
Hari yang dinanti sudah tiba, Bi Yeni dan Pak Putut akan melaksanakan prosesi akad nikah. Pak Caca sebagai walinya, merasa terharu, ini adalah akad yang kedua kali bagi Bi Yeni. Setelah mengalami depresi pasca di tinggal nikah lagi oleh suami pertamanya, Dirja.
Bi Yeni sempat menutup diri lama sekali, ia hanya fokus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menikah lagi.
Tapi entah apa yang membuat Bi Yeni kembali membuka hatinya, dan itu kepada Pak Putut.
Ini bukan lagi masalah cinta yang mengutamakan gairah rasa, tapi lebih untuk saling menyayangi, saling menjaga di usia senja, dan menua bersama sampai tutup usia.
"Alhamdulillah, sah", semua yang hadir di ruangan itu ikut berdo'a, mendo'akan sepasang pengantin yang baru saja mengikat janji setia untuk saling menjaga dan menyayangi.
Semestinya setelah melewati gerbang ijab qabul, pasangan suami istri harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangannya. Jangan sampai mau manisnya saja, pahitnya ditinggalkan.
Dulu Bi Yeni sempat sampai depresi, ia kecewa karena Dirja menikah lagi hanya gara-gara belum dikaruniai keturunan.
"Alhamdulillah, Bi, semoga Bibi bahagia", Peluk Wila kepada Bi Yeni. Wila juga menyalami Pak Putut.
"Awas, jangan sampai membuat Bibi menangis ya Pak?", canda Wila kepada Pak Putut.
"Inshaa Allah, Wil, semoga Allah selalu menjaga pernikahan Bapak ini Sakinah, Mawaddah, Warrohmah", senyum Pak Putut.
"Aamiin",
Semua menikmati hidangan yang ada, dengan hati gembira, tidak di sangka, awalnya mereka berkumpul di rumah Wila untuk merencanakan pernikahan Andi, eh..., malah Pak Putut yang lebih dulu menggelar akad .
Kita manusia hanya bisa berencana , terkadang ada sesuatu yang terjadi di luar rencana kita, itulah campur tangan Allah
Tidak menunggu lama, sore harinya Bi Yeni pamit untuk segera kembali ke Kota, karena banyak pesanan snack boks yang sudah masuk katanya.
"Wila yang sedang memandikan Haura sedikit kaget, "Kenapa tidak bermalam di sini dulu Bi?", sudah sore.
"St...st..., biar saja, mungkin mereka sudah ada rencana buat bulan madu", bisik Hamzah sambil mengedipkan bola matanya kepada Wila.
"Ooohhh....,iya, ngerti lah", senyum Wila.
"Kalian ya, jangan berpikir macam-macam", Bi Yeni mencubit pinggang Wila.
__ADS_1
"Eehhh..., nggak apa-apa Bi, mau macam-macam juga, kan sudah halal", goda Wila.
"Sudah ah, kalian ini, Bibi pamit ya, Nanti kita ketemu kembali di rumah Lela", bisik Bi Yeni kepada Wila.
"Iya Bi, di tunggu hadiahnya ya?", timpa Wila.
"Hadiah apa Neng?", Yeni yang berniat meninggalkan kamar, menghentikan langkahnya.
"Hadiah yang istimewa Bi, dede bayi", kekeh Wila.
"Ah, kamu, Bibi pergi ya!, Assakamu'alaikum, Yeni pergi sambil mengulum senyum.
"Wa'alaikumsalam", kompak Wila dan Hamzah.
Di luar pun terdengar kegaduhan begitu Bi Yeni dan Pak Putut mengutarakan maksudnya untuk pulang hari ini, semua menggoda mereka. Itulah resikonya menjadi pengantin baru.
Kini sudah dibiasakan , Hazel dan Haura ditidurkan dalam satu kamar. Itu sengaja biar mereka dekat setelah dewasa nanti.
Semua keluarga sudah sepakat, ini akan menjadi rahasia, Hazel tidak boleh tahu siapa dirinya, yang akan ia tahu , dia adalah anak dari Hamzah dan Wila, dan Haura adalah adiknya.
"Sayang, nanti Papah akan kangen, kalau kamu sudah besar, pasti akan Papah bawa umroh juga", Hamzah berbicara pada Haura yang sedang tersenyum, seolah mengerti dengan apa yang dibicarakan Papahnya.
Sementara Wila, ia sedang memandangi Hazel yang masih terlelap, tak bisa dipungkiri, Wila juga sering teringat kepada Sarah saat sedang bersama Hazel. Wila berharap Hazel, akan tumbuh menjadi anak yang baik, tidak mewarisi sifat ibunya.
"Sayang, maafkan aku!", Hamzah menatap Wila.
"Maaf?, untuk apa?" Wila menatap Hamzah.
"Aku terus-terusan merepotkan kamu, sekarang Hazel"
"Nggak apa-apa, kita ambil hikmahnya saja, ini sudah rencana Allah, ini , dengan sekejap kita punya dua putri cantik", senyum Wila.
"Iya , nanti semoga adiknya Haura laki-laki ya?", goda Hamzah, ia mengedipkan bola matanya.
"Aamiin, semoga nanti ya, adiknya hadir setelah Haura agak besaran", senyum Wila.
__ADS_1
"Sayang, kok kamu yang sepertinya ingin sekali berangkat Umrah?", tanya Hamzah tiba-tiba.
Wila menatap Hamzah, " Aku mau ke Baitullah, rumah Allah", Wila menerawang. Ia menunduk , "Aku ingin memohon ampun kepadanya, aku malu", tiba-tiba Wila terisak.
"Sayang , kenapa?", Hamzah kaget.
"Aku selalu dihantui perbuatan dosa kita, apalagi tiap melihat Haura", aku Wila.
7 bisa di ulang, kita tidak ingin melewati waktu itu, saat kita terperosok ke lembah dosa, kita sudah berusaha untuk memohon ampun dan terus memperbaiki diri, Allah Maha Pengampun", ucap Hamzah dengan suara bergetar.
"Sebentar lagi kita akan mengulang ijab qabul, kita akan lebih perbaiki lagi diri kita", ucap Hamzah.
"Yakinlah, Allah itu Maha Pengampun,apalagi kita sudah menyesali, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya",
"Tok....tok....tok....", pintu kamar ada yang mengetuk.
"Assalamu'alaikum, Neng Hazel sudah bangun?", terdengar suara Bu Rahmi dari luar kamar.
Wila beranjak menuju pintu, "Belum Bu Hazel masih tidur, Ibu masuk saja!", persilahan Wila.
"Aduh..., maaf, Ibu mengganggu ya?", senyum Bu Rahmi begitu melihat ada Hamzah yang sedang bermain dengan Haura.
"Nggak, Bu, ini baru selesai memandikan Haura", senyum Hamzah.
"Maaf ya, Ibu jadi merepotkan kalian", Bu Rahmi memegang tangan Wila.
"Tidak Bu, saya malah senang, Haura jadi ada teman, Ibu jangan khawatir, kami akan menganggap Hazel sebagai anak kami sendiri", senyum Wila.
"Begini, ada hal yang membuat Ibu khawatir, Ibu takut, kalau nanti ayah biologis Hazel tiba-tiba datang",
Sejenak, suasana hening." Ibu tidak mau, dia mengganggu Hazel". Bu Rahmi mengelus lembut kepala Hazel yang terlelap.
"Ibu...,ibu jangan khawatir ya, saya dan Wila akan berusaha menjaga Hazel dengan baik, kami akan menganggapnya sebagai anak kami, Hazel, Kakak Haura, hanya kita yang tahu rahasia ini, tidak akan ada yang mengetahui rahasia ini jika diantara kita tidak ada yang berbicara", jelas Hamzah.
"Selama tidak diperlukan, kami akan tetap diam, kami akan rahasiakan ini sampai Hazel dewasa, kalau bisa, Hazel tidak perlu tahu siapa dirinya, yang akan dia tahu , dia adalah anak saya dan Wila", lanjut Hamzah.
__ADS_1
"Ayah biologisnya tidak mempunyai hak apapun kepada Hazel, karena dia tidak mengakuinya, apalagi merawat dan menjaganya, dia akan menjadi orang asing bagi Hazel , nanti nasabnya pun akan ikut ke ibunya, Sarah", jelas Hamzah .