
Sehabis Asar, Wila baru pulang dari rumah Hamzah. Ia merasa senang , tetapi juga merasa insecure melihat keadaan Hamzah. Sungguh bagai langit dan bumi.
Hamzah mungkin bisa menerima keadaan dirinya, tapi bagaimana dengan orang tuanya.
"Jangan kapok ya Neng, sering-sering main ke sini!",
"Iya Bi, Insya Allah", Wila sekalian pamit kepada Bi Sumi.
Karena hujan mulai turun, Hamzah memutuskan untuk mengantar Wila menggunakan mobil.
Lagi-lagi Wila di buat terpana saat melihat isi garasi di rumah Hamzah. Di sana berderet beberapa mobil dan sepeda motor.
Kali ini Hamzah memilih sebuah Honda Brio untuk mengantar Wila pulang.
Sepanjang jalan menuju pulang ,Wila lebih banyak diam, ia betul-betul merasa kecil dihadapan Hamzah.
Untuk kebutuhan sehari-hari saja, saat ini ia dan Bi Yeni merasa kesulitan, tapi lihatlah Hamzah, kehidupannya dikelilingi oleh kemewahan.
Di pertigaan jalan Hamzah mampir sebentar di sebuah kios yang menjual buah-buahan, ia membelikan beberapa jenis buah untuk Wila.
"Ini buat di rumah", Hamzah memberikan sekantong buah kepada Wila.
"Iya, terima kasih",
Mobil kembali melaju, setelah beberapa saat, akhirnya sampai di depan gang Anggrek, Hamzah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Alhamdulillah, sampai juga", Hamzah melihat sekitar, hujan masih turun walau tidak sederas tadi.
"Gimana nih..., mau hujan-hujanan saja?", tanyai Hamzah. Wila mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah payung.
Ia selalu membawanya kemanapun. Hamzah mengambil payung itu dari Wila, ia keluar duluan. Lalu membukakan pintu mobil untuk Wila.
Mereka berpayung berdua di tengah rintik hujan . Mau tidak mau mereka berjalan begitu dekat, dan Hamzah menggandengkan tangannya ke pundak Wila.
Wila menghentikan langkahnya dan melihat Hamzah dengan sedikit melebarkan kornea matanya, seolah protes dengan sikap Hamzah .
"Hujan", ucap Hamzah sambil tersenyum dan tetap menggandeng Wila sampai di depan rumah Bi Yeni.
Saat memasuki halaman, mata Wila sudah tertuju pada sebuah sepeda motor yang terparkir di sana. Rasanya ia tidak asing dengan sepeda motor itu.
"Bapa?", gumamnya.
"Siapa?", tanya Hamzah..
"Itu seperti sepeda motor Bapak", kabari Wila.
__ADS_1
Mereka memasuki teras, dan benar saja di rumah sudah ada Caca dan Yati yang sedang ngobrol dengan Yeni.
"Assalamu'alaikum, Wila dengan segera memasuki rumah, ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan bapaknya.
"Masya Allah Bapak", Wila langsung menghampiri kedua orang tuanya ia langsung sungkem dan bercengkrama dengan keduanya.
Sungguh mereka saling melepas rindu, sudah hampir satu tahun Wila tidak pulang ke rumah.
Saking senangnya dengan kedatangan kedua orangtuanya, Wila sampai melupakan kehadiran Hamzah yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.
Sampai akhirnya Bi Yeni yang menyadari kehadiran Hamzah, ia mempersilahkannya untuk masuk dan duduk.
"Aduh maaf, silahkan masuk", persilahkan Yeni kepada Hamzah. Wila baru menyadarii kalau dari tadi ia mengabaikan kehadiran Hamzah.
"Oohh iya maaf", Wila melirik Hamzah dengan senyum di bibirnya. Lalu ia mengenalkan Hamzah kepada kedua orang tuanya.
Ini adalah kali pertama mereka bertemu. Niat Hamzah untuk bertemu orang tua Wila akhirnya kesampaian juga.
Ia tidak harus menemui ke rumahnya, apa ini suatu kebetulan?, tentunya bukan. Tak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini.
Semua sudah ada yang mengatur.
"Jadi ini teman kuliahnya Wila?", tanyai Caca.
"Iya Pak", jawab Hamzah. Rasanya berbeda sekali. Ia sudah merangkai kata saat ingin bertemu dengan orang tua Wila, tapi saat sudah berhadapan langsung, rasanya semua kata hilang.
Wila seolah bisa merasakan kegelisahan Hamzah ia pamit ke belakang untuk membuatkan minuman.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan senampan teh manis hangat.
"Silahkan diminum dulu!" , persilahkan Wila.
"Iya terima kasih", Hamzah langsung mengambil satu gelas dan meminumnya perlahan untuk menghilangkan rasa nervous nya.
"Kok Bapak dan Ibu tidak bilang dulu kalau mau datang ke sini", Wila membuka pertanyaan.
"Iya, mumpung Bapak lagi libur, dan lagi pula ibumu sudah kangen katanya", Caca melirik Yati .
"Bukan ibu saja, Bapak juga sudah kangen katanya", balas Yati.
"Iya, Wila juga kangen , tapi maaf, Wila belum sempat pulang, tadinya nanti nunggu libur semester, baru pulang", jelaskan Wila.
"Iya Neng, ibu juga ngerti, yang terpenting Neng sehat dan kuliahnya lancar", harap Yati
Sedari tadi Yeni banyak diam, ternyata ia juga sedang mencari kata-kata terbaik untuk menceritakan suaminya.
__ADS_1
Untung saja, Caca dan Yati sedang melepas rin du dengan Wila jadi mereka belum banyak bertanya mengenai dirinya.
Dan akhirnya Yeni pamit untuk menyiapkan makanan di dapur. Sengaja ia bergegas ke dapur untuk memberi kesempatan mereka ngobrol.
Hamzah belum banyak berbicara kepada orang tua Wila, ia masih menyiapkan kata-kata terbaik untuk mengutarakan maksudnya.
Tapi setelah dipikir lagi, Hamzah memutuskan untuk tidak bicara dulu, ia ingin datang langsung ke rumah Wila, bukan dengan cara ini.
Segera ia chat Wila," Nanti saja aku ke rumahmu langsung, biar Ayah dan Ibu juga bisa turut serta",
Wila membuka hand phonne dan membaca pesan tersebut sambil melempar senyuman ke Hamzah. Ia membalasnya dengan anggukan .
Rupanya Caca dan Yati melihat aksi mereka. Mereka pun saling melempar senyuman. Sebagai orang tua, mereka bisa membaca kalau ada sesuatu antara anaknya dan Hamzah.
Tanpa bicarapun mereka sudah tahu.
Yeni datang dan memberitahu kalau makanan sudah siap, mereka pun makan bersama. Alhamdulillah tadi Caca membawa beras dan berbagai hasil kebun , jadi Yeni hanya tinggal memasaknya saja.
Tiba-tiba hand phone Hamzah berbunyi, ia pamit sebentar ke luar untuk menjawanya. Dan tak lama ia kembali masuk.
"Maaf, saya pamit dulu, ada urusan yang harus diselesaikan", pamitnya.
Sebelum pulang, Hamzah menitipkan sebuah amplop kepada Wila,"Ini aku titip buat orang tuamu", katanya sebelum meninggalkan rumah Yeni.
"Apa ini?"
"Berikan saja, maaf aku gak bisa nganter mereka pulang", katanya sambil tersenyum
"Iya terima kasih",
Hamzah berlalu setelah mengucap salam kepada semuanya.
Wila kembali masuk dan kembali bercengkrama dengan orang tuanya. Tak lupa ia berikan amplop dari Hamzah tadi.
"Apa ini?",
"Nggak tahu, coba Bapak buka saja!",
Caca membuka amplop pemberian Hamzah tadi dan Masya Allah, isinya sejumlah uang. Mereka yang ada di sana saling pandang.
"Apa ini tidak berlebihan?" ucap Caca.
"Neng , ini bagaimana?", tanyai Caca.
"Sudah Pak, terima saja", itu rezeki buat Bapak", Wila meyakinkan ayahnya.
__ADS_1
Dengan pemberian ini, Caca makin yakin saja kalau antara anaknya dan Hamzah ada sesuatu. Kali ini ia anggap wajar karena anaknya sudah cukup usia , tapi Caca pun meyakini kalau Hamzah bukan orang sembarangan.