Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Rahasia terkuak


__ADS_3

Mendengar kata "Pengantin wanita pingsan", membuat kaget orang-orang, terutama ibunya. Rahmi menghampur menuju panggung diikuti Hamzah dan ibunya.


Benar saja, Sarah terlihat tergeletak tak sadarkan diri. "Tolong kosongkan panggung, biar tidak terlalu sesak", instruksi MC.


Rahmi menidurkan kepala putrinya di atas panggkuannya, ia menepuk-nepuk wajah Sarah. "Hany, bangun", ia tampak begitu khawatir.


Segera ia merogoh tas kecilnya, ia mendial nomer dokter keluarganya supaya cepat datang.


"Sebaiknya kita pindahkan ke sofa atau ke kamar saja, di sini terlalu panas", saran Hamzah.


"Iya, Mamy setuju, ayo cepat bawa ke atas saja!" setujui Rahmi.


Hamzah menggendong Sarah menuju kamarnya, diikuti Rahmi. Sementara Kalila tetap di pelaminan karena masih ada tamu yang datang.


Acara kembali di mulai.


Sementara Hamzah, segera menidurkan Sarah sesampainya di kamar. Tampak ia masih canggung.


"Tolong longgarkan pakaiannya, biar tidak terlalu sesak", petintah Rahmi.


Hamzah mematung. Ia masih merasa canggung, "Kok malah bengong?, Sarah sudah menjadi istri kamu, kenapa ragu?", tegas Rahmi.


Saat Hamzah mendekati Sarah, terdengar pintu di ketuk, "Nyonya, ini dokternya sudah datang", kabari Bi Marni.


"Langsung masuk saja Bi", perintah Rahmi. Tampak Dokter Adis masuk , ia segera memeriksa keadaan Sarah.


Sedangkan Hamzah kembali ke pelaminan karena ada tamu penting yang datang mencarinya.


Dokter melakukan medical check up kepada Sarah. Sesekali ia tampak mengernyitkan dahinya saat memeriksa bagian perut Sarah.


Dengan ragu ia mengeluarkan sebuah alat dari tasnya. Alat itu adalah fetal doppler, sebuah alat untuk mengecek detak jantung janin.


Dokter Adis melihat ke arah Bu Rahmi sambil tersenyum, " Dengar Bu, apa Ibu mendengarnya?" , Dokter Adis kembali menggerakkan alat yang dipegangnya.


"Apa itu Dok?", tanyakan Rahmi, ia masih belum mengerti.


Dokter Adis berdiri sambil memegang Fetal doppler, " Sarah sedang hamil Bu, sekarang memasuki minggu ke tujuh belas", senyum Dokter Adis.


"Hamil Dok?", Rahmi meyakinkan pendengarannya. Ia merasa tak karuan, malu iya, di hari pernikahan putrinya, ia medengar kalau putrinya sudah hamil.


Rahmi melihat Sarah , ada perasaan marah, ada juga perasaan bersalah. Ia terlalu sibuk mengurus bisnisnya, hingga mengabaikan Sarah.

__ADS_1


Ya, setelah ia menjadi single parent, ia menjadi lebih mengutamakan bisnisnya ketimbang putrinya.


Tidak heran jika Sarah mencari perhatian dan kasih sayang dari orang lain.


"Tapi keduanya sehat kan Dok, tidak ada kelainan?", tanyakan Rahmi , matanya berkaca-kaca memandangi Sarah.


"Baik Bu, untuk lebih pastinya , bisa dilakukan USG di Klinik. Tapi nanti saja, menunggu Sarahnya sehat", ucap Dokter.


"Usahakan tetap makan yang cukup, jangan terlalu cape dan banyak istirahat saja",


"Baik Dok, terima kasih", Rahmi mengantar Dokter Adis sampai pintu kamar. Lalu ia kembali mendekati Sarah yang sudah sadar.


Rahmi membetulkan posisi duduk Sarah. Ia memberikan Sarah minum, wajahnya tampak pucat.


"Ada apa Bu, kenapa di sini?", Sarah tampak melihat sekeliling.


"Tadi Sarah pingsan dipanggung, kenapa nggak bilang ke Ibu Hany?", Rahmi memeluk erat Sarah.


Sarah bingung mendengarnya."Memangnya aku kenapa?",


"Kamu lagi isi sayang", Rahmi menghamburkan diri memeluk Sarah. "Maafkan Mamy yang telah mengabaikanmu, Mamy terlalu sibuk, setelah Papi tiada, hanya Mamy yang jadi tulang punggung keluarga", Rahmi pun menangis sambil memeluk Sarah.


Sarah terdiam, dia terpaku tidak bisa bekata-kata. Akhirnya ketahuan juga,ia sedang berbadan dua. Ia melihat sekeliling kamarnya, tidak mendapati Hamzah.


Sarah pun mengeratkan pelukannya," Mami tolong jangan bicarakan apa pun sama Hamzah dan ibunyasoal ini, Sarah mohon", isak Sarah terdengar.


Rahmi kaget, ia mengendurkan pelukannya, dan memegangi kedua pundak Sarah, ia menatap putrinya lekat.


"Kenapa?, bukannya ini kabar baik?",


"Nggak enak saja sama ibunya, Mami, biarlah mereka , nanti juga tahu dengan sendirinya", kilah Sarah.


"Janga katakan kalau ini bukan bayinya Hamzah?", tebak Rahmi.


Deg....


Sarah terkesiap mendengarnya, " Kok Mami bilang begitu, Mami tidak mempercayai Sarah, anak Mami sendiri?", Sarah kembali menangis.


Ia meyembunyikan rasa takut ketahuan bohongnya dengan tangisan dan kembali memeluk Maminya.


Rahmi pun membalas pelukan putrinya, walau ia merasa ragu dengan perkataannya. Sebagai seorang ibu, mau bagaimana pun anaknya, tidak bisa membencinya.

__ADS_1


Apalagi ia sadar, sedikit banyak ia pun berperan hingga Sarah melakukan kesalahan tersebut.


"Sudahlah, hapus air matamu!, di luar masih banyak tamu", Rahmi membetulkan riasan Sarah.


Sarah mengangguk. "Duduk saja, jangan terlalu cape", Rahmi mengecup kening putrinya seraya membimbingnya ke luar kamar.


Sementara Hamzah langsung mengejar Dokter sesaat setelah ia melihatnya ke luar dari lantai atas.


"Tunggu Dok, apa yang terjadi dengan Sarah, Oh maaf istri saya?", tanyai Hamzah.


Dokter Adis tersenyum, " Nggak apa-apa, selamat ya, sebentar lagi anda mau jadi seorang Ayah, jaga baik-baik Sarah!", Dokter tersenyum sambil berlalu meninggalkan Hamzah yang kaget.


Hamzah masih mematung, ia masih mencerna kata-kata Dokter tadi. "Seorang ayah?, apa maksudnya?",


Dokter Adis melirik kembali Hamzah yang masih berdiri di tempat, seraya berkata, " Dasar anak muda, nggak sabaran banget".


"Kok berdiri di sini, itu masih banyak tamu!", sebuah suara menyadarkan Hamzah dari keterkejutannya.


Ternyata itu Bu Rahmi yang lagi menggandeng Sarah , turun dari lantai atas.


Hamzah tersenyum, dan melirik Sarah , berbagai pertanyaan ingin ia layangkan padanya, namun diurungkan, tidak enak dengan Bu Rahmi yang saat ini sudah menjadi ibu mertuanya.


"Ini, kalian kembalilah ke pelaminan!, masih banyak tamu di sana!", Rahmi memberikan Sarah kepada Hamzah.


Hamzah pun menggandengnya sampai ke pelaminan. Mereka kembali duduk menyambut para tamu.


Sesekali diselingi oleh sesi foto, mau tidak mau Hamzah harus mengikuti berbagai instruksi dari fotografer untuk berfose mesra dengan Sarah.


Kalau tamu yang jeli, pasti bisa melihat keanehan dari pengantin wanitanya, apa coba?, bagian perutnya agak ngembang.


Itu juga yang dapat dilihat oleh Rahmi. Sebagai ibunya, Rahmi jelas bisa melihat, kalau anaknya terlihat berisi, terutama bagian pinggang ke bawah.


Rahmi memperhatikan itu karena ia ingin meyakinkan ucapan Dokter Adis tadi. Walau secara fakta, seorang Dokter tidak mungkin keliru dengan hasil pemeriksaannya.


Walau ada beberapa tamu yang menyadari, tapi mereka hanya saling bisik saja, mencibir dari kejauhan.


Sarah masih tetap percaya diri, melempar senyuman kepada para tamu yang masih berdatangan.


Sementara Hamzah, ia tampak tidak fokus, sering kali ia melamun. Pikirannya masih mencerna kata-kata Dokter tadi.


Karena tadi pendengarannya kurang jelas, terpengaruh oleh bunyi musik yang menggema.

__ADS_1


Begitu juga Rahmi, ia mulai gelisah, apa benar Hamzah ayah dari bayi yang dikandung Sarah, tapi kenapa tadi Sarah melarangnya untuk memberitahu Hamzah soal kehamilan Sarah.


__ADS_2