
Malam ini Wila memutuskan untuk menginap di rumah Lela, tidak memungkinkan untuk pulang karena hari sudah terlalu malam.
Wila mencoba untuk ikhlas, tak ada lagi yang dapat ia lakukan, tinggal bagaimana ia menghadapi orang-orang terdekatnya.
Malam itu ia habiska untuk mengerjakan tugas. Ia tidak ingin pengorbanannya sia-sia.
Menjelang adzan subuh, Wila sudah bangun. Ia membantu membereskan rumah, mencui piring, dan menyapu lantai.
"Aduh, biarin saja Neng, gak usah repot-repot!", Bu Lisna keluar kamar sambil menggendong adik Lela yang masih bayi.
"Gak apa -apa Bu, masih lama kok perginya", ucap Wila sambil terus meneruskan pekerjaannya.
Adik-adik Lela sudah pada bangun. Seketika rumah menjadi ramai, adik-adiknya yang sudah bersekolah, sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.
Wila merasa takjub melihat pemandangan itu, walaupun usianya masih SD, tapi mereka tampak bisa mengerjalannya sendiri. Mereka mandi, berpakaian, dan sarapan sendiri.
Wila pun harus menunggu sampai urusan mereka kelar, baru ia mulai mempersiapkan diri untuk pergi ke Kampus.
"Iya, ada", ini baru beres siap-siap kok, sebentar lagi berangkat", Lela tampak sedang bercakap dengan seseorang, saat Wila masuk, Lela langsung memberikan hand phone nya kepada Wila.
"Ini, ada yang mau bicara", Lela memberikan hand phone sambil tersenyum.
"Halo, Assalamu'alaikum", Wila mulai ngobrol dengan si penelepon. Ternyata itu Hammzah, ia begitu khawatir karena dari semalam, HP nya tidak dapat dihubungi.
Wila belum mengatakan yang sebenarnya, kalau Hand phone nya hilang, ia katakan saja hand phone nya jatuh, dan mati. Jadi tidak dapat dihubungi.
Ia tidak ingin membuat Hamzah khawatir. " Ya, udah aku tunggu di rumah Bi Yeni , Assalammu'alaikum", Hamzah menutup teleponnya.
"Wa'alaikumsalam, maafkan aku",
Wila tidak bermaksud membohongi Hamzah, tapi tidak enak juga jika harus bicara lewat telepon.
'Biar nanti saja bicara langsung' pikir Wila. Ia segera mempersiapkan semuanya, sambil menunggu Lela siap. "Neng, sarapan dulu", Bu Lisna memanggilnya.
"Iya Bu, terima kasih", Wila tidak menuruti panggilan Bu Lisna, karena hari ini ia berniat puasa .
Lela pun sudah siap, ia memanggil Wila untuk segera berangkat.
"Sarapan dulu, Ibu sudah siap memasak", Bu Lisna kembali menawari Wila sarapan.
"Nggak Bu, hari ini lagi puasa", ucap Lela.
"Oooh, maaf , Ibu tidak tahu",
__ADS_1
"Ya udah, kalau begitu, kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum", pamit Lela dan Wila.
Rumah lela berada di belakang pasar, jadi mereka berjalan menyusuri gang yang di kanan dan kirinya berderet para padagang.
Sepanjang jalan Wila masih mengingat ingat bagaimana hand phone nya bisa hilang. Apa mungkin laki-laki yang duduk disampingnya? Apakah ia tersangkanya?
'Astaghfirullah, kok jadi su'udzan' pikir Wila. Untung saja ada angkot lewat yang kosong, segera mereka naik.
"Kampus Mang", Lela memberitahu sopir tujuan mereka. Di angķot tidak terlalu penuh, mungkin karena masih pagi.
Pandangan Wila tertuju pada seorang penumpang wanita yang duduk di pojok. Sejenak ia berfikir, ia mengerutkan dahinya.
'itu seperti penumpang semalam', pikirnya. Ia masih ingat dengan jelas , tas yang dibawanya.
Sepertinya penumpang itu pun merasa kalau sedang diperhatikan olehnya. Dia sedikit salting, dengan sengaja dia palingkan mukanya dari pandangan Wila.
Tingkahnya mencurigakan, dan ia berhenti di tempat dimana Wila pertama kali turun semalam. Sampai dia turun, Wila tak melepas pandangannya.
Ingin sekali ia langsung mengintrogasinya, namun Wila masih dapat menguasai akal sehatnya. Ia tidak ingin memperkeruh suasana. Apalagi belum ada bukti yang pasti.
"Ada apa?" , Lela seolah ikut merasakan kegelisahan Wila.
"Nanti saja, ngobrolnya di Kampus", Wila bicara setengah berbisik di kuping Lela.
"Oohh iya, terima kasih Mang", Lela dan Wila turun dan membayar ongkos. Setelah itu mereka berjalan menuju gerbang Kampus.
Baru beberapa langkah berjalan, suara klakson mengejutkan mereka. Refleks mereka minggir memberi jalan buat lewat , ternyata itu Mita. Dan siapa yang mengantarnya?
Mita turun dari motor , tepat di depan Lela dan Wila.
"Ternyata, kamu!", Lela tersenyum . "Pantesan ditungguin gak ada, ternyata bareng Sang Pangeran", Goda Wila.
Mita hanya tersenyum, "Ni kenalin, namanya Juna, teman baru aku", pamer Mita. Mereka saling berkenalan.
Setelah itu Juna putar balik, menuju Kampusnya. Ia adalah anak fakultas teknik di Kampus sebelah.
Setelah Juna menghilang di ujung jalan, Lela dan Wila kompak menggoda Mita. Mereka saling tertawa.
"Astagfirullah", Wila tersentak.
E
"Ada apa?" tanya Lela.
__ADS_1
"Kalian masuk saja duluan, aku mau ke rumah sebentar, tadi sudah janji mau pulang dulu, masih ada waktu setengah jam lagi", ucap Wila sambil melirik jam ditangannya.
"Ya udah, hati-hati, jangan sampai telat!" , ucap Lela.
"Iya...", Wila berlalu menuju rumah Bi Yeni. Ia berjalan tergesa gesa.
Belum juga sampai di rumah, di gang ia berpapasan dengan motor Hamzah. Seketika ia berhenti.
"Maaf", ucap Wila saat berada di depan Hamzah. Ia begitu merasa bersalah , sudah hand phone pemberiannya hilang, sekarang malah membuatnya menunggu.
Hamzah tersenyum, "Gak apa-apa, ayo cepatan naik, nanti terlambat!", ucap Hamzah.
Wila pun menurut, naik ke motor Hamzah.
"Pulangnya aku tunggu di sini, dan ceritakan semuanya, sekarang , masuklah!", Hamzah masih berdiri menunggu sampai Wila benar-benar masuk ke kelasnya.
*
*
*
Sedangkan Sarah, hari ini ia jadi pergi ke Kampus, pikirannya begitu kacau, rasanya, kepalanya mau meledak, memikirnya semua yang telah ia alami semalam .
'Kuncinya ada di Susi', pikirnya. Ia segera ambil hand phone dan chat Susi. "Pulang dari Kampus langsung ke rumah gue!", tulis Sarah .
Setelah itu ia kembali rebahan di tempat tidur, badannya masih pegal-pegal, dan kini badannya pun jadi agak meriang.
"Sial, apa yang terjadi semalam?" gerutu Sarah, ia masih saja memikirkan kejadian semalam.
Ia sudah menduga-duga, 'jangan-jangan aku ini semalam....,ah tapi siapa?', kembali batin Sarah bicara.
Ia ingat-ingat lagi, semalam siapa laki-laki yang bersamanya? Tak ada, lalu kenapa aku?
Semakin dipikir, semakin diingat-ingat, kepalanya semakin penat saja.
Tak lama ia terperanjat, ia ingat kata orang-orang, setengah berlari ia kembali ke kamar mandi, ia teliti pakaian yang ia pakai semalam, terutama panties yang ia pakai.
Untung saja Bi Marni belum sempat mencucinya. Ia lihat gundukan pakaian kotor, dan betapa terkejutnya saat ia dapati bercak darah di panties yang ia pakai kemarin.
"God, apa ini?" kecurigaannya terbukti. Ketakutannya terjadi. Ia duduk lemas menyandarkan tubuhnya di mesin cuci. Ia menangis, menangis dalam diam, takut orang yang ada di rumah mengetahuinya.
'Tenang Sarah, tidak ada orang yang tahu, kamu diam saja, sekarang tinggal tunggu penjelasan dari Susi, kamu tinggal atur strategi', pikir Sarah.
__ADS_1