Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Jangan Ganggu Aku lagi


__ADS_3

Sarah dan Hamzah menuruni tangga menuju meja makan, di sana Bu Rahmi sudah menunggu. Ia nampak tersenyum melihat kedatanga mereka.


"Aduh, nih pengantin kita, sampai kesiangan bangunnya", goda Bu Rahmi.


Ia tersenyum bahagia menyambut putri kesayangnnya. Putri kecilnya yang kini sudah bekeluarga dan sebentar lagi akan memberinya cucu.


"Sini duduk, kita sarapan dulu!, nih Bi Marni sudah masak yang enak, tadinya Ibu yang mau memasak, tapi Bi Marni ingin menyenangkan Ibu dulu, sebelum kembali ke luar Kota", Bu Rahmi tersenyum.


"Wah, sepertinya enak, harum banget aromanya", Sarah segera duduk , sudah tidak sabar untuk makan.


Sarah duduk berdampingan dengan Hamzah, di depannya duduk Bu Rahmi.


Sarah mengambilkan nasi buat Hamzah dan bertanya," Mau diambilkan lauk apa?


"Apa saja", jawab Hamzah singkat. Ia duduk sambil mulai menyeruput teh hangatnya.


Ia disuguhkan nasi panas lengkap dengan lauk pauknya. Saat itu juga ia langsung merasa mual kembali, asap nasi membuatnya ia pusing dan mual.


Hamzah kembali berlari ke arah kamar mandi dan di sana ia mengeluarkan isi perutnya yang mendesak mau keluar.


Ia kembali ke luar dengan memegangi perutnya,"Maaf , sepertinya belum bisa ikut sarapan, saya mau istirahat dulu, pusing dan mual terus", ucap Hamzah, ia langsung menaiki anak tangga kembali menuju kamarnya.


Sarah dan ibunya terlihat saling pandang, ia merasa aneh dan heran. Bu Rahmi menerawang,"Kok, sepertinya Mami pernah melihat hal yang sama yang dirasakan suamimu, ya, Mami ingat, itu seperti Papimu dulu, saat Mami hamil , Papimu malah yang mual-mual.


Rahmi tersenyum nanar mengingat mendiang suaminya."Itu istilahnya couvade syndrome, gejala kehamilan palsu. Di saat istrinya hamil, tapu si suamilah yang merasakan gejala mualnya".


"Waktu itu papimu hampir sekitar dua minggu seperti itu, lucu ya", Rahmi tersenyum mengingat semuanya.


"Nanti juga baik dengan sendirinya, karena itu bukan penyakit, jangan khawatir", Rahmi memegang lengan Sarah yang terlihat termenung.


Sarah terdiam karena ia merasa ada hal aneh, memang ia lagi hamil, tapi kenapa Hamzah mengalami syndrome itu, padahal ia bukan ayah dari janin yang sedang dikandungnya.


Mana mungkin ada ikatan batin antara keduanya.


Sarah memikirkan itu sambil terus menikmati sarapannya.


Di tempat lain, dalam waktu yang bersamaan, Wila pun sedang menikmati sarapannya, ia sarapan nasi kuning dan gorengan.


Walau menu sederhana, tapi ia merasakan nikmat yang luar biasa, bahka ia sampai tambah lagi nasinya.

__ADS_1


Yeni merasa senang melihatnya, ia yakin Wila baik-baik saja. Wila akan segera bisa move on dari Hamzah.


Sudah tidak ada lagi muram dan kesedihan di raut mukanya.


"Bi, Wila mau ngambil banyak Sks semester ini, biar cepat selesai, Wila mau fokus kuliah Bi, biar cepat lulus", jelaskan Wila.


Yeni senang, ia tersenyum mendengarnya. "Kalau Bibi terserah kamu saja, Bibi nggak ngerti soal itu, yang terpenting jaga selalu kesehatanmu", ucap Yeni .


"Terima kasih Bi, nanti Wila tidak akan banyak membantu",


"Nggak apa-apa Neng, Bibi sudah terbiasa", ucap Yeni meyakinkan Wila.


Wila pun ikut senang dan merasa bersemangat. Belum pernah ia merasa sebaik ini.


Wila bergegas bersiap ke Kampus. Sudah tidak ada lagi raut kesedihan diwajahnya.


Wila pergi ke Kampus lewat gerbang belakang dekat kantin, di sana ia menitipkan beberapa kue basah di Kantin kampusnya.


Ya, Wila kuliah sambil jualan. Lumayan uangnya bisa untuk tambah-tambah biaya hidup, sebagian lagi ia tabung .


Tak jarang beberapa temannya juga suka order snack boxs saat ada kegiatan di Kampus. Atau ia juga membawa nasi kuning , pesanan temannya untjk sarapan.


Setelah pernikahan Hamzah dan Sarah, ia sudah tidak direpotkan olehnya lagi.


Wila bisa kuliah dengan tenang, sudah tidak ada yang membuly nya lagi.


Selain kuliah tatap muka langsung, ia pun kuliah lewat online, setelah laptop di Madrasah bisa ia bawa pulang, hal itu sudah tidak merepotkan lagi.


Hingga saat ia sedang di Perpustakaan, ia tidak menyadari kehadiran seseorang . Orang itu terus memperhatikan Wila, dan berjalan perlahan mendekatinya.


"Boleh saya ikut duduk di sini?", sontak Wila melihat sumber suara dan terkejut saat mendapati Hamzah sudah ada didepannya.


Wila menunduk, ia tidak menduga akan bertemu lagi dengan Hamzah. Ia takut kembali goyah.


"Diam berarti setuju", Hamzah langsung duduk di pinggir Wila.


Wila melihat ke pintu Perpustakaan, berharap Lela dan Mita muncul di sana, jadi ia ada kesempatan untuk menghindar dari Hamzah.


Sayang, mereka tidak ada di sana, karena sebelumnya Hamzah sudah meminta mereka untuk memberi kesempatan kepadanya untuk bisa berbicara dengan Wila.

__ADS_1


Hamzah tersenyum melihat tingkah Wila.


"Gimana kabarmu?", Hamzah membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu yang lihat", Wila melengos menghindari pandangan Hamzah.


"Maksudku, apa tidak terjadi sesuatu padamu setelah kejadian kemarin?",


"Kejadian apa?", Wila mengernyitkan dahinya.


"Maaf, aku takut terjadi sesuatu setelah apa yang kita lakukan di gubuk itu", Hamzah bicara hati-hati.


Deg....


Jantung Wila tiba-tiba berdetak kencang, wajahnya memanas."Jangan ungkit masalah itulagi!, itu kesalahan terbesar dalam hidup aku", Wila menunduk, pandangannya mulai kabur.


Tetesan bening mulai menerobos keluar dari kedua kelopak matanya.


"Aku tahu, akulah yang paling bersalah, aku mau ikut menanggungnya",


"Hah, apa?!, dengan cara apa?, kamu sudah mempunyai Sarah, jangan usik hidup aku lagi!",


"Wil, aku tahu, aku juga bingung harus bagaimana?", Hamzah menjambak rambutnya kasar.


"Saat ini Sarah sedang hamil, aku tidak bisa meninggalkannya", aku Hamzah.


Wila tersentak kaget,"Apa....hamil?, jadi kamu sudah melakukannya dengan Sarah, sebelum denganku?", Wila meradang.


"Pelankan suaramu, orang-orang bisa mendengarnya!", Hamzah melihat sekeliling.


"Biar saja, biar mereka tahu kelakuan bejat ketua senatnya", ucap Wila.


"Wil..., dengar aku dulu, aku tidak pernah menyentuh Sarah, sekarang ia sedang hamil tiga bulan, jadi mana mungkin aku yang melakukannya, Sarah telah menjebak aku, ia sengaja menjadikan aku sebagai kambing hitamnya,dia pun tidak tahu, siapa laki-laki yang telah menyentuhnya, itu terjadi saat dia mabuk di Karaoke", jelaskan Hamzah.


Wila terdiam, ia sedang mencerna semua ucapan Hamzah. Batinnya bicara, "Benarkah?", ada segaris rasa bahagia dihatinya.


"Aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan dia seperti itu", aku Hamzah.


Wila mendengus,"Ya sudah, untuk apa kamu menemuiku, sudah tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan untuk aku, kamu sudah punya tanggung jawab, sudah punya janji, bukan saja sama Sarah, tapi juga sama Allah",ungkap Wila.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kamu tahu dan mengerti bagaimana posisi aku, aku berada di posisi yang serba salah", Hamzah kembali menunduk.


__ADS_2