Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Rekayasa


__ADS_3

Hamzah membawa Sarah ke Kliniknya, ia membawa Sarah hanya karena kasihan atas dasar kemanusiaan saja.


Perawat melakukan penanganan medis kepada Sarah, tidak ada luka yang serius, hanya lecet-lecet saja. Hanya Sarahnya saja yang terlalu offer.


Ia terlihat manja kepada Hamzah, pinginnya ditemani terus oleh Hamzah. Tangannya terus saja bergelayutan di pundak Hamzah.


"Kamu tunggu di sini sebentar, aku ada urusan dengan Dokter di sana!", Hamzah berusaha melepaskan tangan Sarah dari pundaknya.


Segera ia berlalu ke ruang Dokter. Di sana juga ada Perawat yang menangani Sarah tadi. Hamzah berbincang dengan mereka mengenai kondisi Sarah.


"Tidak ada luka serius, hanya lecet-lecet saja, sejauh ini kondisinya juga stabil, tak ada yang perlu dikhawatirkan", jelaskan Dokter kepada Hamzah.


Dari balik gorden , Hamzah bisa melihat keadaan Sarah di sana, terlihat ia sedang menghubungi seseorang lewat hand phone nya.


Sesekali ia pun terlihat tertawa, sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi orang yang sedang sakit.


'Sepertinya Sarah hanya pura-pura, ia hanya mencari kesempatan untuk bisa bersama dengan ku saja', pikir Hamzah. Hal itu membuat Hamzah illfeel saja.


'Apa mungkin dia yang merencanakan semua ini?, apa maksudnya?' , kembali Hamzah berbicara dalam hati sambil tetap memperhatikan tingkah Sarah.


Tapi bagaimanapun juga ia tidak mungkin mengabaikan Sarah, terlepas dari benar atau tidaknya sakit yang Sarah alami.


Apalagi kejadiannya di Kampus . Walaupun sekedar sandiwara yang di buat Sarah.


"Baiklah, kamu sudah boleh pulang, sekarang, tidak ada luka serius kok", kabari Hamzah saat sudah ada di samping Sarah.


Sarah yang tidak menyadari kehadiran Hamzah merasa kaget, segera ia menyimpan hand phone ke dalam tasnya.


"Sekarang, kamu bisa pulang, Dokter bilang tidak ada luka yang serius",


"Terus gimana kalau di rumah tiba -tiba sakit lagi? , kan tidak ada siapa-siapa di rumah", Sarah tampak memelas.


"Kalau perlu , nanti aku kirim juga Perawat ke rumahmu , untuk sekedar memantau kondisimu di sana", jelaskan Hamzah.

__ADS_1


"Apa tidak boleh kalau di rawat di sini dulu, satu malam saja", Sarah seperti anak kecil saja tingkahnya.


"Ya sudah, kalau memang kamu mau dirawat di sini , aku pulang duluan, karena masih ada urusan", Hamzah membalikkan badan hendak meninggalkan Sarah .


Tapi dengan secepat kilat Sarah meraih tangan Hamzah dan menahannya, "Tunggu, jangan tinggalin aku , kamu yang membawa aku ke sini maka kamu juga yang harus mengantar aku sampai di rumah", pintakan Sarah.


Untung saja ada panggilan masuk di kantor Adm, sehingga Hamzah bisa melepaskan diri dari cengkraman Sarah.


Seorang Perawat membantu persiapan kepulangan Sarah, ia memberikan beberapa obat untuk dikonsumsi di rumah, tidak lupa ia menyiapkan kursi roda buat Sarah.


Saat ini Sarah tidak bisa berbuat apa-apa, selain menurut saja. Ia juga tidak mau kalau kepura-puraannya terbongkar jika ia terus ngeyel.


Saat mau pulang pun Sarah tidak mau diantar pakai mobil, ia ingin di antar pulang dengan sepeda motor.


Namun lagi-lagi keinginannya di tolak oleh Hamzah, dan kali ini di dukung oleh seorang Dokter.


"Untuk keselamatan, sebaiknya memakai mobil saja, takutnya hujan lagi" Dokter Amina berbicara saat mendengar Sarah menolak di antar dengan mobil.


Lagi-lagi usaha Sarah untuk menjerat Hamzah gagal, walau dengan hati kesal, Sarah pulang juga dengan mobil dari Klinik.


Sehabis Isya, Wila sudah berada di dalam kamarnya. Hari ini ia akan tidur lebih awal, karena besok akan bangun pagi sekali untuk membanntu mempersiapkan jualan di hari pertamanya.


Ia sudah memilih beberapa menu gorengan untuk jualan besok, ia mencari beberapa menu kekinian di youtube.


Sedang asik mencari dan mencatat, tiba-tiba ada pesan masuk, beberapa pesan gambar masuk dari nomet baru.


Alangkah kagetnya saat ia buka satu persatu pesan gambar yang masuk. "Ya Allah, Astaghfirullah, apa ini?, Kak Hamzah??, benar ini Kak Hamzah??, mengapa seperti ini??",


Wila bicara sambil menahan sesak di dada, rasanya sakit sekali, saat melihat Hamzah berpose mesra dengan Sarah.


Padahal Wila begitu menjaga, saat berdua pun ia selalu menghindari bersentuhan dengan Hamzah. Tapi sepertinya di foto itu Hamzah begitu dekat, bahkan saling berpelukan.


Hampir saja Wila melempar hand phone nya , saking terkejutnya. Wila duduk mematung di atas ranjangnya. Buliran-buliran bening mulai berjatuhan dari kelopak matanya.

__ADS_1


Sekuat tenaga ia menahannya, namun tidak bisa, rasanya sakit sekali. Orang yang ia puja-puja ternyata tidak setia.


Wila begitu percaya kepada Hamzah, sehingga ia biarkan rasa cintanya tumbuh liar di hatinya, namun saat melihat foto-foto itu, rasa sakitlah yang kini menderanya.


Wila sadar, antara dirinya dengan Hamzah belum ada komitmen resmi, apalagi kedua orang tuanya pun belum mengetahui, jadi tidak ada ikatan yang kuat untuk mereka saling setia dan saling menjaga.


Tapi bagaimana pun itu Wila merasa tidak rela jika Hamzah menyia-nyiakan perasaannya , atau bahkan mengkhianati kepercayaannya.


Seketika semangatnya hilang, tubuhnya lemas, hatinya terasa remuk, saat ini ia tidak bisa berfikir jernih, rasanya campur aduk, ada marah, kesal, sakit hati


Wila masih belum bisa menguasai dirinya, ia menangis dalam diam, takut orang tuanya mendengar isak tangisnya.


"Ping", kembali hand phone nya berbunyi, saat ini ada pesan yang kembali masuk ," Lihatlah ternyata kamu itu cuma dijadikan pelarian saja, makanya jangan kepedean, mana mungkin Hamzah serius sama gadis kampungan kaya loe",


Ternyata isi pesan itu hanya memaki dan menyudutkan Wila saja. Wila tidak mengenali siapa pengirim pesan misterius itu.


Berkali kali Wila membaca Takbir dan beristighfar untuk menguasai dirinya, ia harap yang ada di foto itu hanya rekayasa saja.


Walau demikian, tetap saja perasaannya tidak menentu, hatinya terasa remuk, sakit sekali.


Seketika semangatnya hilang, badannya serasa melayang, ia berpegang erat pada besi ranjang.


Ia tidak bisa membayangkan andai foto itu benar, bagaimana ia bisa menghadapi dunia, pasti orang-orang yang membencinya akan bersorak riang.


Apalagi beberapa hari lalu Hamzah mengakui kalau dirinya adalah calon istrinya, pasti mereka akan memperolok dirinya.


Wila bangkit dari duduknya, dan beranjak untuk mengambil wudhu , langkahnya sedikit gontai,


Ia adukan semua perasaannya di atas sajadah. Ia tahu tak seharusnya banyak berharap kepada makhluk, tapi berharaplah kepada Sang Maha Kholik.


Karena janjiNya pasti, Dia tidak akan ingkar terhadap janji-janjinya. Wila bersimpuh memohon ampun, karena selama ini sudah membiarkan rasa sukanya terhadap Hamzah membuatnya jauh dan lalai dalam mengingatNya, ia telah banyak menyia-nyiakan waktu dalam beribadah.


Mungkin yang ia alami saat ini merupakan teguran dari Yang Maha Kuasa untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2