Jalan Berliku Meraih Bahagia

Jalan Berliku Meraih Bahagia
Tak Bisa Sembunyi


__ADS_3

Malam itu mereka lalui seperti malam sebelumnya, masih tidur terpisah. Hamzah tampak lelap dengan mimpi indahnya.


Sedangkan Sarah masih gelisah, ia kesal dan geram, walau sudah berstatus istri, tapi ia tidak bisa mendapatkan haknya.


Saat subuh tiba, Hamzah sudah rapi, ia masih berniat untuk menemui Wila di rumah Lela. Sarah masih terlelap karena ia baru bisa memejamkan mata saat menjelang pagi.


Hamzah pun tidak berani membangunkannya, hatinya masih diselimuti rasa kesal dan marah karena telah dijebak oleh Sarah, sehingga ia terkungkung dalam sebuah pernikahan yang tidak diinginkannya.


Hanya Bi Marni yang mengetahui kepergiannya. Ia pun terlihat heran melihat tuan mudanya sudah bersiap pergi di saat hari masih pagi.


Namun Bi Marni tidak berani bertanya.


Hamzah mendorong motornya ke luar gerbang, dan baru menghidupkannya di sana. Ia tidak mau orang rumah terbangun oleh berisik mesin motornya.


Segera ia memacu sepeda motornya menuju rumah Lela. Di jalan tidak lupa ia membeli makanan , mengingat banyak anak kecil di sana.


Hamzah menitipkan kembali motornya dan segera berjalan menyusuri gang.


Rumah Lela tampak masih sepi, ia tidak berani mengetuk pintu, tapi menunggu orang rumah yang keluar.


Tak lama terdengar langkah kaki diiringi suara kunci dibuka. Dan terlihat seorang ibu keluar, sepertinya itu adalah ibunya Lela.


"Assalamu'alaikum Bu, saya temannya Wila", Hamzah langsung memperkenalkan diri.


"Wa'akaikum salam, silahkan masuk, ada masih pada di atas", jawab Bu Lisna dengan ramah.


Hamzah pun segera masuk, ia menunggu di ruang tamu. Tak lupa ia berikan makanan yang dibawanya.


Pagi itu Wila tidak bisa menghindar , ia menemui Hamzah. Mau menolak tidak enak dengan ibunya Lela.


"Kamu ini bandel ya, sudah tahu aku tidak mau ketemu, masih maksa", gerutu Wila.


"Ada apa lagi, kok kesannya maksa banget pingin ketemu, ada hal penting apa?" , Wila langsung menanyakan tujuan Hanzah.


"Yakin mau ngobrol di sini?, atau mau ke tempat lain?", tawari Hamzah.


"Apa pun itu, cepat katakan!, nggak enak sama yang punya rumah", Wila melirik sekitar.


Hamzah mengetik di hand phonenya [ Maaf, kemarin petugas P3K memperoleh keterangan kalau kamu lagi mengandung, apa benar?], lalu Hamzah memperlihatkan layar HP nya ke Wila.


Wila terbelalak, pipinya memanas, ia menunduk.

__ADS_1


"Apa benar?, apa itu gara -gara aku?",


Wila melotot," Memangnya kamu pikir aku ini apa?, cuma kamu satu -satunya, sudahlah!, gak usah dipikirkan, ini salahku, jadi biarkan aku sendiri yang menanggungnya, lagipula sekarang kamu sudah ada Sarah",


Hamzah menatap lekat Wila yang kini menunduk, tangan kanannya memegangi perut.


"Jika hal ini sampai diketahui oleh pihak Kampus, kamu bakal kena sanksi, drop out, itu yang aku takutkan", jelas Hamzah.


"Biarkan aku bertanggung jawab, itu juga salahku',


"Sudahlah, sekarang pergi saja, nggak enak ngobrol sama suami orang, di rumah teman lagi", usir Wila, ia merasa tidak enak oleh kedua orang tua Lela.


"Baiklah, aku akan memikirkan jalan terbaik untuk kita, jaga diri baik-baik, maafkan aku!", Hamzah bangkit dan pamit kepada keluarga Lela.


Wila masih duduk termenung sepeninggalnya Hamzah. Ia tidak mengira akan serumit ini. Kuliahnya terancam jika sampai pihak Kampus mengetahui kehamilannya.


'Ya,Allah, ampuni hamba-Mu, Wila menunduk.


"Sudah pulang, ada apa pagi-pagi sudah datang?", Lela mengagetkan Wila.


"Oh, itu, ada pesan dari Pak Dekan soal mahasiswa aku, jadi harus segera disampaikan", Wila mencari alasan.


Lela mentautkan alisnya, tapi ia tidak banyak bertanya , karena itu menyangkut pripacy Wila.


Wila tercengak melihat banyak makanan di sana, ada kupat tahu, dan aneka gorengan, dalam dua nampan besar.


"Terima kasih buat temanmu itu, lihat bawa makanan sebanyak ini, ayo cepat ikut sarapan juga!", ajak Bu Lisna.


Wila ikut bergabung di sana, sarapan kupat tahu yang dibawakan Hamzah.


Hari ini jadwal kuliah agak siang, Wila bisa membantu Lela . Selain membereskan bekas sarapan, ia juga ikut membantu adik kecil Lela yang masih bayi.


Kalau adiknya yang sudah sekolah, sudah bisa mempersiapkan dirinya sendiri.


*


*


*


Sarah yang terbangun , mendapati suaminya sudah tidak ada di sofa tempat tidurnya, ia mengira Hamzah ada di kamar mandi.

__ADS_1


Sarah menunggunya sambil melihat TV. Sudah lama menunggu, namun tidak ada tanda-tanda Hamzah di dalam sana.


Sarah penasaran, lalu ia turun dari ranjang dan mendekati kamar mandi. Ia ketuk pintu kamar mandi ,"Mas, apa kamu di dalam?", tak ada jawaban. Karena penasaran Sarah membuka pintu kamar mandi dann tak ada siapa pun.


'Kemana, pagi-pagi sudah nggak ada?' pikirnya. Sarah bergegas membersihkan diri dan turun ke bawah menuju dapur.


Ia menyempatka diri mencari ke taman belakang juga tidak ada.


Bi Marni yang sedang memasak melihat tingkah Nona mudanya. Ia hendak menghampiri, namun Sarah keburu mendekat ke arahnya.


"Non, nyari Tuan muda?",


"Iya Bi, Bibi tahu nggak, kemana?",


"Tadi selepas shubuh, Bibi melihatnya pergi",


"Nggak di tanya mau kemana?"


"Nggak Non, Bibi nggak berani",


"Oh ya sudah, nanti saya sarapannya menunggu dia pulang saja, Mamy belum ke luar dari kamarnya Bi?",


"Belum Non",


Sarah meninggalkan Bi Marni di dapur , dan ia beranjaj ke ruang keluarga sekedar untuk menonton TV sambil menunggu Hamzah kembali.


'Ini pasti gara-gara gadis kampung itu, sebenarnya sudah sejauh apa hubungan mereka berdua, kok kayanya Hamzah susah move on dari dia' , kembali pikiran Sarah berbicara, ia menebak-nebak apa yang terjadi dengan suaminya.


'Ternyata aku hanya bisa mengikatmu dengan status pernikahan saja', sementara hati dan pikiranmu masih bersama si gadis kampung itu.


'Aku akan membuatmu jadi milikku seutuhnya, tak akan kubiarkan gadis kampung it merebutnya dari aku.'


'Aku lebih berhak terhadap dia dari pada kamu, gadis kampung, kamu telah membuatku menjadi istri yang tidak diinginkan oleh suamiku sendiri', Sarah terus membatin, ia merasa tidak dihargai.


Bahkan suaminya sudah berani pergi tanpa pamit pada dirinya, bagaimana pun adanya, Hamzah adalah suami sahku , tidak ada yang bisa memisahkan aku dengannya.


Tak lama terdengar sepeda motor memasuki pekarangan , itu pasti Hamzah, Sarah berdiri untuk menemuinnya.


Sarah berusaha menahan marahnya, ia tidak ingin terlihat buruk dihadapan Hamzah, sekarang ia akan bersikap mengalah , ia akan mengikuti apa yang Hamzah lakukan, ia tidak akan banyak membantah.


Sarah ingin merebut hati dan perhatian Hamzah, ia ingin menggantikan Wila dari hati Hamzah. Ia harus mulai berdamai dengan keadaan. Ia akan mengikuti permainan Hamzah.

__ADS_1


Perlu ada pengorbanan untuk mencapai mimpi dan harapan.


__ADS_2