Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Satu Masalah Teratasi


__ADS_3

"Ya, sudah, Wila ke warung dulu", pamitnya. Ia membawa uang sisa tadi untuk membeli gas dan beras.


"Beli gas Bu", ucap Wila saat memasuki sebuah warung.


"Ambil saja, Neng, itu di samping", Pemilik warung menunjuk ke arah samping , disana memang tampak beberapa tabung gas berderet.


Wila menukarkan tabung gas yang ia bawa dengan yang baru.


"Tambah beras satu kilo Bu!",


" Jadi gas dua puluh lima ribu, beras sebelas ribu, semuanya jadi tiga puluh enam ribu Neng", Pemilik warung memberi tahu.


"Iya, ini uangnya!" Wila menyerahkan uang untuk membayar belanjaannya.


"Terima kasih Bu", Wila membawa belanjaannya dan bergegas kembali ke rumah.


Di depan gang Anggrek terlihat seorang Ibu dan anaknya yang masih balita, terlihat mereka sedang memulung barang bekas.


Si Ibu membawa karung untuk menampung barang temuannya dan diikuti langkah kecil anaknya, sungguh pemandangan yang memilukan.


Merasa tidak tega Wila memberinya uang sepuluh ribu kepada si Ibu.


Sampai di rumah,Yeni sedang menyapu lantai teras rumahnya. Wila bergegas ke Dapur untuk menyiapkan sarapan seadanya. Ia hanya menanak nasi liwet saja.


Terbersit oleh Wila untuk mencari kerja parttime, tetapi dimana? Ia belum begitu familiar dengan Kota ini.


Lagi -lagi Wila tidak membagi kegundahannya dengan Hamzah. Ia merasa tidak perlu karena hubungannya masih abu-abu.


*


*


*


Hamzah sudah berada di rumah singgah anak jalanan, ia mendapat kabar semalam ada salah seorang dari mereka yang dicurigai melakukan pencopetan


Kabar itu terkuak dari seorang penjaga konter, ia curiga saat ada salah satu dari mereka yang menawarkan hand phone mahal ke konternya.


Hand phone tersebut memang sudah di beli, namun mereka curiga, dari mana asalnya?.


Hamzah sudah mengantongi identitas si pencuri itu.


Mereka sudah berkumpul di sebuah aula. Dan Hamzah ditemani beberapa pengasuh berdiri di depan mereka.


"Sengaja Kakak kumpulkan di sini karena ada hal yang ingindi tanyakan. Kakak minta kalian jujur, kalian dibina di sini supaya kalian meninggalkan kebiasaan - kebiasaan buruk.


"Di sini kalian gak usah cape-cape nyari uang buat makan, cukup mau belajar dan mengikuti aturan di sini."

__ADS_1


Hamzah bicara sambil melihat semua anak-anak yang ada di sana. "Kalian mengerti?!", tegasnya


"Iya Kak", kompak mereka.


"Ya sudah, sekarang kalian boleh bubar kecuali buat Rona dan Sinta, kalian tunggu di ruang belajar sana!", perintah Hamzah.


"Baik Kak",


Rona dan Sinta segera menuju ruangan yang di maksud, sedangkan teman-temannya yang lain membubarkan diri tanpa menaruh curiga sedikitpun.


"Kalian silahkan duduk!", perintah Hamzah setelah berada di ruang belajar.


"Tolong jawab dengan jujur, kenapa kalian meakukan ini", Hamzah meletakkan hand phone di atas meja.


Kedua anak itu saling pandang, dan kembali menunduk.


"Di sini, kalian jangan macam-macam ya, kalian tidak akan lepas jika melakukan kesalahan sekecil apapun".


"Sekarang, bicaralah, dari mana hand phone ini?!",


Hamzah ingin menguji kejujuran mereka, padahal ia tahu itu hand phone milik Wila yang hilang kemarin malam.


"Bicaralah, Kakak mau tahu cerita yang sebenarnya!", Hamzah menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.


Setelah saling pandang, akhirnya Rona mulai nenceritakan kalau hand phone itu mereka dapat seorang wanita penumpang angkot kemarin malam.


"Mengapa kalian lakukan ini?", Hamzah meneruskan interogasinya.


"Jadi kami lakukan itu karena ada kesempatan", jawab Rona.


"Terus kalian tidak berfikir, bagaimana perasaan orang yang kehilangan hand phone ini,", Hamzah sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Ma...maaf Kak, kami salah", kini giliran Sinta yang menjawab.


"Kalian tahu, siapa pemilik hand phone ini?!",


"Tidak Kak, tapi kalau bertemu, kami masih bisa mengenalinya", ucap Rona menunduk.


"Baik, kalau begitu, ayo ikut dengan saya!, Wan, tolong bawa anak-anak ini ke tempat gue!", perintah Hamzah kepada temannya, Wandi.


"Oke ..."


Mereka bersiap pergi. Wandi membonceng Sinta, dan Hamzah membonceng Rona menuju ke suatu tempat.


Rumah Yeni yang Hamzah tuju. Ia bermaksud membawa kedua anak itu kehadapan Wila.


Roni dan Sinta menurut saja, mereka merasa menyesal dan takut kepada Hamzah. Hamzahlah yang telah menolong mereka saat mereka hampir menjadi bulan-bulanan warga saat menyopet di Pasar.

__ADS_1


Berkat Hamzah mereka terlepas dari jeratan hukum , karena Hamzah menjamin mereka tidak akan mengulangi perbuatannya, dan akan membina mereka di rumah singgahnya.


Tepat saat Wila akan berangkat ke Kampus, mereka sampai di rumah Bi Yeni.


Wila yang masih berada di teras rumah merasa kaget dengan kehadiran mereka.


"Alhamdulillah, tepat waktu", ucap Hamzah saat melihat Wila. Mereka semua turun dari motor. Rona dan Sinta sudah mengenali Wila. Mereka menghampiri sambiil menunduk.


"Ada apa ini, Kok rame-rame?", Wila masih kebingungan sehingga membiarkan mereka tetap berdiri tanpa mempersilahkan mereka masuk.


"Bisa bicara sebentar kan?" Hamzah menyadarkan Wila. Segera Wila mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada di teras .


"Oh maaf, silahkan masuk", ia mendahului duduk, di ikuti oleh yang lainnya


Kini pandangan Wila tertuju kepada Rona dan Sinta yang sedari tadi menunduk saja.


Hamzah melihat tingkah Wila " Kamu mengenali mereka?" tanyanya menunjuk ke arah Roni dan Sinta.


"Eemh..., Wila sedikit mengernyitkan dahinya, mereka ini yang ada satu angkot kemarin malam", jawab Wila.


"Benar begitu?!", tanya Hamzah kepada Rona dan Sinta.


"I...iya...", jawab Rona sedikit gugup.


"Ayo kalian bicara!!", perintah Hamzah dengan kembali menaikkan nada suaranya.


"Ma...maaf Kak, kami yang sudah mengambil hand phone Kakak kemarin malam waktu di angkot", akui Rona.


"Maaf, kami menyesal", Sinta ikut bicara sambil tetap menunduk.


Wila merasa kasihan terhadap mereka, "Sudah...sudah, Kakak maafin kalian , tapi jangan diulangi lagi!", tegas Wila.


"Sebenarnya dari semalam juga sudah menaruh curiga sama kalian, tapi takut salah karena belum ada bukti dan tidak ada saksi , jadi belum berani untuk menginterogasi", jelaskan Wila.


"Kenapa gak cerita soal ini kemarin?", tanyai Hamzah.


"Iya kan, belum ada bukti yang pasti, takutnya hanya menduga-duga saja, takut salah", Wila memandangi Rona dan Sinta. Ia merasa iba dan kasihan kepada mereka, mungkin mereka melakukan itu karena terpaksa.


Seperti yang dialaminya saat ini, ia juga sedang kesulitan keuangan, mungkin karena kepepet dan berpikiran pendek, sehingga mereka sampai mencopet.


"Ini benar dompet kamu juga?" Hamzah memberikan hand phone dan dompet kepada Wila. "Coba cek isinya!",


"Iya, ini semua punya aku yang hilang kemarin malam", Wila membuka dan mengecek isi dompetnya.


"Isinya masih utuh, terima kasih ya, sudah membantu", Wila menanap Hamzah yang sedang memperhatikannya, dan kembali dua mata itu kembali beradu.


"Sekarang kalian kembali ke rumah singgah, "Wan, bawa kembali mereka ke sana!", gue mau langsung ke Kampus", perintahkan Hamzah kepada Wandi.

__ADS_1


"Oke..",


Wandi membawa Rona dan Sinta ke rumah singgah, sedangkan Hamzah menuju ke Kampus bersama Wila.


__ADS_2