakan niatnya untuk melamar gadis pilihannya setelah Wisuda.


"Alhamdulillah, serius nih?, jadi orang yang akan kamu lamar itu satu kampus dengan kita?", tanya Hamzah dengan keheranan.


"Iya", senyum Andi.


Hamzah menerawang, ia mengingat-ingat dan menebak-nebak, siapa orangnya?, gadis pilihan Andi itu.


"Pelit ya kamu masa nama calonnya saja dirahasiakan", Hamzah meninju pundak Andi yang terkekeh.


"Nanti juga tahu, tenang saja", Andi kembali terkekeh.


"Eh, sini sebentar, aku minta pendapatmu", ajak Andi, ia beranjak menuju kamarnya diikuti Hamzah .


Andi tampak mengambil sesuatu dari tasnya dan membawanya ke hadapan Hamzah yang duduk di kursi yang ada di samping pintu kamar Andi.


"Aku membelikan ini untuk dia, bagus nggak?", Andi memberikan bungkusan dari tangannya kepada Hanzah.


"Emh....., bagus, pasti dia suka", Hamzah menilik-nilik sebuah kalung emas yang akan Andi berikan kepada calonnya.


"Sebenarnya siapa sih, gadis beruntung yang telah melelehkan hatimu", penasaran Hamzah.


"Yang pasti dia itu sholehah Zah", senyum Andi.


"Iya, aku percaya, aku yakin pilihanmu tidak akan salah", Hamzah menepuk pundak Andi.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menjaga Wila, saat aku di sini, aku berhutang nyawa padamu", Hamzah menatap Andi.


"Jangan begitu, justru aku yang harus berterima kasih, aku yang berutang nyawa sama kalian, kalau Mamah dan Papah tidak merawatku, aku tidak tahu bagaimana nasibku",


"Sudah, kita kan keluarga, sudah sewajarnya saling membantu", senyum Hamzah.


"Terima kasih", mereka saling berpelukkan.


Pemandangan itu membuat haru Bu Rahmi yang memperhatikan mereka berdua.


"Ibu sudah siap, kalian mau makan dulu sebelum berangkat?, biar Bi Marni menyiapkannya", tawari Bu Rahmi.


"Oh, nggak usah Bu, masih kenyang, sebaiknya kita berangkat sekarang saja", usul Hamzah.


"Baik, kalau begitu Ibu siap -siap dulu", pamit Bu Rahmi.


Hamzah dan Andi pun segera menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya, sekalian membawanya ke dalam mobil.


Bi Marni pun kembali di ajak ikut. Mereka sudah bersiap untuk berangkat, sebelumnya Bu Rahmi menitipkan kembali rumahnya kepada Pak Yanto, Penjaga rumahnya.


Mobil mereka kembali beriringan , kini menuju sebuah Desa di pedalaman Ciamis, Desa Ciawi Tali.


Sebelum berangkat, Hamzah sempat memberitahu Wila akan kepulangannya siang ini beserta keluarga Sarah.


Wila baru saja selesai memandikan Haura, ia mulai belajar merawat Haura sendiri, berbekal pengetahuannya sebagai perawat, tapi itu pun tak lepas dari pantauan ibunya, Yati.


"Ibu juga dulu merawatmu sendiri, tidak ada babi suter-babi suteran Neng", senyum Yati sambil memegangi tangan mungil Haura yang sedang dipakaikan baju oleh Wila.


"Baby Siter Bu, bukan Babi Suter", kekeh Wila.


"Iya itulah pokoknya", Yati ikut terkekeh.


Wila yang sudah membaca pesan dari Hamzah berpikir, kalau ibunya Sarah ikut, pasti dia dan Hamzah harus jujur kepada Caca dan Yati tentang pernikahan Hamzah dengan Sarah.


"Eh ...eh...eh... Kenapa melamun, itu salah loh, masa kaos kaki mau dipasang di tangan, sini biar Ibu saja yang pakaikan", Yati mengambil alih Haura dari Wila.


"Aduh, maafkan Ibu sayang", senyum Wila.


Wila malah kembali melamun, ia takut orang tuanya marah da n tidak terima jika dulu ia dinikahi Hamzah setelah Hamzah menikahi Sarah lebih dahulu.


Tapi ini jelas alasannya, semoga saja orang tuanya bisa menerima, seperti juga orang tua Hamzah.

__ADS_1


Yati langsung menggendong Haura yang sudah selesai dipakaikan baju, ia kembali memperhatikan Wila yang kembali melamun.


"Ada apa sih Neng, kok dari tadi melamun terus?", Yati penasaran.


"Emmm..., Mas Hamzah hari ini mau pulang ke sini Bu?",


"Ya bagus attu, kenapa malah melamun, bukannya menyiapkan sesuatu untuk suamimu gitu", senyum Yati.


"Ah ,Ibu", kerling Wila.


"Sudah sana, lihat masih ada makanan nggak di dapur buat suamimu nanti!, biar Haura sama Ibu dulu.


"Tapi..., Mas Hamzah pulang bawa seseorang Bu?",


"Tuh, apalagi bawa temannya, kita harus siapkan sesuatu untuk mereka", saran Yati.


Wila yang tadinya mau berterus terang, akhirnya pergi juga menuju dapur . Meninggalkan Haura yang sedang berceloteh lucu di ajak bicara oleh neneknya, Yati.


Di dapur, Wila bertemu dengan Bu Kalila yang baru masuk dari luar, ia habis menemani Pak Zakarya di halaman belakang rumahnya.


"Bu, Mas Hamzah hari ini mau pulang", kabari Wila.


"Alhamdulillah kalau begitu, berita bagus", senyum Bu Kalila.


"Tapi ibunya Sarah juga ikut", timpa Wila.


Sejenak Bu Kalila diam. "Emm..., ada apa ya?", Bu Kalila mengernyitkan dahinya.


"Wila takut Mah, pasti Bu Rahmi ke sini untuk memberitahu Bapak dan Ibu soal pernikahan Mas Hamzah dengan Sarah",


"Emm..., jangan takut sayang, Bapak dan Ibu pasti mengerti, jika diceritakan masalah sebenarnya, malah itu lebih baik, dari pada menyimpan kebohongan terus, lagi pula sekarang Sarah kan sudah meninggal", Bu Kalila memegang pundak Wila.


"Jangan takut ya, Mamah pasti akan membelamu nanti, tenang saja", senyum Bu Kalila.


"Terima kasih Mah", Wila pun tersenyum lega.


"Mendingan sekarang kita memasak saja, biar saat mereka tiba, semua sudah tersedia", ajak Bu Kalila.


Akhirnya Mertua dan Menantu itu berkutat di dapur menyiapkan makanan untuk tamunya yang akan segera datang.


Di luar Caca dan Pak Zakarya sedang berbincang dengan salah seorang Pemborong, untuk membangun Klinik di samping rumah Caca . Semua rencana sudah dimatangkan , tinggal menunggu bahan-bahannya datang.

__ADS_1


"Terima kasih Pak besan, akhirnya cita-cita Wila tercapai, dari pertama masuk SMP, dia sudah ingin mendirikan Klinik Kesehatan di sini, dan Alhandulillah , kini cita-citanya itu akan segera terwujud", senyum Caca.


"Jangan berlebihan begitu Pak, ini juga sudah menjadi cita-cita saya beserta istri, untuk tetap bisa mengabdi di hari tua, dan disinilah saya merasa cocok", senyum Pak Zakarya.


__ADS_2